Home » , , , » Pencari Kroto Mengadu ke DPRD Batanghari, Ada Apa?

Pencari Kroto Mengadu ke DPRD Batanghari, Ada Apa?

Written By jambipos-online on Monday, June 12, 2017 | 13:21

Sulaiman saat mengadukan nasibnya ke dewan.IST
Jambipos Online, Jambi-Sulaiman (50) seorang warga Muaratembesi, Kabupaten Batanghari mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Batanghari atas perlakuan kepala desa kepada dirinya. Pasalnya sejak kades baru, Sulaiman mengaku tak lagi mendapatkan bantuan beras Rastra.

Sulaiman mengatakan, dirinya hanya seorang pencari “Kroto” telur serangga untuk dijual ke Kota Jambi. “Sayo kerjo sehari hari nyari “Kroto”telur serangga,” ujar Sulaiman saat menceritakan keluhannya kepada anggota dewan.

Menurut Sulaiman, dia tidak mendapatkan beras Rastra semenjak kepala desa yang baru ini. Padahal sebelumnya ia terus mendapatkan beras rastra. Namun Sulaiman tidak berdiam diri. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan yang seharusnya diterimanya. 

Dia juga sudah mengadu ke Camat Muaratembesi. Namun jawaban Camat hanya bilang tidak tahu. “Kato camat diok dak tahu jugo," ucap Sulaiman.

Sementara itu, Kepala Desa Pematang Lima Suku, Rizal saat dikonfirmasi via ponselnya mengatakan bahwa dirinya tidak berani mengubah data yang ada, demikian dilansir Jambiabdate.co. 

Budidaya Semut Kroto


Wahyu Efendi asal Simpang Pulai, Kota Jambi.IST

Wahyu Efendi asal Simpang Pulai, Kota Jambi.IST
Cara budidaya semut dimulai dengan memelihara di rak dengan media toples, kemudian rak diberi ember berisi air agar semut tidak kabur kemudian diberi diberi makan ulat hongkong, cacing tanah, ulat pisang, belalang, jangkrik dan air gula kurang dari 25 persen volume air.

Bagi pemula disarankan 100 toples, kemudian dibiarkan 2 bulan untuk mencapai hingga 500 toples dengan teknik pecampuran alam kemudian diproduksi. 

Wahyu Efendi asal Simpang Pulai, Kota Jambi yang mencoba dengan seratusan toples mengaku peluang bisnis ini menjanjikan dan prospek ke depan cukup cerah. “Bisnis ini sangat cerah dan kita bisa masuk," kata dia, seperti dikutip dari Tribunjambi.com.

Efendi yang menekuni bisnis ini sejak maret saat ini sudah menghasilkan hingga empat ribu toples. Ia pun mendapatkan penghasilan hingga Rp 10 juta per bulan. 

“Rahasianya, prospek bisnis ini dengan peminat yang cukup banyak. Selanjutnya yang mendongkrak kami tetap semangat karena pangsa pasar bagus, enggak sulit dan hanya butuh 10 hingga 15 menit per harinya untuk ngurus bisnis ini," kata Efendi.

Modal menekuni bisnis ini hanya Rp 5 jutaan, untuk pembuatan kandang minimal 100 toples ukuran 4x4 dengan biaya hingga 1 jutaan. Sedangkan biaya lain seperti pakan ternak per bulan hanya Rp 80 ribu ditambah untuk air gula Rp 15 ribu.

Bisnis Kroto

Bisnis Kroto memang menjanjikan dengan proses yang tak terlalu rumit. Hal ini dialami Pimpinan Crotoborn Central  Sumatera,  Riqo Yudawirja  yang sudah menjalani bisnis ini selama empat tahun, baik dengan riset hingga pelatihan gratis. 

Bisnis kroto ini dibagi dua, yakni trading kroto dan bibit dengan cabang Medan, Batam, Pekanbaru dan palembang.

“Di trading bibit perputaran uang selama 2,5 tahun hampir 5 milyar. Sedangkan trading kroto perputaran masih separonya, karena target 500 kilo per bulan hanya bisa penuhi setengahnya," katanya.

Pada Mei lalu target produksi kroto akan dinaikan menjadi 1 ton, sebab 500 kilo akan diekspor ke Kanada. Hal ini sedang dikejar dan diharapkan dapat tercapai dengan cabang yang dibuka masih baru.

Diakuinya pemain bisnis kroto masih kurang sehingga peluang bagi yang berminat menekuninya cukup besar.  “Peluang masih banyak, kenapa empat provinsi mau menjadi cabang karena mereka melihat peluang cukup besar," katanya.

Ilustrasinya, di  Bogor kebutuhan kroto per harinya mencapai 1 ton, Jakarta 3 ton/hari dan seluruh peternak semut rangrang di pulau Jawa hanya mampu memenuhi setengahnya. “Karena keberadaan semut rangrang di pulau Jawa hampir habis sehingga mereka kesulitan memenuhinya," jelasnya.

Trading bibit per toples dijual 50 ribu/toples dan untuk kroto Rp 200-250 ribu per kilonya. Dalam penujualannya, keuntungan dapat mencapai angka 40 persen. Panen setiap 21 hari dengan protensi produksi 20-40 toples dapat sekilo kroto. 

Namun hasil dipengaruhi lingkungan yang diharuskan 70 persen gelap dan sirkulasi udara baik.
Namun karena predator alam, jarang ditemukan penyakit akan tetapi rawan dengan bahan kimia yang digunakan manusia. 

Pengguna kroto, antara lain mancing mania, kicau mania, dan makanan manusia di Thailand.  Namun Thailand sudah menjadi pangsa pasar Lamongan, sehingga kroto di Sumatera ini membidik Kanada.

Di kawasan Kebun Kopi ini peserta diajarkan bagaimana budidaya semut rangrang sehingga tidak menggantungkan keberadaan semut pada alam. (JP-Lee)
 
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Redaksi Jambipos Online | KONTAK KAMI | Pedoman Media
Copyright © 1998. Jambipos Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Publiser/Admin Jambipos Online
Proudly powered by Jambipos