Home » , , , , » Guru di Provinsi Jambi Dapat Anugerah Kihajar 2016 dari Mendikbud

Guru di Provinsi Jambi Dapat Anugerah Kihajar 2016 dari Mendikbud

Written By jambipos-online on Sunday, November 27, 2016 | 22:09


Beginilah Suasana Hari Guru di Sekolah Yadika Jambi, Sabtu 26 Nopember 2016.IST


Zola: Ini Penghargaan untuk Seluruh Guru dan Tenaga Pendidik di Provinsi Jambi

Jambipos Online, Jakarta- Seluruh Guru dan Tenaga Pendidik di Provinsi Jambi meraih Penghargaan Anugerah Kihajar 2016 dari Menteri Pendidikan Indonesia. Penyerahan Penghargaan Anugerah Kihajar (Kita Harus Belajar) 2016 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia itu diterima Gubernur Jambi, H.Zumi Zola,S.TP,MA, bertempat di Auditorium Gedung D Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Jumat (25/10) sore.

Penghargaan Anugerah Kihajar 2016 Kategori Utama yang diserahkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof.Dr.Muhadjir Effendy,MAP, Seluruh Guru dan Tenaga Pendidik di Provinsi Jambi meraih Penghargaan Anugerah Kihajar 2016 Kategori Utama.

Gubernur Jambi H Zumi Zola atas nama Seluruh Guru dan Tenaga Pendidik di Provinsi Jambi bersama dua orang kepala daerah lainnya, yakni Walikota Gorontalo dan Walikota Bontang, dan menjadi satu-satunya gubernur dari 34 provinsi di Indonesia yang meraih Anugerah Kihajar Kategori Utama.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga memberikan penghargaan kepada para pemenang Lomba dan Kuis Kihajar 2016, yakni kepada juara 1, juara 2, dan juara 3 Lomba Mobile Edukasi (Lomba Mobile Kihajar), Lomba Video Edukasi, Penghargaan Radio Mitra Peduli Pendidikan 2016, serta pemenang Kuis Kihajar 2016 (kategori SD, kategori SMP, kategori SLTA, dan kategori khusus).

Zumi Zola mengatakan bahwa diperolehnya Anugerah Kihajar 2016 merupakan suatu kehormatan bagi Provinsi Jambi dalam pembangunan sektor pendidikan, sebagai upaya untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang tangguh, yang berdaya saing. 

“Ini menjadi suatu kehormatan yang luar biasa bagi Provinsi Jambi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kita mendapatkan Anugerah Kihajar 2016 Kategori Utama, satu-satunya gubernur yang mendapat Kategori Utama. Sejak dilantik, sampai sekarang sudah 9 bulan menjabat, saya dan Pak Fachrori Umar melalui Dinas Pendidikan sangat memperhatikan pendidikan kita. Ini untuk mempersiapkan SDM, kita harus bisa bersaing, baik secara nasional dengan provinsi-provinsi lain, maupun dengan dunia internasional. Mudah-mudahan anak-anak kita mempunyai daya saing yang tangguh juga, mengingat MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah berlaku. Jadi mau tidak mau, pendidikan harus terus kita behani dan tingkatkan," jelas Zola.

“Salah satu program yang kita andalkan untuk meningkatkan SDM kita adalah dengan beasiswa, mulai dari SMA, SMK, S1, S2, S3, sampai dokter spesialis," tambah Zola.

"Pendidikan kita juga kita dorong ke next level (level berikutnya) yang lebih tinggi lagi, dengan mendorong penggunaan teknologi. Alhamdulillah, ini diapresiasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," ujar Zola.

Zola menegaskan, penghargaan tersebut bukan untuk dia pribadi, tetapi untuk seluruh guru dan tenaga pendidik di Provinsi Jambi. "Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, walaupun ditulisnya atas nama saya, tetapi sebetulnya untuk seluruh guru dan tenaga pendidik yang selama ini telah mengabdikan dirinya untuk memberikan pendidikan dimanapun itu, terutama di daerah pelosok dan daerah terpencil. Mereka itulah yang sudah bekerja keras untuk anak-anak kita. Jadi, saya mempersembahkan penghargaan ini untuk para guru dan tenaga pendidik di Provinsi Jambi," ungkap Zola.

"Saya juga mengucapkan selamat hari guru, dan mudah-mudahan ini menjadi momentum yang sangat baik untuk kita semua, untuk dunia pendidikan, khususnya di Provinsi Jambi, dan juga untuk semua pemangku kepentingan yang memiliki kewenangan, untuk memutuskan, termasuk juga walikota, bupati, dan semua, agar kita dapat bersinergi untuk anak-anak kita, supaya anak-anak kita bisa bersaing lebih baik lagi," tutur Zola.

"Saat ini, anak-anak kita banyak yang berprestasi, sudah banyak yang sekolah di luar, cuman itu tidak cukup, karena tantangan kita kedepan semakin berat dan semakin berat. Kita berharap bisa membuat program, bagaimana supaya pendidikan di Provinsi Jambi lebih baik dan lebih baik lagi," kata Zola.

Zola mengungkapkan, ada 3 tantangan utama pembangunan sektor pendidikan di Provinsi Jambi saat ini, pertama, 1.500 ruang kelas baru. 

"Sangat berat, karena biayanya sangat besar sementara anggaran sangat terbatas."Tetapi bagaimana kita bisa menyusun skala prioritas, yang mana yang didahulukan. Kalau kita hanya mengandalkan APBD Provinsi Jambi saja, tidak mungkin. Banyak yang harus kita benahi, termasuk laboratorium, yang bahkan sekarang sebagian labor digunakan untuk kelas, karena kelasnya tidak cukup. Saya tadi sudah sampaikan kepada Pak Menteri dan Sekjen agar kiranya Provinsi Jambi bisa dibantu, supaya semua anak-anak kita bisa mendapat pelayanan pendidikan dengan baik. Kihajar ini kan kita harus belajar, itu semangatnya. Mudah-mudahan dengan upaya bersama Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota, insyaallah bisa terwujud dengan bik," harap Zola.

Kedua, lanjut Zola, permasalahan guru honor. Zola menegaskan bahwa guru honor harus tetap diperjuangkan. "Masalah guru honor, melalui Dinas Pendidikan, saya katakan, kita harus punya kepastian dulu. Insyaallah, itu masuk ke APBD Provinsi Jambi, walaupun kondisi keuangan kita sanagt terbatas sekali, tetapi kita sangat komitmen untuk memperhatikan guru honor. Alhamdulillah, kita sudah bicarakan dalam RKA (Rencana Kerja Anggaran), kemudian telah kita bicarakan pula dengan Dewan, pada intinya kita memperjuangkan bagaimana nasib tenaga honorer pendidikan di Provinsi Jambi. Jumlahnya 5.038 orang. Kita mengambil inisiatif untuk memperjuangkan nasib guru honorer tersebut, insyaallah disetujui oleh Dewan," terang Zola.

Ketiga, pemerataan guru. “Saat ini kalau kita lihat ada tempat yang menumpuk, kadang ketika sudah diurai, balik lagi, itu harus kita buat pemerataan. Kalau terjadi penumpukan di beberapa tempat, bukan hanya berimbas pada pelayanan bagi anak didik yang tidak merata, tetapi juga pada tunjangan guru, berkaitan dengan jam mengajar. Ketika nanti sudah diurai penumpukannya, harus ada komitmen dari semua pihak terkait, untuk memenuhi pelayanan pendidikan kepada anak-anak sekolah, dan tanggung jawab untuk jam mengajar terpenuhi juga," pungkas Zola.

Sebelumnya, dalam arahannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof.Dr.Muhajir Effendi mengemukakan bahwa penghargaan yang diberikan tidak ada artinya secara fisik, tetapi sangat besar maknanya dalam upaya memajukan pendidikan Indonesia, dengan mendayagunakan teknologi dan komunikasi.

“TIK kita masih tertinggal, termasuk di ASEAN. Luas Indonesia yang hampir sama dengan daratan Eropa, dengan 17 ribu lebih pulau yang kita miliki, dan 75% wilayah kita lautan, tidak mudah untuk membuat technology cover," ungkap Muhajir Effendy.

Muhajir Effendy juga mengungkapkan, terdapat 48.000 sekolah yang belum teraliri listrik dan 140.000 sekolah belum masuk internet, terutama di daerah terpencil, terluar, dan perbatasan di Indonesia, yang menjadi salah satu permasalahan pendidikan nasional, sembari berharap agar pemerintah bisa mendorong peningkatan elektrifikasi, diantaranya dengan tenaga surya dan tenaga angin, untuk mendukung pembangunan jaringan TIK.

Muhajir Effendy mengapresiasi Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota yang meraih Anugerah Kihajar. "Pendidikan ini adalah investasi Indonesia. Pendidikan juga dalam rangka pembangunan infrastruktur, yakni soft infrastructure, untuk mempersiapkan SDM yang handal," ujar Mendikbud ini.

“Pembangunan infrastruktur fisik sebagai hard infrastructure dan SDM, terutama melalui pendidikan, dua-duanya saling beriringan, dan itulah masa depan Indonesia. Tugas kita menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman," jelas Muhajir Effendy.

Ketua Panitia, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Didi Suhardi dalam laporannya menyampaikan, Anugerah Kihajar (Kita Harus Belajar) ditujukan untuk motivasi kepada seluruh sekolah untuk lebih banyak menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pelaksanaan belajar.

Didi Suhardi menyatakan, Anugerah Kihajar dimulai tahun 2006 dan saat ini telah dikuti oleh seluruh (34) provinsi se Indonesia.

Selain Anugerah Kihajar, lanjut Didi Suhardi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga mengadakan Lomba Kihajar dan Kuis Kihajar, yang telah dilakukan sejak tahun 2012, kuis dilaksanakan secara online, baik melalui komputer atau laptop sekolah maupun laptop yang dibawa sendiri.

Didi Suhardi mengatakan bahwa jumlah peserta Lomba dan Kuis Kihajar tiap tahun terus meningkat, tahun 2016 jumlahnya 5.179 siswa, dan dari jumlah tersebut, 120 orang masuk tahap grand final di Jakarta.

“Kuis Kihajar Tahun 2016 dilaksanakan pada April sampai Agustus 2016. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan hadiah kepada para pemenang Lomba dan Kuis Kihajar, sesuai kemampuan anggaran Kemendikbud," ujar Didi Suhardi.

Penampilan Tari Puti Cinde dan Tari Zapin Al - Zafin (perpaduan tari Melayu dan Timur Tengah), dan Band Nidji turut memeriahkan acara tersebut. (ADV-Humas Prov Jambi)
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Redaksi Jambipos Online | KONTAK KAMI | Pedoman Media
Copyright © 1998. Jambipos Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Publiser/Admin Jambipos Online
Proudly powered by Jambipos