Home » , » Gerakan Membangun SDM Petani Dan Urgensinya Regenerasi Petani di Indonesia

Gerakan Membangun SDM Petani Dan Urgensinya Regenerasi Petani di Indonesia

Written By jambipos-online on Senin, 25 Juni 2018 | 09:30

Gerakan Membangun SDM Petani Dan Urgensinya Regenerasi Petani di Indonesia
Oleh: Tonny Saritua Purba

Jambipos Online-Generasi muda sekarang ini, sudah enggan bertani, melakukan eksodus meninggalkan daerah pedesaan menuju kota-kota besar, untuk kuliah atau mengadu nasib mencari rejeki pada sektor non pertanian. Para Sarjana Pertanian juga jarang sekali yang kembali ke kampung halamannya  untuk mempraktekkan ilmu pengetahuannya secara langsung sebagai petani. Artinya apa ? Fenomena saat ini yang terjadi adalah  sektor pertanian di pedesaan sekarang ini hanya digeluti oleh orang-orang tua dan para pensiunan saja.

Data BPS, menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun ini  jumlah rumah tangga petani di Indonesia berkurang sebanyak 5 juta.  Data sensus pertanian juga menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2010-2014, jumlah petani di Indonesia terus menyusut, tercatat sekitar tiga juta tenaga kerja yang rela keluar dari sektor pertanian.  

Data-data ini memberikan gambaran yang jelas bagaimana sektor pertanian ditinggalkan secara tajam oleh para petani, yang dapat dipastikan adalah para orang muda.

Ada hal yang sangat menarik ketika saya melakukan penyuluhan di Bulan Juni tahun 2018 kepada para petani padi di tiga Desa yaitu tepatnya di Kecamatan Pubian dan Gunung Sugih di Kabupaten Lampung Tengah  dan di satu Desa di Kabupaten Simalungun. 

Saya melakukan Gerakan Membangun SDM Petani Indonesia berupa penyuluhan beberapa hal kepada petani seperti mengenai kesuburan tanah, cara membuat Pupuk Hayati Majemuk dan cara membuat Pupuk Kcl organik. 

Salah satu petani binaan kami di salah satu desa di Kecamatan Pubian, saya sempat berdiskusi kepada salah satu petani yang masih muda berumur 25 tahun, setelah dia lulus kuliah dan mendapatkan gelar Sarjana Pertanian dari salah satu Perguruan Tinggi di Jogyakarta, pada saat itu dimana  teman-temannya yang tinggal di perantauan sedang mencari kerja dan melamar pekerjaan tapi dia malah pulang ke kampung halamannya di Lampung Tengah.

Saat saya mewawancarai petani muda tersebut, dia bercerita kepada saya bahwa sebelum dia pulang ke kampung halaman,  dia sempat berdiskusi dengan teman-temannya yang juga sudah selesai kuliah dan sudah mendapatkan gelar Sarjana Pertanian. 

Dominan teman-temannya mengatakan percuma kita pulang kampung jika sudah Sarjana, sudah lama merantau, kuliah sampai 5 tahun tetapi harus pulang kampung padahal untuk mendapatkan pekerjaan di kota sangat besar sekali peluangnya. 

Tapi apa yang dilakukan oleh petani muda tersebut ? Dia tetap pulang kampung dan mulai mengaplikasikan ilmu bertaninya yang sudah di dapatkan saat kuliah dulu.  

Dia mulai menanam sayur kangkung dan genjer, mengapa menanam komoditi tersebut? Karena jika menanam sayur kangkung karena permintaan masyarakat sangat tinggi, umur tanaman relatif singkat hanya berumur 25 hari sudah bisa dipanen, jika dilakukan rotasi tanaman dengan interval waktu per 2-3 hari maka setelah 3 minggu bisa panen setiap hari dan menurut petani muda tersebut bisa dijadikan sebagai penghasilan harian.

Dia juga menanam cabe, setelah tanaman cabe berumur 4 bulan bisa dipanen setiap minggu, dijadikan sebagai penghasilan mingguan, dia juga tidak lupa untuk selalu menanam padi karena beras adalah makanan pokok di NKRI. 

Di samping bertani, dia juga memiliki beberapa ekor sapi, dia berfikir bahwa selain harga daging sapi tinggi,  kotoran hewan sapi juga bisa dijadikan pupuk kandang. 

Apa yang sudah saya ajarkan salah satunya adalah cara membiakkan bakteri pengurai (decomposer) bahwa kotoran hewan sapi bisa difermentasikan selama 21 hari dengan memberikan decomposer agar kotoran hewan sapi tersebut berubah menjadi pupuk kandang, pupuk kandang sebagai penyubur tanah dan yang utama adalah secara perlahan SDM petani bisa meningkat, meminimalisir ketergantungan produk dari pabrikasi dan mentalitas konsumtif petani juga bisa dirubah menjadi mentalitas proses.

Setelah petani muda tersebut bertani selama 2 tahun, usia masih muda, belum menikah tetapi sudah memiliki penghasilan harian, mingguan, bulanaan bahkan per 3 bulan. Saat ini dia sudah mampu membeli sepeda motor secara tunai. 

Petani muda tersebut juga bercerita kepada saya bahwa teman-teman kuliahnya yang memiliki gelar Sarjana Pertanian yang masih merantau di Kota masih banyak yang belum bekerja, jika sudah ada yanag bekerja juga belum memiliki apa-apa karena gaji setiap bulan yang didapatkan habis untuk membayar kontrakan dan biaya hidup sehari-hari. 

Cerita tersebut adalah sebuah kisah nyata saat saya melakukan penyukuhan dan berkunjung ke desa binaan kami, saya temukan di sebuah Desa di Lampung Tengah, artinya apa ? 

Bertani mampu memberikan penghasilan, kesejahteraan kepada generasi muda di NKRI apalagi jika generasi muda yang ada sudah kuliah di Fakultas Pertanian dan sudah mendapatkan gelar Sarjana Pertanian, jangan ragu untuk pulang kampung, mari kita bangun dunia pertanian yang saat ini sudah sangat tertinggal jauh, agar swasembada pangan bisa kita raih kembali dan yang utama adalah bertani mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan optimis profesi petani mampu sejahtera. Salam Tani. (Penulis Adalah-Penyuluh Swadaya Petani Padi Indonesia)

Share this article :

Posting Komentar