Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Widget HTML

 


Minat Mahasiswa Berwirausaha Dalam Prespektif Islam

Foto Ilustrasi.

Oleh : JEFRI

Jambipos-Salah satu kesempurnaan Islam adalah dengan mengharuskan kepada umatnya agar bisa hidup mandiri dengan bekerja atau berbisnis dengan jalan yang benar. Islam tidak hanya mengajarkan untuk beribadah saja, tetapi Islam juga mengajarkan umatnya untuk mandiri dan bekerja keras salah satunya dengan berwirausaha. 

Minat berwirausaha merupakan keinginan, serta kesediaan untuk bekerja keras dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa takut dengan resiko yang akan terjadi. Salah satu yang perlu dilakoni mahasiswa dalam melakukan perubahan adalah menjadi pelaku usaha atau pengusaha (entrepreneur).

Dalam Islam, anjuran untuk berusaha dan giat bekerja sebagai bentuk realisasi dari kekhalifahan manusia tercermin dalam Al Quran Surat Al Qashash ayat 77.

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. 

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” Menjadi wirausaha muda merupakan kebanggaan tersediri bagi mahasiswa di tengah persaingan kerja yang semakin kompetitif dan sempitnya lapangan kerja yang tersedia. 

Berwirausaha perlu dijadikan prioritas utama mahasiswa di samping prioritas keilmuan yang dikuasai dan dikembangkan. Dalam berwirausaha dibutuhkan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang inovatif, kreatif dan komprehensif. 

Berbagai jenis usaha dapat dijadikan pilihan dan alternatif. Berwirausaha juga perlu memperhatikan situasi dan kondisi yang berkembang guna mengantisipasi dan merumuskan strategi usaha yang efektif. 

Bagi mahasiswa, kendala yang menjadi hambatan dalam memulai dan berwirausaha adalah modal. Namun permasalahan modal (finansial) pada dasarnya bisa diatasi dengan berbagai upaya, di antaranya modal keluarga, mengajukan pinjaman ke bank atau lembaga keuangan, bantuan pihak kampus maupun bantuan pemerintah. Kendala utama berwirausaha sebenarnya adalah sikap mental. 

Seringkali calon wirausahawan muda (mahasiswa) beranggapan bahwa minimnya pengalaman, takut merugi, kurang pede, manajemen waktu dan lain-lain, menjadi alasan keengganan berwirausaha. Bagi mereka cukup dan fokus belajar saja di perguruan tinggi (PT). 

Sikap seperti inilah yang membuat dan menjadi kendala menciptakan wirausahawan baru. Sebenarnya prospek mahasiswa dalam berwirausaha sangatlah besar dan potensial. Bayangkan mahasiswa dalam sebuah PT memiliki relasi yang cukup baik dari kalangan mahasiswa, karyawan/dosen hingga masyarakat sekitar. 

Hal-hal inilah yang kurang disadari. Image mahasiswa sebagai wirausaha nampaknya tidak begitu akrab di telinga civitas akademika maupun masyarakat awam. Mahasiswa terlanjur dicap sebagai kaum intelek, terdidik, aktivis dan demonstran. 

Gambaran diri mahasiswa sebagai pengusaha masih asing dan jarang terdengar. Namun secara perlahan image tersebut mulai berubah. Saat ini ada kecenderungan bagaimana menyiapkan mental dan keterampilan mahasiswa (alumni) agar tidak hanya bergantung penuh pada lapangan kerja yang telah ada, Mencermati hal demikian, pemerintah dan dunia pendidikan (perguruan tinggi) perlu mendorong mahasiswa guna mengembangkan potensi kepemimpinan (leadership), manajerial (managerial), dan intelektualnya (intellectual) dalam berwirausaha. 

Berbagai kompetisi, bantuan modal, kerja sama, magang, kunjungan, seminar dan kegiatan yang berkaitan dengan dunia wirausaha perlu digalakkan guna menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran berwirausaha.

Ada beberapa upaya yang perlu dilakukan perguruan tinggi dalam menumbuhkan kesadaran dan mendorong mahasiswa agar berwirausaha. Pertama, menyisipkan materi tentang wirausaha dalam mata kulih tertentu. Kedua, mengadakan kompetisi wirausaha di kampus. 

Ketiga, melibatkan mahasiswa dalam usaha-usaha yang dirintis PTN/PTS. Keempat, mengadakan program pengabdian masyarakat berbasis wirausaha bagi mahasiswa. Pihak perbankan, pelaku UKM dan pengusaha besar perlu digandeng guna membina dan mengasah jiwa wirausaha mahasiswa serta menyerapnya kelak sebagai mitra usaha. 

Sebagai insan terdidik dan agen perubahan, mahasiswa juga perlu memperhatikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa agar tidak tenggelam dalam zona nyaman berwirausaha. Mahasiswa, selaku kaum intelek dan agen perubahan, dituntut tidak hanya menjadi insan mandiri dengan keunggulan keilmuan yang dikuasainya, namun juga dituntut menjadi pelaku perubahan.

Menjadi entrepeneurship merupakan pekerjaan yang dianjurkan jika mampu menciptakan inovasi baru serta selalu bekerja keras dan menyeimbangkan perkara dunia dan akhirat sesuai apa yang ada dalam Al Qur’an dan Sunnah. 

Bekerja keras untuk memenuhi kehidupan harus menaati peraturan yang ada dan etika dalam bekerja harus diterapkan. Janganlah bekerja hanya karena akhirat saja, dan jangan pula bekerja karena dunia saja, oleh karena itu yang terbaik adalah bekerja untuk kebutuhan dunia dan akhirat sehingga tidak akan membebani orang lain. Mengambil hasil dari usaha sendiri itu lebih baik karena merupakan pekerjaan yang halal. (JP-Penulis Adalah (Magister Ilmu Ekonomi UNJA)

Sumber: Rika, S. P. (2020). Pengaruh Minat Berwirausaha Dan Self Efficacy Terhadap Kesiapan Berwirausaha Di Era Revolusi Industri 4.0 Dalam Perspektif Muhammad Roqib, Ilmu  Pendidikan Wirausaha Islam (Yogyakarta: LKIS, 2009), h. 177.

Berita Lainnya

Posting Komentar

0 Komentar