Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Widget HTML

 


Sayangi Sungai, Cintai Negeri





Oleh: Ibnu Ziady MZ, ST, MH.



Masyarakat Peduli Sungai (MELINGAI)

Jambipos Online, Jambi-Penomena alam yang terjadi akhir-akhir ini sulit untuk diprediksi. Dimulai dari perubahan cuaca yang ekstrim hingga hadirnya beragam bencana alam yang tidak lazim seperti sebelumnya. Kekeringan pada musim panas dan kebanjiran pada musim hujan seakan-akan tidak mampu diantisipasi sebelumnya. 

Semuanya ini terjadi akibat tidak bijaknya kita mengelola lingkungan dan keserakahan segelintir orang yang hanya berpikir pragmatis. Sehingga yang kini mulai kita rasakan adalah di beberapa daerah yang dahulunya tidak pernah dilanda banjir bandang sekarang sangat mengejutkan kita.

Bencana itu terjadi dibeberapa tempat yang berdampak kerugian yang sangat besar, dari harta benda hingga nyawa. Musibah banjir bandang di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat beberapa waktu yang lalu  misalnya, kiranya menjadi warning bagi kita untuk lebih waspada, sehingga kejadian yang sama tidak terulang di daerah kita di kemudian hari.

Aktifitas ilegal loging, PETI dan galian C dibeberapa tempat berkontribusi besar dalam merubah pola alur sungai yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Saat ini kita tidak hanya dihadapkan dengan ketersediaan sumber daya air, namun yang lebih mengkuatirkan adalah kualitas air yang ada sudah sangat  tidak layak untuk dikonsumsi. 

Seperti yang disampaikan oleh Fauzi, MT Plt Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Sarolangun beberapa waktu yang lalu, dia sampaikan bahwa tingkat pencemaran air Sungai Limun dan Batang Asai sudah melebihi ambang batas.

Karena berdasarkan alat ukur yang dimiliki tercatat kandungan pencemaran air mencapai 25 sampai 28. Angka itu sudah melebihi ambang batas normal (Tribun Jambi, 4 Agustus 2016). 

Menyikapi kondisi ini sepatutnyalah kita segera tersadar, bahwa kondisi ini menjadi sebuah ancaman serius bagi keberlanjutan kehidupan sebagian masyarakat yang berdomisili di sepanjang daerah aliran atau pinggiran sungai kedepannya. Karena kesehariannya mereka menggantungkan kebutuhan hidup dari air yang berasal dari sungai.

Meskipun sudah terlambat, namun saat ini adalah momentum yang tepat untuk kita bersama-sama melakukan berbagai upaya yang terintegrasi dan berkesinambungan. Bahwa tanggungjawab ini wajib kita pikul bersama, baik itu pemerintah, swasta bahkan masyarakat itu sendiri. 

Yaitu salahsatunya dengan membentuk kelembagaan berupa Komunitas Peduli Sungai (KPS). Sepengetahuan penulis dibeberapa daerah di Indonesia sudah terbentuk lembaga seperti ini dan terbukti mempunyai pengaruh yang positif dengan berbagai program dan kegiatannya dalam upaya menjaga dan memelihara daerah aliran sungai.

Tercatat di DIY dengan komunitas Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA), di Semarang dengan Paguyuban Pengendali dan Penanggulangan Air Pasang Panggung Lor (P5L), di Banjarmasin ada Masyarakat Peduli Sungai (MELINGAI)  dan beberapa daerah lainnya sudah terlebih dahulu melakukan hal serupa.

Dari hasil diskusi terbatas bersama kawan-kawan yang mempunyai pemikiran yang sama dalam mencermati masalah ini, kiranya sudah saatnyalah kita di Jambi membentuk wadah yang khusus menangani sungai dengan segala permasalahannya.

Diawali dengan menyamakan persepsi tentang eksistensi sungai dengan berbagai kondisi permasalahan yang terjadi saat ini. Kemudian berusaha mencarikan alternatif langkah penanggulangan sebagai solusi yang akan dilaksanakan. 

Kemudian kita juga perlu belajar banyak dari mereka yang sudah terlebih dahulu berbuat dan sudah mempunyai sucses history dalam menangani permasalahan sungai ini. Setidaknya mulai dari proses pembentukan kelembagaan, status kelembagaan, mekanisme operasional, program kerja hingga pola hubungan kerja dengan berbagai pihak terkait.

Untuk itu, melalui tulisan yang sederhana ini kami mengajak kita semua untuk bersinergi dalam upaya mencari solusi terbaik dalam pengelolaan sungai yang terpadu dan berkesinambungan. 

Sehingga kedepannya diharapkan dapat meminimalisir kejadian-kejadian bencana seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Kalau Bukan Kita, Siapa lagi. Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi.!!!(Penulis Adalah Kepala Bidang Sumber Daya Air di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi)

Berita Lainnya

Posting Komentar

0 Komentar