Home » » Profile Timnas Iran-Maroko-Portugal-Spanyol di Piala Dunia 2018 Rusia (Group B)

Profile Timnas Iran-Maroko-Portugal-Spanyol di Piala Dunia 2018 Rusia (Group B)

Written By jambipos-online on Selasa, 19 Juni 2018 | 09:49

Profile Timnas Iran-Maroko-Portugal-Spanyol di Piala Dunia 2018 Rusia (Group B)
Timnas Iran
Dari delapan laga yang dimainkan di fase ketiga, Iran sama sekali tak pernah menelan kekalahan.

Asosiasi: Fedrasione Futballe Iran
Julukan: Team Melli
Peringkat FIFA: 37 (7 Juni 2018)
Most Caps: Javad Nekounam (151)
Top Scorer: Ali Daei (109)
Pelatih: Carlos Queiroz (Portugal)
Tampil: 5 Kali 
Tampil: 5 Kali 
Perjalanan Iran menuju Rusia sangat mulus. Iran merupakan tim kedua setelah Brasil yang lolos melalui jalur kualifikasi. Tim asuhan Carlos Queiroz ini diketahui lebih awal maju ke babak final karena sudah mengukuhkan kepastian tersebut meski masih ada dua laga tersisa. Keperkasaan Iran ini membuktikan mereka adalah wakil Asia yang patut diperhitungkan.

Kesuksesan Team Melli tersebut semakin menegaskan status mereka sebagai tim nomor satu Asia saat ini, dengan menduduki posisi ke-30 ranking FIFA pada awal Juni yang merupakan peringkat tertinggi di antara negara-negara Asia lainnya.

Langkah Iran di kualifikasi memang sama sekali tak terbendung. Dari delapan laga yang dimainkan di fase ketiga, pasukan Carlos Queiroz sama sekali tak pernah menelan kekalahan. Enam laga berakhir dengan kemenangan serta dua lainnya imbang. Jika ditarik lebih panjang ke belakang, catatan tak terkalahkan dimulai dari fase kedua dengan mencatatkan statistik yang identik.

Dari dua fase tersebut, Iran sanggup membukukan 11 kali clean sheet. Terakhir kali gawang mereka kebobolan adalah saat bertemu Turkmenistan yang dikandaskan di fase kedua dengan skor 3-1 pada November 2015.

Lolos ke Rusia tahun depan juga menjadi yang pertama kalinya bagi Sardar Azmoun dan kawan-kawan untuk tampil di dua edisi Piala Dunia secara beruntun setelah ambil bagian di 2014. Iran memang pernah empat kali berpartisipasi di Piala Dunia, tetapi dari jumlah tersebut tak satu pun yang pernah mereka capai secara berurutan.

Menurut sang pelatih, Queiroz, keunggulan Iran terletak pada persatuan, bukan saja tim, tetapi federasi sepakbola yang tidak pernah meninggalkan mereka sendirian.

"Kami semua bersatu, mulai dari presiden federasi hingga para pemain di lapangan maupun cadangan. Itu adalah kunci sukses dan kami tidak pernah risau dengan hal-hal kecil," katanya.

Di grup B Iran benar-benar akan menjadi kerikil tajam tim Portugal dan Spanyol yang lebih diunggulkan. Bila berhasil mengalahkan salah satunya, langkah Iran bakal lebih mudah karena Maroko relatif ada di bawah Iran.

Pemain Bintang
Di negaranya, pemain berusia 23 tahun ini kerap dibandingkan dengan bintang Argentina, Lionel Messi. Hal itu karena kemampuannya membawa dan mengontrol bola, serta kejelian melihat peluang, sekaligus kemampuan luar biasa untuk mencetak gol. Sejak memperkuat Iran dalam 22 pertandingan sejak Mei 2014, Sardar Azmoun telah mencetak 16 gol, termasuk hattrick saat melawan Makedonia.
Sardar Azmoun.
Tak heran bila pemain Rubin Kazan ini menarik perhatian klub-klub besar Eropa, seperti Liverpool, Everton, Arsenal, Bayer Leverkusen, Borussia Dortmund, dan Marseille.

Pemuda yang dikenal rendah hati ini juga menyatakan beruntung mendapat kesempatan belajar dari Carlos Queiroz. Sardar memuji kemampuan teknis dan manajerial Queiroz dan mengaku bisa banyak belajar dari sang pelatih.

Pelatih
Carlos Queiroz memegang kendali atas tim nasional Iran sejak April 2011. Pelatih kelahiran Portugal 1 Maret 1953 ini berhasil membawa Iran ke putaran final Piala Dunia Brasil 2014 dan Rusia 2018. Sebelum ke Iran, dia berhasil membawa Portugal ke Piala Dunia 2010. Ia melatih Portugal sejak Juli 2008. Tidak hanya lolos ke putaran final di Afrika Selatan, Queiroz juga berhasil membawa Cristiano Ronaldo dkk ke babak 16 besar meski langsung tersingkir setelah dikalahkan Spanyol dengan skor 1-0.

Carlos Queiroz.
Selepas Piala Dunia, tepatnya pada September 2010, Queiroz langsung dipecat oleh Portugal. Meski demikian, dia tetap tercatat dalam sejarah karena menjadi pelatih Portugal pertama yang berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia dua kali berturut-turut.
Queiroz juga berpengalaman menangani klub-klub besar Eropa, seperti Real Madrid dan menjadi asisten Alex Ferguson di Manchester United.

Di Madrid, Queiroz bahkan dinilai gagal total karena hanya bisa membawa Los Blancos--yang ketika itu diperkuat pemain-pemain besar dunia, seperti Zinedine Zidane, Luis Figo, Ronaldo, dan David Beckham--menjuarai Piala Super Spanyol. Dikontrak selama dua tahun sejak musim panas 2003, Queiroz langsung dipecat Los Galacticos setahun kemudian, tepatnya pada Mei 2004.

Soal Piala Dunia, Queiroz menyatakan bahwa tidak akan yang percaya Iran bisa menjuarai Piala Dunia. Target mereka adalah maju untuk menempatkan diri di kasta yang sama dengan Jepang dan Korea Selatan, merebut tempat untuk menjadikan Iran salah satu dari tiga tim terbaik di Asia.

Timnas Maroko

Maroko menempati puncak klasemen saat kualifikasi.
 Asosiasi: Federation Royale Marocaine de Football (FRMF)
Julukan: Atlas Lions
Peringkat FIFA: 41 (7 Juni 2018)
Most Caps: Abdelmajid Dolmy (140)
Top Scorer: Ahmed Faras (42)
Pelatih: Herve Renard (Prancis)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Babak 16 Besar 1986)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Babak 16 Besar 1986)
Grup B dihuni oleh dua tim yang pernah menjadi juara di Benua Eropa, bahkan juara dunia. Portugal dan Spanyol diprediksi bakal maju ke babak berikutnya. Sedangkan dua klub lainnya, Maroko dan Iran diperkirakan hanya akan berebut tempat ketiga dan posisi paling buncit.

Kehadiran timnas Maroko pada Piala Dunia 2018 memang tidak diunggulkan. Di atas kertas, tim berjuluk Atlas Lions ini hanya berharap pada permainan jelek dua tim papan atas tersebut sembari bermain sebaik mungkin. 

Namun, harapan selalu ada di dunia sepakbola. Seperti kata pepatah bahwa bola itu bulat di mana salah satu titik pada suatu saat di atas dan kemudian bisa di bawah, maka perjalanan tim Maroko di PD 2018 ini pun bukan tidak mungkin menuai kejutan. Maroko bisa saja menjadi kuda hitam.

Seperti pada babak kualifikasi grup C zona Afrika, Maroko tanpa diduga menempati puncak klasemen. Maroko meraih 12 poin dari enam pertandingan yang dijalaninya, unggul empat poin atas Pantai Gading yang berada di peringkat kedua.

Squad Maroko memang tidak terlalu istimewa. Meski ada sejumlah nama yang bermain di klub Eropa, peran mereka untuk klub belum begitu terlihat. Para pemain itu, antara lain Achraf Hakimi (Real Madrid), Hakim Ziyech (Ajax Amsterdam), dan Nordin Amrabat (Leganes). Hanya Medhi Benatia (Juventus) yang mungkin lebih dikenal di banding nama-nama sebelumnya.

Yang menarik adalah keberadaan pemain keturunan Maroko-Spanyol, Munir El Haddadi yang ingin memperkuat timnas. Federasi sepakbola Maroko mencoba meyakinkan FIFA agar mendapatkan izin El Haddadi mewakili Maroko di Piala Dunia. 

Pasalnya, pemain klub Alaves ini pada 2014 tercatat mewakili timnas remaja Spanyol pada debut internasional melawan Macedonia. Akhirnya, El Haddadi tak bisa membela Maroko. 

Pemain Bintang
Peran Medhi Benatia di lini belakang Maroko sangat vital. Tak heran, pelatih Herve Renard memberikan kepercayaan kepada bek Juventus itu untuk menjadi kapten timnas Maroko sejak babak kualifikasi. 

Kontribusi Benatia membuat gawang Maroko tidak pernah kemasukan gol sepanjang kualifikasi Piala Dunia 2018. Jam terbang Benatia di level klub pun sangat tinggi. Dia pernah memperkuat klub-klub besar, seperti Marseille, Udinese, AS Roma, Bayern Muenchen, dan Juventus.
Medhi Benatia.
Pengalaman pemain berusia 31 tahun itu diharapkan membawa pengaruh positif bagi rekan-rekan setimnya saat mereka mengarungi babak penyisihan Grup B Piala Dunia 2018.

Nama Benatia memang tidak terlalu bersinar karena ia bukanlah pemain inti dari klub-klub besar itu. Namun demikian, sejumlah klub besar tersebut memilih Benatia dibanding pemain lain tentu karena kualitasnya. Salah satu contoh, pemain kelahiran Prancis, 17 April 1987 ini jarang dimainkan di Juventus karena masih kalah bersaing dengan Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini, hingga Andrea Barzagli di lini pertahanan

Pelatih
Nama Herve Renard lebih terkenal di Afrika ketimbang Asia. Pasalnya, ia sudah malang melintang melatih timnas negara-negara di Afrika seperti Angola, Pantai Gading, Zambia dan Ghana. Apalagi, dialah pelatih pertama yang memenangi Piala Afrika dua kali berturut-turut dengan tim yang berbeda.
Herve Renard.
Renard yang sebelumnya adalah pengusaha pemungut sampah ini membawa Zambia mewujudkan mimpi merebut gelar Piala Afrika 2012. Tahun berikutnya Renard membawa Pantai Gading sebagai juara.

Prestasi yang menerbitkan decak kagum adalah ketika pada 2012 itu Zambia adalah tim yang tidak diperhitungkan bakal menjadi juara. Pada akhirnya Zambia mampu menaklukkan Pantai Gading di di partai final.

Saat ini, tim Maroko yang diasuhnya juga tidak diperhitungkan di Rusia. Akankah ia mampu membawa Maroko setidaknya lolos dari fase pertama? Renard telah mengintip kekuatan lawan-lawan yang akan dihadapi, seperti Spanyol, Portugal, dan Iran.

“Spanyol memiliki pemain yang berkualitas dan cukup sulit dikalahkan. Kami harus mampu bertahan. Ini merupakan salah satu tim paling favorit di Piala Dunia. Melawan Portugal, kami harus meminimalkan kesalahan khususnya di zona pertahanan dan mematikan pergerakan Cristiano Ronaldo,” katanya.

Timnas Portugal 


Portugal pernah menjadi juara Piala Eropa 2016.
 Asosiasi: Portuguese Football Federation (FPF)
Julukan: The Navigators, A Seleccao das Quinas
Peringkat FIFA: 4 (7 Juni 2018)
Most Caps: Cristiano Ronaldo (148)
Top Scorer:Cristiano Ronaldo (81)
Pelatih: Fernando Santos (Portugal)
Tampil: 7 Kali (Prestasi Terbaik Peringkat Ketiga 1966)
Tampil: 7 Kali (Prestasi Terbaik Peringkat Ketiga 1966)
Sisa generasi emas Portugal yang menjuarai Piala Eropa 2016 masih banyak. Mereka inilah yang kini merumput di liga-liga Eropa. Negara yang pernah tampil di Piala Dunia tujuh kali ini memiliki Cristiano Ronaldo (Real Madrid), Andre Silva (AC Milan), atau Bernardo Silva (Manchester City).

Saat menjuarai Piala Eropa 2016, Portugal berstatus tim nonunggulan. Namun mereka mampu melangkah hingga final dan menjadi raja Eropa setelah secara dramatis menundukkan tuan rumah Prancis. Energi positif sebagai juara Eropa itulah yang akan jadi tenaga besar Portugal saat berlaga ada putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia. Cristiano Ronaldo merupakan kunci kekuatan Portugal di Piala Dunia 2018.

Portugal menunjukkan kelayakan mereka untuk diperhitungkan dengan grafik cukup impresif sepanjang fase kualifikasi. The Navigators lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 dengan status juara Grup B. 

Setelah dikalahkan oleh Swiss pada pertandingan pertama kualifikasi, Portugal tak terbendung meraih sembilan kemenangan beruntun guna meraih tiket lolos dengan status terbaik di grupnya. Namun, perlu dicatat bahwa lawan di grup B relatif ringan bagi tim Portugal, setidaknya di luar Swiss, yakni Hungaria, Latvia, Kepulauan Faroe, dan Andora. Hal ini terbukti dari selisih gol kualifikasi yang diperoleh Ronaldo dkk, yakni 28 gol.

Di Rusia, Portugal bergabung di grup B bersama juara dunia 2010 Spanyol, Maroko, dan Iran. Portugal jelas punya kans besar untuk manuju ke fase gugur, bahkan lebih dari itu. Kompetitor paling tangguh di grup itu adalah Spanyol. Jika tak ada kejutan dari Iran, maka Spanyol dan Portugal akan lolos ke fase gugur.

Tidak itu saja. Portugal pun disebut-sebut mampu berbicara lebih banyak di ajang ini. Pelatih Manchester United (MU), Jose Mourinho percaya bahwa negara asalnya tersebut bisa memenangi Piala Dunia jika Cristiano Ronaldo selalu ada dalam squad The Navigators.

Mourinho dengan tegas menyebut kunci kesuksesan Portugal ada pada Ronaldo. Keberadaan CR7 dinilai akan membuat juara Piala Eropa 2016 tersebut akan menjadi salah satu negara yang difavoritkan di Negeri Beruang Putih.

Selain soal keberadaan CR7, para pemain Portugal masih merasakan momentum dan keyakinan, bahwa mereka juga bisa melakukan hal yang sama di Rusia nanti, sekaligus mengulang sukses dua tahun lalu saat menjadi juara Piala Eropa.

Pemain Bintang
Bicara pemain bintang di tim Seleccao, siapa lagi kalau bukan Cristiano Ronaldo? Pemain berjuluk CR7 ini menjadi kunci kesuksesan Portugal hingga lolos ke Piala Dunia Brasil 2014. 

Sedangkan di perhelatan Piala Eropa 2016 sosok Ronaldo seolah bukan saja sebagai seorang kapten dan pemain, melainkan juga asisten pelatih. Pada final melawan tuan rumah Prancis, ia harus ditandu keluar lapangan karena cedera di babak pertama. Bukannya beristirahat di bangku cadangan, sesekali Ronaldo berdiri dipinggir lapangan memberikan semangat kepada rekan-rekannya.
Cristiano Ronaldo.
Cristiano Ronaldo adalah legenda. Ia salah satu pencetak gol terbanyak Portugal sepanjang masa. Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro mengawali karier sepakbolanya di Sporting Lisbon. Pelatih Manchester United Sir Alex Ferguson terpesona akan permainannya ketika MU takluk 1-2 dari Sporting. Bersama Manchester, karier Ronaldo semakin berkibar hingga berhasil meraih Piala Champions pada musim 2007/2008.

Pada Juli 2009, ia pindah ke Real Madrid hingga sekarang. Keberadaan CR7 di dalam tim ternyata memang bukan hanya sebagai kapten sekaligus penggedor pertahanan lawan, melainkan juga sebagai roh pembawa semangat. Tim lawan tentu sudah sangat paham kondisi ini. Karena itu, setiap tim lawan pasti akan menjaga ketat guna mematikan pergerakan sang pemain bintang.

Pelatih
Portugal menunjuk Fernando Santos sebagai pelatih tim nasional senior pada 2014 menggantikan tempat Paulo Bento yang dipecat karena hasil negatif timnas. Sebelumnya, Santos pernah melatih Estoril, Estrela Amadora, FC Porto, AEK Athens, Panathinaikos, Sporting CP, AEK Athens, Benfica, dan PAOK FC.
Fernando Santos.
Selain itu ia menangani timnas Yunani pada 2010–2014 dan membawanya ke Piala Dunia 2014 sampai babak 16 besar. Kala itu Yunani dihentikan Kosta Rika melalui adu penalti.

Prestasinya yang paling fenomenal adalah mengantarkan Ronaldo dkk menjuarai Piala Eropa.

Filosofi bermain yang mementingkan pertahanan dimiliki Santos. Santos cenderung pragmatis dalam pendekatannya pada sebuah pertandingan. Dengan cara itulah, Santos membawa Portugal menjuarai Euro 2016.

Selain soal taktik, Santos memiliki banyak pemain andal. Para pemain yang dibawa ke Rusia kali ini adalah perpaduan antara para pemain senior, termasuk Ronaldo, dengan para pemain muda. 

Kemampuan Santos dipertaruhkan untuk memadukan dua generasi ini. Kekuatan Portugal yang terletak terletak pada para pemain senior harus diracik sedemikian rupa sehingga mampu bersinergi dengan para pemain muda berkualitas, seperti penyerang Andre Silva dan Bernardo Silva.

Timnas Spanyol

Spanyol pernah menjadi juara Piala Dunia 2010.
Asosiasi: Real Federacion Espanola de Futbol (RFEF)
Julukan: La Furia Roja
Peringkat FIFA: 10 (7 Juni 2018)
Most Caps: Iker Casillas (167)
Top Scorer: David Villa (59)
Pelatih: Julen Lopetegui (Spanyol)
Tampil:15 Kali (Prestasi Terbaik Juara 2010)
Tampil:15 Kali (Prestasi Terbaik Juara 2010)
Selama babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa grup G, La Furia Roja tampil sangat mengesankan. Mereka tidak terkalahkan dengan meraih sembilan kemenangan dan sekali imbang. Spanyol meraup nilai 28 atau lima poin di atas peringkat kedua, Italia.

Prestasi mengesankan? Tidak juga karena lawan mereka di grup tersebut adalah Albania, Israel, Macedonia, dan Liechtenstein. Relatif hanya Italia yang menjadi lawan sepadan Spanyol. Karena itu, ukuran sukses di babak kualifikasi belum membuat Spanyol puas. 

Apalagi dalam pertandingan uji coba, pasukan La Furia Roja ditahan Rusia 3-3. Pada pertandingan uji coba lainnya melawan Jerman berakhir 1-1, tetapi saat melawan Argentina, Sergio Ramos dkk kesetanan sehingga menggilas tim Tango dengan skor 6-1 pada 28 Maret lalu. Isco, gelandang serang Real Madrid, membuat hattrick di laga ini.

Masa keemasan Spanyol ada pada rentang waktu 2008-2012. Ketika itu Spanyol di bawah asuhan Vicente del Bosque seolah merupakan tim yang tak terkalahkan. Mereka merebut trofi Piala Eropa 2008 dan 2012 serta Piala Dunia 2010. Namun masih di bawah kendali del Bosque, pamor Spanyol meredup saat Piala Dunia 2014 di Brasil. La Furia Roja yang merupakan juara bertahan langsung tersingkir pada penyisihan grup karena kalah 1-5 dari Belanda dan 0-2 dari Cile.

Pada Piala Eropa 2016 di Prancis, nasib Spanyol sedikit lebih baik. La Furia Roja berhasil lolos ke babak 16 besar, meski hanya menempati urutan kedua grup D di bawah Kroasia. Langkah Spanyol akhirnya terhenti setelah kalah 0-2 dari Italia. Atas kekalahan ini Vicente del Bosque akhirnya mengundurkan diri dari posisi pelatih timnas Spanyol.

Memasuki putaran final Piala Dunia 2018, timnas Spanyol memasuki era baru di bawah pelatih Julen Lopetegui. Masih seperti ketika di tangan del Bosque, ketajaman lini depan Spanyol masih menjadi sorotan. Sedangkan untuk lini tengah dan belakang, Lopetegui memiliki cukup pasukan.

Lini belakang Spanyol dinilai sebagai salah satu yang terbaik dunia. Di bawah mistar gawang berdiri kiper Manchester United, David de Gea. Di barisan bek ada Dani Carvajal (Real Madrid), Gerard Pique (Barcelona), Sergio Ramos (Real Madrid), dan Jordi Alba (Barcelona). Lini pertahanan ini sudah teruji di babak kualifikasi, di mana La Furia Roja hanya kebobolan tiga gol dari sembilan pertandingan.

Sedangkan di lini tengah terdapat pemain veteran Andres Iniesta (Barcelona), yang akan berdampingan dengan Isco, Thiago Alcantara (Bayern Muenchen), Marco Asensio (Real Madrid), Sergio Busquets (Barcelona), atau David Silva (Manchester City). Kemampuan nama-nama tenar tersebut tak perlu diragukan lagi ketika mereka bermain di klub masing-masing.

Pekerjaan Lopetegui adalah memoles kepaduan satu pemain dengan lainnya serta memasang strategi tepat untuk setiap lawan. Tampaknya para gelandang ini bukan hanya sebagai pengatur serangan atau penyuplai bola ke penyerang melainkan juga sebagai penyerang bayangan.

Mengapa bayangan? Laiknya sepakbola modern, semua pemain harus bisa mencetak gol. Para gelandang juga merupakan lapisan kedua yang bisa menghasilkan gol. Namun, untuk tim Spanyol, penyerang bayangan yang dimaksud bukan hanya semata karena tuntutan sepakbola modern, melainkan karena para striker selama ini dianggap tumpul. Para gelandang yang bakal dibawa ke Rusia sudah menyumbangkan total 62 gol, sedangkan para penyerang hanya 13 gol.

Jumlah gol para gelandang sangat fantastis mengingat di sana terdapat gelandang senior, seperti David Silva dan Andres Iniesta, yang memiliki pengalaman membela timnas (caps). Sementara caps para penyerang masih minim, sehingga jumlah gol yang dihasilkan pun relatif belum kelihatan.

Lini depan menjadi perbincangan manakala salah satu penyerang terbaik Spanyol yang kini merumput di Chelsea, Alvaro Morata, tidak dibawa ke Rusia oleh Lopetegui. Sebagian pengamat menyebut keputusan pelatih itu tepat karena penampilan Morrata bersama Chelsea masih di bawah performa Diego Costa, Rodrigo, dan Iago Aspas.

Pemain Bintang
Francisco Roman Alarcon Suarez alias Isco adalah gelandang serang andalan Real Madrid dalam menggapai Piala Champions musim ini. Madrid membeli Isco dari Malaga pada 2013. Ketika itu Isco menjadi pencetak gol terbanyak ketiga di Piala Eropa U-21 sekaligus mendapatkan gelar "Golden Boy" pada 2012.

Isco.
Namun, setahun kemudian Madrid membeli striker Monaco, James Rodriguez. James menjadi target transfer gara-gara penampilan gemilangnya di Piala Dunia 2014. James berhasil mengantarkan timnas Kolombia sampai babak semifinal.

Di bawah pelatih Zidane, Isco dan James harus berebut tempat. Pada akhirnya Isco lebih banyak dipasang sebagai gelandang serang. Isco pula yang akhirnya dipertahankan Madrid, sedangkan James akhirnya hengkang ke Bayern Muenchen.

Pilihan Zidane yang jatuh pada Isco membuktikan bahwa keterampilan pemain kelahiran Benalmádena 21 April 1992 ini memang tidak diragukan lagi. Bila ada pemain dalam squad timnas Spanyol yang bisa menyainginya, hanya David Silva.

Catatan Silva--yang memang lebih senior--masih di atas Isco. Silva kini sudah berusia 32 tahun dan kemungkinan perhelatan di Rusia adalah Piala Dunia terakhir baginya. Selama kariernya di timnas Spanyol, Silva telah menorehkan 35 gol, terbanyak dari seluruh pemain saat ini. Bandingkan dengan Isco yang sembilan tahun lebih muda dan baru melesakkan 10 gol untuk timnas. Sedangkan gelandang vetaran lainnya adalah Andres Iniesta yang tahun ini mengunjak usia 34 tahun. Gelandang gaek Barcelona ini sudah mengemas 13 gol untuk timnas.

Pelatih
Pelatih bernama lengkap Julen Lopetegui Argote (51) memiliki rekor fantastis, yakni tak terkalahkan selama menukangi timnas Spanyol sejak 21 Juli 2016. Pada 18 pertandingan yang dilakoni, timnas Spanyol di bawah asuhan Lopetegui menuai 13 kemenangan dan lima kali seri.
Julen Lopetegui.
Sebelum melatih timnas senior, pria kelahiran 28 Agustus 1966 ini mengabdi sebagai pelatih tim muda Spanyol. Ia memimpin tim nasional U-19 dan tim nasional U-21 meraih gelar juara Eropa. Catatannya sebagai pelatih klub kurang menggembirakan. Ia hanya 125 hari sebagai manajer Rayo Vallecano, gagal membawa Madrid B promosi, dan gagal mengembalikan takhta juara Liga Primeira kepada Porto.

Di luar taktik yang akan diterapkan nanti, Lopetegui dinilai memiliki kelebihan yakni sangat mengenal tipe permainan anak buahnya. Mereka yang saat ini menjadi pilar timnas adalah anak didiknya ketika masih di tim junior. Mereka itu, antara lain David de Gea, Thiago Alcantara, Koke, Isco, dan Dani Carvajal.

Mantan penjaga gawang ini bermain sebanyak 149 laga di La Liga lebih dari 11 musim di klub Real Madrid, Logrones, Barcelona, dan Rayo Vallecano. Ia juga memainkan 168 laga di Segunda División bersama tiga klub, dan membela Spanyol di Piala Dunia 1994.

Sayangnya, sehari menjelang pembukaan Piala Dunia, Lopetegui dipecat, menyusul namanya diumumkan sebagai pelatih Real Madrid. Fernando Hierro ditunjuk sebagai pelatih menggantikan posisi Lopetegui.

Fernando Hierro.
Hierro (50), tidak memiliki begitu banyak pengalaman dalam bidang kepelatihan. Satu-satunya tim yang pernah ditanganinya adalah klub divisi dua Spanyol, Oviedo, selama satu musim. Di masa jayanya, Hierro adalah salah satu bintang Real Madrid.(JP)



Sumber: Suara Pembaruan
Share this article :

Posting Komentar