Home » , » Gubernur dan Walikota Jambi No Coment Soal Kebijakan Mendikbud: 'Full Day School'

Gubernur dan Walikota Jambi No Coment Soal Kebijakan Mendikbud: 'Full Day School'

Written By jambipos-online on Tuesday, August 9, 2016 | 8:13 AM

Mendikbud: 'Full Day School' Terinpirasi dari Sekolah Swasta
Seorang anak sekolah Madrasah Ibtidaiyah berusaha menyeberangi sungai di Desa Mangepong, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Rabu (10/2). Konsep full day school akan mempertimbangkan aspek geografis, kondisi sosial, dan kebutuhan siswa setiap daerah. (FOTO ANTARA/Jojon)
Jambipos Online, Jambi-Gubernur Jambi H Zumi Zola dan Walikota Jambi Sy Fasha tampaknya belum mau berkomentar soal kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy "Full Say School" . Bahkan kepala daerah di Provinsi Jambi memilih no coment soal kebijakan itu.
 
Sementara Muhadiir Effendy mengakui gagasannya mengenai penambahan jam belajar anak di sekolah atau full day school (FDS), ia dapat dari sekolah-sekolah terutama sekolah swasta yang telah lebih dulu terapkan konsep tersebut.

Muhadjir berpendapat penerapan FDS di sekolah swasta dapat menjadi rujukan atau acuan implementasi FDS di sekolah-sekolah negeri dan umum lainnya, dengan tetap mempertimbangkan kondisi sosial dan geografis setiap daerah. Dari pertimbangan itu nantinya dapat dilihat daerah mana saja yang memungkinkan sistem pembelajaran tersebut diterapkan.

”Kami punya badan penelitian dan pengembangan (litbang) yang nanti akan mengkaji lebih lanjut agar penerapan konsep FDS bisa optimal. Ada juga rujukan best practice dari sekolah swasta yang sudah lebih dulu menerapkan sistem pembelajaran ini," ujar Muhadjir kepada CNNIndonesia.com pada Senin (8/8) malam.Muhadjir mengatakan, penambahan jam pelajaran siswa tak melulu berarti menambahkan bobot belajar siswa di dalam kelas. Konsep FDS ini justru diterapkan dengan tujuan memberikan ruang dan suasana belajar yang berbeda di sekolah, yang diharapkan bisa lebih menyenangkan. 

Tambahan jam pelajaran juga bisa digunakan pihak sekolah untuk mengoptimalkan pendidikan co-curricular (ekstra kurikuler). Yaitu pendidikan pelengkap di luar pendidikan pokok (akademis) yang lebih mengacu pada pengalaman belajar (learning experiences), seperti memperdalam ilmu agama, pendidikan budaya, bahasa asing, dan sebagainya.

Meski demikian, kata Muhadjir, konsep FDS tidak akan begitu saja diterapkan di sekolah-sekolah. Penerapan FDS akan disesuaikan juga dengan kebutuhan siswa dan kearifan lokal yang dimiliki masing-masing daerah. 

Bahkan, tutur Muhadjir, permainan dan budaya lokal disematkan untuk mengisi tambahan jam pelajaran ini. Siswa menjadi tidak hanya fokus mengembangkan potensi diri tapi juga memperkuat kepribadian budaya mereka.

"Misalnya di daerah mana saja yang orangtuanya sibuk, sehingga tidak punya banyak waktu di rumah, daerah itu cocok untuk terapkan konsep FDS ini," ucap Muhadjir.Usulan konsep FDS ini, kata Muhadjir, sesuai dengan arahan Presiden Jokowi untuk memperkuat pendidikan kakarter dalam sistem pembelajaran anak didik di sekolah. Dengan adanya tambahan jam pelajaran, sistem pembelajaran sekolah tidak hanya terfokus pada pendidikan pengetahuan, tapi juga bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan karakter anak.

Muhadjir menyatakan, bobot pendidikan karakter untuk tingkat sekolah dasar (SD) sekitar 80 persen dan tingkat menengah pertama (SMP) sekitar 60 persen. "Karena itu menurut kami yang paling tepat adalah perpanjang waktu anak di sekolah," katanya.

Membuat Anak Terasing

Sementara itu, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menyatakan, konsep FDS belum terjamin efektifitasnya jika diterapkan di seluruh wilayah Indonesia, khususnya sekolah di daerah.

Menurut Muhaimin, masih banyak sarana dan prasarana termasuk infrastruktur sekolah di daerah yang belum memadai jika harus menerapkan konsep FDS. 

Masih banyak sekolah yang belum layak sebagai lingkungan belajar yang nyaman apalagi jika harus menghabiskan waktu lebih banyak di sekolah. Begitu pula soal kualitas, kuantitas, dan disribusi guru/tenaga pendidik yang belum merata. 

"Jangankan nyaman bahkan hanya sebagai tempat sekedar berkumpul pun (banyak sekolah) sudah tidak aman," kata Muhaimin.Menurut Muhaimin, kebijakan ini berpotensi membuat kejenuhan peserta didik dan memisahkan mereka dari kehidupan sosial di luar lingkungan sekolah. Ia menyatakan, pendidikan sekolah seharusnya tidak membebani anak-anak serta guru-guru secara berlebihan.

Muhadjir sebelumnya menyampaikan gagasan full day school untuk pendidikan dasar yaitu SD dan SMP untuk sekolah negeri dan swasta. Gagasan ini diajukan agar anak memiliki kegiatan di sekolah dibanding berada sendirian di rumah ketika orang tua masih bekerja.

"Dengan sistem full day school secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja," kata Muhadjir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (7/8).

Menurut Muhadjir, menambah waktu anak di sekolah membuat siswa bisa menyelesaikan tugas dan mengaji hingga dijemput orang tua usai jam kerja. 

Sistem Full Day School, Apa Ini?


Mendikbud Usulkan Sistem Full Day School, Apa Ini?Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Muhadjir Effendy mengusulkan sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta. Tujuannya agar anak tidak sendiri ketika orang tua mereka masih bekerja.

"Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja," kata Mendikbud di Malang, Minggu (7/8). 

Menurut Muhadjir, seperti dilansir Antara, kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah atau mengaji sampai dijemput orang tuanya usai jam kerja. Dan, anak-anak bisa pulang bersama-sama orang tua mereka, sehingga ketika berada di rumah, mereka tetap dalam pengawasan, khususnya orang tua.

Untuk mengaji, katanya, pihak sekolah bisa memanggil guru ngaji atau ustaz yang sudah diketahui latar belakang dan rekam jejaknya. Tetapi kalau mereka mengaji di luar, dikhawatirkan ada yang mengajarkan hal-hal yang menyimpang dari Islam.

Menyinggung penerapan full day school bagi pendidikan dasar tersebut, mantan Rektor UMM itu mengatakan saat ini masih terus dilakukan sosialisasi di sekolah-sekolah, mulai di pusat hingga di daerah.

"Nantinya memang harus ada payung hukumnya, yakni peraturan menteri (Permen), tapi untuk saat ini masih sosialisasi terlebih dahulu secara intensif,".

Akan Menambah Beban Guru


Kebijakan 'Full Day School' Akan Menambah Beban Guru Pengamat Pendidikan sekaligus Kordinator Pusat Studi Pendidikan Dan Kebijakan (PSPK) Ifa H Misbach menyatakan, usulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait penambahan jam pelajaran anak di sekolah atau konsep full day school tak serta merta meningkatkan mutu pendidikan anak di sekolah.

Menurut Ifa, sekolah bukan menjadi satu-satunya tempat untuk mengembangkan karakter dan pendidikan anak. Jutru, anak-anak sekolah juga perlu terjun lamgsung ke lingkungan masyarakat dalam hal pengembangan karakternya. 

"Anak-anak juga harus diberi kesempatan untuk bergaul di lingkungan luar sekolah. Mereka bisa belajar magang di panti asuhan atau panti jompo kan untuk kembangan nilai sosialnya," ujar Ifa kepada CNNIndonesia.com pada Senin (8/8).Menurut Ifa, sebelum menerapkan kebijakan pendidikan, pemerintah seharusnya bisa mempertimbangkan dan mendasari rencana kebijakannya berdasarkan hasil data dan riset di lapangan. Pemerintah harus benar-benar mengetahui apa permasalahan yang muncul dan dihadapi siswa selama ini terkait pembelajaran di sekolah.

Selain itu, Ifa menuturkan, pemerintah juga harus bisa memikirkan beban yang ada pada guru jika usulan full day school ini diterapkan. Apalagi kementerian juga menerapkan sistem pembelajaran tatap muka selama 24 jam setiap minggunya yang harus dipenuhi guru. 

"Sebelum Mendikbud memberikan usulan atau pernyataan, pelajari dulu seperti apa perkembangan kebijakan yang sudah berlangsung. Rencana kebijakan tidak hanya mempengaruhi siswa tapi juga beban kerja guru," kata Ifa.

Pelaksana Tugas Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rasidi menyatakan rencana kebijakan full day school akan menambah beban baru sementara kebijakan pembelajaran tatap muka 24 jam selama seminggu sudah menyulitkan guru-guru di sekolah.

"Kami tidak menolak (konsep full day school), hanya saja perlu diperhatikan juga beban guru ke depannya jika ini diterapkan," kata Unifah.

Jangan Bikin Anak Stres


Gubernur Ganjar: 'Full Day School', Jangan Bikin Anak Stres

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengusulkan adanya kajian komprehensif terhadap sistem belajar sehari penuh atau full day school seperti yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. Kajian ini diperlukan guna menghindari terjadinya polemik di masyarakat.

"Saya ingin agar kajiannya lebih komprehensif, dan buat saya syaratnya satu saja, sekolah harus menyenangkan, jangan sampai mereka (anak didik) tertekan atau stres," kata Ganjar di Semarang, Senin (8/8) seperti dilaporkan Antara. 

Menurut Ganjar, sistem belajar di sekolah seperti full day school itu mendekati sistem sekolah lima hari dalam sepekan dengan harapan pada akhir pekan bisa berinteraksi antaranggota keluarga.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu mengungkapkan bahwa ada muncul permasalahan mengenai transportasi terkait dengan penetapan full day school dan lima hari sekolah.

"Kalau di desa akan muncul permasalahan mengenai transportasi, kalau di perkotaan sangat bisa diterapkan, sudah saya evaluasi soalnya," ujarnya.Oleh karena itu, kata Ganjar, sistem belajar full day school harus diujicobakan di beberapa sekolah jika pemerintah ingin menerapkannya.

Mendikbud Muhadjir Effendy menggagas pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta, menggunakan sistem full day school agar anak tidak sendiri ketika orang tua mereka masih bekerja.

"Dengan sistem 'full day school' ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja," katanya di Malang, Minggu (7/8).

Menurut Muhadjir, kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan mengaji sampai dijemput orang tuanya usai jam kerja.

"Dan, anak-anak bisa pulang bersama-sama orang tua mereka, sehingga ketika berada di rumah, mereka tetap dalam pengawasan, khususnya orang tua," katanya.

Menyinggung penerapan full day school bagi pendidikan dasar tersebut, mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu mengatakan saat ini masih terus dilakukan sosialisasi di sekolah-sekolah, mulai di pusat hingga di daerah.

"Nantinya memang harus ada payung hukumnya, yakni peraturan menteri, tapi untuk saat ini masih sosialisasi terlebih dahulu secara intensif," ujarnya.

Sementara itu, pengamat pendidikan Arief Rachman menyatakan, menyatakan setuju atas gagasan sekolah sepanjang hari (full day school). Gagasan itu dianggap membawa sejumlah nilai positif, dengan catatan manajemen harus baik dengan indikator keberhasilan yang jelas.

Sejumlah nilai positif yang dimaksud Arief yaitu siswa betah di sekolah karena merasa mendapat pelajaran bermutu; guru memiliki banyak waktu untuk melakukan observasi perilaku, spiritual, intelektual, emosional, jasmani, dan sosial siswa; fasilitas tidak mubazir.

“Selain itu, anak juga punya banyak waktu untuk bergaul dengan teman sebaya. Perlu diketahui, kepribadian anak itu muncul bukan hanya dari pelajaran sekolah, tetapi juga dari pergaulan sosial mereka,” ujar Arief ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (8/8). (*)



Sumber: CNNIndonesia.com

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Redaksi Jambi Pos | KONTAK KAMI | Pedoman Media
Copyright © 1998. JAMBIPOS ONLINE - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Admin Jambipos Online
Proudly powered by Jambipos