Home » , » Isu Impor Beras, Petani Jambi Resah

Isu Impor Beras, Petani Jambi Resah

Written By jambipos-online on Senin, 22 Januari 2018 | 20:16

Gubernur Jambi, Zumi Zola (kanan) mencoba menggunakan mesin panen padi pada panen raya padi sawah di Desa Pulaujelmu, Kecamatan Teboulu, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, baru-baru ini. Produktivitas padi sawah di desa tersebut mencapai 7,5 ton/hektare. Dok Jampos
Jambipos Online, Jambi- Kebijakan impor beras pemerintah di tengah panen raya padi di Provinsi Jambi saat ini menimbulkan kegalauan di kalangan petani daerah itu. Impor beras nasional yang direncanakan mencapai 500.000 ton tersebut dikhawatirkan bakal memukul harga gabah kering (GKG) di Jambi.

“Petani padi di Kerinci selama ini sudah sering mengeluhkan anjloknya harga GKG setiap musim panen raya padi. Nah, bila Pemerintah Pusat mengimpor beras dalam jumlah besar ketika petani Kerinci panen raya saat ini, tentunya harga GKG di Kerinci akan anjlok,”kata Gafar (50), petani padi di Kerinci, baru-baru ini.

Bupati Kerinci, Adirozal juga mengakui bakal adanya dampak impor beras terhadap harga GKG di Kerinci di tengah musim panen raya padi saat ini. Impor beras nasional berpengaruh besar terhadap harga GKG di Kerinci karena beras impor kualitas premium. Sedangkan para petani Kerinci sebagian besar menghasilkan beras payo kualitas premium.

“Di tengah suasana panen raya sekarang ini, para petani Kerinci mengharapkan harga GKG naik. Kalau impor beras dilakukan pemerintah pusat, tentunya harga GKG di Kerinci pasti turun,”katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Provinsi Jambi, Akhmad Mausul mengatakan, impor beras nasional tidak hanya berpengaruh terhadap harga GKG di Kerinci, tetapi juga di beberapa sentra padi di Jambi. Pengaruh impor beras nasional akan berdampak terhadap harga GKG di sentra tanaman pangan Tanjungjabung Barat, Tanjungjabung Timur, Bungo dan Tebo karena saat ini musim panen raya.

“Januari sampai Maret merupakan bulan panen raya padi sawah di Jambi. Produksi padi di Jambi triwulan pertama tahun ini cukup melimpah berkat gerakan panen. Melalui gerakan panen raya padi ini, persediaan beras di Jambi cukup, sehingga tidak perlu lagi adanya impor beras,"katanya.

Surplus Beras

Secara terpisah, Bupati Tebo, Sukandar menjelaskan, daerah itu saat ini surplus beras bertepatan dengan musim panen raya padi. Produksi padi di Tebo selama tahun 2017 hingga akhir Januari ini mencapai 58.887 ton GKG. Produksi padi itu setara dengan 36.945 ton beras.

“Kebutuhan beras penduduk Tebo satu tahun sekitar 34.409 ton. Jadi saat ini Tebo sudah surplus beras 2.536 ton beras. Di tengah kondisi surplus beras ini para petani mengharapkan harga GKG tidak anjlok. Kalau bisa harga GKG di Tebo saat panen raya sekarang jangan sampai di bawah harga pembelian GKG Bulog sebesar Rp 7.300/kg,”katanya.

Gubernur Jambi, Zumi Zola ketika melakukan panen raya padi sawah di Desa Pulau Jelmu, Kecamatan Teboulu, Kabupaten Tebo, baru-baru ini juga mengharapkan harga GKG tetap stabil selama musim panen raya padi Januari – April nanti. Stabilitas harga GKG tersebut penting agar para petani padi jangan sampai merugi.

Stabilitas harga GKG di Tebo juga perlu dijamin, kata Zumi Zola, agar para petani di Tebo yang kini sudah banyak beralih menanam padi tidak kembali lagi menanam sawit.

“Peningkatan produksi padi di Tebo hingga bisa mencapai surplus tidak terlepas dari semakin banyaknya petani sawit beralih menanam padi. Hendaknya para petani jangan lagi kecewa hanya karena harga gabah yang anjlok di saat musim panen raya,” katanya.

Sebagai wujud terima kasih atas peningkatan produksi dan produktivitas padi di Tebo, lanjut Zumi Zola, Pemprov Jambi menyumbangkan beberapa unit mesin pertanian. Mesin pertanian tersebut sangat membantu petani agar lebih mudah dan cepat melakukan panen padi.

Menurut Zumi Zola, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi terus berupaya meningkatkan produksi tanaman pangan, khususnya padi guna menjamin ketersediaan dan stabilitas harga beras. Peningkatan produksi padi di Jambi tidak hanya penting untuk swasembada beras di daerah itu, tetapi juga untuk menopang peningkatan produksi padi secara nasional.

“Kami terus mendorong para petani mengalihkan kebun sawit menjadi areal tanaman pangan, khususnya padi. Dengan demikian areal sawah di Jambi terus bertambah. Peningkatan luas areal sawah di Jambi penting menopang program swasembada dan ketahanan pangan yang dicanangkan Pemerintah Pusat,”katanya.(JP-SP)



Share this article :

Posting Komentar