Home » , , » Wagub: Syeikh Sulaiman Arrasuli Sosok Ulama dan Pejuang

Wagub: Syeikh Sulaiman Arrasuli Sosok Ulama dan Pejuang

Written By jambipos-online on Sabtu, 03 Maret 2018 | 19:39

Wagub: Syeikh Sulaiman Arrasuli Sosok Ulama dan Pejuang .Humas
Jambipos Online, Padang-Wakil Gubernur (Wagub) Jambi, Dr Drs H Fachrori Umar M Hum menjadi narasumber pada Seminar Nasional Pengusulan Syeikh Sulaiman Arrasuli Menjadi Pahlawan Nasional yang berlangsung di Kantor DPRD Provinsi Sumatera Barat, Sabtu (3/3/2018).

Selain menjadi narasumber pada seminar nasional tersebut, kehadiran Wagub dapat dimaknai sebagai saksi pelaku sejarah atas sosok Syeikh Sulaiman Arrasuli yang merupakan Ulama juga Pejuang di Ranah Minangkabau.

“Alumni termasuk saya meminta Almarhum Syeikh Sulaiman Arrasuli mendapat atau menjadi Pahlawan Nasional," ungkap Wagub. 

Wagub bercerita sosok Syeikh Sulaiman Arrasuli memiliki rekam jejak sejarah sebagai ulama yang fokus dengan pendidikan serta berperan besar dalam perjuangan, terbukti dengan organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah yang lahir dari gagasan Syekh Sulaiman Arrasuli. 

“Tentunya tahapan proses mendapatkan gelar pahlawan sudah bisa terpenuhi dan harapan segera terwujud," kata Wagub. 

Gubernur Sumatera Barat, Prof.Dr.H.Irwan Prayitno,S.Psi,MSc, menyampaikan dukungan pemberian gelar pahlawan untuk Almarhum Syeikh Sulaiman Arrasuli atas jasa perjuangan serta pendidikan yang telah dilakukan semasa hidup di Ranah Minangkabau.  "Saya mendukung untuk mendapat gelar pahlawan nasional, bahkan seharusnya sudah dari dulu diusulkan," kata Gubernur Sumbar. 

Gubernur Sumatera Barat menjelaskan beberapa tahapan proses mendapatkan gelar pahlawan nasional dapat dipenuhi dan dilengkapi agar pemberian gelar dapat segera terwujud. "Tahapan dilalui, proses dijalani guna mendapatkan goresan tinta Kepres untuk pahlawan nasional dari Sumatera Barat dan yakinlah ini bisa terwujud," ungkap Gubernur Sumatera Barat.

Kehadiran sejarawan, Prof.Taufik Abdullah mengungkapkan sisi perjuangan Syeikh Sulaiman Arrasuli sebagai tokoh kemerdekaan yang berjuang dalam memberikan pendidikan serta terlibat aktif dalam politik dan kemasyarakatan. 

Berdasarkan data dari Prof.Dr.Makmur Syarif,SH,M.Ag, Syeikh Sulaiman Arrasuli bernama lengkap Muhammad Sulaiman bin Muhammad Rasul lahir pada petang Ahad malam Senin tanggal 10 Desember 1871 M, bertepatan bulan Muharram 1297 H di Surau Pakan Kamis Nagari Canduang Koto Laweh Kabupaten Agam Sumatera Barat. Ayahnya bernama Angku Mudo Muhammad Rasul, seorang ulama yang disegani dan mengajar di Surau Tangah Canduang sedangkan ibunya Siti Buliah bersuku Caniago. 

Tahun 1322 H, Syeikh Sulaiman Arrasuli naik haji dan belajar selama 3,5 tahun (1903-1907 M)  diantara gurunya Syeikh Ahmad Khatib al Minangkabawy, Syeikh Mukhtar 'Atharad as Shufy, Syeikh Usman al Sirqawy, Syeikh Muhammad Sa'id Mufty al Syafe'i, Syeikh Nawawi Banten, Syeikh Ali Kutan al Kelantani, Syeikh Ahmad Muhammad Zain al Fathani, Said Ahmad Syatha al Maky, Said Umar Bajaned, Said Babasil Yaman. 

Sejak remaja, Syeikh Sulaiman Arrasuli telah dipercaya oleh gurunya Syeikh Abdullah sebagai Guru Tuo di Surau Halaban sekitar tahun 1890 Masehi. Setelah pulang dari Mekah tahun 1907 Masehi menjadi pendidik di surau yang dibangun masyarakat Canduang yang dikenal dengan nama "Surau Baru" pada tahun 1928 Masehi Suara Baru dikembangkan menjadi MTI Canduang, ia memimpin madrasah serta aktif mendidik santri.

Kyai Haji Hasyim Asy'ari Jawa Timur (1287 H/1871 M-1366 H/1947 M,) Syeikh Hasan Maksum Medan (wafat 1355 H/ 1936 M), Syeikh Khatib Ali, Syeikh Muhammad Zain Simabur al Minangkabawi (pernah menjadi Mufti Kerajaan Perak tahun 1955 dan wafat di Pariaman pada 1997), Syeikh Muhammad Jamil Jaho, Syeikh Abbas Ladang Lawas dari Minangkabau, sedangkan ulama Melayu seangkatan belajar di Mekah diantaranya Syeikh Utsman Sarawak (1281H/1864M-1339H/ 1921 M) Datuk Kenali 1287H/ 1871M- 1352H/1933M).

Berdasarkan data dari narasumber Buya H. Mas'oed Abidin menyampaikan, Syeikh Sulaiman Arrasuli (Inyiek Canduang) bersama Syeikh Ladang Lawas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) tahun 1928 yang merupakan organisasi massa Islam bermazhab Syafi'i berbasis di Sumbar, dan pada tahun 1942 semasa Jepang menguasai Indonesia, Syeikh Sulaiman Arrasuli ditetapkan sebagai ketua pertama untuk memimpin Majelis Islam Tinggi (MIT), satu badan koordinasi alim ulama Minangkabau.

MIT sangat berpengaruh dan disegani oleh penguasa Dai Nippon (Jepang) di Minangkabau senyatanya MIT adalah penggalang kekuatan untuk merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Dari MIT ini lahir Laskar Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia seperti Lasymi, Hizbullah (Masyumi), Laskar Muslimat menjadi barisan belakang penyedia logistik bagi pejuang bertempur di front terdepan melawan tentara KNIL di Sumbar.

Sebagai politikus nasional melalui partai-partai PERTI, Inyiek Canduang diutus dan dilantik mengetuai sidang pertama Konstituante (1950-an) guna menyusun Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, namun melalui Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959 Konstituante dibubarkan.(JP-Hms)








Share this article :

Posting Komentar