Home » , » Zola Minta Spekulan Jangan Permainkan Harga Gabah Petani Jambi

Zola Minta Spekulan Jangan Permainkan Harga Gabah Petani Jambi

Written By jambipos-online on Kamis, 25 Januari 2018 | 14:40


Hamparan Padi Sawah di Keliling Danau Kerinci, 6 November 2017 lalu. Kabupaten Kerinci mampu surplus beras 44.326 Ton Tahun 2017 walau minim Alsintan.  Photo Asenk Lee Saragih
Jambipos Online, Jambi-Gubernur Jambi H Zumi Zola meminta para tengkulak untuk tidak berspekulasi dalam memainkan harga gabah petani. Zola juga meminta para petani padi untuk tidak terprovokasi soal isu menurunnya harga gabah kering (GKG) terkait dengan kebijakan import beras oleh Pemerintah Pusat.

Demikian ditegaskan Gubernur Jambi H Zumi Zola saat ditanya wartawan soal adanya keluhan petani di Merangin, Batanghari, Tanjabar terkait dengan kebijakan import beras oleh Pemerintah Pusat, usai meluncurkan Bantuan Sosial (Bansos) Kementerian Sosial 61 Ton Beras Sejahtera (Restra) Provinsi Jambi tahun 2018 di Lapangan Gubernur Jambi, Kamis (25/1/2018). 

Peluncuran Restra Provinsi Jambi tahun 2018 ditandai dengan pelepasan 15 truk pembawa beras Bulog kualitas medium oleh Zumi Zola untuk dibawa ke kabupaten/kpta se Provinsi Jambi.

Peluncuran Bansos Restra Provinsi Jambi 2018 dihadiri oleh Kepala Divre Bulog Jambi Yusul Salahudin dan Kepala Dinas Sosial Catatan Sipil Provinsi Jambi Arief Munandar, Asisten II dan III Setda Provinsi Jambi dan Sekda Kabupaten/ Kota Se Provinsi Jambi selaku koordinator Bansos Restra Provinsi Jambi.

Menurut Zumi Zola, pihaknya menjamin harga GKG petani di Provinsi Jambi tetap stabil dan diambil oleh Bulog. Dia juga meminta kepada petani untuk menjual GKG ke Bulog dengan harga ketentuan yang telah disepakati.

Zola juga meminta Bulog Jambi untuk tidak mempermaikan petani dalam penjualan produksi mereka. “Saya juga tegaskan agar Bulog Jambi mengambil GKG petani dengan harga yang wajar. Pengakuan Bulog Jambi hingga saat ini mengambil GKG dari petani di Provinsi Jambi,” kata Zola yang juga didampingi Kepala Divre Bulog Jambi Yusuf Salahudin.

Harga Rendah

Sebelumnya, para petani di Provinsi Jambi mengeluhkan rendahnya harga GKG selama musim panen raya padi Desember 2017-Januari 2018. Rendahnya harga GKG membuat para petani Jambi banyak menjual hasil panen padi mereka ke luar daerah.
Petani Padi Sawah menjemur padinya di Jalan Keliling Danau Kerinci, 6 November 2017 lalu. Kabupaten Kerinci mampu surplus beras 44.326 Ton Tahun 2017 walau minim Alsintan.  Photo Asenk Lee Saragih
Anang (45), petani padi Kualatungkal, Kabupaten Tanjungjabung Barat (Tanjabbar) Provinsi Jambi di Kualatungkal, Selasa (23/1/2018) lalu menyatakan harga GKG di tingkat petani di daerahnya rata-rata Rp 4.500/kg. Sedangkan harga beras produksi lokal di daerah itu Rp 7.500/kg.

“Harga GKG di Kualatungkal ini terlalu rendah. Di daerah lain, seperti Riau, harga GKG sudah ada yang mencapai Rp 5.500/kg. Semestinya harga GKG di Kualatungkal minimal Rp 5.000/kg agar petani bisa mendapat untung lumayan,” katanya.

Pihak Bulog Jambi juga tak membeli GKG dan beras petani di daerah itu karena harga GKG dan beras petani dinilai terlalu tinggi. Harga pembelian GKG Bulog Jambi hanya Rp 3.400/kg dan harga beras Rp 7.300/kg. Sedangkan harga GKG petani Kualatungkal di pasaran sebesar Rp 4.500/kg dan harga beras Rp 7.500/kg.

Hal senada diakui Sugimin (50), petani Desa Batangasam, Kualatungkal, Tanjabbar. Para petani di daerah itu mengeluh karena harga GKG relatif rendah selama dua bulan terakhir.

“Kalau harga GKG berkisar Rp 4.000/kg sampai Rp 4.500/kg, petani merugi. Kami rugi bila dihitung besarnya biaya mengolah lahan, menanam padi, pemupukan dan panen. Minimal harga GKG di Kualatungkal ini Rp 5.000/kg agar petani bisa balik modal,” katanya.

Rendahnya harga GKG di Kualatungkal karena pembelian hasil panen petani padi dikuasai tengkulak. Bulog Jambi tidak mampu membeli GKG petani daerah ini.

“Karena hanya tengkulak yang membeli GKG petani, terpaksa kami petani tetap menjual, kendati harga murah,” katanya.

Sugimin menambahkan untuk mengatasi rendahnya harga GKG di Kualatungkal, para petani yang bermodal banyak menjual GKG mereka ke daerah Provinsi Riau. Harga GKG di perbatasan Jambi-Riau ada yang mencapai Rp 5.500/kg.

Sementara itu, Bupati Merangin, Al Haris ketika melakukan panen raya padi di Mudik Dusun II, Kelurahan Pasar, Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin baru-baru ini mengatakan, pihaknya berusaha menaikkan harga GKG petani dengan menggandeng Bulog Jambi dan pengusaha beras.

“Kami kini sedang menjajaki agar harga GKG petani di Merangin bisa mencapai Rp 5.000/kg. Para pengusaha beras di Jambi dan Bulog Jambi kami harapkan turut membantu memperbaiki harga GKG petani di saat panen raya sekarang ini,” katanya.

Produksi GKG di Merangin hingga Januari ini mencapai 139.144 ton dengan produksi beras 65.139 ton, sedangkan kebutuhan beras di Merangin sekitar 49.033 ton.

“Jadi saat ini, Merangin surplus beras sekitar 16.106 ton. Di tengah surplus beras dan panen raya padi saat ini, stabilitas harga GKG petani juga perlu dijaga agar petani tidak sampai merugi,” katanya.

Sementara kebijakan impor beras pemerintah di tengah panen raya padi di Provinsi Jambi saat ini menimbulkan kegalauan di kalangan petani daerah itu. Impor beras nasional yang direncanakan mencapai 500.000 ton tersebut dikhawatirkan bakal memukul harga gabah kering (GKG) di Jambi.

“Petani padi di Kerinci selama ini sudah sering mengeluhkan anjloknya harga GKG setiap musim panen raya padi. Nah, bila Pemerintah Pusat mengimpor beras dalam jumlah besar ketika petani Kerinci panen raya saat ini, tentunya harga GKG di Kerinci akan anjlok,”kata Gafar (50), petani padi di Kerinci, baru-baru ini.

Bupati Kerinci, Adirozal juga mengakui bakal adanya dampak impor beras terhadap harga GKG di Kerinci di tengah musim panen raya padi saat ini. Impor beras nasional berpengaruh besar terhadap harga GKG di Kerinci karena beras impor kualitas premium. Sedangkan para petani Kerinci sebagian besar menghasilkan beras payo kualitas premium.

“Di tengah suasana panen raya sekarang ini, para petani Kerinci mengharapkan harga GKG naik. Kalau impor beras dilakukan pemerintah pusat, tentunya harga GKG di Kerinci pasti turun,”katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Jambi, Akhmad Mausul mengatakan, impor beras nasional tidak hanya berpengaruh terhadap harga GKG di Kerinci, tetapi juga di beberapa sentra padi di Jambi. Pengaruh impor beras nasional akan berdampak terhadap harga GKG di sentra tanaman pangan Tanjungjabung Barat, Tanjungjabung Timur, Bungo dan Tebo karena saat ini musim panen raya.

“Januari sampai Maret merupakan bulan panen raya padi sawah di Jambi. Produksi padi di Jambi triwulan pertama tahun ini cukup melimpah berkat gerakan panen. Melalui gerakan panen raya padi ini, persediaan beras di Jambi cukup, sehingga tidak perlu lagi adanya impor beras,"katanya.(JP-Lee)



Share this article :

Posting Komentar