Home » , , » 87 Juta Pengguna Facebook Terdampak Skandal Pelanggaran Privasi

87 Juta Pengguna Facebook Terdampak Skandal Pelanggaran Privasi

Written By jambipos-online on Jumat, 06 April 2018 | 22:50

Ilustrasi Facebook [Istimewa]
Jambipos Online, Washington-Layanan media sosial Facebook menyatakan data pribadi lebih dari 87 juta penggunanya telah dibagikan secara tidak semestinya oleh konsultan politik Inggris, Cambridge Analytica. Angka itu jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yaitu 50 juta pengguna yang terlibat skandal pelanggaran privasi ini.

Pendiri dan pemilik Facebook, Mark Zuckerberg, dalam konferensi pers pada Rabu (4/4/2018), mengatakan dirinya menerima tanggung jawab atas kegagalan untuk melindungi data pengguna, tapi dia bersikeras masih tetap sebagai orang terbaik untuk memimpin jaringan dengan dua miliar pengguna itu. Skandal ini telah mengguncang perusahaan Facebook dan memicu pertanyaan atas keseluruhan perlindungan data untuk sektor internet.

“Saya pikir hidup adalah tentang belajar dari kesalahan dan mencari tahu bagaimana bergerak maju,” kata Zuckerberg saat ditanyakan tentang kemampuannya memimpin perusahaan.

“Ketika Anda membangun sesuatu seperti Facebook yang belum pernah ada sebelumnya di dunia, ada hal-hal yang akan Anda kacaukan. Saya pikir apa yang seharusnya orang-orang pegang bahwa kami belajar dari kesalahan kami,” tambahnya.

Zuckerberg menyatakan 87 juta merupakan perkiraan tertinggi dari orang-orang yang terdampak skandal itu. Angka itu didasarkan jumlah maksimal hubungan pengguna yang mengunduh kuis penelitian akademik untuk melihat profil pribadi mereka. “Saya cukup yakin tidak akan lebih dari 87 juta, mungkin bisa kurang,” katanya.

Menurutnya, demi mengatasi masalah itu, Zuckerberg menyatakan Facebook harus memikirkan ulang hubungannya dengan orang-orang di setiap hal yang dilakukan dan memerlukan beberapa tahun untuk kembali meraih kepercayaan pengguna.

Dari 87 juta pengguna, sebagian besar data yang disalahgunakan berasal dari pengguna Amerika Serikat (AS) yaitu sebesar 81,6 persen, kemudian secara beturut-turut antara lain Filipina (1,4 persen), Indonesia (1,3 persen), Inggris (1,2 persen), Meksiko (0,9 persen), Kanada (0,7 persen), dan India (0,6 persen).

Skandal yang menjadi perbincangan hangat beberapa pekan terakhir ini dipicu oleh aksi “pencurian data” oleh Cambridge Analytica. Perusahaan itu memanfaatkan data pribadi pengguna Facebook untuk kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden tahun 2016.

Salah satunya lewat aplikasi kuis kepribadian yang diluncurkan sejak 2014 bernama “This is Your Digital Life”. Aplikasi itu dipakai untuk mengumpulkan data pengguna untuk memetakan profil psikologis orang-orang dan mengirimkan materi pro-Trump kepada mereka.[AFP/BBC/Al Jazeera/C-5-SP-JP]
Share this article :

Posting Komentar