Home » » Demi Prestasi, Wewey Wita Harus Tunda Menikah

Demi Prestasi, Wewey Wita Harus Tunda Menikah

Written By jambipos-online on Kamis, 13 September 2018 | 22:23


Wewey Wita ( Foto: Suara Pembaruan / Hendro Situmorang )

Jambipos Online, Jakarta - Wewey Wita menyumbang satu dari 14 medali emas cabang pencak silat pada Asian Games 2018. Ia mempersembahkan medali dari nomor tarung putri kelas B 50-55 kg. Namun, prestasi yang membanggakan ini tidak membuatnya bermalas-malasan. Justru menjadi cambuk untuk berlatih lebih keras lagi. Apalagi, kejuaraan dunia sudah di depan mata.

Rencananya, kejuaraan dunia tersebut berlangsung di Singapura akhir tahun ini dan akan diikuti oleh 1.000 atlet dari 40 negara. Untuk cabang pencak silat, ini adalah turnamen tertinggi karena olahraga asal Indonesia tersebut belum dipertandingkan di Olimpiade. Karena itu, Wewey berambisi untuk bisa mencicipi persaingan keras di kejuaraan dunia ini. Bila perlu kembali menjadi juara di kelasnya.


Perempuan yang mengenal pencak silat lewat perguruan Perisai Diri di Ciamis, Jawa Barat itu mengaku, suasana pada kejuaraan dunia pasti berbeda saat tampil di Asian Games. Sebab, kejuaraan dunia jenjangnya lebih tinggi. Apalagi tampilnya di luar negeri. Hal inilah yang menjadi tantangan terbesar baginya secara pribadi dan mendorongnya untuk bertarung habis-habisan.

Di sini, ia akan akan bersaing dengan pesilat-pesilat dari Malaysia, Vietnam, Filipina, Singapura, Laos, Tailand, dan juga Asia Tengah seperti Uzbekistan, Kirgistan, dan Iran. Persaingan semakin kuat dan pesilat Indonesia, termasuk dirinya, harus lebih waspada dan jangan menganggap remeh lawan.

Untuk itu, Wewey bertekad mempersiapkan diri dengan baik menjelang kejuaraan ini. Meskipun, ia belum tahu apakah akan dikirim ke Singapura atau tidak. Namun, sebagai atlet, tugas dia adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Bahkan, demi kejuaraan ini, ia rela menunda lagi rencana pernikahannya dengan sang kekasih yang juga mantan pesilat, Denny.

Keduanya sudah berencana berumah tangga sejak sebelum Asian Games 2018. Namun, rencana itu batal demi sukses di Asian Games. Keputusan tersebut dibayar lunas dengan sebuah keping medali emas dan bonus Rp 1,5 miliar dari pemerintah. Menjelang kejuaraan dunia, rencana menduyung biduk rumah tangga juga harus ditunda lagi demi meraih prestasi terbaik. Diharapkan, keputusan ini juga terbayar lunas.

“Ini (kejuaraan dunia) adalah puncak pertandingan tertinggi, karena pencak silat belum dipertandingkan di Olimpiade yang jalannya masih panjang dan berliku. Saya mau tampil di kejuaraan dunia, namun semua tergantung PB IPSI (Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia) siapa saja yang diutus ke sana. Saya siap dan tidak ada kata malas-malasan seusai rebut emas di Asian Games 2018, karena pertandingan sesungguhnya sudah menanti di depan mata,” katanya kepada SP belum lama ini.

Ketat

Di mata Wewey, saat ini, persaingan di cabang pencak silat makin ketat di level internasional. Para pesilat dari negara lain pun sudah semakin berkembang. Bahkan mencontek gaya pesilat Indonesia. Mereka sudah mirip dengan pesilat-pesilat Tanah Air baik teknik pukulan, tendangan, maupun menjatuhkan lawan. Namun, diakui, biasanya pelatih sudah membaca hal tersebut dan pasti selalu memperbaharuinya. 

“Kemarin saat tampil di final (Asian Games), saya seperti melawan diri sendiri. Namun, pelatih memberikan arahan baru dari pinggir lapangan yang cukup membantu aku menumbangkan lawan,” ujarnya lagi.

Pada bagian lain, atlet peraih medali emas untuk kontingen Jawa Barat pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau 2012 itu menilai, pertandingan silat di Indonesia sudah semakin maju dan berkembang pesat, termasuk fasilitas yang ada di lapangan. Ia mencontohkan, sudah ada papan poin digital besar dan rekaman ulang video dari video assistant referee (VAR).

“Fasilitas teknologi terkini itu membuat kita lebih siap dan semakin sportif. Kita bisa melihat kejadian sebelumnya, bahkan sangat membantu wasit dalam mengambil keputusan, sehingga tudingan bahwa kita diuntungkan wasit dan bermain curang, bisa ditepis lewat bukti konkret itu,” ungkap Wewey yang mengaku bangga karena laga finalnya pada Asian Games lalu disaksikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Ketua Umum PB IPSI, Prabowo Subianto.

Hanya saja, Wewey dan rekan-rekannya menyimpan rindu agar pencak silat bisa ikut dipertandingkan sebagai ekshibisi Olimpiade 2020 di Tokyo. 

Namun, ia menyerahkan sepenuhnya hal itu kepada pemerintah dan organisasi silat internasional yang mewadahinya. Selain itu, ia juga berharap, Asian Games 2018 bukan menjadi ajang terakhir cabang olahraga ini. Ia mendapat kabar, pencak silat belum tentu dipertandingkan pada Asian Games 2022 di Tiongkok mendatang.

Ada pun terkait bonus yang diterima dari pemerintah dan berbagai pihak berkat kesuksesannya di Asian Games 2018, Wewey akan jadikan sebagai modal untuk menikah dan membuka usaha sebagai jaminan hidup masa depan. 

Meskipun, ia sudah mendapat tawaran menjadi pegawai negeri sipil dari pemerintah. Namun sebelum itu, ia harus mewujudkan terlebih dahulu rencana berumah tangga dengan Denny yang selalu tertunda demi prestasi.(*)



Sumber: Suara Pembaruan
Share this article :

Posting Komentar