Home » » Catatan Ratna Dewi Soal Peristiwa Bom Surabaya

Catatan Ratna Dewi Soal Peristiwa Bom Surabaya

Written By jambipos-online on Rabu, 16 Mei 2018 | 07:35

Ratna Dewi -FB
Jambipos Online-Pukul 19.30 WIB tadi (14 Mei 2018 lalu), di sebuah wawancara via telepon antara keluarga korban bom gereja Arjuna Surabaya dengan 2 pembaca berita sebuah TV Swasta Nasional. Host: Selamat malam pak, nama bapak siapa dan apa hubungan bpk dgn salah satu korban tewas?

Keluarga korban: Nama saya Ahmad Saidi, yang tewas adalah bapak saya.

Host: (terdiam sejenak, agak bingung). Oke baik, jadi bisa diceritakan bagaimana kejadiannya hingga ayahanda jadi korban bom gereja Arjuna?

Keluarga korban: Pagi itu seperti biasa, hari Minggu sesudah sarapan bapak saya pergi untuk bekerja jadi tukang parkir di gereja Arjuna. 

Sekitar jam 9, ibu saya lihat berita di TV kalau ada bom di tempat kerja bapak saya itu. Saya langsung nyusul kesana tapi sampai di luar halaman gereja saya tdk boleh mendekat krn masih ada bom yg ditemukan dan blm meledak.

Host: (Terlihat membenahi earphonenya) Emmm, sudah berapa lama ayah dari Ahmad Saidi melakukan kebiasaan itu?

Keluarga korban: Gimana, mas? Mbak?

Host: Apa yang dilakukan ayah saudara di gereja Arjuna?

Keluarga Korban: Jadi juru parkir, mbak..sudah beberapa tahun ini bapak kerja di gereja itu.

Host: Ooh, jadi ayahanda tukang parkir ya?, bukan jamaat gereja. Baik pak Ahmad, kami turut berduka atas meninggalnya ayahanda tercinta. Terimasih sudah berbagi dan selamat malam.

Tiba-tiba si bungsu yang sedang menonton dengan saya, langsung rebut remote dan pindah ke channel kartun. Demikian dilaporkan dari RT.18, Payo Lebar.

Hingga malam ini (13 Mei 2018 lalu), orang-orang masih berdatangan mendonorkan darahnya ke PMI Kota Surabaya dan sejumlah RS yang merawat para korban bom teror 3 gereja. Stok darah hingga Pukul 20.00 WIB dilaporkan telah berjumlah 600 kantong dan masih terus bertambah.

Mereka yang menyumbang cairan kehidupan itu datang dari berbagai wajah etnis dan agama. Yang muslim, nasrani, tionghoa, kulit pucat, sawo matang dan juga sejumlah remaja yang datang berbarengan.

Kemanusiaan itu melampaui segala beda... Persaudaraan itu menyatukan semua batas..#IndonesiaJanganLengah #IndonesiaJanganLelah. (JP-Ratna Dewi/FB)
Share this article :

Posting Komentar