Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Widget HTML

 


“Ayah……Pasanglah Bendera Merah Putih Kita”

Ezer Twopama Manihuruk dan adiknya Trionel Aguero Manihuruk saat hormat Bendera Merah Putih di depan rumah, Rabu (16/8/2017) pagi. Photo: Asenk Lee Saragih.

Ezer Twopama Manihuruk dan adiknya Trionel Aguero Manihuruk saat hormat Bendera Merah Putih di depan rumah, Rabu (16/8/2017) pagi. Photo: Asenk Lee Saragih.
Jambipos Online, Jambi-“Ayah……kok Bendera Merah Putih kita belum dipasang! Pasanglah Yah…kan Indonesia Merdeka!”. Ungkapan anak saya Ezer Twopama Manihuruk (7 tahun) dan Trionel Aguero Manihuruk (3 tahun) mengetuk hati saya saat mereka bertanya tak ada Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah kontrakan kami dan tetangga sekitarnya. 

Sontak saja, hati saya terenyuh dan bergegas mencari sehelai Bendera Merah Putih yang masih tersimpan rapih disebuah lemara kayu yang pintunya sudah lapuk. Kemudian anak saya Ezer Twopama bergegas mengambil sebuah kayu tongkat Pramuka yang ada di dapur rumah. 

“Ini Ayah kayunya…pakai ini aja, ini juga bagus. Biar kita pasang sama-sama. Tapi sebelum dipasang kita hormat dulu ya Yah!!!Adek Onel juga ikut hormat bendera,” ucap Ezer dengan bergegas memanggil adiknya Onel yang baru saja usai dimandikan ibunya. “Saya pegang kayunya, Ayah ikat benderanya,” kata Ezer singkat. 
Ezer dan Onel Hormat Bendera.

Kami-pun mengikatkan Bendera Merah Putih disebuah kayu Tongkat Pramuka. Usai benderanya diikat, Ezer bergegas mencari sal Pramuka (Merah Putih) milik abanya Moses Juneri dan miliknya. 

Ezer kemudian meminta saya untuk memakaikan Sal Pramuka Merah Putih di kepalanya. Adiknya Onel juga dengan semangat mengambil Sal Pramuka milik abangnya dan meminta untuk diikatkan di kepala. “Ayah ikat kepala pakai Merah Putih. Biar seperti yang ada ditivi-tivi itu,” kata Ezer. 

Saat lagu-lagu Kemerdekaan Mengumandang di Televisi, Onel-pun kerap mengikuti lagunya dengan lirik-lirik seadanya. Saat kedua anak saya sudah diikatkan Sal Merah Putih di kepala mereka, mereka berdua (Ezer dan Onel) mengambil sikap berdiri di depan rumah. 

Ezer memegang Bendera Merah Putih dan adiknya Trionel bersikap hormat kepada Bendera Merah Putih. “Kepada Bendera Merah Putih…….Hormat Grak……..”ujar Ezer sembari memegang bendera dan adiknya Onel ikut menghormat dengan sepolosnya. 

Semangat Kemerdekaan yang ditunjukkan Ezer dan Trionel adiknya membuat saya sadar, begitu melekatnya Bendera Merah Putih yang diperjuangkan Pejuang Tanah Air Kita Indonesia 72 Tahun silam. 

Semangat Nasionalisme dan Cinta Tanah Air yang mereka tunjukkan, menyadarkan saya untuk tetap menuntun mereka arti “Kemerdekaan Sesungguhnya”. 

Kedua anak saya ini tak kenal “Belenggu Kemerdekaan”. Mereka hanya tahu kata “Merdeka” yang kerap ditayangkan di televisi disaat jelang Perayaan Kemerdekaan RI. 

Namun belenggu kemerdekaan sesungguhnya adalah, ketika anak saya ini tertunda minum susu, tertunggaknya uang sekolah serta tidak berbaju baru saat hari raya tiba serta tak memakai sepatu baru dan tas baru saat tahun ajaran baru tiba. Belenggu Kemerdekaan itu bermuara pada masih sulitnya perekonomian kita. 

Memasuki Usia 72 Tahun Indonesia Merdeka, ternyata masih sebatas seremoni belaka. Karena hingga kini masih Jutaan Orang Rakyat Indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan. 

Namun apa daya, praktik korupsi yang dilakukan oknum-oknum penguasa dan pejabat publik memperparah terpuruknya perekonomian rakyat jelata. 

Semangat “Indonesia Merdeka” yang ditunjukkan Ezer dan Onel begitu bermakna, kalau mengisi kemerdekaan itu tak sebatas opini belaka, namun butuh realita. “Selamat Ulang Tahun Ke-72 Kemerdekaan Indonesia…………….Bendera Merah Putih Kini Berkibar di Depan Rumah”. (JP-Asenk Lee)

Berita Lainnya

Posting Komentar

0 Komentar