Dari Mesin Ketik ke Algoritma Digital
Catatan: Rosenman Manihuruk (Asenk Lee Saragih)
Jambipos Online – Enam puluh empat tahun perjalanan pers di Provinsi Jambi bukan sekadar hitungan angka. Ia adalah kisah tentang tinta yang tak pernah benar-benar kering, tentang suara yang tak pernah sepenuhnya padam, dan tentang perjuangan yang terus menemukan bentuknya, dari era analog hingga zaman digital.
Sejak 1962 hingga 2026, dunia pers Jambi telah mengalami lompatan besar. Dari mesin ketik manual yang berdenting di ruang redaksi sederhana, dari proses cetak timbal yang berdebu dan berisik, hingga kini bergeser ke layar sentuh, server, dan algoritma media sosial yang bergerak dalam hitungan detik.
Namun satu hal yang tak berubah, misi jurnalistik untuk menyampaikan kebenaran. Perjalanan itu tidak lepas dari peran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jambi sebagai organisasi wartawan pertama dan terbesar.
Selama 64 tahun, sembilan kepemimpinan telah mewarnai arah dan dinamika pers daerah, Rosnawati Rauf, AK Mahmud, Mursyid, H Syamsulwatir M, Daniel Sijan, H Syansudin Noor, H Mursyid Sonsang, M Saman, dan H Ridwan Agus DP.
Nama-nama tersebut bukan sekadar daftar sejarah, melainkan fondasi yang menopang eksistensi pers Jambi hari ini. Beberapa di antaranya telah berpulang, Rosnawati Rauf, Mursyid, H Syamsulwatir M, Daniel Sijan, H Syansudin Noor, dan M Saman. Namun karya dan perjuangan mereka tetap hidup dalam ingatan dan arsip sejarah.
Salah satu kisah paling menggetarkan adalah perjuangan almarhum H Syamsulwatir M. Pada 15 September 1990 di Jakarta, ia wafat dalam upaya memperjuangkan legalitas penerbitan media. Di tengah proses pengurusan perubahan SIUPP Mingguan menjadi Harian untuk Jambi Independent, ia tetap memprioritaskan perjuangan organisasi dan media.
Dari ruang redaksi hingga meja birokrasi pusat, ia mengabdikan hidupnya untuk memastikan informasi tetap sampai ke masyarakat. Wafatnya menjadi simbol bahwa membangun pers bukan pekerjaan ringania membutuhkan keberanian, integritas, bahkan pengorbanan.
Dari Analog ke Digital: Media Berubah, Nilai Bertahan
Jika dulu berita dikirim lewat telegram atau faksimile, kini cukup satu klik untuk menjangkau ribuan pembaca. Jika dulu oplah cetak menjadi ukuran pengaruh, kini trafik, engagement, dan algoritma menjadi parameter baru.
Media boleh berubah. Platform boleh berganti. Teknologi boleh melompat jauh. Tetapi nilai jurnalistik tidak boleh goyah.
Di era analog, tantangan utama adalah keterbatasan alat dan distribusi. Di era digital, tantangannya justru ledakan informasi, hoaks, kecepatan yang sering mengorbankan akurasi, serta tekanan ekonomi media yang semakin kompleks.
HPN ke-64 tahun 2026 menjadi momentum refleksi, apakah pers Jambi mampu menjaga marwahnya di tengah derasnya arus digitalisasi? Apakah karya jurnalistik tetap berpijak pada verifikasi, keberimbangan, dan etika, atau justru terjebak dalam kejar tayang dan sensasionalisme?
Karya Jurnalistik yang Abadi
Sejarah membuktikan bahwa karya jurnalistik yang lahir dari kejujuran dan keberanian akan selalu menemukan jalannya untuk abadi. Ia mungkin tercetak di kertas yang menguning, tersimpan di rak arsip, atau terdigitalisasi dalam server dan cloud, tetapi maknanya tetap hidup.
Pers adalah penjaga ingatan kolektif. Ia mencatat peristiwa, mengawal kekuasaan, menyuarakan yang tak terdengar, dan menjadi jembatan antara rakyat dan pemerintah. Tanpa pers, demokrasi kehilangan cermin dan pengingatnya.
Enam puluh empat tahun perjalanan ini mengajarkan satu hal penting, yang membuat pers abadi bukan medianya, melainkan integritas wartawannya.
Dari dentingan mesin ketik hingga notifikasi ponsel pintar, dari tinta cetak hingga piksel digital, semangat jurnalistik Jambi telah melewati zaman. Tugas generasi hari ini adalah memastikan nilai-nilai itu tetap menyala.
Karena pada akhirnya, media boleh berubah-ubah. Tetapi kebenaran yang ditulis dengan hati dan tanggung jawab akan selalu menemukan keabadiannya.
.jpg)
Jejak Perjalanan Pers Jambi selama 64 tahun sejak 1962 hingga 2026 kini telah menorehkan perjuangan Piler ke 4 Demokrasi Indonesia (Pers). Khususnya di Provinsi Jambi, selama 64 tahun telah menorehkan sembilan kepemimpinan di organisasi Pers terbesar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jambi.
Torehan kepemimpinan (Ketua PWI Provinsi Jambi) itu mulai dari Rosnawati Rauf, AK Mahmud, Mursyid, H Syamsulwatir M, Daniel Sijan, H Syansudin Noor, H Mursyid Sonsang, M Saman, H Ridwan Agus DP.
Sebuah perjalanan organisasi Pers pertama dan terbesar ini, tentunya banyak membawa dampak positif bagi perkembangan dunia Pers di Provinsi Jambi. Peran Pers dalam pembangunan sangat penting sebagai media penyampain informasi kepada masyarakat.
Dari sembilan kepemimpinan Ketua PWI Provinsi Jambi selama 64 tahun ini, yang sudah menghadap Sang Pencipta (Meninggaldunia) adalah Rosnawati Rauf, Mursyid, H Syamsulwatir M, Daniel Sijan, H Syansudin Noor, dan M Saman.
H Syamsulwatir M meninggal 15 September 1990 di Jakarta, dalam usaha pengurusan SIUPP Mingguan menjadi Harian. Setelah mengantar surat perizinan SIUPP Independent di kantor Deppen Jakarta barulah Syamsulwatir M minta dirawat di rumah sakit bersama istrinya Ny Miarny S Watir dan putri ke-5 nya Kiki Sayang Watir.
Putra H Syamsulwatir M yakni Sakti Alam Watir (5AW) (Alm) pernah mengatakan, dua hari dirawat di rumah sakit, Syamsulwatir dengan membuka sendiri obat bius di tangan, minta keluar dari rumah sakit. Menjelang kembali ke Jambi, sekitar pukul 04.50 tanggal 15 September 1990 Syamsulwatir meninggal dunia. H Syamsulwatir M juga sebagai pendiri Harian Jambi Independent dan Ketua PWI Jambi Periode 1973-1978.
Pemikiran H Syamsulwatir M
Perkembangan pers di Kota Jambi beriringan dengan terbentuknya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Salah satu tujuan di bentuknya PWI adalah untuk lebih bersatu dan terorganisasi guna melanjutkan perjuangan dalam mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan rakyat yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, hidup dalam keadilan dan kemakmuran, di tengah-tengah suatu dunia baru yang sarat akan informasi dan berita setiap harinya.
Pada tahun 1950-an, telah ada beberapa wartawan di Jambi yang tergabung dalam keanggotaan PWI. Pada saat itu PWI masih berinduk ke PWI cabang Sumatra Selatan.
Wartawan yang tergabung dalam anggota PWI saat itu ialah Roesmawi Raoef, AK Mahmud, Bustami Bey, Tarmizi Ilyas, M Zen Alamsyah, H Marpaung, Syamsulwatir, dan A Razak TR. Mereka bekerja pada surat kabar terbitan Jambi yaitu Harian Peristiwa, Mingguan Berita, Harian Warta Masyarakat dan Harian Massa Press.
Syamsulwatir yang juga jurnalis pada masa itu yang berkelahiran tahun 1935 di Payakumbuh, Sumatera Barat. Beliau jurnalis yang pernah merasakan suasana dua pemerintahan di Indonesia sekaligus, yaitu Orde lama, dan Orde Baru. Syamsulwatir aktif dalam keanggotaan PWI, beliau pernah menjabat menjadi ketua PWI pada periode 1973-1978.
Keterlibatan Syamsulwatir dalam dunia pers di Kota Jambi, diawali dengan keberhasilannya menjadi seorang penulis lepas di surat kabar Massa Press dan bahkan beliau mendirikan surat kabar harian pada tahun 1973.
Surat kabar yang didirikan Syamsulwatir yaitu surat kabar Harian Independent. Penerbitan surat kabar ini oleh Syamsulwatir hanya dengan modal tekad dan idealis belaka. Syamsulwatir dalam tulisan-tulisan lepasnya menaruh minat pada isu ekonomi, pertanian, pariwisata dan budaya.
Hal itu dapat dilihat dalam liputan maupun tulisan-tulisan lepasnya, baik di Harian Independent yang beliau pimpin maupun di lembar-lembar surat kabar di Sumatera dan Ibu Kota, seperti Peranan Kaupui di Jambi, Suatu Tanda Tanya. Sumbar : Makin Banyak Orang Meninggalkan Pertanian. Prospek Industri Pariwisata Sumatera. Lumbung Pitih Perintis Bank Desa dan Sebagai Lembaga Keuangan Modern.
Kehadiran serta eksistensi Syamsulwatir dalam dunia pers di Kota Jambi sejak 1950-an sampai 1990 menjadi salah satu bukti nyata dalam peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi.
Untuk itu, biografi pemikiran perlu dihadirkan dalam historiografi Indonesia dengan tujuan untuk menemukan makna yang mereka hadirkan dan bagaimana mereka berfungsi untuk mempertahankan keteraturan sosial atau perubahan-perubahan disekelilingnya.
Daniel Sijan Bin H M Sijan yang merupakan Tokoh Pers dan Sesepuh Pers Jambi menghembuskan nafas terakhir di RS DKT (Branata) Jambi karena sakit, Kamis 7 Desember 2017 Sekitar Pukul 1.30 WIB. Daniel Sijan Bin H M Sijan Tutup Usia 79 Tahun. Almarhum dikebumikan Kamis (7/12/2017) Pukul 10.30WIB di TPU Putri Ayu Telanaipura.
Almarhum Daniel Sijan lahir di Medan 23 September 1938. Anak ke 5 dari 15 bersaudara. Pernah menjabat Kabiro Antara di Aceh, pernah menjabat Kepala Biro Antara Jambi dan Ketua PWI Provinsi Jambi Dua Periode dan terakhir sebagai Penasehat PWI Provinsi Jambi. Almarhum Daniel Sijan juga pendiri dan pemilik Media Jambipos (Tabloid 1998) kini Portal Siber www.jambipos-online.com dan www.jambipos.id.
H Syansudin Noor meninggal dunia di Jakarta Rabu 17 November 2010 karena sakit. Saat itu H Syamsudin Noor menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Daerah (DKD) Persatuan Wartawai Indonesia (PWI) Provinsi Jambi. H Syamsudin Noor menjabat sebagai Ketua PWI Jambi Periode 2000-2008.
M Saman Spt meninggal dunia pada Rabu 30 Oktober 2019 di Rumah Sakit Abdul Manap Kota Jambi karena sakit. Almarhum Saman Spt terpilih sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jambi Periode 2017-2022 dalam Konferensi Provinsi (Konfrenprov) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jambi di Novita Hotel Jambi, Minggu (7/5/2017) sore.
Dalam perjalanan Sembilan Kepemimpinan PWI Provinsi Jambi sejak 1962 hingga 2021 ini jejak Rosnawati Rauf dan Mursyid sangat minil. Baik di pencarian google nama kedua tokoh Pers Jambi ini nyaris tak ditemukan.
Memaknai Hari Pers nasional (HPN) 9 Februari 2021, perjalanan Pers Indonesia begitu pesat. Bahkan era digital saat ini sangat berdampak buruk terhadap media cetak seperti Surat kabar dan Tabloid dan Majalah.
Seperti sebuah Motto, “Media Boleh Berubah, Tapi Jurnalis Tetap Abadi”. Memasuki media Siber saat ini, dengan mudahnya masyarakat untuk mendirikan sebuah media siber, meski bukan dilatarbelakani dari ilmu Jurnalis.
Pembuatan PT untuk mendirikan sebuah media siber tidaklah lagi sesulit pengurusan SIUPP di Kantor Deppen RI Jakarta kala itu. Kini telah mudah bagi pemilik modal.
Menurut data HPN 2018 Padang, Sumatera Barat, keberadaan Media Siber di Indonesia berjumlah 43.300 media siber. Bahkan sebanyak 75 persen pendiri dan pemilik media siber itu merupakan bekas wartawan surat kabar (media cetak).
Kini hanya seleksi alam (pembaca) yang bisa mempertahankan Media Siber tersebut. Sajian berita yang berkualitas disertai dengan tata bahasa yang baik serta tetap pada penerapan Kode Etik Jurnalistik, sebagai kunci bertahannya Media Siber.
Media Siber terus berkembang, Tapi Profesionalitas Jurnalis Tetap Jadi Utama. Seperti sebuah Motto, “Media Boleh Berubah, Tapi Jurnalis Tetap Abadi”. Salam HPN 2021.
(Penulis Adalah Pengurus PWI Provinsi Jambi/ Redpel Jambipos-Online/ Pegiat Blogger-Medsos-YouTuber).
0 Komentar
Komentar Dilarang Melanggar UU ITE