Home » » Kapal "Ihan Batak" Resmi Mengapung di Danau Toba

Kapal "Ihan Batak" Resmi Mengapung di Danau Toba

Written By jambipos-online on Senin, 03 September 2018 | 08:17

KMP Ihan Batak dilepaskan ke Danau Toba, Sabtu (1/9/2018) . FB

Jambipos Online, Samosir- Pemerintah telah merampungkan pembangunan kapal raksasa yang akan dioperasikan di perairan Danau Toba. Kapal tersebut diberi nama KMP Ihan Batak dan resmi diluncurkan pada Sabtu (1/9/2018). 

Ratusan warga dan pejabat daerah antusias menyaksikan peluncuran ini. Peluncuran dimulai dengan bunyi sirene. Namun, peluncuran tak berlangsung sempurna. Sebagian badan kapal gagal masuk ke perairan. 

Beberapa alat berat jenis ekskavator dioperasikan untuk mendorong kapal ke perairan. 

Video dan foto-foto KMP Ihan Batak pun banyak di linimasa media sosial. Foto KMP Ihan Batak dilepaskan ke Danau Toba, Sabtu (1/9/2018) Foto KMP Ihan Batak dilepaskan ke Danau Toba, Sabtu (1/9/2018) (Facebook) 
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan saat meninjau meninjau pembuatan kapal Jumat (13/7/2018) lalu mengutarakan kapal sejenis akan dibangun empat unit. 

“Kita itu mau bikin beberapa kapal. Mungkin ada tiga lagi, jadi empat ya,” kata Luhut seperti dilansir dari situs resmi Kemenko Bidang Kemaritiman. 

Adapun rute KMP Ihan Batak yaitu dari Pelabuhan Ajibata, Kabupaten Tobasa menuju Pelabuhan Ambarita, Kabupaten Samosir. Pengerjaan kapal dengan kapasitas 280 penumpang ini dilakukan oleh PT Dok Bahari Nusantara. 

 Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan di Pelabuhan Tigaras, Simalungun,Sumatera Utara, Senin (2/7/2018). 
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan di Pelabuhan Tigaras, Simalungun,Sumatera Utara, Senin (2/7/2018). (Kompas.com) 
Selain kapal penumpang yang bertipe Kapal Feri tersebut, Menko Luhut memaparkan bahwa pihaknya juga akan melakukan pembuatan kapal-kapal dengan ukuran lebih kecil lagi. Menurut Luhut, ini bertujuan untuk menunjang operasional Bandara Silangit yang semakin meningkat pengunjungnya. 

“Yang lebih kecil dari sini kita buat lagi. Tadi kita lagi hitung-hitung, karena di Silangit tiap hari itu sudah daratkan orang sekitar 1300. Jadi sudah banyak banget. Tadi pikiran kita 500 penumpang per hari, sekarang itu sudah 1.300 penumpang,” ungkapnya. 

 IHAN BATAK 

Ihan atau ikan Batak (Neolissochillus Thienemanni sumatranus) adalah ikan endemik di Tanah Batak yang sudah terancam punah dan masuk dalam Red List Status di IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dengan kode Ref.57073 sejak tahun 1996. 
Ihan Batak berasal dari dari genus Neolissochilus. Ihan atau ikan Batak (Neolissochillus Thienemanni sumatranus) Ihan atau ikan Batak (Neolissochillus Thienemanni sumatranus) (sigotom-nauli.blogspot.com).
Ihan Batak berasal dari dari genus Neolissochilus. Ihan atau ikan Batak (Neolissochillus Thienemanni sumatranus) Ihan atau ikan Batak (Neolissochillus Thienemanni sumatranus) (sigotom-nauli.blogspot.com).

Ikan Batak yang dikenal secara umum di dunia perikanan dari genus Tor, memang tampilannya mirip dengan ‘ihan’ genus Neolissochilus, dan memang berasal dari keturunan yang sama yaitu Family Cyprinidae. 

Genus Tor dijumpai di berbagai habitat aslinya di Indonesia seperti di Tanah Batak (Sumatera Utara), Sumaetra Barat, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, dan mungkin masih banyak ditemukan di daerah lainnya. 

Ikan Batak yang dimaksud (genus Tor) bagi orang Batak sendiri dikenal dengan nama dekke Jurung-jurung atau Ikan Jurung. Secara umum Ikan Jurung ini disebut sebagai Ikan Batak karena di tanah Batak lebih lazim digunakan dalam suatu prosesi adat. 

Bentuk tubuh ihan Batak memanjang dan ramping, warnanya seperti perak, mengilap. Ada juga jenis bagian punggungnya menghitam.

Ihan Batak sebagai simbol kesuburan dengan harapan kepada keluarga yang diberikan penganan dari Ikan Jurung-jurung ini akan berketurunan banyak, baik laki-laki dan perempuan dan mendapat rejeki sebagaimana perilaku Ikan Jurung-jurung tersebut yang sifat hidupnya membaur beriring-iringan. 

Ihan Batak kerap digunakan sebagai sarana brdoa dan makan bersama, misalnya ketika ada acara merayakan kehamilan tujuh bulan (nujuh bulana), atau acara adat ritual pada masayarakat Batak Toba. (*) 

 Sumber: tribun-medan.com


Share this article :

Posting Komentar