Home » » Profile Timnas-Brazil-Swiss-Kostarika-Serbia Piala Dunia 2018 (Group E)

Profile Timnas-Brazil-Swiss-Kostarika-Serbia Piala Dunia 2018 (Group E)

Written By jambipos-online on Senin, 18 Juni 2018 | 16:49

Profile Timnas-Brazil-Swiss-Kostarika-Serbia Piala Dunia 2018 (Group E)

Brasil adalah negeri sepakbola.
 Asosiasi: Confederacao Brasileira de Futebol (CBF)
Julukan: Canarinho (Kenari Kecil), Selecao (Tim Pilihan)
Peringkat FIFA: 2 (7 Juni 2018)
Most Caps: Cafu (142)
Top Scorer: Pele (77)
Pelatih: Tite (Brasil)
Tampil: 21 Kali (Prestasi Terbaik Juara 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002)
Tampil: 21 Kali (Prestasi Terbaik Juara 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002)
Brasil selalu menjadi salah satu kandidat juara Piala Dunia yang diselenggarakan di mana pun. Selain prestasinya sebagai negara yang mengoleksi paling banyak gelar juara dunia, talenta sepakbolanya memang bejibun di Negeri Samba ini. Brasil adalah satu-satunya negara yang belum pernah absen di Piala Dunia. Brasil adalah pencetak gol terbanyak di Piala Dunia. Brasil adalah negeri sepakbola.

Negara berpenduduk 209,7 juta jiwa ini sangat mendominasi dunia persepakbolaan. Seperti juga pada babak kualifikasi zona Amerika Selatan, Brasil cukup dominan hingga berhasil menjadi negara pertama yang memastikan lolos ke putaran Piala Dunia 2018 di Rusia.

Tim asuhan pelatih Tite ini meraih delapan kemenangan beruntun untuk memastikan satu dari empat tiket jatah zona Amerika Selatan. Total dari 14 laga yang dilakoni, Brasil hanya menelan 1 kali kekalahan, yakni di partai perdana ditekuk Cile 0-2.

Torehan kemenangan Brasil, antara lain menggilas Ekuador tiga gol tanpa balas, Kolombia (2-1), termasuk membantai Argentina 3-0 dan Uruguay 4-1.

Tite sebagai pelatih baru telah berhasil meramu susunan pemain dan formasi ideal. Salah satu persoalan terbesar yang diemban para pelatih Brasil adalah memilih pemain karena begitu banyak pemain berbakat yang bermunculan. Tak jarang beberapa nama "asing" muncul mendampingi Neymar serta Coutinho di starting eleven Brasil kala babak kualifikasi.

Saat berangkat ke Rusia, Tite membawa serta pemain klub lokal, yakni kiper Cassio Ramos dan bek sayap Fagner (Corinthians) serta bek Pedro Geromel (Gremio). Tim ini juga membawa para pemain yang merasakan kegagalan di Piala Dunia 2014, seperti Marcelo, Fernandinho, Paulinho, dan Willian.

Selain soal pemilihan pemain, Tite tentu saja berhasil menemukan taktik jitu untuk mengalahkan lawan tanpa harus meninggalkan filosofi bermain sepakbola yang dinamakan jogo bonito atau sepakbola cantik. Brasil diprediksi tidak akan kesulitan menghadapi lawan-lawannya di partai awal. Di grup E bersama Swiss, Kosta Rika, dan Serbia, tim Samba diperkirakan bakal menjadi juara grup.

Pemain Bintang
Salah satu berita besar menjelang Piala Dunia adalah kabar kemungkinan Neymar gagal ikut ke Rusia gara-gara cedera pergelangan kaki yang dideritanya ketika membela PSG melawan Olympique Marseille, Februari lalu. Video pergelangan kaki kanan Neymar yang tertekuk seusai berebut bola, viral. 

Orang yang melihat tayangan ulang bakal tak menyangka bahwa cedera Neymar sembuh dalam waktu relatif cepat. Apalagi setelah pemeriksaan lebih lanjut mantan pemain Barcelona itu dinyatakan mengalami cedera pada pergelangan kaki kanan dan retak pada tulang metatarsal kelima.
Neymar.
Namun kenyataannya Naymar telah kembali. Buktinya ia mencetak satu dari dua gol kemenangan Brasil atas Kroasia pada pertandingan uji coba di Stadion Anfield, Liverpool, Minggu (3/6/2018) waktu setempat. Yang menggembirakan adalah proses gol, di mana Neymar berhasil mengecoh tiga pemain lawan sebelum memberikan tendangan geledek ke gawang Kroasia.

Seperti pada Piala Dunia 2014, Brasil akan kembali mengandalkan Neymar. Seperti Brasil yang ditakuti lawan-lawannya, Neymar pun menjadi momok bagi setiap pemain bertahan lawan. Tak mengherankan, seperti dilansir Opta, Neymar adalah pemain yang paling sering dilanggar di lima kompetisi terelite Eropa plus Liga Turki. Tercatat ia dilanggar setiap 17 menit sekali.

Bila tak ada aral terkait cedera, Neymar bakal menambah pundi-pundi golnya. Ia kini ada di posisi keempat pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah timnas Brasil. Ia kini berada di bawah Pele, Ronaldo, Zico, dan Romario.

Tite, sang pelatih, yakin permainan Neymar akan kembali secara bertahap. Pada laga ketiga, keempat, atau kelima, barulah Neymar akan kembali ke level permainannya

Pelatih
Tite (57) adalah pelatih yang sukses membawa Brasil meraih delapan kemenangan beruntun, sehingga mengunci satu dari empat tiket otomatis ke Rusia di kualifikasi zona Amerika Selatan. Pemilik nama lengkap Adenor Leonardo Bacchi ini memang tidak seterkenal pendahulunya, Dunga. Namun, pengalaman dan prestasi Tite menangani klub cukup panjang.

Ia membawa klub Gremio meraih gelar juara Copa Brasil pada 2001. Tite mempersembahkan dua gelar juara Liga Brasil pada klub Corinthians pada musim 2010/2011 dan 2014/2015, serta Copa Libertadores, setara dengan Liga Champions di Eropa, pada 2012.
Tite.
Sebagai juara antarklub di kawasan Amerika Selatan, Corinthians pada musim itu maju ke final Piala Dunia Antarklub. Di ajang inilah Tite meraih gelar tertingginya sebagai manajer sepakbola setelah Corinthians menaklukkan jawara Eropa kala itu, Chelsea dengan skor tipis 1-0. Prestasi yang dicapai Tite ini tentu saja tidak dinikmati oleh banyak pelatih. Kendati demikian toh Tite tidak semasyhur pelatih tim Samba sebelumnya, seperti Luiz Felipe Scolari, Carlos Alberto Parreira, atau Carlos Dunga.

Tite muda adalah seorang pemain yang pensiun muda. Pada usia puncak 27, ia harus mundur karena cedera lutut yang tak kunjung sembuh. Tite kemudian memulai karier sebagai pelatih pada 1990. Selama 27 tahun dia telah menangani 16 klub.

Sinarnya sebagai pelatih mulai terlihat pada 1999 saat pria kelahiran Caxias do Sul ini menangani Caxias. Di tangan Tite, klub kecil ini menjuarai kompetisi Campeonato Gaucho, kejuaraan kecil tingkat provinsi di Brasil. Caxias kala itu mengalahkan klub besar Gremio yang saat itu masih dibela oleh pemain kawakan Ronaldinho.

Tite menerima kursi panas pelatih dari Dunga setelah Selecao terpuruk di kancah regional maupun dunia. Catatan buruk itu antara lain dilumat Jerman 7-1 pada ajang Piala Dunia 2014 yang digelar di kandang sendiri. Dua tahun kemudian Brasil tersingkir di babak penyisihan Copa America Centenario setelah hanya menduduki peringkat ketiga di bawah Peru dan Ekuador. Padahal, waktu itu Brasil diperkuat nama-nama tenar, seperti Marquinhos (PSG), Dani Alves (Barcelona), Philippe Coutinho (Liverpool), Willian (Chelsea), Casemiro (Real Madrid), Rafinha (Barcelona), Douglas Costa (Bayern Muenchen), atau Hulk (Zenit Saint Petersburg).

Tite mendapat tugas berat sebagai pengganti Dunga. Ia harus mengembalikan pamor Brasil yang selama ini disegani sebagai raksasa sepak bola karena pernah lima kali juara dunia. Sampai tahun lalu, Brasil bukan lagi tim yang begitu ditakuti.
Tite menjawab tantangan itu, setidaknya dengan membawa Neymar dkk menuju Rusia.

Timnas Swiss
Swiss mewaspadai Kosta Rika dan Serbia.
 Asosiasi: Swiss Football Association
Julukan: Schweizer Nati, La Nati (Tim Nasional)
Peringkat FIFA: 6 (7 Juni 2018)
Most Caps: Heinz Hermann (118)
Top Scorer: Alexander Frei (42)
Pelatih: Vladimir Petkovic (Swiss)
Tampil: 11 Kali (Prestasi Terbaik Perempat Final 1934, 1938, dan 1954)

Timnas Swiss tidak pernah absen sejak Piala Dunia 2006 di Jerman. Swiss lolos ke Rusia setelah menempati posisi runner-up grup B pada kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa. Mereka melenggang setelah mengandaskan Irlandia Utara pada babak play-off November lalu.

Dalam rentetan keikutsertaannya 12 tahun terakhir, prestasi terbaik adalah pada 2006 dan 2014 ketika mereka mampu melaju sampai babak 16 besar. Tak mengherankan bila Granit Xhaka dkk mengincar capaian yang lebih tinggi, yakni perempat final Piala Dunia 2018, mengulang masa kejayaan Swiss pada Piala Dunia 1934, 1938, dan 1954. Ketika itu Swiss melaju hingga perempat final.

Di grup E, Swiss harus melawan Brasil, Kosta Rika, dan Serbia. Sungguh bukan lawan yang ringan. Brasil diperkirakan bakal lolos dengan menjadi juara grup. Tinggal tiga tim lainnya yang harus bersaing memperebutkan posisi kedua mendampingi Brasil maju ke babak berikutnya.

Pelatih Swiss, Petkovic menyadari bahwa timnya akan lebih fokus mewaspadai Kosta Rika dan Serbia. Dibanding dua tim lawan, Swiss tentunya lebih percaya diri karena mereka adalah timnas dengan peringkat ke-6 FIFA jauh di atas Kosta Rika yang ada di posisi ke-23 dan Serbia ke-34.

Pemain Bintang
Pemain tengah Arsenal Granit Xhaka (25) bakal menjadi andalan timnas Swiss bersama Xherdan Shaqiri (Stoke City). Xhaka tumbuh bersama klub FC Basel. Klub tersukses di Swiss ini tertarik melihat kakak beradik Taulant dan Granit yang bermain di sebuah sekolah sepakbola. Perjalanan Granit sedikit terhambat ketika ia mengalami cedera lutut pada usia 16 tahun. Setelah sembuh dari cedera, ia nyaris tak terpakai di timnas Piala Dunia U-17 karena minimnya jam bertanding. Granit akhirnya dipanggil ketika ada satu pemain cedera.

Kala itu, Swiss berhasil meraih juara setelah mengalahkan tuan rumah Nigeria yang jauh lebih diunggulkan. Dua tahun kemudian ia bersama sang kakak dipromosikan ke tim utama Basel. Sejak saat itu karier sepakbola Granit melejit. Ia dilepas ke Borussia Moenchengladbach pada musim panas 2012 sebelum akhirnya hijrah ke Arsenal selepas Piala Eropa. Bersama Granit, Xherdan Shaqiri menjadi bagian dari generasi emas sepakbola Swiss.

Pelatih
Vladimir Petkovic (54) adalah mantan pelatih Lazio. Ia didepak karena dinilai melanggar perjanjian klub, yakni sudah menandatangani kontrak melatih Swiss meskipun masih terikat kontrak dengan Lazio. Pada akhirnya Petkovic melatih timnas Swiss yang sebelumnya ditangani Ottmar Hitzfeld yang pensiun. Di tangan Hitzfeld, Swiss lolos ke Piala Dunia 2010. Bertahan melatih selama enam tahun ia akhirnya resmi mengundurkan diri seusai Piala Dunia 2014.

Vladimir Petkovic.
Vladimir Petkovic tentu bangga menggantikan jabatan yang pernah diemban Hitzfeld. Pelatih kelahiran Yugoslavia dan berdwikewarganegaraan Bosnia-Herzegovina dan Swiss ini telah menghabiskan hampir separuh hidupnya di Swiss. Petkovic pun sudah sangat dekat dengan sepakbola Swiss. Saat masih menjadi pemain, Petkovic memperkuat sejumlah klub Swiss. Setelah pensiun pun ia menjalani karier kepelatihan bersama klub-klub Swiss, seperti Young Boys, Bellinzona, dan FC Sion. Formasi ideal yang sering diterapkannya adalah 4-2-3-1.

Timnas Kosta Rika

Kekuatan dari Kosta Rika sendiri adalah kolektivitas permainannya.
 Asosiasi: Federacion Costarricense de Futbol (Fedefutbol)
Julukan: La Sele, The Los Ticos
Peringkat FIFA : 23 (7 Juni 2018)
Most Caps: Walter Centeno (137)
Top Scorer: Rolando Fonseca (47)
Pelatih: Oscar Ramirez (Kosta Rika)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Perempat Final 2014)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Perempat Final 2014)
Prestasi pada Piala Dunia 2014 mencapai perempat final membuat timnas Kosta Rika membara menuju Rusia. Kala itu Bryan Ruiz dkk adalah tim yang tak terkalahkan dalam waktu normal (90 menit) pertandingan. Rekor ini menyamai Jerman dan Belanda. 

Tim Oranye-lah yang akhirnya menyudahi perjuangan timnas Kosta Rika melalui babak adu penalti. Euforia sampai ke babak perempat final ini tentu masih merasuk di dada para pemain senior yang kini masih membela timnas. Bagaimana tidak, di Piala Dunia Brasil tersebut Kosta Rika berada di grup neraka bersama Uruguay, Inggris, dan Italia, tetapi mampu keluar sebagai tim teratas grup.

Semangat itu pula yang membawa Los Ticos berada di urutan kedua di bawah Meksiko kualifikasi Piala Dunia zona Concacaf. Di babak kualifikasi ini Kosta Rika mencatatkan hasil yang tidak terlalu istimewa. Dari 10 kali bertanding, mereka kalah dua kali atas Meksiko dan Panama, empat kali menang, dan empat kali seri.

Pertanyaannya apakah Kosta Rika mampu mengulang prestasi empat tahun lalu? Di grup E, Los Ticos bersama dengan raksasa sepakboola, Brasil, dan Swiss, serta Serbia. Swiss dan Swedia memang tidak sepopuler lawan mereka di Piala Dunia 2014, Inggris, Italia, atau Uruguay, Namun demikian, kedua wakil Eropa itu tidak bisa dianggap enteng.

Grup ini kemungkinan besar akan dikuasai Brasil. Tiga tim lainnya harus berebut tempat kedua untuk bisa lolos ke babak berikutnya. Di atas kertas Kosta Rika bakal mampu mengatasi Serbia, tetapi agak kesulitan menghadapi Swiss.

Kekuatan dari Kosta Rika sendiri adalah kolektivitas permainannya. Kesuksesan mereka bisa menembus putaran final sendiri bisa dikatakan karena dua faktor, yakni serangan yang matang, soliditas di lini belakang, serta ujung pertahanan yang kokoh, yakni Keylor Navas, sang kiper. Jika mampu mengandaskan Swiss dan Swedia, maka Kosta Rika akan mendampingi Brasil maju ke babak berikutnya.

Pemain Bintang
Tampaknya belum ada yang mengalahkan keterampilan dan peran Bryan Jafet Ruiz Gonzalez alias Bryan Ruiz (32) di tim Kosta Rika. Nyatanya FIFA masih menempatkannya sebagai pemain bintang di Piala Dunia 2014 dengan menempatkannya sebagai maskot The Los Ticos.

Sebagai gelandang, Ruiz yang pernah bermain di klub Twente (Belanda) dan Fulham (Inggris), sering dipasang sebagai second striker. Sekarang, pemain Sporting Lisbon ini adalah kapten Kosta Rika yang juga masuk dalam jajaran playmaker terbaik di zona Concacaf.

Selain Ruiz, ada juga pemain bintang, yakni kiper Keilor Navas yang bermain di Real Madrid. Navas bahkan lebih kondang di telinga penggemar bola di dunia ketimbang Ruiz. Kemampuan Navas di bawah mistar gawang pun tidak diragukan. Namun Ruiz, pemain kelahiran San Jose, 18 Agustus 1985 ini tetap menjadi perhatian karena ia telah mencatatkan diri sekurangnya 109 kali bersama timnas sejak bergabung pada 2005. Pada Piala Dunia 2014 lalu ia dinilai bermain cemerlang hingga sukses mengantarkan Los Ticos ke perempat final.

Pelatih
Oscar Ramirez (53) boleh saja berpengalaman berlaga di Piala Dunia sbagai pemain. Ia pernah menjadi bagian sejarah Kosta Rika saat pertama kali lolos ke putaran final Piala Dunia 1990 silam.
Lantas Ramirez menjadi asisten pelatih Los Ticos pada Piala Dunia 2006. Ketika itu Los Ticos hanya sampai babak penyisihan grup. Di Rusia kini, pemilik nama lengkap Oscar Antonio Gerardo Ramírez Hernández ini memimpin Los Ticos sebagai pelatih. Ialah penentu strategi dan formasi pemain.
Oscar Ramirez.
Keberhasilan Los Ticos sampai perempat final Piala Dunia sebelumnya belum tentu terulang karena pelatihnya pun bukan sosok yang sama dan memiliki strategi serupa. Pada 2016, Kosta Rika diasuh oleh Jorge Luis Pinto. Pria berkebangsaan Kolombia ini menggunakan formasi 5-3-2 dengan menempatkan satu pemain sebagai sweeper di depan kiper dan seorang pemain sebagai penyerang bayangan.

Setelah Piala Dunia itu, Pinto mengundurkan diri karena tidak tercapainya kesepakatan dalam hal kontrak. Kini, Ramirez sang pegganti punya rumus sendiri. Ia menyukai formasi bertahan dengan 5-4-1. Formasi ini adalah strategi yang berfokus pada lini tengah dengan umpan pendek dan penjagaan satu lawan satu. Dalam permainan formasi bisa berubah menjadi 5-2-2-1 dengan tiga bek tengah berdiri sejajar di garis pertahanan, tanpa sweeper. Keampuhan pola yang diusung Ramirez ini bakal dipertaruhkan di Rusia.

Timnas Serbia
Serbia memiliki sejumlah nama tenar dan skill menawan.
 Asosiasi: Fudbalski Savez Srbije (FSS)
Julukan: Оrlovi (Elang)
Peeringkat FIFA: 34 (7 Juni 2018)
Most Caps: Dejan Stanković (103)
Top Scorer: Stjepan Bobek (38)
Pelatih: Mladen Krstajic (Serbia)
Tampil: 12 Kali (Prestasi Terbaik Peringkat Keempat 1930 dan 1962)
Tampil: 12 Kali (Prestasi Terbaik Peringkat Keempat 1930 dan 1962)
Serbia datang ke Rusia sebagai pemuncak klasemen grup A babak kualifikasi dengan meraih enam kemenangan, tiga seri, dan cuma satu kali kalah dalam 10 pertandingan. Satu-satunya kekalahan Branislav Ivanovic dkk diderita dari tuan rumah Austria.

Konsistensi penampilan sepanjang kualifikasi menjadi modal penting Serbia menghadapi lawan-lawannya di grup E. Si Elang atau Orlovi, sebutan timnas Serbia, bakal bersaing ketat dengan dengan Swiss dan Kosta Rika. Sedangkan dengan Brasil, Serbia harus mengakui masih kalah baik dari segi komposisi pemain dan pola permainan serta pengalaman.

Terkait dengan komposisi pemain dan pengalaman, meski tertinggal dari Brasil, Serbia memiliki sejumlah nama tenar dan skill menawan. Mereka, antara lain bek Branislav Ivanovic (Zenit St Petersburg), Alexandar Kolarov (AS Roma), dan Matija Nastasic (Schalke 04). 

Di lini tengah ada gelandang-gelandang tangguh dan kreatif seperti Nemanja Matic (MU) dan Adam Ljajic (Torino). Sedangkan di lini depan ada Dusan Tadic (Southampton) dan Alexandar Mitrovic (Fulham). Nama-nama ini akan sangat berperan ketika padu dalam bermain, sehingga mampu menggilas lawan-lawan.

Pemain Bintang
Nemanja Matic (29) bakal menjadi tumpuan lini tengah, penahan serangan maupun pemasok bola ke para penyerang di timnas Serbia. Mantan pemain Benfica dan Chelsea ini dikenal memiliki keistimewaan pada sisi kekuatan fisik dan kecerdasannya membaca permainan lawan.

Nama Matic meroket setelah dia menjadi figur sentral dalam kesuksesan Chelsea merajai Liga Premier Inggris musim 2014/2015 dan 2016/2017. Dia akhirnya berlabuh di Manchester United. Di Benfica selama hampir tiga musim, Matic ikut mencicipi juara Piala Portugal 2011/2012 dan liga domestik musim 2013/2014, sebelum kembali direkrut Cheslea pada Januari 2014. Kini Matic menjadi andalan "Setan Merah" pada berbagai ajang.

Selain Matic, masih ada pemain-pemain bertalenta lainnya, seperti bek gaek Brannislav Ivanovic dan bek sayap AS Roma Alexandar Kolarov serta pengatur serangan Torino, Adam Ljajic

Pelatih
Perjalanan babak kualifikasi Serbia tidak lepas dari sentuhan pelatih Slavoljub Muslin. Sayang pada Oktober 2017 lalu kontraknya tidak diperpanjang. Disebut-sebut bahwa alasan pemecatan adalah karena Muslin tidak memanggil Sergeij Milinkovic-Savic (Lazio) ke timnas Serbia. Muslin tidak menemukan formula yang sesuai untuk memainkan Savic dengan Dusan Tadic (Southampton).
Mladen Krstajic.
Federasi sepak bola Serbia kemudian menunjuk Mladen Krstajic (44) sebagai pelatih baru. Belakangan Savic-Tadic bisa padu saat Krstajic menangani The Orlovi untuk maju ke Rusia.

Kini pekerjaan rumah Krstajic adalah membenahi lini belakang Serbia. Meski mulus melaju di babak kualifikasi sebagai pimpinan klasemen, Serbia kebobolan sampai 10 gol dari 10 kali berlaga. Hal ini membuktikan bahwa lini belakang butuh sentuhan.(JP)



Sumber: Suara Pembaruan
Share this article :

Posting Komentar