Home » , , » Miss Grand Indonesia Sampaikan Pesan Perdamaian

Miss Grand Indonesia Sampaikan Pesan Perdamaian

Written By jambipos-online on Senin, 23 Juli 2018 | 16:39

Miss Grand Indonesia Sampaikan Pesan Perdamaian

Peserta dari Bengkulu Nadia Purwoko keluar sebagai pemenang kontes kecantikan Miss Grand Indonesia (MGI) di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu, 21 Juli 2018. ( Foto: Beritasatu Photo / Diana Fitri Anisa )

Jambipos Online, Jakarta - Pesan perdamaian dan ungkapan cinta pada tanah air memberikan kekuatan besar dari perhelatan beauty pageant atau kontes kecantikan Miss Grand Indonesia (MGI). Ajang yang baru yang baru pertama kali dihelat di JCC, Senayan, Sabtu (21/7/2018) ini menobatkan wanita cantik asal Bengkulu, Nadia Purwoko sebagai pemenang.
Malam itu, Nadia berhasil menyingkirkan 31 kontestan dari setiap provinsi di Indonesia. Ia mampu menyuarakan pesan perdamaian dan juga menunjukkan kelebihan yang ia miliki kepada dewan juri dan masyarakat luas.
Dalam pidato pertamanya untuk lolos ke babak tiga besar, dengan lancar ia berhasil menyampaikan pesan keberagaman dan kekayaan yang dimiliki Indonesia. Ia mengimbau kepada masyarakat luas, khususnya para generasi muda untuk bergerak maju dan juga menghargai segala perbedaan yang ada.
“Tunjukkan pada dunia, kita ini adalah bangsa yang kuat. Perbedaan membuat kita unik, cantik, dan kaya. Saya tidak bisa berbuat ini sendiri, saya butuh bantuan tangan dari Anda semua melakukan semua itu. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh,” tukasnya disambut teriakan dan tepuk tangan meriah dari penonton.
Pidato tersebut kemudian membawa wanita yang berprofesi sebagai pengacara ini masuk ke dalam tiga besar bersama, Stephanie dari DKI Jakarta (runner up 2) dan Sabrina Malik (runner up 1) yang mewakili Sumatra Utara. Mereka bertiga mendapatkan satu pertanyaan yang sama, “Jika dunia terancam karena peperangan, dan perdamaian telah memudar. Tetapi, Anda memiliki kekuatan super, apakah hal yang terlebih dahulu akan Anda selamatkan?”
Nadia pun menjawab dengan lugas dan yakin, ia mengatakan wanita dan anak-anaklah yang akan ia selamatkan terlebih dahulu. Karena, rasa kasih sayang dan perdamaian berasal dari jiwa anak-anak. Oleh karena itu, ia mengimbau bahwa pendidikan di dalam rumah sangatlah penting demi menumbuhkan generasi baru yang mamu memberikan perubahan.
Jawaban ini pun pada akhirnya yang dihadiahi mahkota Heart of Indonesia senilai Rp 3 miliar. Tidak hanya itu, Nadia juga berhak membawa pulang 1 unit apartemen dari Loftville.
Di lain sisi, lima penghargaan lainnya juga diberikan kepada para finalis yang memiliki prestasi selama perjalanan karantina. Sebut saja Best Traditional Costum, diberikan kepada Putu Ayu Sasadevi dari Bali, Miss Congeniality untuk Ni Komang dari NTT, Best Evening Gown direbut oleh Sabrina Malik dari Sumatra Utara. Selanjutnya Miss Favoritedisematkan untuk Putri Azizah perwakilan dari Sumatera Selatan.
Tidak hanya itu, sebuah penghargaan baru juga untuk menjadi Miss Perbankan BCA sengaja dihadirkan di MGI. Hal ini merupakan bentuk apresiasi dari BCA kepada finalis yang memiliki rencana pembangunan keuangan terbaik untuk Indonesia ke depannya. Dengan itu, finalis bernama Sevin Dwi P dari Lampung berhasil mendapatkan penghargaan tersebut.
Memang pada dasarnya, MGI memiliki misi untuk mencari bakat-bakat terpendam wanita Indonesia sekaligus membentuk karakter mereka agar siap menghadapi tantangan di abad 21. Sehingga, nantinya para finalis dan pemenang MGI mampu mewakili wanita Indonesia yang modern, mandiri, memiliki jiwa sosial serta dapat berkontribusi diberbagai bidang baik sosial, pemberdayaan, pariwisata dan ekonomi.
Berbeda Penilaian
Kualifikasi tersebut ternyata membawa MGI untuk merumuskan penilaian yang berbeda dibanding ajang kecantikan lainnya. Hal yang paling terlihat unik adalah, penyisihan kontestan untuk memasukkan peringkat lima besar didasari oleh kemampuan (talent) yang mereka miliki.
Namun, dalam penilaian ini mereka hanya boleh memperlihatkan kemampuan menari mereka saja, atau yang diberi nama Passion Dance Challenge. Satu per satu dari 10 finalis ini harus menari dengan baik sesuai dengan irama dan tempo lagu Peace yang dibawakan oleh Soundwave dan Firly Firlana, bernuansa electronic dance music (EDM).
“Kami ingin gunakan sesuatu yang berbeda. Biasanya ajang lain menggunakan QnA (tanya jawab), kami tidak ingin memakan waktu yang terlalu panjang. Tetapi, kami ingin menunjukkan bahwa sosok MGI tidak hanya cantik, pintar, tetapi juga bertalenta. MGI ingin yang berbeda. Kami ini ingin menghibur,” jelas National Director of Miss Grand Indonesia, Dikna Farabida saat dijumpai Suara Pembaruan.
Memang benar, MGI ingin menonjolkan sisi modern dari wanita Indonesia. Hal ini bahkan terlihat jelas saat tarian pembukaan yang biasanya dimasukkan unsur tradisi, tetapi MGI lebih memperlihatkan pesona 32 wanita yang mewakili masyarakat urban saat ini, aktif, modern, dan mandiri.
“Tidak melulu harus menghadirkan unsur tradisional. Namun, bagaimana cara kita mengemas dengan semodern mungkin, tanpa menghilangkan identitas kita. Jadi, nilai-nilai tersebut telah ditanamkan dan ditampilkan di belakang layar selama karantina. Seperti menari Tor-Tor, saat mengunjungi Danau Toba,” terangnya.
Selain Dikna dan sembilan juri yang terdiri dari Menteri Pariwisata Indonesia, Arief Yahya, perwakilan dari tokoh publik yaitu Sophia Latjuba, Wulan Guritno, Ivan Gunawan, Grand Final MGI ini turut dihadiri pula oleh pemilik lisensi Miss Grand International Nawat Itsaragrisil, Miss Grand International 2016 Ariska Putri Pertiwi, Miss Grand International 2015 Claire Elizabeth Parker, dan Miss Grand International 2017 Maria Jose Lora.


Sumber: BeritaSatu.com
Share this article :

Posting Komentar