Home » , , » Debat Pilkada Muarojambi, Tak Ada Calon Memiliki Program Kongkrit Atasi Infrastruktur

Debat Pilkada Muarojambi, Tak Ada Calon Memiliki Program Kongkrit Atasi Infrastruktur

Written By jambipos-online on Tuesday, January 17, 2017 | 21:08



Empat Cakada Bupati Muarojambi di Pilkada 15 Februari 2017.

Jambipos Online, Jambi-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Muarojambi telah menggelar debat kandidat Calon Kepala Daerah (Cakada) Muarojambi di Gedung Serbaguna Muarojambi, Senin (16/1/2017) malam lalu. Debat kandidat yang dimoderatori presenter TV Nasional, Yaumi Fitri itu berlangsung semu. 

Dari empat pasangan kandidat Cakada Muarojambi tak satupun yang memiliki program kongkrit dalam mengatasi pembangunan infrastruktur di Muarojambi yang selama ini menjadi perhatian serius, jika mereka terpilih pada 15 Februari 2017 mendatang.
Empat pasangan Calon Bupati-Wakil Bupati Muaro Jambi dari kiri ke kanan Abun Yani-Suharyanto, Agustian Mahir-Suswiyanto, Masnah-Bambang Bayu Suseno, Ivan Wirata-Dodi Sularso bersiap melakukan Debat Terbuka Pemilihan Kepala Daerah setempat di Muaro Jambi, Jambi, Senin (16/1/2017) malam. Foto (FB) Wahdi Septiawan.

Dari pengamatan Dekat itu, pada sesi pertama debat, empat pasangan Cakada Muarojambi diberikan kesempatan untuk memaparkan program kerja yang akan dilaksanakan jika terpilih nantinya. Calon independent nomor urut 1, Abun Yani-Suharyanto, dalam pemaparannya menyampaikan salah satu program yang akan mereka laksanakan adalah menyediakan dana Rp 1 miliar untuk satu desa.

“Dalam upaya mempercepat pembangunan, per desa akan kita berikan Rp 1 miliar. Sehingga masyarakat Muarojambi sejahtera,” ujar Abun Yani singkat tanpa menjelaskan bagaimana soal pelaksanaan dana Rp 1 Miliar itu.

Kemudian Abun Yani dan Suharyanto juga akan berupaya menarik investor masuk ke Muarojambi, serta memberantas praktik pungutan liar (pungli). “Kita akan lakukan pemberantasan kebodohan dan pungli, serta menarik investasi baik dari dalam maupun luar,” ujarnya.

Sementara itu pasangan nomor urut 2, Agustian Mahir-Suswiyanto, dalam penyampaian program kerjanya mengatakan, mereka akan mengakomodir semua pihak dalam segala program kerja yang ditawarkan. Selain itu, pasangan ini juga akan berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan perekonomian masyarakat Muarojambi.

Sedangkan pasangan nomor urut 3, Masnah Burso-Bambang Bayu Suseno, menyampaikan jika mereka memiliki program untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di Muarojambi. Kemudian, juga melakukan percepatan pembangunan.

“Kita akan bekerja mengurangi angka kemiskinan, penganguran dan melakukan percepatan pembangunan Muarojambi," kata Masnah.

Terakhir, pasangan nomor urut 4, Ivan Wirata-Dodi Sularso, menyampaikan diantara program mereka adalah peningkatan kawasan pangan. Kemudian, pasangan ini juga akan memberikan bantuan kepada masyaraka secara tepat sasaran.

“Kita tingkatkan SDM masyarakat Muarojambi dengan menyelesaikan program kerja daerah dan masyarakat sejahtera,” tandasnya.

Dari pemaparan program ke empat Paslon Cakada itu, satupun tak ada memberikan penjelasan secara kongkrit soal pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di Muarojambi. Padahal, akses jalan dan jembatan menjadi penyebab utama ketertinggalan pembangunan Muarojambi selama ini.

Hanya Secara Umum

Sementara Dosen Fisipol Universitas Jambi Mochammad Farisi SH LLM mengatakan, bahwa melalui debat ini para netizen dapat melihat dan mempelajari karakter, tampang, kecerdasan dan kemampuan, pengalaman, serta program yang dilontarkan calon. Namun dari pemaparan calon hanya disampaikan secara umum dan singkat tanpa data-data.

“Masyarakat harus aktif mengikuti jalannya debat, untuk mencatat dan memberikan penilaian dari debat tersebut sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan pilihan, apakah calon pantas atau tidak menjadi kepala daerah lima tahuh ke dapan,” katanya.

Menurut Mochammad Farisi, Debat Pilkada dapat diartikan adu argumen antara para calon tentang visi dan misi serta program kerja lima tahun kedapan. Debat yang berkualitas adalah debat yang menyajikan data ilimiah, tidak normatif, tetapi solutif melalui program-program yang masuk akal dengan indikator pencapian yang terukur. 

“Misalnya dalam hal pendidikan, calon harus tahu berapa jumlah TK, SD, SMP, SMA, jumlah guru, bagaimana kualitas guru, kondisi sarana dan prasarana sekolah, kesejahteraan guru, serta segudang permasalahan lainnya, sehingga dapat membuat program solutif disesuaikan dengan kondisi keuangan daerah dengan indikator pencapaian yang terukur ditahun pertama sampai tahun kelima,” ujarnya.

Disebutkan, debat adalah bagian dari kampanye, yang merupakan komunikasi politik untuk merebut hati masyarakat. Untuk itu diperlukan keterampilan berkomunikasi (communication skills), pengetahuan yang mendalam tentang materi/tema, sikap jujur, dan menawan. 

“Dalam konteks komunikasi politik, seorang calon dituntut memiliki daya tarik (attractiveness) untuk mempengaruhi pemilih, misalnya cara berbicara yang sopan, murah senyum, cara berpakaian yang rapi dan postur tubuh yang ideal, hal itu akan menimbulkan daya simpati bagi pemilih pemula khususnya para gadis dan ibu rumah tangga,” katanya.

Keterampilan berkomunikasi dalam istilah politik sering disebut retorika, yaitu teknik atau seni dalam memilih kata-kata yang dapat mempengaruhi khalayak. Pada saat debat, kemampuan beretorika berarti calon harus dapat berbicara jelas supaya mudah dimengerti, singkat untuk menghemat waktu, efektif, dan mengesankan artinya memiliki pengaruh atau efek pada khalayak.

Kata Mochammad Farisi, berdasarkan pengalamnya saat menjadi moderator debat, para calon memiliki waktu sangat terbatas untuk menjelaskan visi dan misinya. Untuk itu, kemampuan beretorika sangat penting dikuasai misalnya; tidak perlu mengatakan yang terhormat bapak A, B, C dan seterusnya, cukup hadirin dan masyarakat yang saya hormati.

Disebutkan, studi-studi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa dabat tidak banyak mempengaruhi pemilih, kecuali bagi massa yang belum menentukan pilihan (undecided atau swing voters). Pada umumnya pemilih telah menetapkan pilihan sebelum dilakukan kampanye, sehingga sebenarnya debat hanya mempertegas pilihan masyarakat saja.

Penilaian siapa yang menang dan kalah debat tergantung para pendukung masing-masing calon. Namun begitu, acara debat pilkada menurut Mochammad Farisi, tetap penting ditradisikan untuk membuat demokrasi Indonesia semakin sehat dan berkuwalitas serta mengetahui bagaimana karakter, integritas dan komitmen masing-masing calon. (JP-03)
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Redaksi Jambipos Online | KONTAK KAMI | Pedoman Media
Copyright © 1998. Jambipos Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Publiser/Admin Jambipos Online
Proudly powered by Jambipos