Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Widget HTML

 


Memperkenalkan Kembali Ragam Permainan Anak Nagari di Minangkabau

Senia Febri Utari

Oleh: Senia Febri Utari

Minangkabau, sebuah daerah yang kaya akan budaya, memiliki ragam yang khas dalam hal permainan anak-anak. Namun, seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan teknologi, banyak permainan tradisional ini tergeser dan dilupakan. 

Anak-anak sudah tidak minat bermain dengan teman diluar rumah karena dia lebih asik bermain game di handphonenya, minimnya prespektif orang tua dalam menanggapi kemajuan teknologi terhadap anak juga menjadi sebab utama permainan anak menjadi tersingkirkan atau bahkan terlupakan. Oleh karena itu, penting untuk memperkenalkan kembali ragam permainan anak Nagari di Minangkabau agar warisan budaya ini tetap hidup dan lestari.

Banyak sekali ragam permainan anak nagari di Minangkabau seperti:

1.Kasembar
Permainan kasembar ini merupakan permainan anak nagari di daerah Pasaman. Permainan ini biasanya dilakukan pada malam hari. Permainan kasembar ini biasanya di bagi menjadi dua tim, satu tim penjaga dan satu lagi tim yang bersembunyi. 

Satu tim terdiri dari 5 orang, dan setiap orang memiliki tugasnya masing-masing , orang pertama ,kedua, dan ketiga bertugas mencari tim yang bersembunyi, orang keempat serta yang kelima bertugas menjaga tempat yang sudah ditentukan sebagai tempat orang yang sudah berhasil ditemukan. 

Uniknya permainan ini, jika tim yang mencari berhasil menemukan tim yang bersembunyi, tim yang mencari harus memegang tangan tim yang bersembunyi sambil berhitung satu sampai lima, jika dia berhasil mengitung satu sampai lima dan tim lawan tidak berhasil membrontak lari, artinya tim lawan sudah kalah. Namun sebaliknya jika tim lawan belum berhasil berhitung satu sampai lima dan tim yang bersembunyi masih sempat membrontak lari maka masih ada kesempatan untuk dia kembali bersembunyi.

2. Badia Batuang
Badia batuang adalah salah satu yang dimainkan anak-anak zaman dahulu. Namun sudah jarang atau bahkan tidak ditemukan lagi anak-anak yang bermain Badia batuang.

Permainan Badia batuang ini biasanya di mainkan anak-anak pada bulan suci Ramadhan.Permainan ini terbuat dari batuang atau bambu berukuran besar yang sudah tua. Untuk menyalakannya, permainan tradisional ini harus dilengkapi dengan minyak tanah dan sumbu. Biasanya, bambu yang digunakan 2 ruas bambu atau kurang lebih sepanjang 1,5 meter. 

Permainan ini akan menghasilkan bunyi yang sangat keras, dalam permainan tradional ini membutuhkan keahlian dan kehati-hatian, karena tidak jarang mampu yang digunakan terbelah akibat tidak kuat menahan dentuman yang keras.

3. Ancik-Ancik
Permainan ancik-ancik juga merupakan permainan anak didaerah Pasaman. Permainan ini biasanya dimainkan oleh sekelompok anak-anak, satu sebagai penjaga dan yang lainnya bersembunyi. Permainan ini dilakukan pada siang maupun malam. 

Satu anak penjaga berdiri di dekat pohon sambil menutup mata dan anak-anak yang lainnya akan bersembunyi. Setelah semua anak bersembunyi , maka anak yang tadi sebagai penjaga akan mencari anak-anak yang bersembunyi, jika dia berhasil menemukan anak yang bersembunyi maka dia harus pergi cepat-cepat ke dekat pohon lalu mengucapkan nama anak tersebut dan ancik-ancik. 

Contohnya (Budi ancik-ancik). Namun jika Budi yang duluan sampai ke dekat pohon sampai tanpa sepengetahuan anak yang menjaga, lalu mengucapkan ancik-ancik sambil menepuk pohon. Maka, anak yang sebagi penjaga tadi harus menjaga kembali dan tidak dapat giliran bersembunyi. 

Tetapi jika semisalnya anak yang lain berhasil ditemukan maka akan terjadi pengacakan dengan nomor barisan siapa yang akan menjaga dan menggantikan anak yang menjaga sebelumnya.

4. Galah
Permainan Galah ini sering dilakukan pada jam istirahat disekolah. Alasannya karena memanfaatkan garis di lapangan raket/Badminton. Permainan Galah ini dibagi menjadi dua regu, masing-masing regu terbagi menjadi tiga orang. Masing" orang menjaga di garis, dan bagi siapa yang lari kencang pasti susah menangkapnya dan pasti dia akan cepat sampai ke garis finis.

5. Yeye
Permainan yeye ini biasanya dimainkan oleh anak-anak perempuan. Permainan ini bisa beregu bisa juga perorangan. Permainan yeye biasannya dilakukan pada waktu luang contonya pada jam istirahat sekolah, sepulang sekolah maupun sepulang mengaji. 

Permainan ini dilakukan dengan tali karet yang dirajut  hingga panjang, satu anak memegang di ujung kanan, satu anak memegang di ujung kiri, dan anak yang lain memainkannya. Permainan yeye ini memiliki beberapa tahap seperti:

- pinggang: kedua anak memegang tali pada pinggangnya yang direntangkan dan anak yang satunya melompat,jika dia berhasil melakukannya,maka beralih ke tahap selanjutnyanya

- dagu: sama halnya yang dilakukan dengan bagian pinggang tadi, namun bedanya ini naik level menjadi ke dagu

- talingo: sama halnya dengan dagu ini jika berhasil melompat melewati setinggi dagu tadi maka lanjut ke level yang setinggi talingo

- Kapalo: begitu juga dengan Kapalo , Kapalo ini adalah level setel talingo

- jengkal: jengkal ini adalah level di atas kepala. Dengan cara menjengkelkan tangan di atas kepala. Jika anak tersebut masih berhasil melewati ini maka masuk ke level terakhir yaitu bendera

- Bendera: bendera ini dilakukan dengan cara melilit yeye tadi di jari telunjuk sambil mengangkat tangan setinggi mungkin agar anak yang main tadi tidak bisa melompatinya, namun jika dia masih berhasil maka masuk ke tahap selanjutnya

- muncuang: pada muncuang ini dilakukan lompatan yang berputar dengan berhitung sampai lima, jika masih berhasil maka masuk tahap selanjutnya

- lihia: pada bagian ini lompatan lebih beragam dengan hitungan dua kali lima, namun jika masih berhasil maka lanjut lagi ke pinggang namun dengan peraturan yang berbeda

- pinggang: jika sudah sampai ke pinggang kembali tata caranya tidak seperti diawal, pinggang kali ini melompat namun menutupi mata sebanyak lima kali

- lutang: dilakukan dengan cara melompat sebanyak lima kali juga, namun tidak boleh sampai menyentuh yeye

- Muko balakang: ini merupakan tantangan terakhir yang harus dihadapi, caranya dengan melompat ke depan sebanyak lima kali dan begitu juga kebelakang. (JPO-Penulis Adalah Mahasiswi Sastra Minangkabau, Universitas Andalas)

Berita Lainnya

Posting Komentar

0 Komentar