Home » , , , , , , » 64 Anak di Jambi Didera Gizi Buruk, Dua Meninggal

64 Anak di Jambi Didera Gizi Buruk, Dua Meninggal

Written By jambipos-online on Saturday, October 22, 2016 | 14:18

REPRO TRIBUNJAMBI.
Jambipos Online, Jambi- Pemerintah kota dan kabupaten di Provinsi Jambi belum melakukan upaya maksimal menanggulangi masalah gizi buruk, sehingga kasus ini di daerah itu masih cukup tinggi. Berdasarkan hasil pemantauan Dinas Kesehatan Provinsi Jambi di dua kota dan sembilan kabupaten, ditemukan 64 orang anak didera gizi buruk.
Dua orang anak yang didera atau mengalami gizi buruk tersebut meninggal dunia dan satu anak lainnya hingga Sabtu (22/10) masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher Jambi.
“Jumlah anak yang mengalami gizi buruk paling banyak di Jambi terdapat di Kabupaten Sarolangun, yakni 15 orang dan di Tebo 14 orang. Sedangkan anak penderita gizi buruk di Kota Jambi lima orang dan di kabupaten lain antara satu sampai empat orang," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Andi Pada kepada wartawan di Jambi, Jumat (21/10) terkait penanganan kasus gizi buruk di daerah itu. 
"Dua anak penderita gizi buruk yang meninggal tahun ini terdapat di Kabupaten Merangin satu orang dan Kota Jambi satu orang,” dia menambahkan.
Menurut Andi Pada, berdasarkan hasil pantauan tim Dinas Kesehatan Provinsi Jambi di setiap kota dan kabupaten, kasus gizi buruk di daerah itu sebagian besar terdapat di pedesaan terpencil dan dari keluarga miskin.
Tingginya kasus gizi buruk di daerah pelosok dan di tengah keluarga miskin tersebut akibat terbatasnya kemampuan dan kurangnya kesadaran orangtua membawa anak-anak mereka memeriksakan kondisi anak mereka ke puskesmas atau posyandu.
Selain itu, lanjut Andi Pada, pelayanan kesehatan puskesmas dan posyandu di daerah-daerah terpencil belum menjangkau seluruh keluarga miskin. Kondisi demikian menyebabkan para orangtua dari keluarga miskin cenderung membiarkan anak-anak mereka mengalami gizi buruk, sehingga akhirnya ada yang sampai meninggal dunia.
Dijelaskan, untuk mengurangi kasus gizi buruk di daerah itu, jajaran dinas kesehatan kota, kabupaten dan provinsi di Jambi kini mengintensifkan program pemberian makanan tambahan kepada anak-anak, termasuk di daerah terpencil. Selain itu sosialisasi mengenai pemberian makanan pendamping (MP) dan air susu ibu (ASI) kepada anak-anak di daerah itu juga ditingkatkan.
“Untuk pemberian makanan pendamping kepada anak-anak, bayi lima tahun dan ibu-ibu hamil. Saat ini sudah ada bantuan biskuit 116 ton dari Kementerian Kesehatan. Sebanyak 57 ton biskuit tersebut untuk bayi lima tahun dan anak-anak dan 59 ton untuk ibu-ibu hamil,” katanya.
Menurut Andi Pada, kendati angka kasus gizi buruk di Jambi masih tinggi, namun berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kasus gizi buruk di Provinsi Jambi yang mencapai 103 kasus tahun 2013, turun menjadi 101 kasus tahun 2014. Kemudian kasus gizi buruk di daerah itu tahun 2015 turun menjadi 90 kasus. Kasus meninggal akibat gizi buruk di Jambi tahun 2015 sebanyak empat orang dan tahun ini dua orang.
“Kami terus berupaya melakukan berbagai upaya penanggulangan masalah gizi buruk ini agar Jambi bisa bebas gizi buruk dua tiga tahun mendatang. Upaya yang kami prioritaskan menanggulangi gizi buruk tidak hanya memberikan makanan tambahan dan pemberian ASI kepada bayi lima tahun, tetapi juga meningkatkan kesadaran ibu-ibu memberikan makanan bergizi kepada bayi lima tahun dan memeriksakan anak mereka ke pos pelayanan kesehatan,” katanya.
Sementara itu Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Jambi, Taufik Yasak mengatakan, masih tingginya kasus gizi buruk di Jambi banyak dipengaruhi rendahnya kesadaran ibu-ibu hamil dan menyusui mengkonsumsi makanan bergizi.
Kemudian keluarga miskin di daerah itu juga masih banyak yang enggan memeriksakan kesehatan anak mereka secara rutin ke posyandu dan puskesmas. Kondisi seperti itu, khususnya banyak terjadi dari keluarga miskin dan daerah pinggiran.
“Untuk meningkatkan kesadaran keluarga mengatasi gizi buruk ini, perlu dilakukan penyuluhan atau sosialisasi mengenai pencegahan dan penanggulangan gizi buruk hingga ke desa-desa terpencil. Selain itu perlu juga diperluas jangkauan pelayanan posyandu dan puskesmas hingga ke desa-desa terpencil,” katanya. (SP)

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Redaksi Jambipos Online | KONTAK KAMI | Pedoman Media
Copyright © 1998. Jambipos Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Publiser/Admin Jambipos Online
Proudly powered by Jambipos