Home » , , » Ketika Anak Saya Dipertontonkan “Gaya Premanisme” di Atas Ring Tinju Porprov Jambi

Ketika Anak Saya Dipertontonkan “Gaya Premanisme” di Atas Ring Tinju Porprov Jambi

Written By jambipos-online on Sabtu, 24 November 2018 | 05:00

Sportivitas Persaudaraan: Usai saling jual beli pukulan, kedua petinju wanita ini saling berangkul. Mereka saling "hajar" di atas ring, turun dari atas ring mereka saudara sesama Atlet Tinju Jambi. Moment Tinju Porprov Jambi XXII tahun 2018. Foto Asenk Lee Saragih.
Jambipos Online, Jambi-Siang itu, pulang dari melayat Ibunda (S Br Tambunan) sahabat Jurnalis Jogi Sirait, saya bergegas pulang kerumah Pukul 13.30 WIB. Saya tidak ingin mengingkari janji kepada anak untuk menonton pertandingan Final Tinju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XXII Tahun 2018 yang dimulai Pukul 14.00 WIB. Tiba, di rumah, kami langsung bergegas menuju lokasi Tinju Porprov Jambi di Mall WTC Batanghari, Kota Jambi.

Memulai perjalanan, waktu sudah menunjukkan Pukul 14.00 WIB. Kami sudah terlambat tiba di lokasi pertandingan, karena jadwalnya Pukul 14.00 WIB. Namun saat tiba di Mall WTC, ternyata pertandingan final untuk 15 kelas Tinju Porprov Jambi XXII Tahun 2018 belum dimulai.

Dari awal pembukaan Tinju Porprov Jambi XXII Tahun 2018, Senin (19/11/2018), saya dengan dua anak saya (Kelas 6 SD dan Kelas 3 SD) sudah menyaksikan pertandingan hingga partai ke 92 pertandingan. Bahkan pada hari ke tiga pertandingan hari ketiga jagoan ikut saya bawa menonton hingga malam. 

Anak saya menikmati seluruh pertandingan, dan bahkan sudah akrab dengan nama-nama sejumlah atlet Tinju yang bertanding. Seperti Nover Wijaya, Dicky Darrow, taufik Hidayat, Anto Siringoringo, M Ichsan, Marganda, M Sohid. Saat Kejurnas Tinju Kapolri Cup di Jambi-pun, mereka menyaksikannya dengan gembira.

Ada yang mereka petik dari pertandingan tinju. Yakni sportivitas yang tinggi. Saat di atas ring, petinju saling jual beli pukulan dan bahkan saling melakukan pukulan bruntun dengan bringas. Namun saat turun dari ring, mereka saling berangkulan dan bahkan saling memeluk pelatih lawan. 

Sikap sportivitas dan persaudaraan inilah yang saya perlihatkan kepada anak saya, yang setia menyaksikan Tinju Porprov Jambi hingga 96 pertandingan hingga final sejak Senin 19 November 2018 hingga Jumat (23/11/2018) malam. 

Final

Pada Final Tinju Porprov Jambi XXII Tahun 2018, mempertandingkan 15 partai final di 15 kelas. Mulai dari kelas Women’s Light Fly (W51Kg), Leight Welter (60Kg) hingga partai kelas Pin Weight (46Kg). 

Pada pertandingan Pin Weight (46Kg) antara Wahyu Fitra Ramadhan (Jambi) melawan Kevin Naufal Akbar (Sungaipenuh), anak saya menikmatinya dengan gembira. Pasalnya, Wahyu adalah petinju favorit mereka. Malam itu, Wahyu menang melawan Kevin.
Usai pertandingan partai ke 92 (Wahyu Vs Kevin), Panitia Tinju Porprov Jambi tahun 2018 melakukan acara penyematan Medali kepada para juara yang sudah bertanding hingga 10 kelas. Suasana penonton di Maal WTC Batanghari sungguh ramai, mulai dari lantai satu hingga empat. 

Dari pertandingan partai final 1 hingga 11, seluruh penonton, official, atlet menikmati dengan gembira aksi jual beli pukulan petinju saat di atas ring. Bahkan sejumlah pertandingan tidak berlanjut hingga ke ronde ketiga (terakhir) karena factor kelelahan dan dihentikan wasit karena tak berimbang.

Sorak sorai penonton tampak silih berganti memberikan semangat kepada petinju yang tengah bertanding di atas ring. Bahkan penonton dari anak-anak, ibu-ibu hingga remaja tampak menikmati suasana final  tersebut.

Gaya Premanisme

Pada pertandingan ke 12 (93) Kelas Welter (69Kg) antara Anto Siringoringo (Jambi) melawan Septia Romi (Batanghari), suasana penonton ramai dengan sorak sorai. Pendukung Anto Siringoringo, mulai dari anak-anak, ibu-ibu hingga bapak-bapak memadati Mall WTC Batanghari. Juga pendukung Septia Romi juga tampak berikan sorak sorai saat keduanya jual beli pukulan dari ronde pertama.

Pertandingan  Final antara Anto Siringoringo melawan Septia Romi menyuguhkan pertandingan yang menarik dan menghibur. Pasalnya keduanya saling jual beli pukulan yang keras dan saling emosi di atas ring. Bahkan pada ronde pertama (3 menit) Anto tampak lebih unggul dan menyarangkan pukulan telak ke perut Septia.  

Memasuki Ronde ke dua, Septia Romi tampak emosi, dan memulai ronde kedua dengan meninju sudut biru ring. Saat di tengah ring, Anto Siringoringo terus menyasar perut dan wajah Romi hingga wasitpun beberapa kali memisahkannya. 

Saat menit ke 2, ronde ke dua, terjadi kemelut di sudut biru ring. Tampak Romi Septia sesekali melakukan pukulan dengan posisi menunduk. Kemudian Anto Siringoringo menghujamkan pukulan telak ke wajah dan perut Romi hingga akhirnya Romi merangkul Anto. 

Masih di posisi sudut ring biru, wasit memisahkan kedua petinju yang tengah saling berangkulan. Saat wasit memisahkan dan menunjuk tangan kebawah, Anto Siringoringo langsung sigap melayangkan pukulan telak ke wajah Septia Romi yang posisinya berdiri tegak. Surak sorai kedua pendukung meriuh di gedung Maal WTC tersebut. 

Mendapatan pukulan tangan kanan Anto Siringoringo, Septia Romi langsung jatuh ke sudut ring. Seketika itu juga, dari sudut biru, diduga pelatih langsung melemparkan kursi ke dalam ring. 

Sesaat itu juga, diduga kuat dari salah satu pelatih Tim Batanghari langsung masuk ke atas ring dan melakukan tendangan “Kungfu” kea rah Anto Siringoringo dan menyebabkan Anto terjungkal. 

Dalam sekejap itu pula, sekelompok pendukung Septia Romi yang tampangnya rambut cepak langsung naik ke atas ring dan melakukan “pengeroyokan” kepada Anto Siringoringo. 

Melihat Anto Siringoringo diserang di atas ring, kawan satu timnya yakni Dicky Darrow melerai dan melakukan perlawanan di atas ring. Saling terjang dan slaing pukul sesame kedua pendukungpun terjadi di atas ring hingga 20 menit lamanya.

Akhirnya, saya memberanikan diri di tengah kericuhan itu untuk menarik Anto Siringoringo dari atas ring dan duduk di Podium Panggung. Juga Dicky Darrow dan sesama atlet Tinju Kota Jambi tampak mendampingi Anto dan Dicky Darrow di podium panggung.

Kerabat dan keluarga Anto Siringoringo pun memberikan dukungan moral untuk menenangkan Anto . Juga Dicky dari sahabat sesama atlet menenangkan dirinya untuk tetap duduk di bangku panggung arena tinju itu.  

Malam itu suasana di atas ring dan arena tinju ricuh. Teriakan-teriakan dari ibu-ibu dan juga istri Anto Siringoringo dan anaknya terdengar nyaring saat melihat suaminya di keroyok di atas ring. 

Melihat siuasi itu, anak saya yang tadinya menikmati pertandingan tinju itu, mendadak shok dan kaget melihat situasi ricuh diarena tinju. Bahkan himbaun dari Panitia tak dihiraukan oleh kedua belah pendukung. 

Bahkan Ketua Panpel Tinju Porprov Jambi XXII Tahun 2018 Naikman Malau SH harus naik ke atas ring untuk menenangkan pendukung yang sudah naik emosi. 

Kemudian Kepala Den POM Jambi datang dan naik ke atas ring memberikan arahan kepada semua pendukung, atlet dan official untuk tenang dan menjalankan pertandingan dengan sportivitas yang tinggi. Jika ada hal-hal yang merugikan saat pertandingan,  agar diselesaikan secara prosedur pertandingan yang telah ada. Diketahui petinju Septia Romi yang memperkuat Batanghari adalah seorang berpropesi aparat.

Usai Kepala Den POM Jambi memberikan arahan, suasana mulai kondunsif dan Juri, Hakim Tinju Porprov Jambi XXII Tahun 2018 dan kedua official Jambi dan Batanghari melakukan rapat dan memutuskan Anto Siringoringo didiskualifikasi dan menyatakan Septia Romi jadi pememangnya.     

Mendengar kabar itu, Anto Siringoringo yang duduk dan menggendong anak balitanya dan didampingi Istrinya hanya tertunduk dan menunjukkan wajah kekecewaan. 

Kemudian sayapun mengajak kedua anak saya untuk meninggalkan arena pertandingan. Namun kedua anak saya menolak dan memutuskan untuk menonton hingga habis partai final yang menyisakan empat pertandingan lagi. 

Dari mulai gelaran Tinju Porprov Jambi ini, anak saya selalu meminta lembaran daftar pertandingan kepada panitia dan mencoret siapa yang menang dalam setiap pertandingan.

Empat pertandingan terakhir final usai kericuhan malam itu, yakni Kelas Women’s Faether (W57) antara Feronica Malau (Jambi) melawan Eva Sasnita (Bungo). Feronica memukul KO Eva pada ronde pertama dan memaksa Eva harus ditandu dari atas ring menuju rumah sakit. 

Kemudian Kelas Middle (75Kg) Julianda (Kerinci) melawan Rudi Hartono (Jambi), dimenangkan Julianda pada ronde ke dua. Selanjutnya Kelas Light Heavy (81Kg) Mercury (Jambi) melawan Willem Natalex Munster (Sarolangun) dan dimenangkan Willem dengan LCC (menyerah). Pada partai pemungkas di Kelas Heavy (91Kg) antara Arya Pratama (Sarolangun) melawan Mardiansyah (Batanghari), dimenangkan Mardiansyah dengan (LCC) dihentikan wasit. 

Tuntas sudah anak saya menonton Tinju Porprov Jambi XXII Tahun 2018 dengan 96 pertandingan. Sportivitas dan kekeluargaan yang solid pada atlet Tinju sudah mereka saksikan dan rasakan. Bahkan dalam benak mereka sudah mencintai Tinju dan memiliki petinju favorit Jambi. 

Namun aksi gaya premanisme “pelatih” dengan terjangan kungfu, serta aksi sekelompok pendukung yang naik ke atas ring secara bringas itu, bagi kedua anakku itu adalah SAMPAH. Kericuhan itu, tak membekas pada hati mereka, karena kedua anakku cinta damai dan sportifitas yang tinggi dari para atlet Tinju Jambi. (Asenk Lee Saragih)   
       


Share this article :

Posting Komentar