KONTROL RAJA DI WILAYAH SUNGAI TENANG

Written By jambipos-online on Monday, April 3, 2017 | 08:45




Oleh: Musri Nauli

Jambipos Online-Semula dugaan tentang Kerajaan Tanah Pilih yang kemudian menjadi Kerajaan Melayu Jambi membentang wilayah kekuasaan meliputi seluas wilayah Propinsi Jambi. Namun pelan tapi pasti, jejak, cerita tentang kerajaan Melayu Jambi tidak berbekas ataupuan ceritanya hanya terdengar di kalangan ahli sejarah ataupun ahli arkeologi. 

Didalam penelusuran perjalanan melacak kerajaan Melayu Jambi, kekuasaan Raja tidak mampu mengontrol kekuasaan hingga ke daerah hulu. Catatan ini kemudian dilengkapi dengan Buku Barbara Watson Andaya “Hidup Bersaudara – Sumatra Tenggara Pada abad XVII-XVIII” terjemahan dari bukunya “Lo Live as Brothers – Southeast – Sumatra in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. 

Barbaya kemudian bercerita tentang pusat penghasil Merica di Merangin. Raja kemudian menempatkan Pangeran Tumenggung sebagai bentuk kontrol . Pangeran Tumenggung kemudian merdeka menyepakati perjanjian dengan Belanda, mempekerjakan para agennya sendiri untuk memborong merica dan memiliki gaya hidup serupa penguasa. Kemudian tidak tunduk pada istana hilir. 

Ulu Kozok didalam bukunya “Kitab Tanjung Tanah – Naskah Melayu Tertua” sudah menyampaikan tentang kontrol kekuasaan Kerajaan Jambi yang tidak mampu mengendalikan ke daerah hulu Sungai Batanghari . 

Bahkan menurut Charles Campbell melaporkan bahwa di tahun 1800 penduduk Sungai Tenang jarang membayar upeti kepada sultan Jambi yang selayaknya terdiri dari seekor kerbau, setahil emas, dan seratus bambu beras dari setiap kampung. 

Surat-surat yang ditulis oleh temenggung sultan Jambi yang sampai sekarang masih disimpan sebagai pusaka di Kerinci juga menunjukkan bahwa penduduk di Kerinci tidak selalu patuh kepada perintah rajanya di Jambi.

Kekuatan rakyat di Sungai Tenang, Serampas cukup diperhitungkan. Menurut Residen Bengkulu didalam surat rahasianya tertanggal 6 Februari tahun 1919, daerah Sungai Tenang dan Serampas lebih baik dijalin hubungan dagang dari Jambi . Penduduk di Sungai Tenang dan Serampas terkenal menguasai ilmu gaib seperti kebal.

Kemandirian dari kekuasaan Kerajaan Jambi ditandai dengan seloko “Jika mengadap ia ke hilir, jadilah beraja ke Jambi. Jika menghadap hulu maka Beraja ke Pagaruyung. Atau “Tegak Tajur, Ilir ke Jambi. Lipat Pandan Ke Minangkabau.

Seloko “Jika mengadap ia ke hilir, jadilah beraja ke Jambi. Jika menghadap hulu maka Beraja ke Pagaruyung. Atau “Tegak Tajur, Ilir ke Jambi. Lipat Pandan Ke Minangkabau membuktikan hukum yang datang dari Pagarruyung (undang) dipertemukan dengan peraturan dari Raja Jambi (tambang) kemudian ditimbang (diteliti). 

Sehingga Seloko “Tali Undang Tambang Taliti” Menjelaskan keterkaitan antara undang-undang Pagaruyung dan Peraturan dari kesultanan Jambi. Seloko ini kemudian menghasilkan ”undang tambang teliti”. Atau juga disebut ”Undang tempat didarat. Teliti tempuh di air.

William Marsden juga bercerita tentang kesaktian “Sungei Tenang, Koerinchi dan Serampei (Baca Sungai Tenang, Kerinci dan Serampas). Wilayah dataran tinggi Jambi . Bahkan dengan memulai perjalanan panjang menyusuri dari Moco-moco (sekarang Kabupaten Muko-muko), meyusuri lembah Korinchi (Kerinci). 

Kesaktian orang “Sungei Tenang, Koerinchi dan Serampei” terkenal setelah menyerang Ipu (salah satu distrik Belanda) pada tahun 1804. Kesaktiannya mampu mengalahkan penjaga di Ipu. 

Inggeris kemudian menyiapkan pasukan dibawah pimpinan Letnan Hastings Dare, 83 perwira, lima lascar. Mereka kemudian meninggalkan Benteng Marlborough dan tanggal 3 Desember kemudian tiba di Ipu (Ipuh). Perjalanan panjang menyusuri Ipu, Dusun Arah, Dusun Tanjong, Sungai kecil Ayer (Sungai Air diki), membangun gubuk di Napah Kapah, melewati air terjun Ipu-Machang, Bukit Pandang, Pondo Kuban. 

Setelah berjalan jauh kemudian mampir di seberang Rantau Kramas (Rantau Kermas). Kemudian menebang pohon besar dan menyeberang sungai dan tiba di Rantau Kramas. Setelah melakukan “selidik” ke Ranna Alli (renah Alai), didapatkan informasi “berkumpullah” penduduk di Koto Tuggoh (Koto Teguh). 

Tanggal 3 Januari, kemudian terjadi tembakan. Akibat banyak yang sakit dan terluka, pasukan kemudian kembali ke Rantau Kramas. 18 hari kemudian tiba di Sungei Ipu (Sungai Ipuh) dan tanggal 19 Januari tiba di Moco-moco. 

Melihat puzzle buku Barbara dan kemudian dilanjutkan dengna catatan Marsden maka tidak salah kemudian “control” Raja Jambi tidak effektif hingga ke hulu Sungai Batanghari. 

Termasuk ke Sungai Tenang, Serampas dan Kerinci. Ketiga daerah tinggi pegunungan yang sekarang masuk kedalam daerah penyangga Taman Nasional Kerinci Sebelat merupakan daerah otonom yang kuat, effektif berperang secara gerilya dan mandiri didalam perdagangan. Sehingga tidak salah kemudian “kesaktian, keangkeran” ketiga daerah itu menggetarkan Inggeris, Kerajaan Jambi. 

Cerita ini masih ditemukan dari tutur di kampong-kampung dengan penamaan symbol-simbol kepahlawanan. (Penulis Aktivis-Advokad Tinggal di Jambi)

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Redaksi Jambipos Online | KONTAK KAMI | Pedoman Media
Copyright © 1998. Jambipos Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Publiser/Admin Jambipos Online
Proudly powered by Jambipos