Home » , , » Ketika Lahan Gambut Kini Jadi Pelestarian Tanaman Jelutung

Ketika Lahan Gambut Kini Jadi Pelestarian Tanaman Jelutung

Written By jambipos-online on Tuesday, June 13, 2017 | 16:26

Petani  saat menanam Pohon Jelutung di area Hutan Lindung Gambut Londerang Kabupaten Tanjungjabung Timur, Provinsi Jambi.
Jambipos Online, Jambi-Siang hari yang terik, beberapa pewarta di Jambi melihat langsung restorasi lahan gambut dengan konsep pembangungan sekat kanal di sekitar area Hutan Lindung Gambut Londerang Kabupaten Tanjungjabung Timur, Provinsi Jambi.

Dalam kunjungan lapangan pada Sabtu (10/6/2017) siang itu, Antara juga berkesempatan melihat pembangunan sekat kanal dan kondisi masyarakat Desa Rawasari di sekitar "bufferzone" HLG Londerang.

Kholil, salah satu masyarakat Desa Rawasari bercerita tentang kebakaran hutan dan lahan pada 2015 yang masih terngiang di benaknya.

Peristiwa itu, selain mengakibatkan kabut asap pekat, juga membuat putus asa masyarakat desa tersebut yang membudidayakan tanaman jelutung.

Hasil uji coba budi daya tanaman jelutung (Dyera lowii) di lahan gambut seluas 14 hektare dengan usia enam tahun dan akan panen itu, hangus terbakar.

Selain habis terbakar, lahan yang ditanamai pohon jelutung juga diklaim oleh salah satu perusahaan kelapa sawit yang beroperasi di kawasan itu.

“Kami putus asa dan tidak semangat lagi setelah tanaman kami habis terbakar, kami sempat menyesal juga karena selain terbakar tidak ada solusi dari pemerintah," katanya di Kantor Kepala Desa Rawasari, Kecamatan Berbak, Tanjungjabung Timur, Jambi.

Pada 2016, Kholil dan beberapa rekannya kembali bersemangat mengembangkan bibit jelutung melalui pemberdayaan yang dilakukan lembaga konservasi, WWF Indonesia. 

Saat ini, 75 dari 240 kepala keluarga (KK) di desa tersebut, mengembangkan pembibitan jelutung. Sekitar 800 ribu bibit dibudidayakan oleh warga setempat.

Hasil pembibitan jelutung akan ditanam di lahan gambut. Tanaman tersebut cocok dibudidayakan di lahan gambut. Hasil getah dari jelutung bisa untuk bahan baku permen karet.

Mereka bersemangat lagi mengembangkan jelutung dengan memperoleh hak menanamnya di area penggunaan lain (APL) di kawasan HLG Londerang. Sebanyak 75 KK itu mengembangkan tanaman tersebut di lahan seluas 114 hektare.

Masyarakat desa itu diberi hak untuk mengelola dan memanfaatkan hasil penanaman jelutung tanpa harus menebang pohon nantinya. Hasil tanaman jelutung diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

“Kami berharap dengan adanya pemberdayaan yang diberikan kepada kami ini bisa meningkatkan ekonomi masyarakat di sini," kata Kholil.

Restorasi Gambut

Gambut merupakan sebutan untuk jenis tanah yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang membusuk melalui proses ratusan tahun yang biasanya terletak di antara dua sungai.

Semakin rendah resapan air di beberapa lahan gambut dituding sebagai penyebab kebakaran parah yang terjadi pada 2015. Kebakaran hutan tersebut menjadi bencana nasional yang sangat buruk.

Berdasarkan catatan WWF Indonesia bahwa HLG Londerang seluas 12.600 haktare itu, kondisi kerusakan gambutnya cukup parah atau tingkat kerusakannya mencapai 90 persen akibat kebakaran hutan dan lahan.

Untuk upaya pemulihan (restorasi) kawasan itu, WWF melalui Program Millennium Challenge Account-Indonesia (MCA-I) Koridor menyiapkan 70 sekat kanal di HLG Londerang yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Muarojambi dan Tanjungjabung Timur.

Pembangunan sekat kanal 70 unit itu, terdiri atas 10 unit berukuran besar (di atas 6 meter) dan 60 unit sekat kanal yang berukuran kecil (di bawah 6 meter).

Team Leader Program Rimba WWF-Indonesia Tri Agung Rooswidaji mengatakan restorasi gambut di kawasan HLG Londerang itu salah satu program Rimba di kluster II yang mendapat dukungan dari lembaga donor MCA-Indonesia senilai Rp12 miliar.

“Kita kebut pengerjaannya untuk diselesaikan karena Program MCA-I ini akan berakhir pada Maret 2018," katanya.

Program restorasi gambut dengan konsep sekat kanal (re-wetting) tersebut, juga bekerja sama dengan masyarakat Desa Rawasari, Kecamatan Berbak, Tanjungjabung Timur, yang sebelumnya diberikan pelatihan sekat kanal.

Pembuatan sekat kanal juga diintegrasikan dengan aktivitas lain, seperti penanaman kembali (re-vegetasi) dengan sejumlah jenis tanaman yang memberi keuntungan ekonomi masyarakat setempat, khususnya Desa Rawasari.

Langkah integrasi tersebut diharapkan melindungi lahan gambut yang sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, melalui penanaman jelutung.

Restorasi dengan konsep re-vegetasi itu melalui pemberdayaan masyarakat dengan mengembangkan pohon jelutung rawa dan tanaman buah-buahan di areal seluas 200 hektare, yang merupakan bekas area terbakar.

“Jadi untuk restorasi vegetasi itu kita juga bekerja sama dengan masyarakat, ada 150 ribu batang jelutung yang akan ditanam dan dikembangkan masyarakat Desa Rawasari, di samping itu ada juga tanaman buah-buahan" kata Tri.

Sementara itu, akademisi Universitas Jambi Yudhi Achnopha mengatakan pembangunan sekat kanal di area HLG Londerang berfungsi menjaga kondisi kubahan gambut agar tetap basah sehingga bisa memitigasi kebakaran hutan dan lahan.

“Fungsinya itu air di gambut tetap ada dan gambut tidak kering sehingga masih bisa ditanami dan tidak mudah terbakar saat musim kemarau," kata Yudhi yang juga Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Unja itu.

Biaya untuk pembangunan sekat kanal di area HLG Londerang, di antaranya untuk kategori pembangunan satu sekat kenal besar (di atas enam meter) dibutuhkan Rp100 juta dan untuk kategori sedang atau empat hingga enam meter dibutuhkan Rp51 juta.

Yang paling kecil atau di bawah empat meter biayanya Rp21 juta untuk satu pembangunan. Biaya paling mahal itu kayunya karena didatangkan dari Sumsel dan sudah bersertifikat.

Pembangunan sekat kanal di areal hutan gambut merupakan restorasi dengan konsep re-wetting (pembahasan ulang) itu dinilai mampu menahan air sehingga gambut tetap basah dan untuk menekan agar gambut tidak mudah terbakar saat musim kemarau.

Menurut Yudhi yang juga Ekspert Sekat Kanal Hidrologi dan Rewetting itu, dengan menyekat seluruh salurah air di areal hutan lindung gambut masih berfungsi menyimpan air pada kubahan gambut.

“Dengan sekat kanal ini kabar baiknya adalah walaupun terbakar, HLG Londerang masih berfungsi karena dom gambutnya masih berfungsi, pada saat tidak ada hujan masih bisa mengalirkan air di saluran sekat kanal itu," katanya menjelaskan.

Sebelumnya, Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead mengatakan pada tahun ini akan dibangun sekitar 5.600 sekat kanal dengan target pembahasan mencapai luas 400 ribu hektare.

Pembangunan sekat kanal telah dilakukan lebih dahulu di Pulau Meranti, Riau, di Jambi dan Pulau Pisang, Kalimantan Tengah.

Pembangunan sekat kanal dilakukan bersama warga dan lembaga swadaya masyarakat dengan melibatkan pendanaan donor.

Tentu saja, dari program restorasi lahan gambut yang sedang dilakukan saat ini, masyarakat menaruh harapan agar kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada 2015, tidak terulang pada tahun berikutnya, terutama saat musim kemarau.(JP-Dodi Saputra).


(Sumber: antaranews.com)

 
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Redaksi Jambipos Online | KONTAK KAMI | Pedoman Media
Copyright © 1998. Jambipos Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Publiser/Admin Jambipos Online
Proudly powered by Jambipos