. Dilema Sekda Tebo (Pasian Positif Covid-19) Yang “Dijemput Paksa” Dari Rumah Pribadi | Jambipos
Home » , , , » Dilema Sekda Tebo (Pasian Positif Covid-19) Yang “Dijemput Paksa” Dari Rumah Pribadi

Dilema Sekda Tebo (Pasian Positif Covid-19) Yang “Dijemput Paksa” Dari Rumah Pribadi

Written By jambipos-online on Rabu, 08 April 2020 | 11:28

Pasian 01 Positif Covid-19 Atas Nama Teguh Armadi (55) Jabatan Sekda Pemkab Tebo
Pasian 01 Positif Covid-19 Atas Nama Teguh Armadi (55) Jabatan Sekda Pemkab Tebo saat dijemput pihak RSUD raden Mattaher Jambi, Selasa (7/4/2020) malam. (Istimewa)
Jambipos, Jambi-Kasihan juga melihat pasien C-19 positif yang minta pulang, lalu tadi malam dijemput paksa untuk dirawat kembali di RS Raden Mataher Jambi. Saya yakin dia sekarang tertekan batinnya. Menanggung sakit fisik dan malu secara bersamaan. Malu karena harus dijemput paksa ke rumahnya dengan pasukan seperti mau perang.

Keselnya juga ada. Pasien ini yang katanya pejabat di daerahnya kok ya ngasih contoh yg ga bener. Entah apa yang ada di pikiran manajemen RS yang melepas kepulangan pasien tersebut. Apapun alasannya, jika tidak memenuhi standar protokol penanganan Covid 19 tidak bisa kita terima. 

Apalagi kemudian dijemput paksa, artinya pihak RS ceroboh, sembrono dan tidak profesional dalam bertugas. Benarkah gugus tugas penanganan C-19 Jambi tidak tau ?

Kalau sudah begini, masyarakat Jambi yang tadinya mulai tenang kembali gelisah. Mulai saling curiga. Apresiasi untuk kawan-kawan wartawan yang intens memberitakan masalah Corona dengan segala perkembangannya. Masyarakat butuh informasi yang tidak menyenangkan saja, juga peristiwa-peristiwa yang membuat mereka lebih berhati hati. Bicara Covid 19 bicara masa depan kita bersama.

Begitulah komentar Fitri Ulinda, seorang Jurnalis Senior di Jambi menanggapi pulangnya pasien 01 Covid-19 atas nama  Teguh Armadi (55) Jabatan Sekda Pemkab Tebo kerumah pribadinya di Jalan RB Siagian RT 11, Perumahan Buckingham Blok D No 8, Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, Senin (6/4/2020).

Karena berbagai desakan, termasuk dari desakan oleh Ketua DPRD Provinsi Jambi Edi Purwanto, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi Samsiran Halim, akhirnya pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher Jambi menjemput “paksa” Sekda Tebo, Teguh Armadi yang Positif Covid-19, Selasa (7/4/2020) malam. 

Atas permintaan keluarga Sekda Tebo Teguh Armadi meninggalkan rumah sakit, meski belum sembuh total dari Covid-19. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi kecewa atas sikap Pihak RSUD Raden Mattaher yang membolehkan Teguh Armadi diisolasi di rumahnya di Kota Jambi (Pasir Putih). 

Teguh Armedi dirawat di RSUD Raden Mattaher Jambi sejak Selasa (17/3/2020) dan dinyatakan positif terinfeksi virus corona (Covid-19) berdasarkan hasil sweb pada Senin (23/3/2020) lalu.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Provinsi (Pemprov) Provinsi Jambi selaku Juru Bicara Penanganan Covid-19 Provinsi Jambi, Johansyah SE ME kepada wartawan, Selasa (7/4/2020) malam mengatakan, menurut Direktur RSUD Raden Mathaher, Feri, pasien 01 ( Teguh Armadi) atas permintaan keluarga berjanji isolasi mandiri di rumah.

“Kata dokter yang menagani pasien itu, klinisnya bagus. Kadis Kesehatan Provinsi Jambi Pak Samsiran Halim kecewa terhadap keputusan pihak RSUD Raden Mattaher Jambi. Dan segera jemput balik pasien positif kembali ke rumah sakit. Mengingat akan membahayakan orang lain. Uji swab ke dua masih positif dan uji swab ketiga belum keluar hasilnya,” kata Johansyah.

Dikatakan, malam ini pihak RSUD Raden Mattaher Jambi menjemput pasien 01 yang sempat berada di rumahnya di kawasan Pasir Putih Kota Jambi. Selanjutnya pasien tersebut akan kembali diisolasi di RSUD Raden Mamattaher Jambi. Sedangkan pihak keluarga Sekda Tebo akan lakukan rapit test ulang, Rabu (8/4/2020). 

Sementara mengutip dari KOMPAS.TV, Kementerian Kesehatan RI menyatakan saat ini pasien positif Corona tak harus menjalani isolasi di rumah sakit. Pasien positif Corona tanpa gejala dapat menjalani isolasi di rumah secara mandiri dengan pemantauan dari rumah sakit.

"Sudah barang tentu tracing semakin masif, semakin gencar, maka kasus positif yang kita temukan semakin meningkat. Tapi sekarang tak berarti bahwa kasus positif harus diisolasi di rumah sakit, ada beberapa kasus positif tanpa gejala yang akan kita karantina, diisolasi di rumahnya secara mandiri," kata Juru Bicara Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto, di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Senin (16/3/2020) lalu.

Pedoman isolasi mandiri pasien di rumah sudah diunggah di situs resmi Kementerian Kesehatan. Dia menyebut di situs itu juga disampaikan informasi terkait jumlah pasien dalam pengawasan hingga dalam pemantauan. 

Surat Terbuka

Menanggapi pulangnya pasien 01 positif Covid-19 yang belum sembuh dan kembali dijemput pihak rumah sakit, Samuel Pardosi (Akun FB-Tulang Saem) menuliskan surat terbuka kepada pemerintah.

Kepada Yang terhormat,
Gubernur Jambi, Fachrori Umar
Di Tempat

Hampir 2 bulan, saya beserta anak-anak dan keluarga memilih #StayAtHome karena pandemik Covid-19 sudah mewabah bukan hanya di Jambi saja namun juga secara global. Bahkan media juga banyak mengabarkan bahwa di berbagai negara lainpun seperti Italy telah menelan korban hingga 5.000 orang lebih. 

Menakutkan, yaaa...menyeramkan, sangat-sangat mengerikan. Bahkan saya harus menceritakan dalam bentuk dongeng yang mengerikan kepada anak-anak saya bahwa Covid-19 itu seperti nenek penyihir pencabut nyawa yang siap hadir kapan saja kalau anak-anak saya yang masih Balita tidak mau menggunakan masker. 

Begitulah saya memberi pemahaman kepada mereka yang sama sekali belum mengerti apa-apa tentang Covid 19 yang mengerikan itu. Dan akibat Covid 19 kami menutup usaha kami selama 2 bulan ini supaya terhidar dari virus mematikan itu. 

Tindakan saya ini juga pasti dilakukan teman, keluarga, dan saudara-saudara lain demi menunjang kinerja pemerintah memutus Covid 19.

Inilah komitmen saya sebagai kepala keluarga membantu pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid 19 apalagi pemerintah harus mengucurkan anggaran hingga triliunan rupiah untuk menangani dan tanggap darurat untuk Covid 19.

Lalu, buat apa kucurkan anggaran tanggap darurat hingga milyaran rupiah di Kota Jambi, milyaran rupiah di Provinsi Jambi dan Triliunan rupiah di republik ini kalau toh pasien positif Covid 19 juga ada yang masih berkeliaran keluar dari rumah sakit?

Buat apa? Bahkan ada banyak kegiatan-kegiatan lain juga yang harus dibatalkan karena merujuk kepada tingkat konsentrasi massa dan kerumunan massa seperti acara syukuran, nikahan, kegiatan ritual ibadah dan lainnya harus dibatalkan demi memutus mata rantai Covid 19. 

Seandainya dihitung segala kerugian akibat Covid 19 ini tentu sangat merugikan bagi perekonomian keluarga maupun pemerintah.
Namun, ketika saya mengetahui bahwa ada pasien 01 positif Covid-19 yang pulang dari Rumah Sakit Umum Raden Mattaher Jambi.

Saya mengira dan menduga pihak Rumah Sakit tidak taat dan patuh pada aturan dan standard penanganan Covid 19. Bahkan tindakan ini sangat memalukan menurut hemat saya yang nota bene disetiap kabupaten/kota dan provinsi lainnya bekerja extra dan mati-matian untuk memutus mata rantai penularan virus Covid 19 ini. 

Bahkan berbagai pemerintah daerah ada yang harus mengeluarkan aturan dan tata-tertib yang sama sekali tidak populis bagi rakyatnya.

Akan tetapi, di Jambi malah ada pasien Positif Covid 19 yang keluar dari rumah sakit, saya merasakan dan menyikapi tindakan kepulangan pasien positif Covid-19 ini sungguh merupakan tindakan gila dan kurang ajar, serta perlu penindakan tegas bagi pihak Rumah Sakit, terkhusus bagi dokter yang menangani, dirut RS, Kepala Dinas Provinsi Jambi yang tidak patuh pada standard dan aturan penanganan Covid 19.

Pemerintah seharusnya punya komitmen tegas untuk melakukan pemecatan bagi mereka yang dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya apalagi belakangan ini rumah sakit sudah menjadi sorotan utama terkait covid 19 karena penanganannya memang efektif di rumah sakit bila sudah terdeteksi positif covid 19.

Tindakan pemulangan pasien 01 positif Covid 19 ini membuka ruang penyebaran secara bebas terhadap anggota keluarga dan masyarakat lain. Bila pemerintah dengan tegas memaksa masyarakat patuh pada aturan dan standard penanganan Covid 19, maka tentu juga aturan tersebut harus dipatuhi oleh setiap orang. 

Dengan demikian kami meminta Bapak Gubernur Jambi segera merespon dan memberikan sanksi tegas berupa pemecatan kepada yang pihak-pihak yang lalai dalam menjalankan tugasnya dalam menjalankan aturan dan standard penanganan Covid 19.

Demikian surat terbuka ini saya sampaikan untuk segera di tindak lanjuti, karena kami sebagai masyarakat Jambi tidak mau diresahkan oleh pasien positif Covid 19, yang ternyata masih berkeliaran diluaran sana karena kelalaian pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya, terima kasih atas segala perhatiannya. Terimakasih. Tulang Sam.

Sikap Jurnalis

Di group WA Jurnalis terbatas, pulangnya pasien 01 dari RSUD Raden Mattaher Jambi juga menjadi pertayaan bagi kalangan Jurnalis di Jambi. 

Berikut ini kutipan perbincangan di Group WA Jurnalis Jambi terbatas: 

Maskun : Mereka merasa tidak ada sosok yang mereka segani dan takuti saat ini, jadi begawe sekendaknyo be.

Rahmad F: Jangan memperkeruh suasan bahara. Nanti kawan-kawan liat secara dekat terinfeksi pulak. La nyalahkan pemprov lagi.

Wisman: Awak ni sebagai apo sebenar nya dil?

Dody : Ini asli dak jelas. Perkara kan nean la ci. Hantam terus be RSUD tu. La lalai melepas pasien positif. Pamdal buat masalah pulak.

Rahmad F: Kok menyudutkan wartawan, kalau memang mau meliput ya silakan Gak ada larangan. Cuma kan harus tetap jaga diri. Sudahlah gaji kita kecil ditambah lagi musibah. Kontrak dak pake naek, sampe situ paham. Suci juga harus jaga diri, ingat masih banyak yang menunggu di rumah.

Dody : Dil, persoalannyo ado larangan dari Pamdal itu. Mereka meliput sesuai protokol dari jauh.

Wisman: Kawan diintimidasi waktu melaksanakan tugas kok kayakny awak ni (Rahmad F) dak ado raso empati.

Bahara: Usai memulangkan pasien positif asal Tebo ke rumahnya yang diketahui di Kota Jambi, sekarang malah tak memperbolehkan wartawan mengambil gambar atau video di RSUD Raden Mattaher Jambi yang berada di dekat kantor Gubernur Jambi. Sangat miris sekali?

Raja Habibi: Pihak RSUD Raden Mattaher Jambi harus minta maaf kepada rekan jurnalis.

Hendri N: Yuk bobo, besok konferensi pers yo dak @Arief Martaguna?

Arief Martaguna: Iyo bang, pak karo bilang besok melalui video direktur akan menjelaskan soal kepulangan pasien tadi. 

Hendri N: Kalau gitu Biso nonton sambil makan pempek.

Arief M: Nah itu, gawe cerdas bang, berita update , perut kenyang, badan sehat? Semoga semua nya sehat selalu. Rehatlah bang, lah malam. Besok lagi dibahas.

Raja Habibi: Termasuk yang marah-marah tadi ke jurnalis, harus terang bederang.

Riki: Mohon maaf teman-teman, mau nanyo. Pasien yang dijemput paksa tu pas dikembalikan ke rsud lewat pintu igd depan yo. Kalo benar lewat pintu igd depan berarti dak sesuai protap, katonyo klo yg ado gejala bae lngsng lewat gedung isolasi belakang (depan rumah makan kajanglako). Tapi kok ini pasien yang positif malah lewat igd. Mokasih banyak sebelumnyo. Menurut sayo, dari kejadian ini, jadi pertanyaan terkait manajemen RSUD Raden Mattaher Jambi, baik itu dari koordinasi, komunikasi maupun sinergi. Entah manajemen lainnyo yang ado di RSUD Raden Mattaher selamo ini. Itu menurut sayo yang awam ini. Tambahan, dari sumber media online yang sayo baco, pasien dipulangkan oleh RSUD Raden Mattaher, pihak RSUD yang menghubungi keluarga pasien dan dokter jaga mempersilahkan pulang. Tambah menguatkan, "ada apa dengan manajemen RSUD Raden Mattaher? Tidak ada koordinasi, tidak ada sinergi dan tidak ada komunikasi. Padahal masyarakat belum seluruhnya tau dan mengerti tentang covid-19 ini. Kesalahan yang sangat fatal. Informasi adalah kunci. Itu menurut sayo yang awam ini.

Jurnal Opini: Adakah sanksi unntk Dirut RSUD Raden Mattaher terkait permasalahan ini?

Bainal SH: Sebaiknya seperti sucarity yang arogan kayak gitu,  tingkahlaku kayak gitu diberi pengajaran,  kurang dio pindak tugas lokasi jago toilet,  bukan posisi di depan lagi. Janganlah sampai dia dicopot kasian anak bini dia. Itu perlu kawan-kawan kasih tahu ke Direktur RSUD. Tugas wartawan sebagai kontrol social. Sebetulnya liputan seperti itu gak salah. Memang apa yang mau ditutup tutupi. Bupati Karawang  saja pengakuan dia dia beritahu pada masyarakat agar masyarakat untuk lebih hati-hati. Kok ini di RSUD Raden Mataher seperti itu, ada apa? Ini oknum satpamnya yang balagak,  supayo ado gawe jangan tegak bae.

Hakijarmin: Satpamnyo diperintah oleh atasannyo yang kurang, dio lakukan perintah, kalau tidak laksanakan perintah dipecat.

Bainal SH: Samo dengan kejadian sayo di RSJ,  itu ajudannyo kasar,  memang betul dari atasannyo yang kasih tahu.Akhirnyo kito tersinggung disitulah kito bongkar kasus direkturnyo. Banyak proyek-proyek dak jelas di lingkup RSJ.

Suci: Berarti bisa jadi pertanyaan ya bang, kenapa oknum keamanan di rs umum bersikap kayak gitu.

One:  Security ditempat pelayanan publik harusnya berjiwa humanis, bukan arogan.

Suci: Nak jawab ap uci bang, dak ada tindak lanjutnya bang. Cuma ditelepon bang, uci tah dari mano-mano. Dari IJTI Jambi ada surat protes ke rsud. Tapi kalo laporan ke aparat masih menunggu dari bang Jumadinyo. Semalam beduo sama bang ucok viva dapat perlakuan kasar tersebut. (JP-Asenk Lee Saragih)
Share this article :

Posting Komentar

 

Copyright © 1998. Jambipos Hak Cipta PT JAMBI POS MULTI MEDIA