Home » , » Sitepu Bekas Operator Alat Berat, Kini Kepercayaan Bos-bos Besar

Sitepu Bekas Operator Alat Berat, Kini Kepercayaan Bos-bos Besar

Written By jambipos-online on Tuesday, July 5, 2016 | 8:26 PM

FAVORIT: Sungai Melinau adalah lokasi favorit para penambang emas. foto: Bucek
Jambipos Online, Sarolangun-Sitepu (45) yang diduga menyewakan 40 alat berat untuk menambang emas ilegal di Batang Asai ternyata sebagian besar milik bos-bos besar di belakangnya. Ia sendiri sendiri hanya memiliki tiga unit alat berat, selebihnya dia mendapat fee.

Tetangganya bernama Amir mengatakan bahwa Sitepu adalah pendatang dari Kalimantan dan baru bermukim di Pamenang, Merangin sejak 4 tahun lalu. Ketika di Kalimantan, Sitepu hanya seorang operator alat berat yang bekerja untuk sebuah perusahaan.

Kini rumahnya yang berlantai dua berdiri kokoh di pinggir jalan lintas. Sekitar 50 meter dari rumahnya, di sanalah gudangnya tempat menyimpan alat berat. Pria bertubuh tambun, berambut ikal itu adalah pecandu rokok kretek Gudang Garam Merah. 

Istrinya beru Sipayung. Lama tak punya anak pasangan ini mengadopsi anak saudaranya. Beberapa tahun kemudian akhirnya mereka memiliki dua orang anak kandung.

Sebelum bermain di Batang Asai, Sitepu sempat dua tahun menyewakan alat beratnya untuk menambang emas di Perentak, Merangin. Setelah sepi, barulah dia berpindah ke Batang Asai, mengikuti jejak Hilalatil Badri – kini Anggota DPRD Provinsi Jambi – yang memulai penambangan di Batang Asai.

Hilal berasal dari Pelalawan Singkut. Ketika duduk sebagai Anggota DPRD Sarolangun, dia mulai terjun ke dunia ini. Setelah itu menyusul kemudian, H. Salam – ketika duduk sebagai Anggota DPRD Merangin lantas sekarang menjabat Anggota DPRD Provinsi Jambi.

Kepercayaan para bos-bos itu dipegang teguh oleh Sitepu. Amir bercerita Sitepu berbagi hasil dengan bosnya. Sewa satu unit alat berat disetor Sitepu kepada para bosnya Rp 80 juta perbulan. Sementara kepada para toke penambang emas, Sitepu menarik uang sewa Rp 120 hingga Rp 130 juta perbulan. Untung Sitepu sekitar Rp 40 hingga Rp 50 juta.

“Jika biaya operasional satu alat berat Rp 20 juta. Itu menjadi tanggung jawab Sitepu. Namun jika lebih, biaya itu dibagi dua dengan bosnya. Pokoknya bos-bos itu tahunya beres. Mereka percaya betul dengan Sitepu,” kata Amir Selasa (5/7) ketika ditemui di sebuah warung.

Kini bekas operator alat berat itu berubah menjadi milyuner. Jika satu alat berat saja dia mendapat fee Rp 40 juta maka dikalikan dengan 37 alat berat maka penghasilannya mencapai Rp 1,48 miliar. Itu belum termasuk pendapatan dari tiga unit alat berat miliknya sendiri yang mencapai 360 juta. Berarti diperkirakan total penghasilannya perbulan sekitar Rp 1,84 miliar. (JS)

Sumber: terbit.co
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Redaksi Jambi Pos | KONTAK KAMI | Pedoman Media
Copyright © 1998. JAMBIPOS ONLINE - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Admin Jambipos Online
Proudly powered by Jambipos