Home » » Profile Timnas Korsel-Swedia-Meksiko-Jerman Piala Dunia 2018 (Group F)

Profile Timnas Korsel-Swedia-Meksiko-Jerman Piala Dunia 2018 (Group F)

Written By jambipos-online on Senin, 18 Juni 2018 | 15:50

Profile Timnas Korsel-Swedia-Meksiko-Jerman Piala Dunia 2018 (Group F)

Jerman menorehkan 100 persen kemenangan pada babak kualifikasi.
 Asosiasi: Deutscher Fußball-Bund (DFB)
Julukan: Nationalelf, Die Mannschaft, der Panzer (Tim Panser)
Peringkat FIFA: 1 (7 Juni 2018)
Most Caps: Lothar Matthaus (150)
Top Scorer: Miroslav Klose (71)
Pelatih: Joachim Loew (Jerman)
Tampil: 19 Kali (Prestasi Terbaik Juara 1934, 1974, 1990, dan 2014)
Tampil: 19 Kali (Prestasi Terbaik Juara 1934, 1974, 1990, dan 2014)
Jerman punya peluang menjadi tim kedua yang dapat mempertahankan trofi Jules Rimet dua kali berturut-turut. Pencapaian seperti itu hanya bisa dilakukan oleh timnas Brasil pada 1962 atau sudah lebih dari setengah abad. Ketika itu Brasil mempertahankan gelar pada Piala Dunia 1958 dan 1962.

Meski squad Jerman bukan lagi dihuni pemain yang berlaga pada Piala Dunia 2014, kekuatan der Panzer tak diragukan. Hal itu dibuktikan dalam babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa. Die Mannschaft adalah satu-satunya tim yang memenangi seluruh pertandingan babak kualifikasi alias menorehkan 100 persen kemenangan. Rekor serupa dicatat Tim Matador Spanyol pada 2010. Kemenangan demi kemenangan Jerman itu diraih oleh sebuah tim campuran senior dan junior.

Pelatih Joachim Loew berhasil meramu perpaduan pemain muda dan tua tanpa harus mengurangi daya gedor. Para pemain muda Jerman, seperti Leon Goretzka dan Timo Werner, menjadi pencetak gol terbanyak di Piala Konfederasi 2017. Bahkan Julian Draxler terpilih sebagai pemain terbaik.

Di grup F, Jerman bersama dengan Korea Selatan, Meksiko, dan Swedia. Di atas kertas, Jerman tidak akan kesulitan lolos bahkan akan menjadi juara grup. Langkah selanjutnya pun tampaknya akan terasa lapang setidaknya hingga semifinal.

Pemain Bintang
Gelandang timnas Jerman, Toni Kroos, menegaskan ingin mengantarkan negaranya mengukir sejarah sebagai tim yang bisa mempertahankan gelar Piala Dunia. Apa yang diungkapkan gelandang elagan Real Madrid ini bukan sebuah kemustahilan. Jerman dengan kekuatan saat ini layak mendapatkan juara. Apalagi Kroos, sebagai salah satu pemain andalan, paling bisa mengukur kemampuan dirinya serta kekuatan tim saat ini.

"Piala Dunia masih menjadi sesuatu yang spesial. Kami tertantang untuk mempertahankan gelar tersebut. Saya sudah tidak sabar kembali bermain di Piala Dunia," ujar Kroos.
Toni Kroos.
Kepiawaian Kroos akan diuji kembali di Piala Dunia setelah selama empat musim bersama Real Madrid. Di klub legendaris ini, Kroos telah menunjukkan kemampuannya berhasil mempersembahkan 10 gelar untuk Los Blancos, dari gelar La Liga hingga gelar Liga Champions.

Selain Kroos, ada Mesut Oezil, gelandang serang kelahiran Oktober 1988. Oezil oleh pelatih Loew sering disebut "jenius". Sebagai pengatur serangan, dia boleh dikatakan sempurna. Duet dua gelandang ini tentu saja memperkuat lini tengah Jerman.

Pelatih
Joachim Loew melatih tim nasional Jerman sejak 2006. Selama kepemimpinannya, Jerman selalu nyaris keluar sebagai juara dalam berbagai turnamen akbar dunia. Pada 2010 misalnya, Jerman berhasil dibawanya melaju ke semifinal Piala Dunia dan keluar sebagai juara ketiga.
Joachim Loew.
Pelatih kelahiran 3 Februari 1960 itu juga berhasil membawa Jerman ke semifinal Piala Eropa pada 2008 dan 2012. Setelah lama berkutat di bawah prestasi puncak, akhirnya ia berhasil membawa der Panzer menjadi juara di pada perhelatan Piala Dunia Brasil. Tak tanggung-tanggung, Jerman mengalahkan tuan rumah Brasil dengan skor telak 7-1 di semifinal.

Selama babak kualifikasi Piala Dunia 2018, Loew lebih banyak menerapkan formasi 4-2-3-1. Dengan hanya menempatkan seorang penyerang di lini depan, persaingan memperebutkan tempat tersebut di starting eleven sangat ketat. Akan tetapi, pelatih berumur 58 tahun tersebut selama lebih banyak menurunkan Timo Werner daripada penyerang lain.

Timnas Meksiko


Pemain senior berperan penting dalam timnas Meksiko.
 Asosiasi: Federacion Mexicana de Futbol (FMF)
Julukan: El Tri (The Tri), El Tricolor (The Tricolor)
Peringkat FIFA : 15 (7 Juni 2018)
Most Caps: Claudio Suárez (177)
Top Scorer: Javier Hernández (48)
Pelatih: Juan Carlos Osorio (Kolombia)
Tampil: 16 Kali (Prestasi Terbaik Perempat Final 1970 dan 1986)
Tampil: 16 Kali (Prestasi Terbaik Perempat Final 1970 dan 1986)

Meksiko kemungkinan akan mengulang prestasi pada Piala Dunia, yakni tidak lolos ke babak 16 besar. Sulit bagi Meksiko berada di grup yang dihuni tim-tim dengan kemampuan setara, kecuali Jerman. Tim Panser Jerman kemungkinan akan mendominasi grup F, di mana terdapat lawan lainnya, yakni Swedia, dan Korea Selatan. Ketiga timnas tersebut bukanlah lawan yang gampang ditaklukkan. Timnas Meksiko melalui pelatih menyatakan akan bertarung sedemikian rupa untuk menembus babak 16 besar.

Modal El Tri tampaknya ada pada para pemain seniornya. Meksiko diperkuat 16 pemain yang sebelumnya tampil di Piala Dunia 2014 Brasil. Para pemain ini mengalami kekelahan demi kekalahan pahit dalam berbagai laga membela timnas. 

Di bawah pelatih Osario, Meksiko pernah menelan kekalahan terburuk dalam perempat final Copa America Centenario 2016, saat dikalahkan Cile 0-7. Mereka juga takluk 0-1 dari Jamaika di semifinal Piala Emas. 

Pada Piala Konfederasi 2017, timnas Meksiko tidak berdaya setelah dihajar Tim Panser Jerman dengan skor telak 4-1 di Olimpiyskiy Stadion. Carlos Osorio sang pelatih, waktu itu, mengakui bahwa timnya kalah kelas dengan tim yang diarsiteki Joachim Loew itu.

Namun demikian, Javier "Chicarito" Hernandez dan kawan-kawan akhirnya lolos ke Rusia dengan status penghuni puncak klasemen kualifikasi zona Amerika Tengah dan Utara (Concacaf). Prestasi ini menjadi kali ketujuh beruntun Meksiko lolos ke Piala Dunia, meski El Tri tak pernah melangkah lebih jauh dari babak 16 besar.

Pemain Bintang
Striker Javier "Chicharito" Hernandez tampil gemilang dalam dua perhelatan Piala Dunia di Afrika Selatan 2010 dan Brasil 2014. Karena penampilannya itulah klub-klub Eropa meliriknya. Manchester United mendapatkannya pada 2010. Pergantian manajer dari Sir Alex Ferguson ke David Moyes dan kemudian Louis van Gaal menjadi akhir dari kebersamaan Chicharito dengan MU.

Javier "Chicharito" Hernandez.
Penyerang gesit dan dikenal oportunis di mulut gawang lawan ini terbuang. Chicharito kemudian sempat pindah ke Real Madrid, Bayern Leverkusen, dan akhirnya kini berlabuh di West Ham United.

Pelatih
Juan Carlos Osorio Arbelaez (57) memang tidak terlalu terkenal. Namun di Inggris, namanya cukup kondang di Kota Manchester. Di sana ia pernah selama empat tahun menjadi asisten pelatih Manchester City, yakni periode 2001-2005.

Mantan pemain sepakbola asal Kolombia menjadi pelatih El Tri sejak 2015, selepas ia menangani klub Brasil, Sao Paolo. Karier kepelatihan Osorio, dimulai saat dia menjadi asisten bagi klub asal Amerika Serikat, New York Red Bulls. Setelah menjadi pelatih empat klub lain, Osario ditunjuk menjadi pelatih Meksiko.

Saat menangani El Tri, Osorio sempat dikritik banyak pengamat karena suka merotasi pemain dan mengubah formasi. Gayanya ini dituding sebagai biang kekalahan-kekalahan yang dialami Meksiko, baik di Copa America maupun pada Piala Konfederasi. Meksiko selalu bermain dengan pola 4-3-3 dan sering diubah menjadi formasi 5-2-3. Untuk ajang sebesar final Piala Dunia, kebiasaan mengganti formasi tampaknya tidak akan dilakukan Osario.

Timnas Swedia


Swedia menyingkirkan Italia saat menjalani play-off.
Asosiasi: Svenska Fotbollförbundet (SvFF)
Julukan: Blagult (The Blue-Yellow)
Peringkat FIFA: 24 (7 Juni 2018)
Most Caps: Anders Svensson (148)
Top Scorer: Zlatan Ibrahimović (62)
Pelatih: Janne Andersson (Swedia)
Tampil: 12 Kali (Prestasi Terbaik Runner-Up 1958)

Inilah tim yang menyingkirkan juara dunia empat kali, Italia. Swedia finis sebagai runner-up grup A kualifikasi zona Eropa. Finalis Piala Dunia 1958 ini memenangi persaingan lawan Belanda, Bulgaria, Luksemburg, serta Belarusia, dan hanya kalah dari Prancis. Posisi tersebut, sebagai satu dari delapan runner-up terbaik, membuat Swedia harus menempuh babak play-off. Mereka diundi melawan Italia. Berstatus underdog, Swedia justru mampu membuat sejarah menyingkirkan Italia meski dengan agregat tipis 1-0. Gol tunggal dicetak oleh Jakob Johansson pada leg pertama.

Padahal tim ini disebut-sebut sebagai akhir era Zlatan Ibrahimovic. Legenda Swedia ini tak lagi dipakai timnas di bawah kepelatihan Janne Andersson. Andersson menerapkan skema 4-4-2 yang cukup sukses diperagakan di periode kepelatihan Lars Lagerback pada awal 2000-an. Namun , pemain-pemain mereka sekarang kebanyakan berasal dari klub-klub tak terkenal. Hanya Emil Forsberg (Leipzig) dan Victor Lindelof (Manchester United) yang berasal dari liga top Eropa. Di grup F, kans Swedia cukup sempit, meski bukan tidak mungkin menempati posisi kedua dan lolos ke babak 16 besar.

Pemain Bintang
Marcus Berg (31) bersinar seiring pensiunnya Zlatan Ibrahimovic dari timnas. Striker klub Al Ain itu memberi kekuatan, kepercayaan diri dan banyak gol buat timnya. Dia mencetak delapan gol sepanjang kualifikasi menuju Rusia 2018.

Selain Berg ada juga pemain belakang yang cukup diperhitungkan yakni bek MU, Victor Lindelof (23) memiliki skill mumpuni. Ia dikenal mempunyai kecepatan yang bisa membantu MU dalam hal pertahanan. Bermain dari belakang, ia bisa dengan sangat cepat membantu maju ke depan.
Janne Andersson.
Pelatih
Tidak ada legenda hidup timnas Swedia Zlatan Ibrahimovic di putaran final Piala Dunia Rusia. Bahkan pada babak kualifikasi pun tim Blue Yellow ini tidak pernah mengikutsertakan Ibra, panggilan Ibrahimovic. Inilah salah satu “karya” pelatih timnas Swedia Janne Andersson (55).

Andersson lebih mengutamakan kekompakan tim yang sudah terbentuk sejak babak kualifikasi. Ia lebih memilih nama-nama tukang gedor yang sebelumnya menjadi bagian dari kesuksesan tim itu menuju Rusia. Andersson tetap tak melirik Ibra meskipun striker jangkung itu memilih hengkang ke LA Galaxy agar mendapatkan menit bermain sebanyak-banyaknya. Andersson memuji habis squad yang dimilikinya saat ini sudah luar biasa. Pujian ini belum cukup membawa Swedia ke babak delapan besar.

Timnas Korsel

Korea Selatan merupakan tim Asia yang paling sering tampil di Piala Dunia.
Asosiasi: Korea Football Association (KFA)
Julukan: Taegeuk Warriors, The Reds, Red Devils
Peringkat FIFA : 57 (7 April 2018)
Most Caps: Hong Myung-bo & Cha Bum-kun (136)
Top Scorer: Cha Bum-kun (58)
Pelatih: Shin Tae-yong (Korea Selatan)
Tampil: 10 Kali (Prestasi Terbaik Peringkat Keempat 2002)

Tampil: 10 Kali (Prestasi Terbaik Peringkat Keempat 2002)
Meskipun sebagai tim Asia yang paling sering tampil di pentas dunia, Korea Selatan (Korsel) belum pernah memenangi pertandingan putaran final hingga mereka menjadi tuan rumah bersama Korea/Jepang 2002. Tercatat, sudah 10 kali mereka tampil berlaga di turnamen sepak bola paling akbar di dunia. Semenjak 1986 hingga saat ini, mereka tidak pernah absen di Piala Dunia. Belum ada negara Asia lainnya yang bisa menyamai prestasi Korea Selatan.

Pada 2002, tuan rumah Korea Selatan menang atas Polandia sebelum mengalahkan Portugal untuk mencapai putaran kedua untuk pertama kalinya. Ksatria Taeguk, sebutan tim Korsel, berlanjut ke semifinal setelah mengandaskan Italia serta Spanyol, sebelum akhirnya kalah dari Jerman pada babak empat besar.

Pada 2010, mereka kembali membuat sejarah dengan mencapai babak knock-out untuk pertama kalinya di negeri orang, sebelum langkahnya terhenti di tangan Uruguay pada babak 16 besar.

Akankah langkah Korsel lebih panjang dari babak knock-out? Banyak yang memprediksi Korsel kesulitan lolos dari babak awal grup. Bersama Jerman, Meksiko, dan Swedia, Korsel sudah beruntung bila tidak menjadi juru kunci grup.

Pemain Bintang
Son Heung-min adalah salah satu penyerang terbaik Korea Selatan saat ini. Pemain kelahiran 8 Juli 1992 ini mampu mencetak gol dengan dua kakinya dan punya visi. Son juga punya fisik, stamina, kemampuan beradaptasi bagus.

Son Heung-min.
Pada usia 16 tahun, ia meninggalkan Korsel dan bergabung dengan tim muda Hamburg SV. Setelah dua musim, ia naik ke tim senior dan langsung mendapatkan jam terbang reguler.

Bayer Leverkusen pun merekrutnya pada Juli 2013. Sejauh ini, Son menunjukkan dirinya telah menyatu dengan permainan Leverkusen. Di Bundesliga, Son telah mencetak delapan gol dan dua assist dalam 17 penampilan, dengan satu di antaranya sebagai pengganti.

Jika bisa meningkatkan kemampuan membaca pertandingan, insting untuk memosisikan diri dalam situasi bola mati, dan menyundul, Son bisa diharapkan berkontribusi besar bagi Korsel.

Pelatih
Shin Tae-yong merupakan pelatih yang menangani squad Korea Selatan U-23 ketika tampil di Olimpiade 2016 lalu di Brasil dan juga membesut squad U-20 yang tampil di Piala Dunia junior pada Juni 2017.
Shin Tae-yong.
Pelatih berusia 49 tahun ini menggantikan Uli Stielike yang diberhentikan dari kursi pelatih setelah Korsel menelan kekalahan 3-2 dari Qatar dalam lanjutan kualifikasi Piala Dunia.

Skema andalan Tae-yong selama satu tahun memimpin squad Taegeuk Warriors ialah 3-4-3. Namun, skema tersebut tampaknya belum ampuh untuk membuktikan kemampuan mereka untuk bersaing dengan tim-tim hebat di Piala Dunia.(JP)

Sumber: Suara Pembaruan
Share this article :

Posting Komentar