Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Widget HTML

 


Musda Golkar Jambi, Memuluskan Cek Endra Ditampuk Beringin

HBA, Al Haris, Kemas Faruq dan Joni Ismet "Disebut Penggebira"

H Cek Endra (tengah) didampingi M Juber (kanan) dan H Ivan Wirata (kanan) saat mengembalikan formulir pendaftaran cagub Jambi di DPD PDIP Provinsi Jambi, Senin 23 September 2019. Foto Asenk Lee Saragih
Jambipos, Jambi-Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Provinsi Jambi akan berlangsung Sabtu 29 Februari 2020. Sejumlah kandidat sudah menyatakan diri untuk merebut simpatik 17 suara di Musda Golkar itu. Namun salah satu kandidat yang bakal mulus menuju tampuk partai berlambang pohon beringin itu adalah H Cek Endra, Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Sarolangun.

Sejumlah kandidat yang terkabar bakal maju adalah Al Haris, Politisi senior Golkar Kemas Faruq, tokoh senior Golkar Hasan Basri Agus (HBA), Joni Ismet. Sedangkan Ketua Harian DPD Golkar Provinsi Jambi Syarif Fasha memilih tidak maju.

Ketua Organizing Commite (OC)  Musda Golkar Jambi Endria Putra membenarkan HBA mengutus dua orang mengambil formulir pendaftaran. HBA menjadi orang pertama yang mendaftar usai pengumuman pendaftaran dibuka oleh Steering Commite Selasa siang (24/2/2020).

Sementara Ketua SC Musda Golkar Jambi, A. Rahman, setelah pendaftaran ini, tahap selanjutnya akan dilakukan verifikasi. Kita lihat semua persyaratan terpenuhi atau tidak sebagai Calon Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Jambi.

HBA sendiri merupakan kader partai Golkar dan juga anggota DPR RI dari partai Golkar. Saat ini Gubernur Jambi Periode 2010-2015 ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan DPD I Partai Golkar Provinsi Jambi.

Baca Juga: Musda Golkar Jambi, DPP Berharap Terjadi Aklamasi Pemilihan Ketua

HBA  juga diperkirakan bakal sulit lolos sebagai calon. Anggota DPR RI ini tidak menemuhi salah satu dari sembilan syarat pencalonan. Yaitu aktif terus menerus menjadi anggota Partai Golkar sekurang-kurangnya 5 tahun dan tidak pernah menjadi anggota Partai politik lain.

Seperti diketahui, HBA memang kader Golkar. Namun, mantan Gubernur Jambi itu sempat keluar dari Golkar dan terpilih menjadi Ketua Partai Demokrat Provinsi Jambi. HBA baru keluar dai partai berlambang mercy itu pada 2016, dan belum genap 5 tahun bergabung lagi dengan Partai berlambang beringin rindang ini.

Lantaran tidak memenuhi salah satu syarat, HBA hampir dipastikan bakal gugur dari bursa calon ketua. Anggota Komisi V DPR RI ini sepertinya sudah menyadari bakal terjegal oleh salah satu syarat pencalonan tersebut. Saat dihubungi tadi malam, HBA belum mau memberi komentar soal pencalonannya sebagai Ketua DPD I Partai Golkar. 

Terpisah, Ketua Harian DPD Golkar Provinsi Jambi Syarif Fasha memastikan diri tidak maju dalam musda ini. Dirinya tidak tertarik lagi untuk menjadi ketua DPD Golkar Provinsi Jambi. Dia juga memberikan rekan kadernya di Golkar untuk berkompetisi sehat.

Yang penting seluruh kader yang maju niatnya untuk membesarkan partai Golkar. Bukan hanya sekedar mengejar Rekomendasi Partai Golkar untuk maju dalam pemilihan gubernur 2020 ini.

Sementara Kemas Faruq juga ikut meramaikan bursa calon ketua DPD I Golkar Provinsi Jambi. Ia juga mengambil formulir calon ketua dengan datang langsung ke sekretariat panitia penjaringan. 

Kemas Faruq menyatakan keputusannya untuk maju sudah melalui pertimbangan yang panjang. Kemudian juga ada desakan dari kader partai berlambang beringin untuk meminta dirinya maju. 

Faruq menyebutkan jika dirinya punya visi misi besar untuk membesarkan partai besutan Airlangga Hartarto. Salah satunya menyiapkan mobil operasional untuk DPD II Kabupaten/kota. 

Selain mobil Innova sebagai operasional. Dia juga akan menyiapkan anggaran Rp. 500 juta untuk masing-masing DPD II.

Memang ada dua lawan lagi yang mencoba pertungan. Keduanya mendaftar sebagai bakal calon ketua pada hari kedua pendaftaran kemarin. 

Yaitu Joni Ismed dan Kemas Faruq. Namun, Keduanya dinilai hanya ikut meramaikan saja. Sementara untuk bersaing dengan CE, keduanya dianggap beda kelas. Keduanya juga bakal sulit lolos dari syarat dukungan 30 persen.

Sedangkan informasi di internal Golkar sendiri menyebutkan, bahwa Cek Endra masih berpeluang besar memenangkan pertarungan dibandingkan Al Haris dan HBA. 

Bupati Sarolangun itu disebut sebut sudah menguasai pemilik suara di tingkat II dan hampir semua DPD II sudah merapat ke Cek Endra.

Hal itu tampak saat CE mendaftar di penjaringan Cagub PDIP beberapa pekan lalu. Saat itu, CE dikawal beberapa ketua DPD II kabupaten dan Kota. Seperti Ketua Golkar Tanjabtim Juber, Ketua Golkar Tanjabbar Faisal Alwi, Ketua Golkar Kota Sungaipenuh Tabri Muis dan Ketua Golkar Bungo Mahsus.

Selain itu sejumlah anggota DPRD Provinsi dari Fraksi Golkar juga ikut mendampingi. Seperti Ivan Wirata, Mai Maznah dan Apif Firmansyah. Juga Ketua DPD II Golkar Kota Jambi Nuzul Prakasa dikabarkan sudah lebih awal merapat ke CE. Bahkan Sukandar (Bupati Tebo) yang juga kader Golkar ini juga sudah memastikan suara DPD II Tebo untuk CE. 

Juga beredar informasi di tim CE, bahwa CE bakal terpilih secara aklamasi di akhir Musda Golkar. Untuk posisi saat ini, peluang terbesar masih di tangan CE. Hampir semua DPD II merapat ke Bupati Sarolangun itu. 

Sementara peluang Al Haris juga punya massa dan nilai plus. Namun Al Haris kini lebih fokus pada pencalonannya sebagai Cagub Jambi pada Pilkada Gubernur Jambi 23 September 2020 mendatang.

Al Haris belakangan gencar menunjukkan eksistensinya jelang pilgub, namun di lingkungan internal Golkar, Al Haris punya cacatan negative diantara sesame koleganya.

Sedangkan peluang HBA untuk merebut kursi Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Jambi peluangnya tipis. Namun demikian setidaknya bisa mengurangi suara dukungan kepada CE. Kader Golkar Provinsi Jambi juga banyak menyarankan agar HBA fokus di DPR RI dan sebagai ketua Dewan Pertimbangan DPD I Golkar Provinsi Jambi.
Karya: Shahril Hannan (Pak Do)
Politisi muda Golkar, Joni Ismed mengaku optimis bisa lolos sebagai calon ketua Golkar. Dia mengutus perwakilannya mengambil formulir calon ketua kemarin. "Saya mewakili atas nama bang Joni Ismed sebagai kandidat calon ketua umum DPD I Partai Golkar yang akan berkompetisi pada tanggal 29 sampai tanggal 1 Maret nanti," kata Amri usai mengambil formulir.

Menurut dia, Joni Ismed adalah kader murni Golkar. Dia sudah 20 tahun bersama Golkar. "Dia akan mengikuti proses dan sebagai pengurus provinsi wakil ketua kita sudah siapkan," ujarnya.

Soal 30 persen dukungan minimal dari pemilik hak suara, Amri menyampaikan tentu ada dukungan, tidak hanya sekedar maju. "Kita serius untuk maju," tegasnya.

Aturan Musda

Ketua Steering Commite (SC) Musda Golkar Jambi, A. Rahman menyatakan pada Musda X ini tidak ada biaya pungutan apapun alias gratis untuk pendaftaran bakal calon. Pendaftaran hingga proses pleno ke 7 dalam pelaksanaan Musda. Semua proses ini hanya akan bersinggungan dengan SC.

Ada 17 suara sah yang akan menjadi voter dalam pemilihan orang nomor satu di partai berlambang beringin ini untuk wilayah Provinsi Jambi.

Sebanyak 17 pemilik suara yang akan menggunakan haknya pada Musda 29 Februari 2020  terdiri dari  DPP, Dewan Pertimbangan, DPD I Provinsi Jambi, 11 DPD II memiliki. AMPG dan KPPG memiliki 1 suara. MKGR, Soksi, dan Kosgoro juga memiliki 1 suara. Terakhir AMPI, MDI, HWK dan Al-Hidayah dan Satker Ulama juga memiliki 1 satu suara.

Disebutkan, para bakal calon yang mendaftar, berdasarkan aturan Juklak Musda, harus mendapatkan dukungan 30 persen untuk bisa ditetapkan sebagai calon. Itu artinya bakal calon minimal mengantoingi 5 sampai 6 dukungan.

"Jika dukungan sudah melebihi 50 persen, maka ada kemungkinan untuk proses pemilihan berjalan aklamasi," kata A Rahman.

Mengenai masalah suara, untuk AMPG dan KPPG itu wajib harus sepakat. Jika tidak, suara dinyatakan hangus. Untuk Soksi, MKGR, dan Kosgoro jika terjadi perselisihan maka mereka akan voting. Suara yang sama itulah yang dianggap sah. Sistem ini juga berlaku pada suara AMPI, MDI, HWK dan Al-Hidayah dan Satker Ulama.

Kemudian, berpendidikan minimal S1 atau yang setara. Aktif terus menerus menjadi anggota Partai Golkar sekurang-kurangnya 5 tahun dan tidak pernah menjadi anggota Partai politik lain. 

Selanjutnya, dinyatakan lulus mengikuti pendidikan dan pelatihan kader Partai Golkar, memiliki prestasi dedikasi disiplin loyalitas dan tidak tercela PD2LT, memiliki kapabilitas dan akseptabilitas, tidak pernah terlibat G30S PKI, bersedia meluangkan waktu dan sanggup bekerja sama secara kolektif dalam Partai Golkar.

Syarat terakhir, tidak mempunyai hubungan suami atau istri atau keluarga sedarah dalam satu garis lurus ke atas dan ke bawah yang duduk sebagai anggota DPR RI DPRD provinsi DPRD kabupaten kota mewakili partai politik lain atau menjadi pengurus partai politik lain dalam satu wilayah yang sama.

Ketua Steering Commite (SC) pelaksanaan Musda Golkar Jambi, A. Rahman, mengatakan persyaratan itu dibuat oleh pihaknya berdasarkan AD/ART dan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) DPP yang menjadi pedomannya. "Kami tidak bisa lari dari situ. Bukan dibuat-buat," katanya kepada wartawan, Rabu (26/2/2020) kemarin.

Dia juga menegaskan, aturan tersebut bukan sama sekali dibuat untuk menjegal salah satu kandidat yang akan bertarung dalam Musda Golkar kali ini. 

"Persyaratan itu dari Juklak DPP serta AD/ART. Jadi tidak ada dibuat-buat. Apalagi untuk menjegal. Tidak ada sama sekali. Pedomannya ada di AD/ART dan juklak. Kami hanya mengikuti aturan itu. Tidak bisa nambah dan mengurangi," jelasnya.

Soal lolos atau tidaknya, bakal calon, menurut A Rahman, bukanlah kewenangannya. "Nanti ada tim verifikasi waktu pembukaan di pleno. Itu akan diserahkan kepada SC. Siapa yang memenuhi syarat, kita serahkan, batas waktunya pleno 7 itu," sebutnya. (JP-Berbagaisumber/Asenk Lee Saragih)


Berita Lainnya

Posting Komentar

0 Komentar