Home » » Mengenang Probosutedjo, "Saya Bukan Saudara Tiri Mas Harto"

Mengenang Probosutedjo, "Saya Bukan Saudara Tiri Mas Harto"

Written By jambipos-online on Selasa, 27 Maret 2018 | 13:01

Probosutedjo. ( Foto: Antara )
Probosutedjo dikenal sebagai pengusaha yang aktif mengembangkan dunia pertanian dan pendidikan. Probosutedjo dikenal sebagai sosok yang ramah dan dermawan. 

Jambipos Online-"Mas Harto, atau Soeharto, Presiden RI ke-2, adalah saudara kandung saya. Anak yang terlahir dari rahim ibu yang juga mengandung saya. Seseorang yang bukan saja menjadi dekat secara fisik, tapi juga batin. Kami adalah dua orang dengan perbedaan karakter yang sangat jelas. Mas Harto adalah batu karang yang kukuh dan diam. Saya adalah gelombang yang mengempas-empas. Namun, dasar nurani kami memiliki warna yang nyaris sama."

Itulah sepenggal alinea dalam Memoar Romantika Probosutedjo Saya dan Mas Harto yang ditulis Alberthiene Endah. Kutipan itu menjadi relevan setelah Probosutedjo berpulang, Senin (26/3/2018), akibat kanker tiroid, yang sekaligus memunculkan kembali hubungannya dengan Soeharto, presiden ke-2 RI. Hingga saat ini masih ada sejumlah kalangan dan media yang menyebut Probosutedjo adalah adik tiri Soeharto.

Dalam memoar itu, Probosutedjo secara tegas menyatakan Soeharto adalah saudara kandungnya. Probosutedjo--bernama kecil Suprobo--dan Soeharto lahir dari rahim seorang ibu yang sama. Nama ibu mereka, Rr Soekirah, memiliki keturuan Keraton Yogyakarta. Leluhurnya, Wongso Menggolo adalah pendiri dan pemimpin Desa Kemusuk.

Sebelum menikah dengan Purnomo--ayah Probosutedjo--, Soekirah menikah dengan Kertosudiro. Pasangan ini memiliki anak yang diberi nama Soeharto. Soeharto yang lahir pada 8 Juni 1921 merupakan nama pemberian kakeknya--ayah Soekirah--, Atmosudiro.

Tak lama setelah melahirkan Soeharto, Kertosudiro menceraikan Soekirah. Hal tersebut membuat Soekirah sangat terpukul dan membuat air susunya tak keluar dengan lancar. Soeharto akhirnya mendapat air susu dari putri dukun beranak--Mbah Kromodiryo--yang membantu persalinannya. 

Setelah itu, Soekirah menikah dengan Purnomo yang kemudian berganti nama menjadi R Atmoprawiro. Nama tersebut merupakan kombinasi nama bapaknya, Prawiro dan mertuanya, Atmosudiro. Salah satu anak yang lahir dari pasangan ini adalah Probosutedjo. Probosutedjo juga lahir di Desa Kemusuk pada 1 Mei 1930 atau berselang hampir sembilan tahun dari kelahiran Soeharto. 

Pertanian dan Pendidikan

Semasa hidupnya, Probosutedjo dikenal sebagai pengusaha yang aktif mengembangkan dunia pertanian dan pendidikan. Probosutedjo adalah pendiri Institut Pertanian Yogyakarta dan Universitas Mercu Buana di Jakarta. Salah satu perusahaannya yang berkibar adalah PT Mertju Buana. 
Probosutedjo juga menjadi pendiri Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) dan juga pernah menjadi wakil ketua umum Kadin Indonesia.
Probosutedjo juga menjadi pendiri Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) dan juga pernah menjadi wakil ketua umum Kadin Indonesia.

Dalam perjalanan hidupnya, Probosutedjo sempat tersandung masalah hukum yang membawanya ke balik jeruji penjara. Pada April 2003, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan hukuman selama empat tahun penjara dalam kasus penyalahgunaan dana reboisasi hutan tanaman industri yang ditaksir merugikan negara sekitar Rp 100 miliar. 

Tak terima dengan putusan tersebut, Probosutedjo mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta, yang kemudian mengurangi masa hukumannya menjadi dua tahun.

Tak berhenti di situ, Probosutedjo pun mengajukan kasasi. Pada 28 November 2005, Mahkamah Agung mengeluarkan putusan yang justru menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Probosutedjo dinyatakan terbukti bersalah melakukan korupsi yang dilakukan secara bersama-sama dan dipidana penjara empat tahun, denda Rp 30 juta subsider tiga bulan kurungan dan membayar uang pengganti kepada negara Rp 100,93 miliar.

Setelah menjalani masa hukumannya di Lembaga Permasyarakatan Sukamiskin di Bandung, pada 12 Maret 2008, Probosutedjo kembali menghirup udara bebas.

Di desa asalnya, Kemusuk, Probosutedjo dikenal sebagai sosok yang ramah dan dermawan. Sebelum sakit-sakitan, Probosutedjo tak pernah absen menengok makam ayahnya, Atmoprawiro. Saat nyekar, Probosutedjo selalu membagi-bagikan uang dan juga bahan kebutuhan pokok kepada warga setempat. 

Saat ini Probosutedjo telah tiada. Almarhum dimakamkan tepat di samping makam ayahnya di kompleks makam Somenggalan, Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul.(JP)





Sumber: Berbagai sumber, Antara
Share this article :

Posting Komentar