Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Widget HTML

 


Nilai-Nilai Kearifan Lokal yang Terpatri dalam Naskah Alih Aksara Kawih Manondari dan Revansinya pada Era Modern

Ilustrasi

Oleh : Debby Ramadhani

Naskah Alih Aksara Kawih Manondari: Naskah Sunda Kuno Koleksi Kabuyutan Ciburuy Garut, karya Riki Nawawi, bagaikan gerbang magis yang mengantarkan kita pada dunia penuh makna dan nilai-nilai luhur budaya Sunda. 

Di balik aksara-aksara kuno yang terukir dengan indah, terbentang kisah Manondari, seorang putri cantik yang diuji kesetiaannya, dan terpancar pula kearifan lokal yang diwariskan para leluhur. Esai ini bertujuan untuk menyelami makna terdalam dari naskah tersebut, menelusuri jejak kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, dan merefleksikan relevansinya bagi kehidupan masa kini.

Manondari: Kisah Cinta yang Mengandung Makna Mendalam

Naskah Manondari mengisahkan percintaan Manondari, putri Raja Prabu Adipati, dengan Raden Banyak Wira, seorang pemuda tampan dan gagah berani. Namun, cinta mereka diuji dengan berbagai rintangan dan godaan. Manondari harus menghadapi fitnah dan tipu daya dari Dewi Srenggi, seorang penyihir jahat yang ingin merebut cintanya.

Di tengah cobaan, Manondari menunjukkan keteguhan hati dan kesetiaannya yang luar biasa. Dia menolak godaan Dewi Srenggi dan tetap setia kepada Raden Banyak Wira. Keteguhan hatinya tersebut berhasil mengalahkan segala rintangan dan mengantarkan mereka pada kebahagiaan.

Nilai-Nilai Kearifan Lokal yang Terpatri dalam Naskah

Naskah Manondari bukan hanya kisah cinta yang menggetarkan hati, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal yang masih relevan hingga saat ini. Nilai-nilai tersebut tertanam dalam setiap bait kawih dan dialog antar tokoh, menjadi pedoman hidup bagi masyarakat Sunda.

Berikut beberapa nilai-nilai kearifan lokal yang menonjol dalam naskah Manondari:

Kejujuran: Manondari selalu berkata jujur dan teguh pada pendiriannya, bahkan saat dihadapkan pada situasi sulit. Hal ini menjadi contoh bagi kita untuk selalu menjaga kejujuran dalam setiap ucapan dan tindakan.

Kesetiaan: Manondari menunjukkan kesetiaan yang luar biasa kepada Raden Banyak Wira. Dia tidak tergoda oleh godaan Dewi Srenggi dan tetap setia pada cintanya. Kesetiaan ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu menjaga komitmen dan kesetiaan dalam hubungan, baik dalam percintaan, persahabatan, maupun kerjasama.

Keberanian: Raden Banyak Wira menunjukkan keberaniannya dalam menghadapi musuh dan rintangan. Dia tidak gentar untuk membela Manondari dan cintanya. Keberanian ini menjadi inspirasi bagi kita untuk selalu berani dalam menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah.

Rasa Tanggung Jawab: Manondari dan Raden Banyak Wira menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Mereka selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik dan tidak merugikan orang lain. Rasa tanggung jawab ini menjadi landasan bagi terwujudnya kehidupan yang harmonis dan sejahtera.

Relevansi di Era Modern

Di era modern yang penuh dengan perubahan dan tantangan, nilai-nilai kearifan lokal dari naskah Manondari menjadi pengingat penting. Kesetiaan, kejujuran, dan keberanian dalam menghadapi rintangan adalah kunci untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan. 

Rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat juga menjadi landasan bagi terwujudnya kehidupan yang harmonis dan sejahtera.(Penulis Adalah Mahasiswa Prodi Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas).

Berita Lainnya

Posting Komentar

0 Komentar