Hutan Anggrek Gambut Muarojambi Tinggal Kenangan

Sarcanthus-subulatus-salah-satu-jenis-anggrek-yang-selamatakan-komunitas-GMJB-dari-rawa-gambut-Batang-Damar-di-Kecamatan-Maro-Sebo-Kabupaten-Muaro-Jambi.


Jambipos Online, Muarojambi-Ratusan anggrek, yang jenisnya mencapai 74 jenis anggrek alam yang terdapat di wilayah Kabupaten Muarojambi kini kehilangan habitat aslinya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghanguskan 615 hektare area hutan "Batang Damar" pada tahun 2015 dan 2019 lalu. Bahkan kini lahan eks habitat anggrek alam itu berubah jadi lahan sawit. 

Sementara Gerakan Muaro Jambi Bersakat (GMJB) yang sempat getol membudidayakan anggrek alam yang tersisa dan akan dilepas liarkan ke hutan saat jumlahnya mencapai seribu, kinipun tinggal cerita. Lahan anggrek kini telah berubah jadi lahan sawit.

"Hutan"Anggrek Muarojambi yang awalnya hanya terdapat di Indonesia itu, kini tinggal cerita dan jejak digital pengiatnya. Berikut ini jejak digital artikel terkait dengan "Hutan"Anggrek Muarojambi.    

Anggrek kebanyakan jenis Dendrodium, Pomatocalpa, Phalaenopsisi atau Eria, Trichotocia ferox, Thelasis, Flicking ceologyne, Cymbidium, Appendicula, Javanica, dan Bulbophyllum, Dendrobium Lapongense, jenis anggrek yang jarang ditemukan di Jambi, kini tinggal kenangan.

Adi melamun sambil duduk melantai di teras rumahnya di Muaro Jambi. Raut wajahnya lesu. Ia menarik nafas dalam sembari menatap puluhan anggrek macan (Gramatophyllum speciosum) dan jenis lainnya yang tergantung nelangsa di halaman.

Kegelisahan Adi dimulai sejak 2009 saat ratusan hektar hutan “Batang Damar” ditumbangkan dan diganti dengan ratusan, bahkan ribuan batang sawit, yang merusak habitat anggrek alam terbesar di Muaro Jambi. 

Jika sebelumnya pepohonan rawa gambut seluas 615 hektar di Batang Damar menjadi habitat ratusan jenis anggrek alam, kini hanya tersisa semak belukar dan ilalang karena habis terbakar.

Untuk mencegah anggrek-anggrek alam tersebut punah, Adi bersama puluhan warga Jambi Tulo yang tergabung dalam komunitas GMJB menyisir hutan-hutan di Muaro Jambi hingga perbatasan Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, dan Batanghari.

“Mano waktu itu hutan yang nak dibuka jadi kebun, kami datangi, kami selamatkan anggrek-anggrek yang ado. Ado 84 jenis yang kami biso selamatkan, tapi ado 10 jenis yang belum diketahui namonyo, sampai sekarang kami belum tahu,” katanya.

Pria 40 tahun itu tak ingat persis anggrek jenis apa saja yang ia temukan di Batang Damar. Beberapa jenis yang ia ingat adalah jenis Dendrodium, Pomatocalpa, Phalaenopsisi atau Eria, Trichotocia ferox, Thelasis, Flicking ceologyne, Cymbidium, Appendicula, Javanica, dan Bulbophyllum. Anggrek kesukaannya adalah anggrek jenis Dendrobium hendersonii yang ia sebut sebagai merpati biru, karena daun anggrek ini berwarna hijau kebiru-biruan.

Selain itu, ada juga anggrek langka yaitu Dendrobium Lampongense. Anggrek ini merupakan  endemik Lampung yang memiliki ciri khas bunga berwarna kuning kecoklatan, dan memiliki corak berwarna merah di bagian dalamnya. Bunganya berukuran 3-4 cm dan kan bersemi dari batang yang daunnya telah rontok.

Anggrek Alam Muarojambi.

“Anggrek di lahan gambut punya keunikan sendiri. Mulai dari corak, warna dan aroma wangi yang berbeda. Macam jenis Coelogyne asperata itu mirip anggrek hitam (Coelogyne pandurata) di Kalimantan, tapi kalau di sini corak tengahnya merah samo kuning,” tutur Adi.

Pada 2013, GMJB telah mengusulkan Batang Damar sebagai lahan konservasi anggrek di Kabupaten Muaro Jambi. Upaya itu berbuah manis pada tahun 2015 saat Burhanuddin Mahir, Bupati Muaro Jambi saat itu, datang ke Muara Sebo dan menyatakan bahwa hutan Batang Damar akan dijadikan lokasi konservasi dan kawasan wisata alam khusus anggrek.

Namun, belum genap seminggu setelah kedatangan Burhanuddin, api melahap kawasan Batang Damar. Berhari-hari rawa gambut itu penuh bara dan asap, membakar semua yang hidup di atasnya.

“Waktu Batang Damar terbakar, kito sudah putus asa, dak ado lagi yang biso diselametin. Lahan 615 hektar itu habis terbakar, anggrek-anggrek ikut musnah, habis semuo,” kata Adi mengenang.

Dia curiga Batang Damar sengaja dibakar untuk keperluan bisnis karena saat itu banyak warga Desa Jambi Tulo, Mudung Darat, dan Bakung sepakat menjual sawah mereka pada pada perusahaan.

Sekarang kawasan Batang Damar telah dikuasai PT Sumber Sedayu dan PT Agro Bumi Lestari. Tinggal menunggu waktu rawa gambut itu akan berubah menjadi kebun sawit dan jabon.

Setelah kejadian kebakaran hutan dan lahan hebat tahun 2015, masyarakat kehilangan semangat mengelola anggrek. Tidak ada yang dapat mereka lakukan karena habitat anggrek Batang Damar telah habis terbakar.

Semangat menyelamatkan anggrek mulai bangkit kembali pada tahun 2017. Ketika itu, Komunitas GMJB bertekad mengumpulkan 1.001 anggrek macan (Gramatophyllum speciosum) yang dianggap mudah beradaptasi di luar habitat aslinya. Selain itu, anggrek macan tergolong unik karena merupakan jenis anggrek terbesar dan terberat di dunia.

Namun, merawat anggrek alam di luar habitatnya bukanlah perkara mudah. Penanganan yang salah akan membuat anggrek mudah layu bahkan mati saat terpapar panas matahari langsung. Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk menyelamatkan ratusan anggrek di luar habitatnya juga tidak murah. Anggrek perlu dibudidayakan di rumah bayang, yakni bangunan khusus berangka baja yang ditutup paranet sehingga menyerupai kondisi habitat anggrek alam. Hingga kini, terdapat sekitar 74 jenis anggrek rawa gambut yang masih bisa bertahan hidup.


“Merawat anggrek alam ini biayanyo besak, bukan sikok (satu) duo (dua) anggrek yang kito selametin dari alam ini, tapi puluhan jenisnyo, kalau jumlahnya biso seratusan.”

Untuk menyiasati situasi itu dan mencapai target 1.001 anggrek, komunitas GMJB membuka Taman Sakat Lebung Panjang sebagai tujuan wisata, edukasi, dan penangkaran anggrek di Muaro Jambi. Tiga setengah hektar kebun milik Adi pun diubah untuk menjadi Taman Sakat.

Di Taman Sakat Lebung Panjang, wisatawan memiliki kesempatan untuk mengadopsi anggrek dengan membayar Rp100.000. Anggrek yang diadopsi akan diberi nama pengadopsi dan selanjutnya akan dirawat oleh komunitas GMJB hingga siap dilepas liarkan. 

Sampai dengan saat ini sudah lebih dari 50 anggrek telah diadopsi.  Wisatawan yang berkunjung pada umumnya merupakan relasi dari anggota GMJB atau orang yang peduli terhadap lingkungan yang tinggal di sekitar Taman Sakat Lebung. Namun, ada juga wisatawan asal Yogyakarta, Bandung, Bali, dan Jakarta.

Selain mengadopsi, pengunjung juga bisa mendonasikan anggrek miliknya untuk dikelola oleh GMJB. Jika seluruh anggrek hasil adopsi, donasi dan budidaya GMJB sudah mencapai seribu, Adi dan komunitas GMJB bercita-cita untuk mengembalikan anggrek tersebut ke wilayah hutan yang masih asri dan dilindungi.

Dihubungi terpisah melalui telepon, Wakil Bupati Muaro Jambi, Bambang Bayu Suseno, mengaku telah melakukan komunikasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Jambi agar dapat membantu mengembangkan anggrek Muaro Jambi. Tahap awal yang dilakukan adalah melakukan identifikasi anggrek yang ada dan potensi pengembangannya, serta melakukan  pendampingan dalam pengelolaannya.

Bambang mengaku bahwa pemerintah siap mendorong pengembangan potensi tanaman anggrek yang ada di Muaro Jambi agar tidak punah. Namun sayangnya, anggaran yang terbatas hampir selalu menjadi masalah klasik bagi pemerintah untuk menjadikan perlindungan anggrek sebagai program prioritas kabupaten.

“Kalau habis ini pemerintah tidak juga bantu, sayo akan tetap pertahankan rumah bayang, bagimanapun caronyo sayo akan berjuang,” kata Adi.

Adi Ismanto telah berjuang selama 11 tahun untuk menyelamatkan anggrek Muaro Jambi bersama komunitas Gerakan Muaro Jambi Bersakat ©Yitno Suprapto

*****
Tulisan ini sudah tayang di Pantaugambut.id
Judul : "Menyelamatkan Anggrek Gambut Muaro Jambi"
URL : https://pantaugambut.id/kabar/menyelamatkan-anggrek-gambut-muaro-jambi
Penulis : Yitno Suprapto dari Pantau Gambut


Para Penyelamat Anggrek Rawa Gambut Batang Damar

Oleh: Sapariah Saturi

Namanya Gerakan Muaro Jambi Bersakat (GMJB). Setidaknya 74 jenis anggrek alam kini diselamatkan anggota GMJB, kebanyakan jenis Dendrodium, Pomatocalpa, Phalaenopsisi atau Eria, Trichotocia ferox, Thelasis, Flicking ceologyne, Cymbidium, Appendicula, Javanica, dan Bulbophyllum. Juga Dendrobium Lapongense, jenis anggrek yang jarang ditemukan di Jambi.

Anggrek-anggrek yang hidup liar di lahan gambut memiliki banyak keunikan, mulai dari corak, warna bahkan aroma wangi berbeda-beda.
 
Gerakan Muaro Jambi Bersakat membuat Taman Sakat Lebung Panjang. Adi Ismanto, pendiri GMJB mendedikasikan 3,5 hektar kebun sawit miliknya jadi pembibitan anggrek rawa gambut sekaligus tempat wisata minat khusus. Wisatawan yang datang ke Taman Sakat bisa mengadopsi anggrek macan dengan berdonasi Rp100.000. Mereka akan mendapatkan satu anggrek macan yang akan dirawat Komunitas GMJB.

Fachrori Umar, Gubernur Jambi turut bangga dengan upaya GMJB menjaga dan melestarikan lingkungan. Harapannya, gerakan komunitas kecil di Maro Sebo itu dapat membangkitkan semangat masyarakat luas ikut berperan menyelamatkan aggrek Muaro Jambi dan lingkungan dari bencana ekologi.

Di sebuah panggung di tengah kebun sawit, saya menyaksikan orang-orang di Jambi Tulo, bersuka cita. Gadis cilik mengenakan kurung tanggung melantunkan lagu dengan iringan musik rebana. Suara meliuk-liuk dengan cengkok khas Melayu.

Di tengah keriuhan, saya bertemu Adi Ismanto, pendiri Gerakan Muaro Jambi Bersakat (GMJB). Sudah 11 tahun dia berjuang menyelamatkan anggrek rawa gambut di Batang Damar, Muaro Jambi.

Saya mengenalnya enam tahun silam. Dia memperlihatkan anggrek-anggrek hidup liar di Batang Damar barang kali habitat anggrek rawa gambut terbesar di Muaro Jambi.

Setidaknya 74 jenis anggrek alam kini diselamatkan anggota GMJB, kebanyakan jenis Dendrodium, Pomatocalpa, Phalaenopsisi atau Eria, Trichotocia ferox, Thelasis, Flicking ceologyne, Cymbidium, Appendicula, Javanica, dan Bulbophyllum. Juga Dendrobium Lapongense, jenis anggrek yang jarang ditemukan di Jambi.

Adi juga pernah menunjukkan anggrek Dendrobium hendersonii. Dia menyebut, merpati biru, karena daun anggrek berwarna hijau kebiru-biruan. Anggrek jenis itu langka di Jambi.

Beberapa jenis anggrek yang belum diketahui nama latin diberi nama kampung, anggrek badak, karena bentuk bunga menyerupai badak. Adi bilang itu termasuk jenis anggrek langka.

“Ado 10 jenis yang belum diketahui namonyo, sampai sekarang kami belum tahu.”

Anggrek-anggrek yang hidup liar di lahan gambut memiliki banyak keunikan, mulai dari corak, warna bahkan aroma wangi berbeda-beda. “Setiap anggrek punya keunikan sendiri-sendiri. Macam Coelogyne asperata itu mirip anggrek hitam (Coelogyne pandurata-red) di Kalimantan. Kalau di sini corak tengah merah samo kuning,” kata Adi.

Banyak anggrek mati karena tak tahan panas matahari. Hidup di luar habitat asli membuat anggrek-anggrek ini rentan.

Batang Damar hancur terbakar pada 2015. Berhari-hari rawa gambut penuh bara, membakar semua tanaman nyaris tanpa sisa. Lebih 100 jenis anggrek musnah. Padahal, pada 2013, GMJB mengusulkan agar batang damar jadi kawasan konservasi anggrek Muaro Jambi.

Kebakaran tidak hanya menghancurkan habitat anggrek, juga kelelawar (kalong) di Maro Sebo.

Enam tahun silam, saat saya memasuki tengah rawa gambut itu, ribuan kalong bergelantungan di ranting-ranting pohon tua yang meranggas, mirip rimbun daun. Kala senja tiba, mereka terbang mengitari batang damar, berisik, seolah bersuka cita menyambut gelap yang segera menyekap Muaro Jambi.

“Sejak kalong itu dak ado, duren-duren di Muaro Jambi itu rasonyo hambar.”

Para ilmuwan menyebut, kelelawar buah Asia Tenggara atau kalong (Pteropus hypomelanus) terancam punah. Kalong punya peran penting dalam proses penyerbukan durian (Durio zibethinus). Sayangnya, tak semua orang tahu kalau keberadaan mereka penting bagi alam.

“Waktu Batang Damar terbakar, kito sudah putus asa, dak ado lagi yang biso diselametin. Anggrek-anggrek ikut musnah, habis semuo,” kata Adi.

Sekarang, kawasan Batang Damar telah dikuasai PT Sumber Sedayu dan PT Agro Bumi Lestari. Tak lama lagi, rawa gambut itu berubah jadi kebun sawit dan jabon.

Sarcanthus subulatus, salah satu jenis anggrek yang selamatakan  GMJB dari rawa gambut Batang Damar, di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Foto: Yitno Suprapto/ Mongabay Indonesia

Saya melihat, kemeriahan di tengah kebun sawit itu bukanlah untuk merayakan suka cita, tetapi perjuangan menyelamatkan anggrek Muaro Jambi. Di tengah panggung tak bertiang, gadis cilik berbaju kurung masih mendendangkan lagu-lagu Melayu menyambut Gubernur Jambi yang datang jauh dari kota untuk meresmikan rumah bayang—tempat pembibitan anggrek Muaro Jambi.

Fachrori Umar, Gubernur Jambi turut bangga dengan upaya GMJB menjaga dan melestarikan lingkungan. “Jika kita lihat kekayaan sumber daya alam kita miliki, maka patut mensyukuri fenomena-fenomena alam yang unik,” katanya.

Dia berharap, gerakan komunitas kecil di Maro Sebo itu dapat membangkitkan semangat masyarakat luas ikut berperan menyelamatkan aggrek Muaro Jambi dan lingkungan dari bencana ekologi.

Gerakan 1001 Anggrek Macan

Setelah kebakaran 2015, semangat GMJB kembali muncul pada 2017. Mereka bertekad mengumpulkan 1001 anggrek macan (Gramatophyllum speciosum) untuk kembali lepas ke alam. Anggek ini dianggap unik karena jenis terbesar dan terberat di dunia. Anggrek macan juga lebih mudah dikembangkan di luar habitat.

“Anggrek macan ini lebih tahan dibanding jenis yang lain. Kalau lagi berbungo biso tahan sampai tigo bulan,” kata Adi.

Merawat anggrek alam di luar habitat bukan perkara gampang. Perlahan, puluhan jenis anggrek yang pernah diselamatkan anggota GMJB dari hutan mulai layu dan mati tersengat panas matahari.

Hampir semua anggota GMJB adalah petani yang hidup pas-pasan. Mereka rekayasa rumah jadi habitat anggrek mirip Batang Damar, adalah hal mustahil.

“Merawat anggrek alam ini biayanyo besak, bukan sikok (satu) duo (dua) anggrek yang kito selametin dari alam ini, tapi puluhan jenisnyo, kalau jumlahnya biso seratusan.”

Kini, sekitar 74 jenis anggrek rawa gambut yang masih bertahan hidup. “Dulu, ado 84 jenis yang kami selamatkan, sekarang, tinggal 74 jenis, sebagian mati,” katanya.

“Sayo mikirnyo, anggrek-anggrek ini harus biso hidup dari hasil dio dewek. Perawatannyo dari hasil kunjungan wisatawan.”

GMJB membuat Taman Sakat Lebung Panjang. Tiga setengah hektar kebun sawit milik Adi jadi pembibitan anggrek rawa gambut sekaligus tempat wisata minat khusus.

Wisatawan yang datang ke Taman Sakat bisa mengadopsi anggrek macan dengan berdonasi Rp100.000. Mereka akan mendapatkan satu anggrek macan yang akan dirawat Komunitas GMJB.

Lebih 50-an anggek macan telah diadopsi. “Ada dari Yogyakarta, Bandung, Bali, Jakarta, dari Jambi banyak. Kalau yang sudah kita pecah (bibit) ada 500-an batang.”

Pengunjung juga bisa mendonasikan anggrek mereka untuk mendukung gerapan 1001 anggrek macan. Adi bilang, jika mencapai 1.000, anggrek-anggrek ini akan dikembalikan ke alam liar terutama hutan yang masih asri dan terlindungi.

Pengunjung Taman Sakat juga bisa mengadopsi pohon-pohon lokal, seperti kandis, kecupak, cempunek. Pohon ini akan jadi pelindung bagi anggrek di alam. “Pelahan kita akan ubah jadi hutan lagi. Sawitnya ditebang.”

Pohon-pohon itu dahulu sebagai obat, makanan dan ritual di Muaro Jambi. Kini mulai sulit bahkan mulai terancam karena banyak pembukaan hutan untuk perkebunan.

Kunang-Kunang yang hilang

Hilangnya hutan Batang Damar menyingkap fenomena alam yang telah puluhan tahun tersembunyi. Fenomena kunang-kunang, istilah warga Maro Sebo pada cahaya kecil yang muncul di atas rawa gambut Batang Damar.

“Kunang-kunang ini sudah lamo ado, tapi orang tuo dulu sengajo nutupi tidak buka, kerno agama kan gak boleh percayo pada hal-hal mistis, takutnyo nanti dianggap syirik,” kata Adi.

Fenomena kunang-kunang muncul di atas rawa gambut Batang Damar disebut-sebut mirip dengan kemunculan bola api di Sungai Mekong. Penduduk Nong Khai Thailand menyebutnya dengan “Bang Fai Phaya Nak”.

Bola api naga itu hanya muncul satu tahun sekali, sekitar September atau Oktober, sebelum bulan purnama. Penduduk Nong Khai meyakini kemunculan bola api itu ada kaitan dengan Buddha.

Sementar fenomena kunang-kunang di Batang Damar muncul hampir setiap hari besar. “Munculnyo itu pas malam tahun baru (masehi), tahun baru Islam, malam takbiran,” kata Adi. “Kalau dulu orang yang pernah lihat itu warnanya banyak, ada biru, merah, kuning, kalau sekarang cuma merah.”

Batang Damar sendiri berada lima kilometer dari Candi Kedaton, bagian dari kompleks Candi Muaro Jambi tempat Yi Jing belajar Buddha.

Gubernur Jambi Fachrori Umar menanam anggrek macan setelah peresmian  Rumah Bayang. Foto: Yitno Suprapto/ Mongabay Indonesia

Pada abad ketujuh, Pendeta I-Tsing (Yi Jing) dari Tiongkok pernah belajar sabdavidya (tata bahasa sansekerta) di Candi Muaro Jambi, sebelum berlayar ke India untuk belajar ajaran Buddha.

Belakang rawa gambut di Batang Damar dikaitkan dengan peradaban kuno sejaman masa Hindu-Buddha sejak ditemukan pecahan keramik dan kanal kuno. Dahulu, kanal jadi jalur transportasi. Kaitan sejarah di Batang Damar dengan Candi Muaro Jambi belum terungkap.

Jauh sebelumnya, hutan Batang Damar merupakan daerah kemarat bagi warga Desa Jambi Tulo, Mudung Darat dan Desa Bakung hingga muncul berbagai mitos turun-temurun.

“Orang zaman dulu itu sudah memperingatkan jangan masuk di situ (Batang Damar), jangan buat ulah di situ, kagek kamu keno ini keno ini, keno balaklah istilahnyo. Tapi orang zaman dulu memang takut akhirnya Batang Damar terlindungi.”

Mitos yang berkembang di Jambi Tulo, rawa gambut Batang Damar, merupakan sarang ular besar seukuran drum. Di Desa Mudung, ada harimau kurus. “Orang bayangkan harimau kurus bae sudah ngeri, sudah berapo lamo harimau ini tidak makan, kalau kito masuk situ (Batang Damar) kitolah yang akan dimakan,” cerita Adi.

Di Desa Bakung, ada mitos sekelompok rusa hidup di Batang Damar. “Logikanya darimano ado rusa hidup di hutan rawa, berarti bukan rusa sembarangan. Jadi, jangan sembarangan masuk ke situ.”

Kanal kuno yang ditemukan di sekitar Batang Damar, dulu untuk sedekah umo sebelum warga mulai menggarap sawah dan saat panen tiba. Sekarang, tak ada lagi sawah. Hampir semua Batang Damar dan ladang kuno dikuasai perusahaan. Rawa gambut itu perlahan mengering, air mengalir lewat kanal-kanal sepanjang ratusan meter.

“Terakhir waktu sayo masuk itu sudah tujuh hektar di Batang Damar yang digarap alat berat.”

Batang Damar sejatinya daerah resapan air yang bisa menyelamatkan ribuan hektar sawah di Kecamatan Muaro Sebo dari bencana banjir dan kekeringan.

Jalalludin, ayah Adi jadi tokoh masyarakat Jambi Tulo bilang, sawah-sawah di Desa Jambi Kecil, Setiris, Mudung Darat, Danau Kedap, Bakung, Jambi Tulo dan sebagian sawah di Desa Baru akan kekeringan kalau Batang Damar rusak.

“Dulu, sawah-sawah di sekitar Batang Damar itu tak pernah kekeringan, sekarang itu kering. Sumber air di kampung kini ko jugo kering. Sekarang, banyak yang buat sumur bor kerno sumur sudah dak ado airnyo lagi.”

Kerusakan lingkungan meluas hingga mengancam kearifan lokal di Maro Sebo. Saat ini, warga mulai kesulitan membuat tikar rumbai dan ambung dari rotan.

“Dulu di sano (Batang Damar) itu habitat pandan buat tikar, sekarang habis. Rotan buat ambung jugo tidak ado lagi, habis semuo terbakar.”

Saya menghubungi Wakil Bupati Muaro Jambi, Bambang Bayu Suseno. Dia bilang, sudah komunikasi dengan pemerintah Jambi agar bisa membantu mengembangkan anggrek Muaro Jambi.

“Saya minta potensi (anggrek) kami diidentifikasi dan pendampingan. Karena Muaro Jambi punya potensi anggrek alam,” katanya.

Pemerintah, katanya, siap mendorong pengembangan potensi di Muaro Jambi. Dia berencana, menjalin kerja sama dengan Universitas Jambi untuk rekasaya genetik. “Jangan sampai anak cucu kita hanya bisa lihat gambarnya.”

Sayangnya, masalah anggaran hampir selalu jadi alasan klasik pemerintah untuk tak melakukan apa-apa. “Anggaran kita terbatas, jadi ada program prirotas dan tidak, saya belum tahu apakah anggrek ini masuk program prioritas atau tidak.”

Suasana di tengah kebun sawit itu sudah tenang. Syair-syair Melayu tak terdengar lagi. Suara tabuh rebana sudah terhenti, rombongan Gubernur Jambi pun kembali ke kota.

Rumah Bayang, kembali sepi namun semangat komunitas ini menyelamatkan anggrek Jambi, makin kuat. “Dulu, Muaro Jambi ini habitat anggrek. Itu yang ingin kita pertahankan.”

Keterangan foto utama:  Eria bractescens atau sebut anggrek bawang. Jenis anggrek ini dulu  banyak ditemukan di rawa gambut Batang Damar. Foto: Yitno Suprapto/ Mongabay Indonesia</div>

Tanpa harus menunggu, Adi Ismanto (34) segera bergerak. Ia memberi tahu rekan-rekannya saat mendengar hutan Lubuk Raman di Muaro Jambi, Jambi, akan ditebang dan dibuka menjadi lahan perkebunan sawit. Sejumlah rencana pun disusun untuk mendahului alat berat para penebang sebelum menghancurkan ekosistem tanaman anggrek hutan.

Tak lama kemudian, aktivis pemuda dari Desa Jambi Tulo, Mudung Darat, dan Bakung, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, berkumpul menuju Lubuk Raman yang berjarak sekitar 12 kilometer dari desa mereka. Untungnya, hutan rawa itu masih belum terjamah.

Hutannya masih sangat rimbun. Pepohonan masih tegak menjulang, di antaranya banyak yang berdiameter lebih dari 1 meter. Namun, yang paling menarik adalah anggrek-anggrek hutan yang menempel di atas pepohonan tua. Tanaman-tanaman tersebut tengah memamerkan bunga-bunganya. Bentuk dan warnanya beraneka ragam.

Di ketinggian pohon, anggrek-anggrek tersebut tampak tumbuh subur. Salah satunya adalah anggrek macan (Grammatophyllum speciosum) yang sangat indah.

Dikenal sebagai anggrek terbesar di dunia, anggrek macan punya ukuran sebesar rumah. Tingginya hampir 4 meter.

Anggrek itu tampak ”memeluk” salah satu dahan besar di pucuk pohon. ”Kami terpukau melihat temuan sangat langka ini. Ekosistemnya di tempat yang tinggi dan rimbun,” ujar Adi menceritakan upaya penyelamatan anggrek hutan Lubuk Raman pada Januari lalu, Sabtu (15/3/2014).

Penjual Anggrek

Lubuk Raman memang tak hanya rumah anggrek macan. Ini ”kerajaan” anggrek! Di sana, misalnya, ada kerabat anggrek hitam yang langka dan dikenal sebagai anggrek khas Kalimantan. Bentuknya mirip anggrek hitam (Coelogyne pandurata), bunganya coklat, bermotif tutul, dan berwarna kuning.

”Kami menyebutnya anggrek bawang (Coelogyne asperata),” kata petani yang pernah menjadi penjual anggrek keliling sebelum bersama sejumlah pemuda mendirikan perkumpulan penyelamatan anggrek dan pakis-pakisan hutan. Kelompok ini didirikan pada 2009 dengan nama Gerakan Muaro Jambi Bersakat (GMJB). Anggota kelompok berjumlah 20 orang yang bermata pencaharian sebagai petani padi dan sayuran.

Adi dan kawan-kawan juga menemukan sejumlah anggrek yang belakangan diketahui tak pernah ada di wilayah Jambi, di antaranya anggrek hutan jenis Dendrobium lampongense yang diselamatkan dari hutan dan kini dirawat di salah satu rumah warga. Dari hasil penyisiran, GMJB berhasil menyelamatkan sekitar 40 spesies anggrek. Seperti Dendrobium, semua anggrek ditanam di halaman rumah atau di sela-sela kebun anggota kelompok. ”Kami berharap suatu saat dapat ditanam kembali dalam habitat aslinya,” ucap Adi.

Dalam bahasa Melayu, sakat berarti ’anggrek dan pakis-pakisan hutan’. Anggrek yang pernah dijualnya dihargai Rp 1.000 per helai daun. Ia bisa memperoleh lebih dari Rp 10 juta sekali berdagang. Sebab, sekali jual, ia bisa melepas ratusan anakan anggrek yang dipanen langsung dari hutan. Pengepul kemudian mengekspor anggrek-anggrek itu.

”Dulu, hutan masih luas sehingga mudah untuk mendapatkan anggrek dan dijual. Namun, sekarang sulit. Jumlah yang dipanen semakin sedikit, ” ungkap Adi. Penyebabnya ternyata pembukaan hutan menjadi kebun sawit dan akasia yang marak. Belum lagi banyaknya pemilik modal yang membeli hutan-hutan rakyat. Kawasan Muaro Jambi memang cocok untuk kebun sawit karena lokasinya cenderung datar. Apalagi, lokasinya dekat dengan Sungai Batanghari dan Pelabuhan Talang Dukuh yang memudahkan pengangkutan hasil panen sawit.

Edwar Sasmita, Ketua GMJB, pun menyatakan, ”Sakat tak akan selamat dari pembabatan hutan kecuali jika ditangkarkan dengan baik. Oleh karena itu, setiap kali mendapat informasi rencana pembukaan hutan, GMJB langsung bergerak menyelamatkan sakat. Mereka beradu cepat dengan alat berat di lapangan. Ada kalanya mereka terlambat dan hutan sudah rata dengan tanah. Mereka pun cuma bisa memunguti anggrek dari pohon-pohon yang tumbang.”

Sejauh ini, lebih dari 80 spesies anggrek berhasil diselamatkan. Beberapa di antaranya anggrek macan, Dendrobium, Bulbophyllum, Cymbidium, Appendicula, Pomatocalpa, Phalaenopsis atau Eria, Trichotosia Ferox, Thelasis, Flicking Coelogyne, dan Javanica. Namun, anggrek yang ditanam di tempat yang bukan habitat aslinya berubah pigmen. Anggrek keris (Dendrobium aporum aloifolium), misalnya, yang bunganya ungu terang, saat ditanam di halaman rumah, warna ungunya memudar dan berubah menjadi hijau seperti daunnya.


Perlu ”Rumah” Baru

Namun, apa pun, GMJB bertekad mengembalikan seluruh anggrek ke habitatnya. GMJB mengusulkan satu kawasan hutan seluas 600 hektar di Pematang Damar, Muaro Jambi, sebagai ”rumah” baru anggrek-anggrek hutan itu.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Muaro Jambi Nazman Efendi mendukung usulan hutan konservasi anggrek dari GMJB. Namun, belum diputuskan di mana lokasinya. Hutan di Pematang Damar itu dipilih karena cuma kawasan itu yang dianggap masih tersisa meski perambahan liar mulai merasuk juga.

Saat ini, areal hutan di Muaro Jambi mencapai 154.642 hektar. Sebagian lahannya bisa digunakan untuk konservasi anggrek, misalnya taman hutan raya yang memang diperuntukkan bagi kepentingan konservasi, penelitian, dan wisata.

Kompas melihat jejaknya berupa semak belukar dan pohon-pohon kecil. Tampak bekas tebangan kayu dan sejumlah kanal untuk menghanyutkan kayu-kayu bulat sisa penebangan di masa lalu. Meski demikian, kawasan itu masih bisa diharapkan sebagai pengganti hutan konservasi asal pelestariannya benar-benar dijaga.

”Kawasan konservasi hutan itu bisa menghidupkan masyarakat di sekitarnya. Minat wisatawan pun akan meningkat. Pengunjung Candi Muaro Jambi, yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari hutan Pematang Damar, bisa juga menikmati keindahan anggrek hutan di habitat barunya,” ucap Edwar.

Meski demikian, pakar anggrek dari Universitas Jambi, Syafrial, tetap menganggap Muaro Jambi sebagai kawasan yang paling cocok bagi koleksi alam di hutan dataran rendah Jambi.

Angrek menjadi satu tanaman yang terbilang cukup langka untuk tumbuh di tengah habitatnya di hutan yang sedikit.

Kebakaran Hutan dan Lahan juga turut membinasakan habitatnya, seperti halnya di daerah Kabupaten Muarojambi. Sebuah Komunitas Gerakan Muaro Jambi Bersakat yang diketuai oleh Adi Ismanto ini mulai membudidayakan anggrek.

Hal ini lantaran habitat tanaman anggrek yang alami tumbuh di tiga desa di Kecamatan Muaro Sebo yakni Desa Jambi Tulo, Desa Mudung Darat dan Desa Bakung habis terbakar pada tahun 2015 silam.

Saat ini dirinya bersama anggotanya telah berhasil membudidayakan lebih dari 300 buah anggrek dengan banyak macam jenisnya.

Kata Adi, upaya untuk melestarikan anggrek ini juga mendapat dukungan dari beberapa komunitas dan orang-orang yang masih perduli terhadap keberlangsungan hidup anggrek.

(Seorang pengunjung yang datang melihat tanaman anggrek yang dibudidayakan oleh komunitas gerakan Muarojambi Bersakat di Desa Jambi Tulo, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi). 

"Awalnya ya kita punya target untuk melestarikan 1.001 anggrek, dan ini terus kita kejar. Kalo kita sendiri tentu tidak sangup, dan alhamdulilah sejak 2013 sampai sekarang ada yang juga peduli dengan anggrek," terangnya

Terhadap upaya ini juga kata Adi, beberapa waktu lalu lokasi budidaya yang dekat dengan rumahnya yang berada di Desa Jambi Tulo, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi juga mendapat dukungan dari Kementerian.

Setidaknya ada sekitar 3,5 hektare lahan pribadinya yang digunakan untuk membudidyakan berbagai jenis tanaman angrek.

Satu di antara jenis yang berhasil diselamatkan iyalah Anggrek macan (Grammatophylum specosum). Anggrek macan ini termasuk jenis langka dan masuk dalam daftar tumbuhan dilindungi.

"Lahan sendiri lah yang kita garap, jadi yang paling langka itu anggrek macan. Anggrek itu bisa tumbuh mencapai ketinggian empat meter. Jadi kita tanam ada yang di pot, ada yang kita letakkan di pohon sawit," sebutnya

Ia menyebutkan bahwa saat ini pihaknya sangat butuh dukungan pada semua pihak untuk bisa sama-sama membudidayakan tanaman anggrek.

Apalagi memang bila tanaman anggrek dilestarikan dan dikelola dengan baik, bisa menjadi potensinya sangat luar biasa.

"Upaya kita adalah melestarikan dan membudidayakan anggrek ini, ya harapan kita ke depan taman anggrek ini bisa dikenal, siapa pun yang peduli dan ingin donasi kita sangat terbuka."

"Kalo kita nantinya entah kapan maunya taman ini jadi laboratorium yang khusus untuk penelitian tanaman anggrek," pungkasnya. (JPO-Berbagaisumber/Lee)

0 Komentar

Komentar Dilarang Melanggar UU ITE