Home » , » PERANG CANDU ALA DUNIA

PERANG CANDU ALA DUNIA

Written By jambipos-online on Tuesday, March 7, 2017 | 13:33


Musri Nauli

Oleh: Musri Nauli

Jambipos Online-Akhir-akhir berita penangkapan sabu-sabu yang hendak masuk ke Jambi menarik perhatian saya. Jumlah yang masuk dan beredarnya sabu-sabu sudah sangat memprihatinkan. 

Cerita tentang sabu-sabu mengingatkan beberapa peristiwa didalam persidangan. Baik keterangan yang didapatkan dari saksi maupun dari tersangka sendiri, maka saya kemudian menyadari kebutuhan sabu-sabu di Jambi sendiri cukup tinggi. 

Dengan penghitungan 1 kg, maka dari 1 kg kemudian dapat menghasilkan 10 kantong. Istilah kantong adalah sabu-sabu yang sudah dibagi. Dengan demikian maka 1 kantong seberat 100 gram. 

Bandar besar sebagai pemasok kemudian membagikan masing-masing setiap Bandar kecil 1 kantong. Dari Bandar besar yang didapatkan 1 kantong kemudian di tangan Bandar kecil dapat menghasilkan 100 paket sabu-sabu. 100 paket yang telah berupa paket kecil kemudian dikenal satu gram. 

Dalam istilahnya, 1 gram adalah satu je (je adalah istilah 1 g. G dibaca je. Sebagai bacaan dalam dialek Inggeris). Harganya cukup mahal. Paling murah Rp 1,2 juta. Ini paket yang baik. Biasanya digunakan didalam pesta-pesta yang sering diberitakan berbagai media ketika artis-artis ditangkap di televisi. 

Atau Bandar apabila mau untung besar dapat membagi lagi dari 1 gram (satu je) menjadi beberapa paket hemat. Biasanya dapat menjadi 4 paket. 

Istilah paket hemat biasa digunakan untuk digunakan masyarakat kecil. Satu paket hemat seharga Rp 200 ribu – Rp 300 ribu. Sehingga dalam putaran 3-4 hari Bandar kecil mampu menghabiskan 100 kantong. 

Perputaran paket hemat lebih menggiurkan, lebih cepat habis dibandingkan dengan paket 1 je. Selain mampu didistribusikan ke berbagai lapisan masyarakat, paket 1 je sudah menjangkau ibu-ibu rumah tangga, lapisan bawah hingga pesta kecil-kecilan di kampong.

Ditangkapnya beberapa ibu rumah tangga yang sering diberitakan media massa merupakan konfirmasi dari beredarnya paket hemat. Begitu juga terbongkarnya tempat-tempat yang dicurigai di Jambi mengindikasikan paket hemat lebih mudah didapatkan daripada paket 1 je. 

Mengikuti cerita Fredy Budiman yang menghadapi hukuman mati, maka harga sabu-sabu ketika masuk ke Indonesia cukup murah. Paling banter Rp 10 ribu – Rp 15 ribu. 

Namun harganya kemudian menjulang naik ketika didalam pemasaran, setiap rupiah digunakan untuk berbagai biaya. Saya menggunakan istilah biaya resiko bagi pengedar maupun untuk sang Bandar sendiri. 

Namun setiap kg yang sudah sudah beredar mampu menghasilkan Rp 1 milyar – Rp 1,2 milyar. Dengan meraih Rp 500 juga saja, Bandar besar cukup untung. Sedangkan sisanya Rp Rp 500 juta – Rp 700 juta biasanya menjadi keuntungan Bandar ataupun jaringannya. 

Nah. Tinggal dikalikan saja terhadap penangkapan 4 kg sabu-sabu akhir-akhir ini. Namun yang mengkhawatirkan saya adalah “upaya” memasukkan dan serbuan sabu-sabu ke Indonesia. 

Dengan terbukanya dunia dan banyaknya pelabuhan-pelabuhan kecil dan illegal di Indonesia, maka dipastikan “upaya” Negara lain memasukkan ke Indonesia tidak boleh diabaikan. 

Berbagai pihak sudah membunyikan “alarm” terhadap bahaya dari serbuan masuknya sabu-sabu bersama-sama dengan inek ke Indonesia. 

Untuk memudahkan saya memahami, saya kemudian teringat perang Candu yang dilakukan Inggeris untuk menaklukan Tiongkok. Perang Candu pertama tahun 1840-1842) dan Perang Candu II (1856-1860). 

Upaya ini selain membuat masyarakat Tiongkok lebih tergantung kepada Opium, membuat rakyat tidak semangat dan menjadi ketergantungan kepada opium, Tujuan Inggeris menguasai jalur perdagangan porselin, sutra, rempah-rempah dan teh. 

Inggeris kemudian menyeludupkan candu didalam ribuan peti mati yang memaksa kemudian terjadinya kemarahan Kaisar Daonguang tahun 1799. Namun titah Sang Raja tidak berdaya. Candu sudah merasuk kehidupan masyarakat Tiongkok, menguasai pelabuhan. Bahkan sejak tahun 1820 mampu memasuk 900 ton pertahun. 

Inggeris kemudian menguasai jalur perdagangan dan meraup keuntungan yang besar. Sementara Tiongkok kemudian tenggelam dan menjadi penyuplai ekspor untuk kebutuhan Inggeris. Hasil yang tidka dinikmati oleh rakyat Tiongkok sendiri. (Penulis Adalah Advokad Tinggal di Jambi)

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Redaksi Jambipos Online | KONTAK KAMI | Pedoman Media
Copyright © 1998. Jambipos Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Publiser/Admin Jambipos Online
Proudly powered by Jambipos