Home » » Profile Timnas Prancis-Australia-Peru-Denmark- Piala Dunia 2018 Rusia (Group C)

Profile Timnas Prancis-Australia-Peru-Denmark- Piala Dunia 2018 Rusia (Group C)

Written By jambipos-online on Selasa, 19 Juni 2018 | 10:24

Profile Timnas Prancis-Australia-Peru-Denmark- Piala Dunia 2018 Rusia (Group C)
Timnas Prancis 

Prancis pernah menjadi juara Piala Dunia 1998.
 Asosiasi: Federation Francaise de Football (FFF)
Julukan: Les Bleus , Tim Ayam Jantan
Peringkat FIFA: 7 (7 Juni 2018)
Most Caps: Lilian Thuram (142)
Top Scorer: Thierry Henry (51)
Pelatih: Didier Deschamps (Prancis)
Tampil: 15 kali (Prestasi Terbaik Juara 1998)
Tampil: 15 kali (Prestasi Terbaik Juara 1998)
Prancis tidak kekurangan pemain berbakat. Karena itu, Prancis menjadi salah satu tim unggulan sebagai juara Piala Dunia 2018. Dalam perjalanan menuju Piala Dunia Rusia, langkah Prancis lumayan mulus di babak kualifikasi. Tim Ayam Jantan ini berhasil keluar sebagai juara grup A zona Eropa, padahal grup tersebut dihuni tim-tim kuat seperti Swedia, Belanda, dan Bulgaria. Dari 10 pertandingan, Prancis memetik 23 poin dari 7 kemenangan, 2 seri, dan 1 kalah.

Namun, sang pelatih Didier Deschamps menyatakan mereka masih membutuhkan waktu untuk bisa membangun kebersamaan. Di grup C Piala Dunia kali ini, Prancis diperkirakan bakal memuncaki grup mengalahkan Australia, Peru, dan Denmark.

Dalam sejarah Piala Dunia, dari 14 penampilan mereka, Prancis memang baru satu kali menjadi juara pada 1998 lalu, ketika menjadi tuan rumah. Itulah masa keemasan tim Prancis, kareba dua tahun berikutnya mereka menyabet juara Piala Eropa pada 2000. Itulah masa kejayaan generasi Zinedine Zidane, Laurent Blanc, Patrick Vieira, Thierry Henry, Fabien Barthez, dan Didier Deschamps. Nama terakhir kini yang menjadi pelatih. Deschamps juga yang mengantar Prancis sampai babak perempat final Piala Dunia 2014.

Pemain Bintang
Seperti tim besar lain, timnas Prancis bertabur pemain bintang, mulai dari kiper, bek, gelandang hingga penyerang. Bahkan ada sejumlah nama tenar yang tak masuk dalam timnas, seperti Kingsley Coman (Bayern Muenchen), Anthony Martial (Manchester United), Alexandre Lacazzette (Arsenal), Dimitri Payet (Marseille), Laurent Koscielny (Arsenal), dan Karim Benzema (Real Madrid).

Sedangkan dari anggota tim yang dibawa ke Rusia tak ada yang meragukan Kylian Mbappe (PSG), Giroud (Chelsea), atau Dembele (Barcelona) di lini depan. Di tengah ada Pogba (MU), Kante (Chelsea), Tolisso (Bayern Muenchen), atau Matuidi (Juventus).

Dari banyak nama itu, yang paling menonjol adalah Antoine Griezmann. Striker ini menyumbangkan enam gol dan empat assists untuk timnas Prancis pada saat kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa lalu. Penyerang Atletico Madrid yang diincar banyak klub besar Eropa ini tampaknya begitu siap meneruskan tren positifnya mencetak gol. Di klub, Griezmann telah melesakkan 19 gol ke gawang lawan dan 8 assists. Selama 43 kali penampilannya bersama timnas senior sejak 2014 lalu, dia telah membukukan 16 gol.

Antoine Griezmann.
Pelatih
Didier Deschamps (50) ditunjuk menjadi pelatih timnas Prancis pada Juli 2012 menggantikan pendahulunya, Laurent Blanc yang mengundurkan diri setelah Prancis kalah dari Spanyol pada babak perempat final Euro 2012. Deschamps memiliki segudang pengalaman dalam hal pertandingan internasional sebagai pemain, yakni Piala Dunia 1990, 1994, dan 1998, serta Piala Eropa tahun 1992, 1996 dan 2000.

Ia juga menjadi kunci penting saat Prancis meraih trofi Piala Eropa 2000. Sedangkan 1998 merupakan tahun bersejarah bagi Prancis dan Deschamps ketika Les Blues untuk pertama kalinya memenangi trofi Piala Dunia. Prancis mengungguli Brasil 3-0 di partai final.
Didier Deschamps.
Tahun ini tepat dua puluh tahun prestasi tertinggi Prancis terukir. Kini Deschamps datang ke ajang Piala Dunia sebagai pelatih. Sejak pensiun sebagai pemain dan menjadi pelatih, karier Deschamps di level klub terbilang baik. Ia mengantarkan Marseille menjuarai Liga Utama Prancis, Ligue 1, pada 2011.

Tak berlebihan bila Deschamps ingin dikenang sebagai pemain dan pelatih yang sukses membawa timnas menjuarai Piala Dunia. Apalagi keinginan semacam itu bukan impian kosong bila melihat materi pemain yang dibawanya. Squad Les Blues sudah membuktikan diri lolos dari kualifikasi. 

Setidaknya dalam dua kali uji coba terakhir, pasukan Deschamps bermain gemilang. Les Blues menunjukkan kematangannya dengan mengalahkan timnas Italia 3-1 di Stadion Allianz Riviera, Prancis, 1 Juni 2018 lalu. Sebelumnya, Prancis mengalahkan timnas Irlandia dengan skor 2-0.

Timnas Australia


Target realistis Australia adalah menghindari posisi juru kunci grup C.
Asosiasi: Football Federation Australia
Julukan: Socceroos 
Peringkat FIFA: 36 (7 Juni 2018)
Most Caps: Mark Schwarzer (109)
Top Scorer:Tim Cahill (50)
Pelatih: Bert van Marwijk (Belanda)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Babak 16 Besar 2006)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Babak 16 Besar 2006)
Australia tertatih untuk bisa lolos ke Piala Dunia 2018. Perjalanan terpanjang harus dilalui tim Negeri Kanguru ini dibanding empat tim Asia lainnya, yakni Jepang, Korea Selatan, Iran, dan Arab Saudi. Pada putaran kedua babak kualifikasi AFC, Australia mampu lolos meninggalkan Yordania, Kyrgistan, Tajikistan, dan Bangladesh. Namun, di babak ketiga, Australia hanya menempati peringkat tiga di bawah Jepang dan Arab Saudi yang sudah lolos terlebih dahulu.

Tim Cahill dkk harus rela menjalani play-off melawan tim peringkat ketiga grup A, Suriah. Australia berhasil mengatasi Suriah meski dengan agregat ketat 3-2. Kemenangan ini belum cukup karena Australia harus berhadapan dengan tim peringkat keempat di kualifikasi zona Concacaf demi memperebutkan satu tempat di putaran final Piala Dunia 2018. 

Australia akhirnya berhasil mendapat tiket ke Rusia setelah mengalahkan Honduras dengan agregat 3-1. Kemenangan ini membuat Australia berhak ke Rusia sekaligus menambah perwakilan Asia menjadi lima.

Keperkasaan Australia kali ini memang berbeda dibanding keikutsertaan mereka pada Piala Dunia 2006. Di bawah asuhan pelatih kondang asal Belanda Guus Hiddink, The Socceroos mampu sampai babak kedua atau babak 16 besar. 

Di babak pertama Mark Viduka dkk lolos bersama Brasil meninggalkan Jepang dan Kroasia. Inilah pencapaian tertinggi Australia di ajang Piala Dunia. Kala itu itu dari 23 nama pemain yang dibawa Hiddink, tercatat hanya dua pemain yang berlaga di dalam negeri. Nama-nama tenar kala itu yang ikut serta, antara lain John Aloisi, Marco Bresciano, Tim Cahill, Jason Culina, Brett Emerton, Harry Kewell, Stan Lazaridis, Lucas Neill, Mark Schwarzer, dan Mark Viduka.

Rata-rata kualitas para pemain saat ini tidak secemerlang pada 2006, setidaknya bila dilihat dari peran para pemain di masing-masing klubnya saat ini. Nama-nama seperti Brad Jones (Feyenoord), Danny Vukovic (Genk), James Meredith (Millwall),  Aaron Mooy (Huddersfield Town), Massimo Luongo (Queens Park Rangers), Jackson Irvine (Hull City), Mathew Leckie (Hertha Berlin), atau Robbie Kruse (Bochum), tidak cukup populer di telinga penggemar bola.

Selain penyerang senior Tim Cahill, nama yang paling tenar hanya Mile Jedinak yang kini bermain di klub Inggris Aston Villa.

Di Rusia nanti, Australia tergabung di grup C bersama Denmark, Peru, dan Prancis. Prancis diperkirakan bakal menjuarai grup. Sungguh pekerjaan tidak mudah mengulang prestasi Australia di Piala Dunia 2006, melenggang ke babak kedua. Target realistis Australia adalah menghindari posisi juru kunci di grup ini.

Pemain Bintang
Tim Cahill bakal menjadi pemain depan alias penyerang tertua yang bermain di Piala Dunia 2018. Saat ini pemain Millwall ini sudah menginjak usia 38 tahun. Bila seusia tersebut masih masuk dalam squad timnas, maka pasti ada yang istimewa dalam dirinya.
Tim Cahill.
Ya, Tim Cahill adalah legenda timnas Australia. Catatan paling mengesankan adalah kiprahnya di Piala Dunia 2006. Australia mengalahkan Jepang untuk lolos ke babak 16 besar berkat jasa Cahill. Hingga lima menit menjelang akhir babak kedua, tim Benua Kanguru ini masih tertinggal 0-1 dari Pasukan Samurai Jepang. Adalah dua gol Cahill, yang kala itu adalah pemain pengganti, dan satu gol John Aloisi yang membuat Australia menang 3-1 dan lolos. Sayang Australia akhirnya rontok di babak 16 besar setelah kalah 0-1 dari Italia yang akhirnya menjadi juara dunia.

Tim Cahill sudah membela timnas Australia sebanyak 105 kali dengan 50 gol, sehingga menempatkannya sebagai top scorer timnas sampai saat ini.

Pemilik nama lengkap Timothy Filiga Cahill ini berkibar ketika membela klub Inggris Everton selama 2004-2012. Setelah itu, Cahill melanglang ke sejumlah klub di Amerika, Tiongkok, Australia, dan akhirnya kembali ke klub awal sebelum ia di Everton, yakni klub Liga Championship atau divisi dua sepakbola Inggris, Millwall. Meski sudah tidak laku lagi berkompetisi di liga utama, Cahill masih dibutuhkan timnas.

Pelatih
Tim Socceroos kini ditangani oleh pelatih asal Belanda, Bert van Marwijk. Padahal dalam perjalanan panjang babak kualifikasi hingga lolos ke Piala Dunia 2018, timnas Australia ini dilatih Ange Postecoglou. Pelatih dalam negeri berdarah Yunani ini mengantar Australia ke Piala Dunia 2014, meski hanya sampai babak pertama. 

Postecoglou juga berhasil mempersembahkan gelar juara Piala Asia 2015, gelar yang untuk pertama kalinya diraih Australia setelah bergabung di AFC sejak 2006. Ia mundur karena alasan pribadi.

Sementara penggantinya, van Marwijk, bukan nama asing dalam dunia sepakbola. Pelatih berusia 65 tahun itu menukangi timnas Belanda pada 2008-2012 dan dengan pencapaian tertinggi runner-up Piala Dunia 2010. Di partai final, Belanda kalah 0-1 dari Spanyol.
Bert van Marwijk.
Sebelum dipercaya AFF menukangi timnas Australia, van Marwijk sukses mengantar Arab Saudi maju ke putaran final Piala Duni 2018 ini. Ia hengkang karena ketidaksepakatan soal kontrak baru. Uniknya, mantan pelatih klub Jerman Borrusia Dortmund ini mengaku hafal karakter pemain dan mengenal permainan tim Australia karena pernah menjadi lawan Arab Saudi di kualifikasi Piala Dunia.

Timnas Peru

Selama 32 tahun Peru absen di ajang Piala Dunia.
 Asosiasi: Peruvian Football Federation (PFF)
Julukan: La Blanquirroja, Los Incas
Peringkat FIFA: 11 (7 Juni 2018)
Most Caps: Roberto Palacios (128)
Top Scorer: Paolo Guerrero (30)
Pelatih: Ricardo Gareca (Argentina)
Tampil: 5 Kali  (Prestasi Terbaik Perempat Final 1970 dan 1978)
Tampil: 5 Kali  (Prestasi Terbaik Perempat Final 1970 dan 1978)

Pada babak kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Selatan (Conmebol), posisi Peru tidak langsung lolos, melainkan harus memainkan babak play-off melawan Selandia Baru. Peru akhirnya lolos setelah bermain imbang 0-0 saat tandang dan menang 2-0 di kandang.

Selama babak kualifikasi, tim berjuluk Los Incas ini mencatat kemenangan lima kali, termasuk mengalahkan Uruguay 2-1 di kandang dan Paraguay 4-1 saat tandang. Namun, kalah dua kali dan seri empat kali membuat Peru harus melalui babak play-off.

Prestasi ini maju ke putaran final Piala Dunia tentu disambut gembira rakyat Peru. Maklum, selama 32 tahun atau delapan kali Piala Dunia yakni dari 1986 hingga 2014, mereka absen. Piala Dunia 1982 Spanyol adalah penampilan terakhir timnas Peru dan baru tahun ini Los Incas kembali bisa ikut berlaga.

Setelah sukses menyingkirkan Selandia Baru di babak play-off, Peru semakin bertaji. Buktinya dalam dua pertandingan persahabatan mereka mampu mengalahkan lawan-lawannya yang juga tim peserta Piala Dunia di Rusia. 

Kroasia dikalahkan dengan skor 2-0 dan Islandia dengan skor 3-1. Saat mengalahkan Kroasia, Los Incas bermain dengan 10 pemain pada Maret 2018 lalu. Dua kemenangan ini menjadikan rekor pertandingan timnas Peru sebanyak 15 kali menjelang Piala Dunia menjadi delapan kemenangan, lima imbang, serta dua kali kalah. Los Incas boleh berbesar hati sebab tim yang mengalahkan mereka adalah Brasil dan Cile di babak kualifikasi.

Pada perhelatan Piala Dunia di Rusia bersama Denmark, Australia dan Prancis, di grup C Peru bisa mencuri angka dari Australia dan Denmark. Namun, Peru diperkirakan sulit mengalahkan Prancis. Bila benar mampu mengatasi Denmark, maka Peru bisa lolos ke babak kedua bersama Prancis.

Pemain Bintang
Pemain yang menjadi perbincangan terkait tim Los Incas adalah penyerang tengah yang sudah gaek, yakni Paolo Guerrero (34). Bukan soal gol indah atau penampilannya yang fenomenal melainkan karena ia nyaris tak bisa ikut ke Rusia karena doping.
Paolo Guerrero.
Pemain yang pernah membela Bayern Muenchen dan Hamburger SV di Jerman serta Corinthians dan Flamengo di Brasil ini terbukti positif menggunakan benzoylecgonine, zat metabolisme dari kokain. FIFA menjatuhkan larangan tampil selama setahun sebagai ihwal Guerrero terancam absen di Rusia. 

Guerrero mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (Court of Arbitration for Sport/CAS) di Swiss. Beruntung pada 20 Desember 2017, FIFA mengurangi larangan tampil dari setahun menjadi enam bulan, sehingga ia bisa memperkuat timnas Peru di Rusia.

Pada 3 Mei 2018 , pemain bernama lengkap Jose Paolo Guerrero Gonzales ini bebas dari hukuman. Meski kabar itu menggembirakan pendukung Los Incas, banyak kalangan meragukan kemampuan Guerrero, mengingat ia sudah cukup lama absen membela timnas.

Bagaimanapun sepak terjang pemain bertinggi badan 185 cm ini menjadi menjadi alasan mengapa Peruvian Football Federation (PFF) masih tertarik mengandalkannya. Selain soal pengalaman, Guerrero adalah pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah timnas Peru dengan torehan 32 gol dalam 86 penampilannya bersama Los Incas.

Gol pertamanya bersama timnas Peru dicetak saat mengandaskan Cile 2-1 pada kualifikasi Piala Dunia 2006 zona Amerika Selatan. Ia juga menyumbangkan gol pada laga pembuka Copa America 2007 di Venezuela, saat Los Incas mengalahkan Uruguay 3-0, sekaligus lolos ke perempat final.

Guerrero juga adalah pencetak gol terbanyak pada Copa America 2011, dengan 5 gol, di antaranya 3 gol ke gawang Venezuela. Hattrick juga ia ciptakan pada pergelaran Copa America 2015 di Cile ketika Peru mengalahkan Bolivia 3-1 di perempat final. Produktivitas gol sang striker inilah yang diharapkan terus berlanjut di Rusia.

Pelatih
Ricardo Alberto Gareca Nardi (60) menangani Peru sejak 2015 silam. Pelatih kelahiran Argentina ini adalah sosok yang paling optimistis bahwa timnya bakal sukses, setidaknya di babak pertama penyisihan grup. Penyebabnya tak lain adalah timnas Australia yang ada di grup C. Permainan timnas Benua Kanguru itu dinilainya hampir sama dengan timnas Selandia Baru yang nota bene disingkirkan Peru di babak play-off.
Ricardo Alberto Gareca Nardi.
Gareca adalah pemain legendaris Boca Juniors. Berposisi sebagai penyerang, ia juga pernah lima tahun aktif membela timnas Argentina. Ia memulai karier kepelatihannya dengan menangani klub Argentina, Talleres pada 1996. Klub yang pernah ditanganinya, antara lain Independiente, Velez Sarsfield, dan Palmeiras.

Sedangkan timnas yang ditanganinya sebelum ditunjuk menjadi pelatih Peru pada 2015 adalah timnas U-20 Argentina.

Formasi yang biasa digunakan Gareca adalah 4-2-3-1, yakni empat pemain bertahan, di depannya ada dua gelandang bertahan lalu striker tunggal yang didukung oleh tiga gelandang serang.

Timnas Denmark


Denmark memiliki peluang untuk lolos ke babak 16 besar dari grup C.
 Asosiasi: Dansk Boldspil-Union (DBU)
Julukan: The Red-White, Danish Dynamite (Tim Dinamit)
Peringkat FIFA : 12 (7 Juni 2018)
Most Caps: Peter Schmeichel (129)
Top Scorer: Poul Nielsen & Jon Dahl Tomasson (52)
Pelatih: Age Hareide (Norwegia)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Perempat Final 1998)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Perempat Final 1998)
Tim asuhan Age Hareide ini kembali menjejakkan untuk kelima kalinya di Piala Dunia setelah menjalani babak kualifikasi yang cukup berat. Sebagai catatan, pada Piala Dunia 2014 di Brasil, Denmark gagal pada babak kualifikasi. 

Sedangkan kali ini Denmark memastikan lolos ke Rusia setelah menang agregat 5-1 saat babak play-off melawan Republik Irlandia. Denmark finis pada posisi kedua klasemen akhir babak kualifikasi.

Bersama Australia, Peru, dan Prancis di grup C Piala Dunia 2018, Denmark memiliki peluang sama kuat dengan tim lainnya untuk lolos dari fase pertama. 

Daya ledak tim berjuluk dinamit ini memang tidak sedahsyat era Peter Schmeichel yang pada 1992 memenangi Piala Eropa dan sampai ke perempat final pada Piala Dunia 1998. Saat itu Denmark mengalahkan Prancis dengan skor 2-1 untuk maju ke semifinal. Di final Denmark mengalahkan Jerman 2-0.

Meski demikian, Denmark memiliki beberapa pemain yang telah memiliki jam terbang serta pengalaman mumpuni, seperti Christian Eriksen (Tottenham Hotspurs), Andreas Christensen (Chelsea), Simon Kjaer (Sevilla) dan kiper Kasper Schmeichel (Leicester).

Dengan formasi nama-nama tersebut Denmark hanya mampu melesakkan sembilan gol sejak kualifikasi hingga play-off. Sektor pertahanan menjadi sorotan saat mereka tampil pada babak kualifikasi. Bahkan, beberapa pemain andalannya terancam absen karena masih dalam tahap proses penyembuhan cedera.

Pada Piala Dunia 2018, mantan bek timnas Norwegia, Age Hareide, bertugas sebagai pelatih timnas Denmark. Pengalamannya selama 32 tahun sebagai manajer diharapkan mampu membawa Denmark mencapai prestasi yang lebih baik. Dia pun memuji kekuatan pemain yang dimilikinya, termasuk penampilan Christian Eriksen yang menjadi salah satu pemain paling bersinar di timnas Denmark.

Pemain Bintang
Christian Eriksen dikenal sebagai salah satu gelandang terbaik dunia yang kini bermain di klub Inggris Tottenham Hotspur. Sang pelatih Age Hareide menyanjung Eriksen sebagai pemain yang memiliki kemampuan penguasaan bola sangat baik. Dia menjadi pemain yang sulit dihentikan di babak kualifikasi. Bahkan, Age Hareide menyebut Eriksen mampu menyaingi permainan Lionel Messi dan Christiano Ronaldo.
Christian Eriksen.
Apa yang diungkapkan Age Hareide tidak berlebihan. Buktinya Barcelona mengaku sangat tertarik untuk merekrut Eriksen untuk menggantikan peran sang kapten Andres Iniesta yang baru saja mengumumkan pensiun.

Kemampuan Eriksen juga terlihat dari torehan di klub Tottenham. Pemain berusia 26 tahun ini berhasil melesakkan 12 gol dan sembilan umpan akurat dalam 40 kali penampilannya bersama di semmua kompetisi musim ini.

Sedangkan di timnas Denmark, Eriksen telah berlaga sebanyak 75 kali sejak pertama kali bergabung di ajang Piala Dunia di Afrika Selatan pada 2010. Kini, Eriksen tercatat telah melesakkan 21 gol untuk Tim Dinamit sepanjang kariernya. Eriksen mampu mencetak 10 gol untuk Denmark dari 12 laga di babak kualifikasi, termasuk trigol saat play-off melawan Irlandia di mana Denmark akhirnya menang dengan agregat 5-1 dan menempati peringkat kedua Piala Dunia 2018 zona Eropa.

Pelatih
Denmark identik dengan Morten Olsen yang menjadi pelatih pada 2000 hingga 2015. Olsen mengantar Denmark ke Piala Dunia 2002, Piala Eropa 2004, Piala Dunia 2010, dan Piala Eropa 2012.

Olsen mengundurkan diri dari kursi pelatih Denmark setelah kekalahan dari Swedia pada play-off Piala Eropa 2016 lalu. Awalnya Denmark menawarkan kursi pelatih kepada mantan pemain legendaris Denmark, Michael Laudrup. Namun, Laudrup menolak.

Federasi Sepakbola Denmark (DBU) akhirnya mengontrak Age Hareide (63 tahun), Desember 2015. Uniknya ketika itu Hareide baru saja menanggalkan jabatannya sebagai pelatih Malmo seusai timnya digilas 0-8 oleh Real Madrid di laga terakhir grup A Liga Champions.
Age Hareide.
Karier kepelatihan Hareide dimulai saat dia menangani klub asal Norwegia, Molde FK pada 1985. Selanjutnya ia menangani Rosenborg, Viking, dan Malmo FF. Karier kepelatihannya tidak begitu istimewa. Hal ini merupakan kelemahan tim Denmark.

Meski ada sejumlah nama pemain yang cukup terampil di posisi masing-masing ketika bermain di klub, racikan dari sang pelatih ketika bermain di timnas sangatlah penting. Kemampuan Age Hareide meramu kemampuan setiap pelatih menjadi sebuah kekuatan ledakan dinamit, sesuai julukan tim ini, belum setara pendahulunya, Morten Olsen.(JP)



Share this article :

Posting Komentar