Home » » Profile Timnas Arab Saudi-Mesir-Uruguay-Rusia di Piala Dunia 2018 Rusia (Group A)

Profile Timnas Arab Saudi-Mesir-Uruguay-Rusia di Piala Dunia 2018 Rusia (Group A)

Written By jambipos-online on Selasa, 19 Juni 2018 | 09:26

Profile Timnas Arab Saudi-Mesir-Uruguay-Rusia di Piala Dunia 2018 Rusia (Group A)

Timnas Arab Saudi

Arab Saudi pernah lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 1994.
 Asosiasi : Saudi Arabian Football Federation
Julukan: Green Falcons
Peringkat FIFA: 67 (7 Juni 2018)
Most Caps:Mohamed Al-Deayea (178)
Top Scorer :Majed Abdullah (71)
Pelatih : Juan Antonio Pizzi (Spanyol)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Babak 16 Besar 1994)

Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Babak 16 Besar 1994)

Pertandingan pembuka Piala Dunia mempertemukan Arab Saudi melawan tuan rumah Rusia, Kamis 14 Juni 2018. Bagi Rusia, Arab Saudi tidak bisa dipandang sebelah mata. Perjuangan wakil Asia ini di babak kualifikasi cukup mengasah kepaduan tim guna melawan tuan rumah yang kekurangan jam terbang berlaga menjelang Piala Dunia.

Pada kualifikasi zona Asian Football Confederation (AFC), Arab Saudi lolos ke putaran ketiga bersama Uni Emirat Arab (UEA) meninggalkan Palestina, Malaysia, dan Timor Leste. Selanjutnya tim berjuluk The Green Falcons ini satu grup dengan Jepang, Australia, UEA, Irak, dan Thailand. 

Di grup ini kualitas Arab Saudi dibuktikan dengan menempati diri di posisi kedua setelah Jepang, dan satu tingkat di atas juara Asia 2015, Australia. Sedangkan tim Benua Kanguru yang dihuni sejumlah pemain yang merumput di Liga Primer Inggris malah harus melalui babak play-off melawan Suriah terlebih dahulu sebelum lolos.

Di ajang Piala Dunia, pencapaian terbaik yang pernah diraih Arab Saudi adalah lolos ke babak 16 besar di tahun 1994. Setelah itu, pada perhelatan Piala Dunia 1998, 2002, dan 2006, The Green Falcons hanya mampu bertahan hingga fase awal grup.

Arab Saudi memang bukan peserta pelanggan Piala Dunia. Mereka absen pada 2010 dan 2014. Meski demikian, tim ini datang ke Rusia dengan penuh kepercayaan diri mengingat hasil di babak kualifikasi yang cukup meyakinkan. Apalagi pada pertandingan terakhir, mereka mampu mengalahkan Jepang 1-0, sekaligus membawa mereka lolos ke Rusia.

Di Grup A Piala Dunia 2018 ini, tim asuhan Juan Antonio Pizzi ini kemungkinan mampu mengimbangi Rusia, tetapi bakal kesulitan melawan Mesir dan Uruguay. Harus diingat bahwa perjuangan Arab Saudi saat kualifikasi tidak lepas dari jasa pelatih sebelum Pizzi, Bert van Marwijk. Mantan pelatih timnas Belanda ini mundur karena tidak menemukan kesepakatan dalam negosiasi kontrak barunya.

Selepas Marwijk, Federasi Sepak Bola Arab Saudi akhirnya menunjuk pelatih asal Argentina, Edgardo Bauza, yang notabene adalah bekas pelatih timnas Uni Emirat Arab yang disingkirkan Arab Saudi pada babak kualifikasi. Bauza akhirnya dipecat karena dalam lima pertandingan uji coba menuai hasil buruk, yakni dua kali kemenangan dan tiga kekalahan. Jadilah Pizzi menggantikan Bauza.

Melihat perjalanan ini, peran pelatih sangat menentukan. Apakah di tangan Pizzi Arab Saudi akan lebih padu, atau malah berantakan seperti ketika dipegang Bauza?

Dari sisi pemain, nyaris tak ada nama tenar dalam tim ini. Namun Arab Saudi punya cara sendiri. Guna mendukung penampilan para pemainnya, Saudi Arabian Football Federation (SAFF) mengirimkan sembilan pemain untuk bermain di Liga Spanyol berkat nota kerja sama Pemerintah Arab Saudi dengan Spanyol dalam pengembangan sepakbola. 

SAFF pun mengizinkan para pemain untuk tidak menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan. Upaya-upaya ini membuktikan keseriusan Arab Saudi untuk tidak hanya menjadi tim penggembira di perhelatan Piala Dunia 2108. SAFF tentu berkeinginan mereka bisa mengulang prestasi 1994 atau hampir seperempat abad lalu, lolos ke babak 16 besar.

Pemain Bintang
Arab Saudi tidak memiliki nama-nama pemain tenar. Pasukan negeri padang pasir ini rata-rata adalah pemain klub dalam negeri. Hanya ada tiga pemain yang berlaga di di luar, yakni Salem Al-Dawsari (Villarreal), Fahad Al-Muwallad (Levante), dan Yahya Al-Shehri (Leganes).

Pemain yang dianggap paling bersinar sekaligus senior, Mohammad Al-Sahlawi (31) bermain di klub lokal, Saudi Al-Nassr. Al-Sahlawi merupakan striker andalan. Ia termasuk penyerang tersubur di babak kualifikasi Piala Dunia 2018 dengan mencetak 16 gol. Ia juga merupakan penyerang paling subur di timnas dengan 28 gol.

Mohammad Al-Sahlawi.
Di musim ini saja bersama Al Nassr, ia telah mencetak 11 gol dari 20 penampilan di semua kompetisi. Sedangkan di timnas, gol pertama dicetak Al-Sahlawi saat berlaga di ajang AFC Youth Championship sebelas tahun lalu ketika melawan Irak U-20. 

Al-Sahlawi mencetak hattrick di timnas senior pertamanya pada pada kualifikasi PD 2018 saat Arab Saudi melawan Timor Leste, 3 September 2015 lalu. Guna menunjang penampilannya di Piala Dunia nanti, SAFF mengirimnya untuk mengikuti uji coba selama tiga minggu di klub raksasa Inggris, Manchester United.

Pelatih
Timnas Arab Saudi sudah mengganti pelatih sebanyak tiga kali. Faktor ini bisa mengganggu kepaduan tim. Pemain bisa saja tidak cocok dengan pelatih. Namun, faktor hubungan pelatih dan pemain ini tampaknya tidak bakal menjadi kendala mengingat Juan Antonio Pizzi Torroja (49 tahun) adalah pelatih profesional yang sudah mengenyam asam garam kepelatihan di sejumlah klub, termasuk klub Valencia di Italia.

Juan Antonio Pizzi Torroja.
Pria kelahiran Santa Fe, 7 Juni 1968 adalah mantan pemain sepakbola berkewarganegaraan Spanyol kelahiran Argentina yang biasa bermain sebagai penyerang. Ia pernah bermain untuk Barcelona dan pernah meraih juara La Liga, Copa Del Rey, Piala Super Spanyol dan Piala Super UEFA.

Pizzi mengakhiri kariernya sebagai pemain pada 2002 di klub Villarreal. Di tangan Pizzi karakter permainan Arab Saudi kemungkinan besar tak jauh dari gaya permainan khas klub-klub Spanyol yang mengandalkan umpan-umpan pendek, tetapi akurat, serta pergerakan dinamis pemain dan alur serangan melalui berbagai sisi lapangan. 

Timnas Mesir
Mesir kini memiliki squad berkualitas dan disebut-sebut sebagai generasi emas.
 Asosiasi: Egyptian Football Association
Julukan: The Pharaohs
Peringkat FIFA: 45 (7 Juni 2018)
Most Caps: Ahmed Hassan (184)
Top Scorer: Hossam Hassan (68)
Pelatih: Hector Cuper (Argentina)
Tampil: 3 Kali di Piala Dunia

Tampil: 3 Kali di Piala Dunia
Dengan sejumlah pemain andal dan pelatih mumpuni, Mesir diprediksi bakal maju ke babak kedua. Melihat lawan-lawan di grup A, kemungkinan besar Mesir bakal mampu mengatasi tuan rumah Rusia dan wakil Asia, Arab Saudi. Tim berjuluk The Pharaohs ini diperkirakan akan menemani jawara Amerika Selatan, Uruguay, maju ke babak kedua.

Kembali tampil di ajang Piala Dunia untuk ketiga kalinya, para pemain Mesir sangat ingin mengukir sejarah. Hasrat menorehkan catatan emas bukanlah hal muluk sebab Mesir kini memiliki squad berkualitas dan disebut-sebut sebagai generasi emas. 

Kondisi ini ditambah dengan kualitas pelatih serta semangat para pemain. Sangat masuk akal bila motivasi pemain sangat tinggi mengingat Mesir kembali ke ajang kompetisi sepakbola tertinggi sejagat ini setelah absen selama 28 tahun!

Pemain-pemain seperti Mohamed Salah yang bersinar bersama Liverpool musim ini, Mohamed El Neny (Arsenal), Ahmed El Mohamady (Aston Villa), Ali Gabr (West Bromwich Albion), dan Ramadan Sobhi (Stoke City) menjadi andalan tim. 

Mereka tentu saja tak ingin menyia-nyiakan kesempatan berlaga di Piala Dunia. Apalagi Mesir selama ini dikenal sebagai tim tersukses di Afrika dengan raihan 7 trofi Piala Afrika. Jumlah ini adalah yang terbanyak di antara negara lainnya di Afrika. Meski berjaya di benua Afrika, faktanya negeri Firaun ini baru dua kali ikut Piala Dunia, yakni pada 1934 dan 1990.

Mesir tidak terlalu kesulitan dalam perjalanan menuju Rusia. Pada babak kualifikasi zona Afrika, Mesir menguasai puncak grup E. The Pharaohs lolos dengan hanya menelan sekali kekalahan dari enam pertandingan. 

Dalam enam kali pertandingan itu, anak asuh Hector Cuper ini hanya kebobolan empat kali. Kekalahan satu-satunya dialami Mesir saat bertandang ke markas Uganda di putaran pertama. Mesir akhirnya mampu mengatasi Uganda, Ghana, dan Kongo, sehingga mulus menggapai tiket putaran final.

Sukses di babak kualifikasi ini tidak boleh menjadikan para pemain jemawa karena kualitas lawan-lawan mereka di grup kualifikasi zona Afrika tentu sangat berbeda dengan penghuni grup A Piala Dunia 2018.

Yang menarik dari tim ini, selain Mohamed Salah adalah kehadiran kiper berusia 45 tahun, Essam El-Hadary. El-Hadary bisa saja dimainkan oleh Hector Cuper bila kiper utama mereka selama ini, El-Shenawy, benar-benar absen karena cedera. 

El-Shenawy, yang selama ini membela klub Zamalek SC mengalami cedera lutut setelah bertabrakan keras dengan pemain klub Ittihad Alexandria sehingga harus ditandu ke luar lapangan, pertengahan April lalu. Bila El-Hadary tampil maka dipastikan ia bakal menjadi pemain tertua dalam perhelatan PD 2018 ini.

Pemain Bintang
Tak bisa disangkal, pemain bintang tim ini adalah Mohamed Salah (25). Selain pernah bermain di klub besar Chelsea, Roma, dan kini menjadi bintang di Liverpool, Salah adalah pemain yang prestasinya diakui semua orang. Ia memiliki andil besar membawa Liverpool ke final Liga Champions musim ini. 

Atas keterampilannya mengolah bola, pemain kelahiran Nagrig, Gharbia, Mesir pada 15 Juni 1992 ini dinobatkan sebagai pemain terbaik sehingga mendapatkan penghargaan "Player of the Year 2017-2018" dari Asosiasi Pemain Profesional (PFA) Inggris pada 22 April 2018 lalu.

Mohamed Salah.
Berdasarkan pilihan para pemain profesional, nama Salah mengalahkan nama-nama tenar lainnya seperti Kevin De Bruyne (Manchester City), Harry Kane (Totenham Hotspur), Leroy Sane (Manchester City), David Silva (Manchester City), maupun kiper David De Gea (Manchester United).

Ia merupakan pesepakbola kedua Afrika yang memenangi penghargaan tersebut setelah pemain Aljazair dari klub Leicester City, Riyad Mahrez, pada 2016. Gelar lain didapat pada Januari 2018, yakni sebagai "Pemain Terbaik Afrika 2017". Gelar itu didapatkannya setelah menjadi pahlawan bagi Mesir dengan meloloskan negaranya ke Piala Dunia 2018.

Salah memborong dua gol kemenangan 2-1 Mesir atas Kongo dalam laga grup E kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Afrika pada 8 Oktober 2017. Kemenangan itu sekaligus memastikan Mesir untuk pertama kalinya sejak 28 tahun terakhir berlaga di Piala Dunia. Penampilan Salah tersebut adalah yang ke 56 kali dengan 32 gol. Jumlah gol yang dicetak Salah, menurut catatan FIFA adalah 71 persen dari total gol Mesir di babak kualifikasi Piala Dunia 2018.

Pelatih
Hector Cuper tidak asing di telinga penggemar sepakbola dunia karena pernah melatih klub kondang Spanyol, Valencia dan klub Italia, Inter Milan. Sayang, pelatih berkebangsaan Argentina ini telanjur dijuluki spesialis runner up karena tim asuhannya lebih sering menjadi nomor dua. 

Bahkan, pada Januari lalu, Cuper yang kini melatih tim nasional Mesir kembali gagal di partai puncak setelah dalam final Piala Afrika 2017 ditaklukkan Kamerun. Toh, Cuper meraih "Confederation of African Football (CAF) Coach of the Year" pada tahun itu.
Hector Cuper.
Cuper ditunjuk melatih timnas Mesir pada Maret 2015 hingga sukses mengantarnya ke putaran final Piala Afrika 2017. Di bawah asuhannya, Mesir dikenal memiliki lini pertahanan yang kokoh. Hanya sekali saja, dari 30 pertandingan, The Pharaohs kebobolan lebih dari satu gol. Rasio kemenangan pelatih asal Argentina ini bersama Salah dkk mencapai 63 persen. Dengan materi pemain saat ini Cuper bakal leluasa menjalankan taktiknya demi meraih kemenangan.

Timnas Rusia

Tuan rumah memang tidak diunggulkan di ajang Piala Dunia 2018.

Asosiasi:Russian Football Union (RFS)
Julukan:Golden Eagles
Peringkat FIFA: 70 (7 Juni 2018)
Most Caps: Sergei Ignashevich (120)
Top Scorer: Aleksandr Kerzhakov (30)
Pelatih: Stanislav Cherchesov (Rusia)
Tampil: 11 Kali (Prestasi Terbaik Semifinal 1966)









Sebagai tuan rumah, Rusia tidak melalui kualifikasi untuk berlaga di Piala Dunia. Karena itu bisa dimaklumi bila tim Beruang Merah ini sangat membutuhkan lawan tanding. Bahkan sempat dikabarkan bahwa tuan rumah Rusia putus asa mencari lawan tanding dalam mempersiapkan diri di ajang PD 2018 ini, di luar jadwal uji coba internasional melawan negara lain.

Laga persahabatan yang dilakoni Rusia adalah menahan imbang Spanyol pada pertandingan persahabatan di Stadion Krestovskyi, Saint Petersburg, pertengahan November 2017 lalu, dengan skor 3-3. Selanjutnya dikalahkan Argentina 0-1. Pada 24 Maret lalu, Rusia dikalahkan Brasil dengan skor 3-0 di Stadion Luzhniki. Sedangkan pada laga uji coba terakhir, tim ini kalah 3-1 dari Prancis, 27 Maret 2018 lalu. Hasil tak pernah menang ini menunjukkan bahwa Rusia belum teruji.

Tuan rumah memang tidak diunggulkan di ajang Piala Dunia 2018. Lolos babak pertama dianggap sebagai hasil terbaik. Mengapa demikian? Penampilan buruk di ajang Euro 2016 menjadi dasar perkiraan. Tim dengan sebutan Golden Eagles ini gagal lolos ke fase knock out (babak gugur) setelah dikalahkan Wales 0-3 pada laga penyisihan terakhir.

Dari pengalaman tersebut, banyak pengamat sepakbola yang menyatakan sulit untuk melakukan perubahan besar dalam waktu dua tahun menjelang Piala Dunia. Apalagi sebagai tuan rumah, tak ada babak kualifikasi yang dilalui Rusia sebagai ajang mengasah diri.

Pelatih Stanislav Cherchesov sedang mencoba membangun squad baru setelah pendahulunya, Leonid Slutsky, tak mampu memberikan performa tim yang mengesankan di Euro 2016. Dengan tidak adanya pemain berkualitas dan kepergian sejumlah pemain lama, Cherchesov harus melirik bakat-bakat muda, meskipun pemain seperti itu langka dan kurang berpengalaman.

Faktor lain adalah dukungan penggemar yang menyusut. Setelah penampilan di Piala Eropa, masyarakat bola di Rusia menyatakan kekecewaannya. Bahkan di dunia maya muncul petisi agar timnas mereka dibubarkan saja. Petisi itu sudah ditandatangi sekitar sejuta warganet. Apakah hal ini merupakan gambaran hanya di dunia maya atau dunia nyata baru akan terbukti dalam laga perdana di mana Rusia akan menjamu Arab Saudi di laga pembukaan Piala Dunia 2018.

Pemain Bintang
Kiper timnas Rusia ini menjadi bagian penting, karena selain menyandang ban kapten, juga memiliki pengalaman tampil paling banyak di antara pemain lain. Igor Akinfeev (31) sudah bermain 104 kali bagi timnas. Akinfeev melakukan debut untuk tim nasional Rusia di pertandingan persahabatan melawan Norwegia pada 28 April 2004, saat berusia 18 tahun dan 20 hari.
Igor Akinfeev.
Akinfeev masuk squad Rusia di Piala Eropa 2004, Piala Eropa 2008, Piala Eropa 2012, dan Piala Dunia 2014 di Brasil. Prestasinya paling mencorong adalah dalam membela klubnya, CSKA Moscow, menjadi juara Liga Eropa UEFA musim 2004/2005.

Saat masih berumur 21 tahun ia mendapatkan penghargaan sebagai kiper muda terbaik Eropa (2008). Kemampuannya di bawah mistar gawang dan pengalamannya tampil di Eropa dan Piala Dunia bakal sangat berarti bagi tim Rusia untuk tidak kebobolan banyak gol.

Pelatih
Keberadaan dan peran pelatih menjadi faktor penting ketika Rusia dibelit kekurangan pemain berkualitas dan prestasi yang kurang menggembirakan di Eropa. Berkualitas yang dimaksud adalah standar Eropa. Para pemain angkatan Piala Dunia 2018 kali ini kebanyakan adalah pemain klub lokal. Tak ada pemain bintang yang cukup terkenal di dalam tim Beruang Merah. Karena itu sosok Stanislav Cherchesov sangat diharapkan menjadi penentu.
Stanislav Cherchesov.
Dalam banyak kejadian, tim dengan pemain berkualitas rata-rata dapat berprestasi sejauh mereka solid. Sebaliknya tim bertabur bintang berkualitas bisa saja berantakan bila antarpemain tidak bisa saling bekerja sama. Di sinilah peran pelatih seperti Cherchesov yang selama ini dikenal akan metode kerasnya dalam menangani pemain.

Mantan kiper tim nasional Rusia ini dikenal sukses melatih di Eropa. Pada musim lalu ia memenangi Liga Polandia bersama Legia Warsaw. Tangan besi dengan talenta melatih Cherchesov diperkirakan akan mampu mengangkat prestasi Rusia di Piala Dunia dan dapat diterima oleh para penggemar. Dengan demikian dukungan kepada timnas bakal terus membara.

Timnas Uruguay


Suarez maupun Cavani, sempat mengalami fase yang sulit di klub masing-masing.
 Asosiasi: Asociacion Uruguaya de Futbol (AUF)
Julukan: La Celeste (The Sky Blue One), Los Charruas
Peringkat FIFA: 14 (7 Juni 2018)
Most Caps: Maxi Pereira (119)
Top Scorer: Luis Suarez (47)
Pelatih: Oscar Tabarez (Uruguay)
Tampil: 13 Kali (Prestasi Terbaik Juara 1930 dan 1950) 
Tampil: 13 Kali (Prestasi Terbaik Juara 1930 dan 1950) 
Tim berjuluk Los Charruas (merujuk pada salah satu suku Indian, Charrua) itu pernah mengejutkan Brasil saat meraih gelar juara Piala Dunia 1950. Bermain di kandang Brasil yang angker di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, serta disaksikan sekitar 205.000 penonton--yang masih menjadi rekor penonton terbanyak sepanjang sejarah olahraga--Uruguay berhasil menaklukkan tuan rumah dengan skor 2-1.

Hasil itu pula membuat Brasil menjadi negara yang gagal menjuarai Piala Dunia saat menjadi tuan rumah. Padahal, Brasil adalah negara yang paling banyak mengoleksi trofi Piala Dunia, yakni sebanyak lima kali.

Melihat komposisi timnas Uruguay saat ini, anak buah pelatih Oscar Tabarez itu patut disegani tim mana pun. Bisa dikatakan, dari lini belakang, tengah, hingga depan, Uruguay memiliki pemain yang bisa diandalkan. 

Buktinya Uruguay finis di posisi kedua klasemen akhir kualifikasi di bawah Brasil. Pada klasifikasi zona Conmebol itu, dari 18 kali yang digelar Uruguay mendapakan hasil memuaskan yakni sembilan kali menang, empat seri, dan lima kali kalah. Hasil ini menempatkannya pada posisi yang dinilai lebih baik daripada Argentina.

Kekuatan tim ini adalah pada pelatih yang bertahan dalam tiga perhelatan Piala Dunia. Tabarez hafal benar tim yang diasuhnya. Perubahan formasi dari 3-4-1-2 menjadi 4-4-2 atau 4-3-3 serta aneka varian di dalamnya bukan hal yang aneh bagi Tabarez.

Tabarez kini lebih sering mengandalkan formasi klasik 4-4-2 dengan duo Luis Suarez dan Edinson Cavani yang memiliki peran sama. Keduanya bermain secara fleksibel, sehingga bisa melebar ke sayap jika dibutuhkan.

Di belakang, keberadaan Maxi Pereira dan Álvaro Pereira membuat Tabarez memiliki dua pemain sayap yang bisa turun sebagai full back, gelandang atau bek sayap. Itulah salah satu senjata rahasia Uruguay yang semakin membuat sulit siapa pun lawan mereka. 

Sedangkan, di lini tengah, gelandang Chicago Fire, Arevalo Rios menjadi penyeimbang antara lini tengah dan lini belakang Uruguay. Mungkin, Suarez dan Cavani adalah bintang di tim Uruguay, tetapi tak dapat diragukan lagi kalau Tabarez adalah figur terpenting dalam squad La Celeste.

Uruguay diprediksi bakal melenggang mudah ke babak berikutnya mengatasi tiga tim lainnya di grup A, tuan rumah Rusia, Arab Saudi, dan Mesir.

Pemain Bintang
Duo penyerang tim nasional Uruguay Luis Suarez dan Edinson Cavani bakal menjadi duet penyerang yang paling berbahaya di Rusia. Perpaduan keduanya di timnas Uruguay berhasil membawa mereka lolos ke Piala Dunia. Keduanya bisa saling melengkapi baik sebagai target man maupun sebagai pengumpan.
Luis Suarez.
Menariknya, baik Suarez maupun Cavani, sempat mengalami fase yang sulit di klub masing-masing. Suarez sempat meminta pindah dari Liverpool jika ada klub yang berlaga di Liga Champions yang memberikan tawaran.

Sedangkan, Cavani yang pindah dari Napoli ke Paris Saint-Germain (PSG) seperti berada di bawah bayang-bayang Zlatan Ibrahimovic ketika itu. Kendati begitu, Cavani justru membuktikan bahwa dia adalah striker yang andal setelah mencetak 11 gol di 16 pertandingan bagi PSG.

Duet Suarez-Cavani disebut layaknya duo striker legendaris di timnas lain, seperti duet Romario-Bebeto (Brasil), Marcelo Salas-Ivan Zamorano (Cile), Jan Koller-Milan Baros (Cheska), Alan Shearer-Teddy Sheringham (Inggris). 

Bisa dikatakan, Cavani berperan sebagai pengganti Diego Forlan menemani Suarez di lini depan timnas Uruguay. Duet Forlan-Suarez sukses membawa Uruguay melaju ke semifinal Piala Dunia 2010. Setelah meraih gelar Copa Amerika 2011, ini saat yang tepat bagi Uruguay meraih trofi Piala Dunia ketiga mereka.

Pelatih
Berbicara mengenai suatu tim tentu tak bisa dilepaskan dengan pelatih di belakangnya. Bicara tentang Uruguay, tak bisa lepas dari sosok Oscar Tabarez. Pelatih berusia 66 tahun itu adalah aktor penting di balik keberhasilan Uruguay meroket selama tujuh tahun terakhir.

Oscar Tabarez.
Pada era 1980-an, timnas Uruguay memiliki reputasi yang buruk akibat permainan keras yang menjadi ciri khas mereka. Para pemain Uruguay menjustifikasi istilah "garra", sebagai karakter nasional ke dalam tim. 

Secara harfiah, garra berarti “cakar”, tetapi diterjemahkan menjadi permainan kasar dan keras di lapangan. Padahal, garra juga bermakna ketangguhan, determinasi, serta kecerdikan yang diwujudkan ke dalam satu karakter.

Pada awal era kepelatihannya di Uruguay, Tabarez berhasil mengubah intepretasi yang salah dari garra menjadi sikap tangguh yang tak mudah menyerah dalam tim. Akhirnya, pelatih bernama lengkap Óscar Wáshington Tabárez Sclavo itu berhasil mengubah Uruguay kembali menjadi squad yang disegani.

Pada Piala Dunia 2010, pelatih berjuluk El Maestro itu berhasil membawa Uruguay ke peringkat empat. Pada tahun berikutnya, Uruguay sukses merengkuh trofi Copa America. Di lapangan, Tabarez secara fleksibel menerapkan taktik sesuai dengan kekuatan lawan. Tabarez bisa beradaptasi untuk menyesuaikan formasi lawan yang dihadapinya.(JP)



Sumber: Suara Pembaruan
Share this article :

Posting Komentar