![]() |
| Kehadiran Ketua DPRD Kota Jambi Kemas Faried Alfarelly dalam apel pagi di Kantor Kecamatan Telanaipura bukan sekadar agenda seremonial yang dihadiri, difoto, lalu dilupakan, Senin (6/4/2026). |
Jambipos Online, Jambi - Kehadiran Ketua DPRD Kota Jambi Kemas Faried Alfarelly dalam apel pagi di Kantor Kecamatan Telanaipura bukan sekadar agenda seremonial yang dihadiri, difoto, lalu dilupakan, Senin (6/4/2026). Di balik penekanan soal disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN), terselip pesan politik yang lebih dalam: kualitas pelayanan publik di Kota Jambi sedang berada dalam sorotan.
Dalam arahannya, Ketua DPRD Kota Jambi Kemas Faried Alfarelly menegaskan bahwa disiplin ASN adalah fondasi utama pelayanan. Pernyataan ini terdengar klasik, hampir seperti kaset lama yang diputar ulang. Namun justru di situlah masalahnya. Jika pesan yang sama terus diulang, berarti persoalan yang dihadapi juga belum benar-benar selesai.
Dalam perspektif kebijakan publik, disiplin ASN bukan hanya soal kehadiran atau kepatuhan administratif. Ini adalah persoalan budaya kerja. Ketika disiplin harus terus diingatkan oleh pimpinan legislatif, muncul pertanyaan yang agak mengganggu, apakah sistem pengawasan internal sudah berjalan efektif, atau hanya aktif saat ada “kunjungan penting”?
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Telanaipura, tetapi juga mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam birokrasi daerah. ASN sering berada di persimpangan antara profesionalisme dan kenyamanan zona aman, apalagi dalam struktur yang kadang masih dipengaruhi relasi kekuasaan.
Pesan Politik di Balik Apel
Kehadiran pimpinan DPRD dalam apel ASN juga membawa dimensi politik tersendiri. Secara formal, ini adalah bentuk pengawasan dan dukungan terhadap eksekutif. Namun secara substansi, ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa legislatif ingin memastikan birokrasi berjalan selaras dengan ekspektasi publik.
Dalam konteks ini, langkah Kemas Faried Alfarelly bisa dipandang sebagai upaya membangun citra pengawasan aktif sekaligus memperkuat legitimasi politik sebagai wakil rakyat yang peduli pada kualitas layanan.
Ya, politik memang jarang polos. Bahkan apel pagi pun bisa punya lapisan makna. Apel tersebut juga disebut sebagai ajang silaturahmi antara pimpinan dan ASN. Di satu sisi, ini penting untuk membangun komunikasi yang harmonis. Tapi di sisi lain, dalam dinamika pemerintahan daerah, silaturahmi juga sering menjadi ruang konsolidasi informal.
Hubungan yang terlalu formal menciptakan jarak. Tapi hubungan yang terlalu cair juga berisiko mengaburkan batas profesionalisme. Di sinilah keseimbangan diuji.
Tantangan Nyata
Yang sering terjadi, dan ini bukan rahasia negara, adalah berhentinya semua semangat di level narasi. Apel selesai, foto diunggah, berita terbit, lalu sistem kembali ke kebiasaan lama.
Padahal, jika disiplin benar-benar ingin ditegakkan, dibutuhkan langkah konkret, evaluasi kinerja berbasis indikator yang jelas. Pengawasan internal yang konsisten, bukan musiman. Sanksi dan penghargaan yang benar-benar diterapkan
Tanpa itu, pesan disiplin hanya akan jadi dekorasi retoris yang indah tapi tidak berdampak. Apel pagi di Telanaipura menjadi cermin kecil dari persoalan besar birokrasi daerah. Penegasan disiplin oleh Kemas Faried Alfarelly adalah langkah penting, tetapi belum cukup.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak menilai dari seberapa tegas pidato pejabat, melainkan dari seberapa cepat urusan mereka selesai tanpa dipersulit.
Dan jujur saja, warga tidak peduli kamu apel tiap pagi atau tidak. Mereka cuma ingin dilayani dengan baik. Sederhana, tapi entah kenapa masih terasa seperti target ambisius di banyak tempat.(JPO-AsenkLeeSaragih)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
0 Komentar
Komentar Dilarang Melanggar UU ITE