Home » , , , , » Sebanyak 80 Persen Kasus Kekerasan Dialami Anak Perempuan di Jambi

Sebanyak 80 Persen Kasus Kekerasan Dialami Anak Perempuan di Jambi

Written By jambipos-online on Jumat, 09 Maret 2018 | 00:42

Hari Perempuan Internasional, Aksi Save Our Sisters Jambi 
Aksi Save Our Sisters Jambi itu menarik perhatian banyak orang dengan senam One Bilion Rising bersama di Simpang BI, Telanaipura, Kota Jambi, Kamis (8/3/2018). NuansaJambi
Jambipos Online, JambiIda Zubaida, Inisiator Save Our Sisters di Jambi mengatakan, berdasarkan data P2TP2A Provinsi Jambi, pengaduan tindak kekerasan mencapai 114 kasus pada tahun 2016, menurun pada tahun 2017 sebanyak 106 kasus. 

Akumulasi kasus kekerasan sepanjang tahun 2016-2018, 80% diantaranya adalah kasus terhadap anak terutama anak perempuan. Profil pelaku sebagian besar berasal dari orang dekat, seperti ayah, kakak, sepupu, teman dekat, dan tetangga.

Hal itu terungkap saat puluhan aktivis perempuan yang tergabung dalam Save Our Sisters Jambi melakukan aksi damai lawan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Aksi Save Our Sisters Jambi itu menarik perhatian banyak orang dengan senam One Bilion Rising bersama di Simpang BI, Telanaipura, Kota Jambi, Kamis (8/3/2018).

Senam One Bilion Rising atau jika disingkat menjadi OBR, adalah sebuah bentuk ekspresi kaum perempuan sebagai simbol perlawan segala bentuk penindasan terhadap mereka. Lahirnya momentum Hari Perempuan Internasional (HPI), juga berkaitan erat dengan lahirnya gerakan buruh perempuan di Amerika.

Maka momentum inilah yang diperingati setiap satu tahun sekali di seluruh dunia. Sama halnya di Jambi, SoS Jambi yang meliputi berbagai kalangan masyarakat juga memperingati HPI dalam bentuk aksi damai.

Usai senam bersama, massa aksi long marc menuju kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi.

Di depan kantor P2TP2A mereka menyampaikan beberapa tuntutan, terutama persoalan yang paling bersentuhan dengan lembaga bentukan pemerintah tersebut.

Ida Zubaida, salah satu inisiator SoS Jambi mengatakan, bahwa semakin meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jambi, salah satu faktor terbesarnya karena minim fasilitas pelayanan di kota maupun di desa. SoS meminta agar P2TP2A Jambi meningkatkan pelayanan hingga ke pelosok-pelosok Desa yang ada di Jambi.

“Belajar dari kasus Wahono yang hanya dihukum satu tahun, kami menilai bahwa masih lemah jangkauan pelayanan di kota. Padahal, presiden Jokowi sudah memberi intruksi hukum berat pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Kita ingin pemberdayaan perempuan juga meningkatkan pelayanan,” ujarnya.

Sementara Rika Oktavia, Kabid Pemberdayaan Perempuan P2TP2A Provinsi Jambi, tidak dapat menyangkal apa yang disampaikan demonstran. Dirinya mengatakan bahwa pihaknya mendukung dan mengapresiasi aksi tersebut.

Dia juga menyampaikan jika dalam tahun ini akan mendorong Peraturan Daerah Provinsi Jambi yang mengatur tentang Perlindungan Perempuan dan Anak.

“Semua kita menginginkan adanya perbaikan bagi perlindungan perempuan dan anak. Tolong bantu kami untuk menggiring kami membuat perda perlindungan perempuan dan anak. Kami sadari kami tidak bisa sendiri. Apa pun bentuk aksinya saya sangat menghargai dan mengapresiasi,” tutur Rika.

Selanjutnya di Gedung DPRD Provinsi Jambi, SoS mendesak agar Dewan Perwakilan Rakyat segera mengeluarkan surat edaran untuk menghentikan tes keperawanan yang masih diberlakukan di beberapa instansi pemerintah.

Mereka menilai bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan, karena kehilangan keperawanan tidak hanya dapat disebabkan oleh hubungan seksual. Kemudian juga bagaimana jika hal itu terjadi dengan cara pemerkosaan, tidak ada yang rela dirinya diperkosa dan kehilangan keperawanan.

Tapi sayang, setibanya di DPRD, tak ada satupun angota dewan yang menyambut dikarenakan para dewan sedang melajalankan tugas diluar.

Salah satu aktivis lingkungan, Abdullah mengatakan, bahwa korporasi juga salah satu aktor dan pelaku kekerasan terhadap perempuan, hilangnya hak perempuan akibat aktivitas perusahaan juga harus menjadi perhatian penting untuk kita semua.

“Eksploitasi sumber daya alam oleh industri ekstraktif seperti pertambangan batubara, perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI), menyebabkan hilangnya sumber sumber pangan masyarakat, tercemarnya sumber air tentunya akan berdampak bagi kesehatan kaum perempuan. Kemudian kaum perempuan yang bekerja sebagai buruh di sektor industri juga rentan terhadap pelecehan seksual,” kata Abdullah di dalam orasinya.

Senada, Ida Zubaida saat diwawancara juga mengatakan hal yang sama. Dari hasil study di lapangan, ternyata program-program pembangunan di desa-desa itu perlu dicroschek kembali.

“Kita menemukan langsung keberadaan tambang itu justru mematikan tanaman-tanaman pangan yang selama ini dikelola oleh perempuan, misalnya tanaman padi dan tanaman sayur,” jelas Ida.

Selanjutnya, kehadiran perusahaan tambang malah membuat sumur di sekitar kawasan tambang menjadi kering, sehingga perempuan kesulitan mendapatkan air, sementari sumur-sumur yang ada juga sudah tercemar. Imbasnya yang lebih banyak itu dirasakan oleh perempuan, karena perempuan lebih banyak membutuhkan air dibanding laki-laki.

Aksi damai itu berlangsung tertib dan teratur, bahkan lagi-lagi sebelum mereka membunarkan diri terlebih dulu melakukan senam OBR di depan Gedung DPRD Jambi. Terlihat beberapa anggota Satpol PP perempuan juga ikut senam berasama masa aksi.

Gelar Panggung Budaya

Pada malam harinya, Save Our Sisters Jambi melakukan kegiatan memperingati Hari Perempuan Internasional dengan acara panggung budaya, yang terpusat di trotoar kolam air mancur Kantor Gubernur Jambi, Kamis malam.

Dalam panggung budaya ini sendiri ada banyak penampilan yang mereka tampilkan, seperti mural (menggambar) tentang kondisi perempuan Indonesia saat ini, puisi, tari, musikalisasi, dan lain sebagainya. Tentu hal tersebut semuanya berhubungan dengan apa yang ingin mereka sampaikan sebenarnya, yakni tentang kekerasan perempuan dan anak yang makin hari makin meningkat.

Setiap tanggal 8 Maret, Hari Perempuan Internasional merupakan sejarah lahirnya gerakan demonstrasi buruh perempuan di pabrik garmen menuntut perbaikan kondisi kerja dan kenaikan upah bagi buruh perempuan di New York, Amerika. Aksi demonstrasi tersebut menjadi inspirasi bagi seluruh kalangan perempuan di dunia termasuk di Indonesia untuk memperjuangkan persoalan perempuan.

Ida Zubaida, Inisiator Save Our Sisters di Jambi mengatakan, berdasarkan data P2TP2A Provinsi Jambi, pengaduan tindak kekerasan mencapai 114 kasus pada tahun 2016, menurun pada tahun 2017 sebanyak 106 kasus. 

Akumulasi kasus kekerasan sepanjang tahun 2016-2018, 80% diantaranya adalah kasus terhadap anak terutama anak perempuan. Profil pelaku sebagian besar berasal dari orang dekat, seperti ayah, kakak, sepupu, teman dekat, dan tetangga.

“Hasil studi beranda perempuan melalui tracking pemberitaan di media massa dan juga wawancara, sekitar 5 orang mahasiswi menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh dosen di dua kampus di Jambi. Ironisnya pihak kampus melakukan pembiaran terhadap tindakan tersebut demi menyelamatkan nama baik kampus. Kondisi ini akan menimbulkan impunitas bagi pelaku yang dapat memicu terjadinya keberulangan pada perempuan lainnya,” papar Ida.

Save our sister juga menyesalkan praktik tes keperawanan masih berlangsung di institusi kepolisian bagi calon polwan. SoS menilai, tes keperawanan merupakan tindakan serangan seksual yang diskriminatif terhadap perempuan, dan mengingkari jaminan konstitusi pada hak warga negara, seperti yang tertuang dalam pasal 281 ayat 2 hak untuk bebas dari diskriminasi dan pasal 28 G hak atas perlindungan diri.

Berbagai upaya yang dilakukan untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak masih terhambat oleh beberapa hal diantaranya penegakan hukum yang lemah lambannya negara dalam menangani kasus kekerasan dan minimnya jangkauan lembaga layanan yang mendekatkan dengan Access korban serta Sigma yang berkembang di masyarakat bahwa perempuan korban kekerasan justru dianggap yang salah.

Selain di perkotaan, Save our Sisters juga menyoroti persoalan perempuan di desa yang tengah dikepung oleh hadirnya perusahaan tambang PT. Minimex di Desa Taman Dewa, Kabupaten Sarolangun. Aktivitas tambang menyebabkan 22 rumah warga retak-retak dan puluhan sumur kering, sehingga perempuan terpaksa menggunakan air yang kotor untuk kebutuhan sehari-hari.

“Mereka mengeluh gatal-gatal dan jangka panjang air yang kotor bisa mengakibatkan terganggunya kesehatan reproduksi perempuan,” kata Ida.

Di tempat yang sama, Ismet Isnaini, seorang seniman Jambi mengatakan Jambi memang sudah sangat memprihatinkan soal kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dirinya berharap dengan kegiatan-kegiatan panggung budaya masyarakat bisa dengan cepat memahami pentingnya memperjuangkan hak, terutama jaminan hak bagi korban kekerasan seksual.

“Harapan kita, agar regulasi untuk kekerasan terhadap perempuan dan anak itu yang memang betul-betul memberi efek jera kepada para pelaku. Kita akan selalu siap mensosialisasikan bentuk apapun dalam perjuangan, terutama untuk perempuan, buruh, tani dan sebagainya,” ujar Ismet Isnaini yang biasa disapa Pak Met dikomunitasnya (Grindsick).(JP)
Save Our Sisters Jambi melakukan kegiatan memperingati Hari Perempuan Internasional dengan acara panggung budaya, yang terpusat di trotoar kolam air mancur Kantor Gubernur Jambi, Kamis malam.

Aksi Save Our Sisters Jambi di Simpang BI, Telanaipura, Kota Jambi, Kamis (8/3/2018). NuansaJambi

Save Our Sisters Jambi melakukan kegiatan memperingati Hari Perempuan Internasional dengan acara panggung budaya, yang terpusat di trotoar kolam air mancur Kantor Gubernur Jambi, Kamis malam.



Sumber: Nuansa

Share this article :

Posting Komentar