Home » , , » “Mau Ganti Presiden, Ya…Ganti Saja”

“Mau Ganti Presiden, Ya…Ganti Saja”

Written By jambipos-online on Jumat, 13 April 2018 | 18:29

Oleh: Rakhmat Hidayat 
Oleh: Rakhmat Hidayat 

Jambipos Online-Mau ganti Presiden, ya... Ganti saja. Tapi, gantikan secara bermartabat, elegan dan sesuai aturan. "Itu saja koq repot", begitu kata yang sering dipakai oleh Gus Dur. Tapi tetap harus respek terhadap prestasi dan capaian. Kekurang sempurnaan itu tugas kita bersama untuk memperbaiki dan singsingkan lengan. Bukankah, kesempurnaan hanya milik Gusti Allah pemilik alam? Jangan sampai kebencian berlebihan menutup mata dan hati, membuta tulikan kejujuran.

Jangan sampai keberpihakan membolak-balik kebenaran dan keyakinan. Adakah Presiden, Raja atau pemimpin dimanapun dijagat raya hari ini yang mampu memuaskan seluruh warganya? Saya jadi ingat dengan bacaan masa lalu, "Kekuasaan adalah candu". Dimanapun, kekuasaan cenderung melenakan.

Saya terinspirasi oleh status Sedulurku yang sangat luar biasa tentang hal ini "setelah saya putar ulang video Rocky Gerung ternyata intinya adalah perebutan kursi presiden, Naudzubillah Mindzalik. Anda telah menukar keagungan Al-Quran dengan harga murah. Hanya karena membela seseorang yang belum tentu bernilai dimata Allah.

Saya tidak setuju kalaupun kemudian demi alasan bela Agama, dilakukan pengorganisasian masa untuk demo berjilid-jilid, mengadukan ke polisi dengan menggunakan pasal karet, melakukan persekusi dan berbagai hal lainnya terhadap Rocky Gerung atau siapapun. 

Biarkan Gusti Allah SWT Yang Maha Besar dan Maha Agung bekerja dengan cara dan ke Maha an-Nya. Jangan ragukan ke kuatan-Nya, Gusti Allah Maha Berkehendak. Apa yang akan terjadi.... Maka terjadilah, tanpa bersusah payah dengan intervensi tangan manusia yang penuh kepentingan, dosa dan salah.

Kalau ada "pelecehan Agama" dan terus berulang berarti ada yang sakit, apakah tokoh agamanya (apapun agamanya) yang lebih banyak muncul di layar kaca dan sosial media, dari pada datang ke seluruh pelosok kampung, sudut kota yang kumuh, tempat nongkrong anak-anak milenial untuk berbagi pengetahuan dan mendiskusikan hakikat hidup dan kehidupan. 

Membangun contoh dan tingkah laku sebagai mana ajaran mulia dari setiap agama mengajarkan. Membersihkan lisan dari ucapan menghinakan, penuh dendam serta kebencian, penuh keegoan, memonopoli kebenaran dan menularkan kekerasan. Generasi seperti apa yang ajan ditinggalkan kalau warisan tang diberikan adalah kebencian?

Haluan politik boleh berbeda, Agama dan kepercayaan boleh tidak sama, warna kulit dan asal-usul boleh tidak serupa. Namun kita lahir, tumbuh, besar dan hidup di pangkuan Ibu Pertiwi Indonesia yang sama. Ada yang kaya ada yang belum kaya, ada yang punya kuasa ada yang perlu dibela, ada yang pandai ada yang perlu dicerdaskan. Tugas kita adalah berbagi, seperti kita berkawan saat kecil dulu. 

Tanpa syak wasangka. Bagian kita adalah memperkuat tali tenun kebangsaan bukan penghancuran karena agenda lima tahunan. Lebih mulia bekerja dan berkontribusi untuk kebaikan sesama, dari pada nyinyir tidak berkesudahan. 

Lebih bermakna menjaga harmoni kehidupan dari keluarga kita, dari pada mencari salah dan kelemahan sesama. Ah..... Sudahlah, ini mungkin karena kuran karbo...... Manaaaaa dureeeeen, soalnya Gajah Bertalut sudah memanggil, "Kang...... Duren sudah mulai jatuh". Dan bluugh.... Seperti kejatuhan duren aku tersadar, mohon maaf kalau tulisan ini tidak pada tempatnya. 

Tapi saya selalu ingat pesan para tetua di Koto Malintang sebagai pegangan, "ko tibo dimato jaan dipiciangkan, tibo di paruik jaan di kampihkan". Kesejatian jangan sampai rusak hannya karena kepentingan. Terimakasih dulur Casjiwanto Pelukis atas inspirasi pagi yang penuh gizi. Salam hormat.(JP*-Penulis Adalah Aktivis Lingkungan)

Share this article :

Posting Komentar