Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Widget HTML

 


Demo Hanya Memperburuk Kondisi Ekonomi yang Tengah Lesu




Jambipos Online, Jakarta-Yopie Hidayat, kolumnis ekonomi yang juga mantan Juru Bicara Wapres Boediono, menegaskan, saat ini, kondisi ekonomi global tengah dalam kondisi sangat tidak bagus, bahkan bisa dikatakan sudah ‘megap-megap’. 

Dampak bagi Indonesia pun sudah terasa dengan melemahnya nilai tukar Rupiah. Situasi bisa makin memburuk kalau situasi politik tak kunjung stabil seperti maraknya demonstrasi. 

Salah satu penyebab ketidakpastian itu lantaran belum pastinya kebijakan ekonomi Presiden AS Terpilih Donald Trump. Selain itu, pelemahan ekonomi sudah terasa juga di India dan Cina. Kedua negara itu adalah pasar ekspor terbesar Indonesia.

Kata Yopie, ada krisis di luar yang tidak bisa dikendalikan. Situasinya akan makin runyam jika ditambah demo yang tidak berkesudahan.  "Pergulatan politik dengan pengerahan massa akan memperburuk persepsi tentang keamanan dan stabilitas. Ini akan melemahkan kesiapan menghadapi krisis," tegas Yopie, dalam diskusi publik  ‘Dampak Ekonomi Demo 411’ yang diselenggarakan pada Rabu (30/11) di Warung Daun, Jakarta Pusat.

Yopie menambahkan, ada tiga sumber gejolak dunia dalam dua minggu terakhir, yakni Bunga The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat) naik, kelesuan di negara berkembang, terutama Republik Rakyat Tiongkok, hingga terpilihnya Donald Trump. 

Belum lagi, ditambah aliran dolar keluar semakin kencang meninggalkan pasar finansial negara berkembang.  "Dana-dana yang selama ini tinggal di negara berkembang, mulai mengalir kembali dengan kencang," tegas Yopie.

Efeknya, harga saham di seluruh dunia terkenda dampaknya, terutama pasar negara berkembang. Ancaman lain, “Gunung utang di perusahaan swasta juga siap longsor dan memicu krisis global," ucapnya.

Saat ini cadangan devisa Indonesia memang masih memadai, tapi masalah akan muncul jika arus deras keluarnya dolar tidak berhenti. Krisis dalam skala global tidak akan tertahan dengan cadangan devisa sekuat apa pun.

"Krisis ke Indonesia, penularannya bisa lewat banyak pintu. Salah satunya, pasar obligasi. Naiknya yield dampaknya pasti pada beban utang yang naik. Ini juga juga kepercayaan kepada RI, apakah termasuk country risk. Di sini, kita secara terbuka dibandingkan dengan negara lain,” terang Yopie.

Jika kondisi politik ekonomi tidak stabil, demo terus berkelanjutan, bukan tidak mungkin rupiah ikut terpukul, meskipun relatif lunak jika dibandingkan dengan mata uang negara berkembang lain. Namun, efek positif amnesti pajak sudah ternetralisir bahkan sudah hilang. Repatriasi aset yang mestinya berlangsung pada akhir tahun ini bisa gagal.

“Ngapain juga repatriasi karena kalau dipulangkan, kondisi di dalam negeri juga tidak pasti. Pergulatan politik dengan pengerahan massa akan memperburuk persepsi tentang keamanan dan stabilitas melemahkan kesiapan menghadapi krisis," tegasnya.

Pembicara lain, Tito Rizal menambahkan, kerugian akibat demo ditaksir mencapai Rp4 triliun. Dihitung dari jumlah toko yang tutup di pusat perbelanjaan yang mencapai 20 ribu toko dengan omzet minimal Rp25 juta per toko.

Belum lagi, berbagai agenda bisnis, pertemuan, dan operasional perkantoran di kawasan pusat bisnis tutup, terutama dekat istana.

"Pusat perdagangan seperti Tanah Abang, Glodok, Mangga Dua, Pasar Pagi, ITC, sebagaian besar tutup. Transaksi distribusi barang juga tertunda, dengan taksiran kerugian Rp1,6 triliun. Kemudian, penjaga toko, karyawan konveksi, buruh angkut, mencapai 150 ribu orang terpaksa diliburkan," tegas alumni Universitas Kebangsaan Malaysia ini.

Dari sisi investasi, akibat demo dan tidak ada kepastian hukum, terkait kasus sangkaan kasus penistaan agama yang dilakukan Calon Gubernur Petahana Basuki Tjahja Purnama, berdampak negatif terhadap penundaan masuknya dana investasi USD4,17 miliar. Juga ada daerah yang rencana investasinya terhambat.  Rinciannya, Jawa Timur USD182 juta, Jawa Tengah USD73 juta, Jawa Barat USD217 juta, dan Banten USD111 juta.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat menambahkan, di tengah kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih saat ini, jika ada aksi unjuk rasa yang terus terjadi, tak bisa dipungkiri dapat menganggu perekonomian.

“Berkaca pada 4 November lalu, dimana banyak kinerja industri yang terganggu. Demo pada 4 November lalu melahirkan kekhawatiran dan menimbulkan efek trauma sangat besar," ujar Ade Sudrajat.

Ia menjelaskan, saat ini, hampir semua pedagang ritel kini tidak mau beli barang berlebih. Tidak mau menyimpan stok dan hanya membeli sesuai permintaan pasar saja.   Ia juga mengingatkan, satu polisi dalam demo harus mengawasi hingga 1.000 pendemo, sehingga jaminan keamanan tidak dapat dipastikan.

“Pengusaha tidak bisa memegang jaminan keamanan. Akan selalu ada penumpang gelap, baik unsur ekonomi dan politik, dalam setiap demonstrasi,” tegas Ade.

Ia menegaskan, jangankan isu demo esok hari, saat ini tiket pesawat untuk penerbangan ke luar negeri bahkan sudah habis dipesan. Hal ini imbas adanya isu rencana aksi 25 November mendatang.

"Jangankan yang besok. Yang masih jauh hari, katanya 25 November mau ada demo saja sudah direspons. Tiket pesawat ke luar negeri ke Singapura, ke Malaysia dan lain-lain itu sudah full booked. Karena, isu yang diangkat ini terlalu banyak dan justru menjadi simpang siur. Jelas membaut pengusaha menjadi takut, was-was,” katanya.

Untuk itu minta agar unjuk rasa tidak terus dilakukan atau paling tidak berlangsung damai agar tidak memberi dampak jauh terhadap ekonomi.  “Tidak ada alasan kuat untuk terus melakukan unjuk rasa.  Apalagi, proses hukum terhadap Ahok sudah berjalan,” tegasnya. 

Ade menyatakan, sekitar 100 ribu pengusaha diperkirakan akan keluar Jakarta jelang 2 Desember. Bahkan saat ini para pengusaha tersebut mulai meninggalkan ibu kota. "Mereka ambil sikap keluar dari Jakarta, ada sekitar 100 ribu pengusaha. Sekarang sudah ada yang jalan," ujar dia. 

Dia menyatakan, para pengusaha tersebut pergi ke daerah-daerah yang relatif lebih tenang dan tidak memiliki potensi kerusuhan pada 2
Desember mendatang. Bahkan ada juga yang pergi keluar negeri. Pengusaha memilih tidak di Jakarta, ke Bali, Manado, Jogja, yang relatif tidak terjadi kerusuhan. Ada juga yang keluar negeri ke seperti ke Singapura. 

"Mereka wait and see. Mereka persiapkan 15 hari-20 hari. Tapi kalau 1 hari ini beres mereka kembali lebih cepat untuk kembali beraktivitas. Karena bunga kredit itu tinggi kalau usaha mereka lama tidak jalan? bagaimana," tandas dia. (Rel)

Berita Lainnya

Posting Komentar

0 Komentar