Home » , , » Ratna Sarumpaet: Kali Ini Saya Pencipta Hoax Terbaik

Ratna Sarumpaet: Kali Ini Saya Pencipta Hoax Terbaik

Written By jambipos-online on Kamis, 04 Oktober 2018 | 12:21

Ratna Sarumpaet (kanan) bertemu politikus Partai Gerindra Fadli Zon 2 Oktober 2018 untuk melaporkan penganiayaan yang menimpa dirinya. ( Foto: @fadlizon )

Awalnya kisah itu hanya jadi konsumsi di keluarga hingga banyak tokoh seperti Prabowo Subianto dan Amien Rais termakan bualannya. Ratna memang mengalami lebam di wajahnya namun bukan karena dipukuli tetapi akibat menjalani operasi sedot lemak.

Jambipos Online, Jakarta- Aktivis kawakan Ratna Sarumpaet mengatakan bahwa kisah penganiayaan yang dialaminya hingga menjadi bahan perbincangan di media sosial merupakan produk hoax yang diciptakannya sendiri.

Awalnya kisah itu hanya jadi konsumsi di keluarga hingga banyak tokoh seperti Prabowo Subianto dan Amien Rais termakan bualannya. Ratna adalah salah satu juru kampanye untuk pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019. 

"Kali ini saya pencipta hoax terbaik," kata Ratna saat memberi klarifikasi di kediamannya, di Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Ratna menjelaskan dirinya memang mengalami lebam di wajahnya namun bukan karena dipukuli orang tetapi akibat menjalani operasi sedot lemak di area pipi kiri dan pipi kanan di daerah Menteng, Jakpus, akhir September yang lalu.

"Bohong itu adalah perbuatan yang salah," ujarnya.

Saat memberi klarifikasi Ratna terus terisak karena terbebani banyaknya tokoh nasional yang mengecam peristiwa yang dialaminya. Padahal kisah yang disampaikannya adalah cerita bohong. Dalam cerita yang beredar dikisahkan bahwa Ratna dianiaya seusai mengikuti forum di Bandung, Jabar. "Jadi itu yang terjadi. Tidak ada penganiayaan," katanya.

Pandangan Psikolog Klinis

Aktivis Ratna Sarumpaet (tengah), memberikan klarifikasi terkait pemberitaan penganiyaan terhadap dirinya di Kediaman Ratna Sarumpaet, Kawasan Bukit Duri, Jakarta, Rabu 3 Oktober 2018. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao / SP/Joanito De Saojoao )

Kebohongan Ratna terjadi bisa karena kekhawatiran mengenai asal dana operasi plastik. Ratna juga dapat memanfaatkan kondisi pasca operasi untuk menarik perhatian atau memiliki maksud lainnya.

Pembicaraan Ratna Sarumpaet mendadak menjadi trending topic warganet di jagat Twitter, terutama dengan topik #SaveRioDewanto, #ratnasarumpaet, #KebohonganRatna, hingga #operasiplastik. Beragam cuitan membanjiri hashtags tersebut.

Psikolog klinis dan forensik Kasandra Putranto melihat bahwa kasus kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet itu belum bisa dideteksi lebih lanjut.

"Apakah ia khawatir mengenai persepsi mengenai oplas dan asal dananya, terutama dalam kondisi Indonesia tengah berduka pasca tragedi Toba, Lombok, dan Palu. Apakah memang ada intensi untuk memanfaatkan kondisi lebam untuk tujuan tertentu. Atau ia ingin mendapatkan perhatian," ungkap Kasandra, Rabu (3/10/2018).

Pemilik lembaga konsultasi psikologi Kasandra & Associates itu menyebutkan bahwa kemungkinan-kemungkinan tersebut mesti ditelusuri terlebih dahulu berdasarkan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan dan nantinya akan diketahui dari hasil penyidikan.

"Kebohongan publik adalah pelanggaran nilai moral yang berpotensi meningkat menjadi pelanggaran norma hukum. Apalagi, bila hal tersebut dilakukan dengan sengaja untuk membangun persepsi tertentu. Hal itu berdampak sangat luar biasa di kala Indonesia sedang sensitif dalam kondisi pascatragedi Toba, Lombok, dan Palu," terang psikolog alumnus Universitas Indonesia.

Menurut Kasandra, pelaku kebohongan ini memiliki konsekuensi terhadap hancurnya imej, sanksi sosial hingga hukum.

"Berbohong tidak ada yang baik, white lies sekali pun. Termasuk menunda, menahan informasi dengan sengaja sampai memanipulasi informasi. Kecuali dengan tujuan melindungi nyawa dan kondisi psikologis seseorang," tegas psikolog kelahiran 17 Februari ini.

Menurut Kasandra, berbohong dalam konteks yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet ini adalalah kembalikan citranya. "Melakukan permohonan maaf secara tulus, menerima segala konsekuensi dengan lapang dada, dan melakukan perubahan perilaku secara konsisten dengan komitmen untuk tidak melakukannya lagi," pungkasnya.(*)

Sumber: BeritaSatu.com
Share this article :

Posting Komentar