Home » , » Ketika Emak-emak Bohong di Tengah Duka Bangsa

Ketika Emak-emak Bohong di Tengah Duka Bangsa

Written By jambipos-online on Kamis, 04 Oktober 2018 | 12:25

Aktivis Ratna Sarumpaet (tengah), memberikan klarifikasi terkait pemberitaan penganiyaan terhadap dirinya di Kediaman Ratna Sarumpaet, Kawasan Bukit Duri, Jakarta, Rabu 3 Oktober 2018. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao / SP/Joanito De Saojoao )


Dalam dua hari itu, Ratna Sarumpaet mendominasi berita-berita terpopuler di sebagian besar portal berita.

Jambipos Online, Jakarta – Pemberitaan tentang dampak bencana alam yang begitu masif dengan korban jiwa lebih dari 1.200 orang di berbagai wilayah di Sulawesi Tengah terinterupsi oleh kabar penganiayaan dengan korban Ratna Sarumpaet sepanjang dua hari kemarin.

Pada Selasa (2/10/2018), masyarakat terbelah antara yang mengecam “aksi biadab” itu dengan mereka yang mempertanyakan akurasinya. Kenapa setelah 10 hari baru bicara? Kenapa tidak lapor polisi saja? Kenapa sehari dua hari setelah dianiaya, Ratna masih aktif di Twitter seperti tak terjadi apa-apa?

Sayangnya, nyaris tidak ada media arus utama yang beruntung bisa menghubungi Ratna langsung ketika itu, tetapi mereka mendapat sumber yang secara kode etik jurnalistik masuk prosedur pemberitaan yang bertanggung jawab.

Berita-berita penganiayaan itu sebagian bersumber dari Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan Calon Presiden Prabowo Subianto, yang membenarkan Ratna menjadi korban penganiayaan setelah mereka bertemu langsung dengan yang bersangkutan. Pertemuan Ratna dengan Fadli, Prabowo, dan juga politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais juga bisa dengan mudah diverifikasi dari akun resmi @fadlizon yang memuat foto-foto pertemuan itu.

Kemudian, di sebuah siaran langsung televisi swasta, Prabowo mengumumkan peristiwa penganiayaan Ratna terjadi pada 21 September dan kembali menegaskan dia telah bertemu langsung dengan yang bersangkutan sebelum bicara.

Selain itu, seperti yang dilakukan Beritasatu.com, masih ada upaya verifikasi foto wanita dengan mata lebam dan bibir bengkak, apakah benar dia Ratna Sarumpaet? Verifikasi dilakukan dengan tool yang dimiliki Google, dengan cara mengunggah foto ke tool tersebut dan membiarkan mesin Google membandingkan sendiri dengan citra yang sudah tersimpan. Jadi bukan dengan mengetik “Ratna Sarumpaet” di mesin pencari Google bagian “gambar” seperti yang dikritik oleh sejumlah pembaca.

Hasilnya, setelah 25,3 miliar perbandingan di mesin Google dalam waktu hanya 0,42 detik keluar jawaban: “Best guess for this image: Ratna Sarumpaet”. Hasil gambar-gambar serupa yang keluar tidak ada yang bertanggal sebelum 21 September 2018.

Kemudian, psikologi di newsroom adalah ketika seorang ibu berusia 70 tahun -- atau emak-emak dalam istilah sekarang -- menjadi korban pengeroyokan maka itu adalah sebuah skandal besar yang harus menjadi perhatian masyarakat, apa pun afiliasi politik atau latar belakang ibu tersebut.

Ada beberapa kelemahan dalam cara pemberitaan kalau mau dicari, tetapi secara umum berita “Ratna Sarumpaet dianiaya” di media-media arus utama bisa dikatakan sudah dilakukan secara profesional, etis, dan bahkan berlandaskan nurani.

Rabu (3/10/2018), polisi sercara resmi membeberkan hasil investigasi mereka yang mementahkan semua alibi penganiayaan, baik dalam kronologi waktu mau pun lokasi kejadian. Sore harinya, Ratna menggelar jumpa pers dan mengaku bohong, lalu berujar: “Saya pembuat hoax terbaik”.

Maka praktis dalam dua hari itu, Ratna Sarumpaet mendominasi berita-berita terpopuler di sebagian besar portal berita di Indonesia, mengalahkan kabar dari Palu dan Donggala.

Emak-emak

Emak-emak menjadi salah satu figur yang dipilih sebagai simbol perjuangan kubu Prabowo, baik untuk mengkritisi kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo, atau menunjukkan keberpihakan mereka kepada kelompok paling rentan dalam struktur demografi. Kabar penganiayaan Ratna segera memunculkan kembali figur itu.

“Ini ibu-ibu, emak-emak, nenek-nenek 70 tahun, yang harus dilindungi,” kata Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno saat berkampanye di Kabupaten Bogor Selasa lalu.

Aktivis perempuan yang juga mantan penyanyi Neno Warisman juga dijadikan figur perjuangan emak-emak. Sejumlah insiden penolakan kehadiran Neno di sejumlah daerah hampir selalu melahirkan narasi “emak-emak yang memperjuangkan demokrasi malah diintimidasi”.

Ratna dan Neno bahkan sempat digambarkan sebagai representasi Cut Nyak Dien masa kini.

Zukifli Hasan, ketua umum PAN yang menjadi salah satu partai pendukung pasangan Prabowo-Sandiaga, menggunakan istilah emak-emak ketika berpidato mengkritisi kebijakan ekonomi pemerintah, dalam kapasitasnya sebagai ketua MPR, 16 Agustus lalu.

Setelah menyampaikan kritikan tajam tentang beban utang pemerintah dan anggaran kesehatan, Zulkifli mengatakan "Pak Presiden, ini ada titipan dari emak-emak agar harga bahan pokok terjangkau."

Pidato itu oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani disebut “sangat politis dan menyesatkan”.

Dalam kampanyenya, Sandiaga hampir selalu menyebut keberpihakannya kepada emak-emak setiap kali bicara program-program ekonomi.

Apakah dengan kasus pembohongan oleh Ratna ini emak-emak akan tetap menjadi alat kampanye andalan?

Jadi Sasaran

Begitu Ratna mengakui dustanya, masyarakat yang sudah berdebat panas selama 24 jam melampiaskan kekesalan mereka dengan segala cara, utamanya melalui media sosial.

Salah satu video yang paling banyak diunggah, selain video pengakuan itu, adalah rekaman dia di salah satu televisi swasta dulu di mana dia mengatakan kalau orang terus berbohong, “dia nggak tahu lagi kapan bohong, kapan kebenaran, karena dia tidak pernah mencari kebenaran.”

Ironis, bahwa ucapannya ketika itu ditujukan untuk mengkritik pemerintah, dan bahwa kebohongannya kemudian juga ditujukan untuk lebih mengkritik lagi pemerintah yang tidak mampu melindungi emak-emak dari penganiayaan.

Media massa arus utama mungkin juga kesal karena ruang publik yang jauh lebih penting untuk kepentingan kemanusiaan dari wilayah bencana telah tersita oleh manuver-manuver politis Ratna ini.

Seorang teman wartawan senior dari sebuah media massa terkemuka di Jawa Tengah menulis status di media sosial: “Kenapa semua fokus pada Ratna Sarumpaet? Bukan dia yang menyebarkan kebohongan.”

Sumber: BeritaSatu.com
Share this article :

Posting Komentar