Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Widget HTML

 


Makna Kemenangan Idul Fitri

Oleh: Aan Rukmana MA

Setelah satu bulan penuh berpuasa, umat Islam tidak lama lagi akan memasuki Hari Raya Idul Fitri, hari raya kemenangan umat Islam. Pada hari itu, semua umat Islam bersukacita. Anak-anak kecil sangat senang mendapatkan baju baru. Mereka juga menerima uang dari saudara-saudara. 

Pada hari itu seluruh keluarga berkumpul, sehingga makanan pun tersedia sangat melimpah. Sampai-sampai saking banyaknya makanan, cenderung mubazir dan tidak termakan semua. Itu bukanlah masalah, karena yang terpenting semua orang Islam merasakan aroma kemenangan di Idul Fitri setelah satu bulan penuh melaksanakan ibadah puasa yang tidak mudah menjalankannya.

Satu hari sebelum Idul Fitri, pekik takbir terdengar di mana-mana. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Suara itu begitu menggema sambung menyambung dari satu musala ke musala lainnya. Gema takbir semakin ramai dikumandangkan anak-anak kecil yang ikut rombongan takbir keliling. 

Sambil membawa obor di tangan, mereka pun sesekali tertawa lepas sambil menyapa siapa pun yang dijumpai. “Kemenangan telah tiba, mari kita rayakan bersama!” Kira-kira demikianlah pesan implisit dari pawai tersebut.

Sebagai orangtua tentu juga merasa bahagia. Banyak dari kita yang berbelanja ke pasar dengan belanjaan yang berlebih seakan kita ingin mengatakan bahwa hari kemenangan itu telah tiba.

Di mana-mana kita mendengar ucapan "Minal Aidin wal-Faizin" yang artinya “Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dan menjadi orang-orang menang." Kita pun saling berucap hal yang sama untuk menyapa sesama kita. Barangkali dapat dikatakan bahwa ucapan tersebut adalah ucapan paling populer setiap Idul Fitri tiba. Lafaz kemenangan itu pun menjadi ciri khas dari kedatangan hari kemenangan. Jika ditelisik lebih jauh, apa sebetulnya arti kemenangan tersebut? Dan siapakah orang-orang yang menang sebetulnya?

Menjadi orang menang atau al-faizin itu memiliki beberapa arti. Pertama, orang-orang menang adalah mereka yang memang sudah satu bulan penuh mengikuti training rohani dengan maksimal. 

Mereka memaksimalkan setiap harinya dengan memperbanyak melakukan hal-hal baik. Dimulai sejak sahur di pagi hari, pergi ke masjid untuk melaksanakan salat subuh berjemaah, melakukan puasa dengan sungguh-sungguh, memperbanyak iktikaf di masjid, serta kesediaan untuk memperbanyak membantu orang lain yang membutuhkan.

Jadi kemenangan itu karena mereka sudah berhasil menjaga dan melakukan kebaikan selama satu bulan penuh sehingga diharapkan setelah puasa selesai, kebaikan tersebut dapat terus dipelihara.

Kedua, orang-orang menang adalah mereka yang sudah berhasil menggeser orientasi hidupnya yang sebelumnya berpusat kepada individu (egosentris) menjadi pribadi yang sangat peka dengan orang lain. Puasa yang dilewatinya melatih pribadi yang peka dengan orang lain. Jika selama ini kita tak acuh dengan orang lain, selepas puasa kita menjadi sosok yang peduli dengan orang lain. Mereka yang terlemahkan (mustadha’fîn) dalam kehidupan sehari-hari menjadi fokus kita.

Pribadi-pribadi seperti inilah yang paling berhak menyandang makna kemenangan pada hari raya Idul Fitri. Itu juga alasan mengapa umat Islam di Idul Fitri diwajibkan untuk membayar zakat fitrah. Itu cerminan bahwa orang lain adalah ujung dari pelaksanaan ibadah puasa. Puasa yang mulanya bersifat individu berorientasi kepada pengembangan jiwa sosial kepada orang lain.

Ketiga, kemenangan orang-orang Islam adalah kemenangan manusia sejagat. Itu artinya, hasil akhir dari pelaksanaan ibadah puasa adalah mendidik manusia-manusia baik yang kelak berguna bagi seluruh umat manusia. 

Yang merasakan kemenangan Idul Fitri bukan saja umat Islam, melainkan seluruh umat manusia di mana pun berada. Maka dari itu, mari kita jadikan hari raya Idul Fitri sebagai momentum bersama untuk mendeklarasikan kebaikan manusia sejagat. Id Mubarak! (Penulis adalah dosen falsafah dan agama Universitas Paramadina, Jakarta).


Sumber: BeritaSatu.com

Berita Lainnya

Posting Komentar

0 Komentar