Home » , » Konotasi Politik Negatif

Konotasi Politik Negatif

Written By jambipos-online on Kamis, 11 Januari 2018 | 22:07

Tonny Saritua Purba.FB 
Oleh: Tonny Saritua Purba 

Jambipos Online-Kata "Politik" berasal dari Bahasa Yunani "Polis" berarti kota. Dalam konteks Yunani Kuno saat itu, kota adalah negara. Politik pada awal kelahirannya dipahami sebagai segala daya upaya untuk menciptakan kebaikan bagi Rakyat, Bangsa dan Negara. 

Pada awalnya bahwa politik berkonotasi positif untuk menciptakan kebaikan bersama. Negara menjadi sarana untuk menciptakan kebijakan-kebijakan politik untuk mengatur atau mengelola negara, sehingga kebaikan bersama bisa terwujud.


Makna kata "Politik" kemudian mengalami pergeseran sehingga menjadi berkonotasi negatif. Pergeseran terjadi karena politik yang seharusnya diselenggarakn oleh para negarawa, karena merekalah yang memiliki perspektif komprehensif untuk membangun negara.

Politik itu luhur dan mulia tetapi realita kenyataannya politik seringkali justru dikuasai oleh orang-orang  dengan kualitas medioker, bahkan bisa lebih rendah lagi hanya karena mereka nemiliki popularitas dan elektabilitas tinggi serta isi tas yang tebal, diantara mereka adalah para "aktor" yang relatif tidak memiliki rekam jejak dalam politik, tetapi menjadi sangat populer karena sering melakukan pertunjukan politik atau media elektronik atau gencar diliput berbagai media. 

Saat ini popularitas itu juga dimiliki para "aktor" dalam arti sesungguhnya melalui media infotainment dan elektronik. Politisi medioker dengan kualifikasi tanpa rekam jejak dalam dunia politik melalui iklan politik yg masif dan gencar di berbagai  media. 

Merekapun menjadi iklan politik yang menampilkan diri sebagai yang bukan karakternya sendiri.  Dari sini kekuasaan politik kemudian mengalami degradasi fungsi karena berada di tangan orang-orang yang tidak memiliki kualifikasi untuk mengelola dan menata sebuah negara. 

Selain itu kata politik oleh sebagian besar orang kemudian dipahami scara salah karena dianggap gabungan dua kata "poli" yang berarti banyak dan "tik" yang diartikan sebagai taktik inilah  yg menjadi awal mula pandangan keliru bahwa politik adalah "banyak taktik". 

Pemahaman ini semakin nemperkuat definisi politik adalah banyak takti.  Definisi dari pemikir politik barat diantaranya Laswell  yang megatakan bahwa "Politik sekadar sebagai Siapa mendapatkan Apa, Kapan dan Bagaimana (Who gets What, When and How)". 

Tidak pernah  terpikir pertanyaan "mengapa" berpolitik  Tidak adanya pertanyaan "Mengapa" itulah yg menyebabkan kekuasaan politik menjadi sebuah cita-cita. Jabatan menjadi tujuan akhir dalam aktivitas politik. 

Padahal kekuasaan yang merupakan implikasi dari jabatan sesungguhnya sebagai sarana untuk menjawab mengapa kekuasaan mesti  diperebutkan dalam mekanisme politik yang kompetitif ? Atau  kalaupun ada  muncul pertanyaan  mengapa mesti  berpolitik ? 

Jawabannya adalah orientasi material yang disebabkan kedangkalan cara berfikir,  telah terjadi karena politik telah dikuasai  oleh  kalangan medioker yang tidak terbiasa berfikir mendalam, hanya ingin mengubah kehidupan sendiri menjadi lebih baik dengan kekayaan materi yang bisa didapatkn lebih mudah dengan menggunakan kekuasaan politik. Inilah yang menyebabkan politik yang seharusnya baik menjadi bercitra buruk jadi penyebab kerusakan.

Pertanyaa saat ini adalah siapa yg bertanggung jawab dengan kondisi politik di NKRI ? Tentunya para pemilih yang memilih mereka yang terpesona dan yang terbuai dengan ucapan manis para "aktor" dan sacara tidak sadar turut serta mengorbitkan para "aktor" politik tersebut ke panggung politik. Selamat dan sukses kepada daftar pemilih tetap (DPT) untuk memilih calon pemimpin Pilkada 2018.(Penulis Adalag Fungsionaris Partai Golkar Kota Bogor,  Aktifis Praja Muda Beringin)

Share this article :

Posting Komentar