![]() |
| Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Jambi, Edi Purwanto. |
Jambipos Online, Jambi-Upaya mitigasi bencana gunung api membutuhkan sistem yang terintegrasi, mulai dari pemantauan aktivitas gunung, penyampaian informasi kebencanaan, peringatan dini, pengambilan keputusan, hingga proses evakuasi dan perlindungan masyarakat. Kegagalan pada salah satu tahapan tersebut dapat memperlemah kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Hal itu mengemuka dalam pembahasan mengenai mitigasi gunung berapi yang diikuti Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Jambi, Edi Purwanto, bersama Koordinator Wartawan Parlemen (KWP) dan sejumlah narasumber terkait, di Gedung DPR RI Senayan Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Dalam forum tersebut, hadir Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan serta Plh. Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani.
Edi menyampaikan, mitigasi bencana tidak dapat dipandang sebagai tindakan yang baru dilakukan ketika gunung api menunjukkan peningkatan aktivitas. Mitigasi harus dibangun sebagai sebuah sistem yang berjalan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak.
Menurut dia, terdapat mata rantai sederhana tetapi penting dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana gunung api. Rangkaian tersebut dimulai dari pemantauan, penyediaan informasi kebencanaan, peringatan dini, pengambilan keputusan, evakuasi, hingga perlindungan masyarakat.
"Setidaknya rantai sederhananya dalam melakukan mitigasi ini terkait dengan pemantauan, informasi kebencanaan, peringatan dini, keputusan, kemudian evakuasi dan perlindungan masyarakat. Jika salah satu mata rantai tidak berjalan, kesiapsiagaan dapat menjadi lemah," kata Edi Purwanto, politisi PDIP ini.
Gunung Kerinci Jadi Perhatian
Dalam konteks Sumatera, Gunung Kerinci menjadi salah satu gunung api yang perlu mendapatkan perhatian serius. Gunung yang berada di kawasan perbatasan Provinsi Jambi dan Sumatera Barat tersebut merupakan gunung api aktif dengan karakteristik aktivitas yang perlu terus dipantau.
Aktivitas erupsi tidak hanya berkaitan dengan material yang keluar dari kawah. Kolom abu vulkanik yang mencapai ketinggian tertentu juga dapat menimbulkan dampak terhadap masyarakat maupun aktivitas di wilayah sekitar.
Pada sejumlah kejadian erupsi, kolom abu Gunung Kerinci dapat mencapai ketinggian yang cukup signifikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mitigasi tidak cukup hanya berorientasi pada kawasan yang berada paling dekat dengan gunung.
Pemantauan aktivitas vulkanik, penyampaian informasi yang cepat dan mudah dipahami, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting untuk memastikan masyarakat dapat mengambil langkah yang tepat ketika terjadi peningkatan aktivitas.
Di sisi lain, informasi kebencanaan juga harus sampai kepada masyarakat dalam bentuk yang dapat dipahami dan ditindaklanjuti. Peringatan dini tidak akan efektif apabila masyarakat tidak mengetahui arti informasi tersebut atau tidak memiliki kesiapan untuk melakukan evakuasi.
Rantai Mitigasi Harus Berjalan Bersamaan
Mitigasi pada dasarnya bukan hanya persoalan teknologi pemantauan. Sistem tersebut membutuhkan keterhubungan antara lembaga pemerintah, petugas di lapangan, pemerintah daerah, masyarakat, hingga media sebagai salah satu saluran penyebaran informasi.
Pemantauan aktivitas gunung api menjadi dasar untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan kondisi gunung. Data tersebut kemudian perlu diterjemahkan menjadi informasi kebencanaan yang akurat dan disampaikan kepada masyarakat secara tepat waktu.
Ketika kondisi mengharuskan adanya peringatan dini, pemerintah dan pemangku kepentingan harus memiliki mekanisme pengambilan keputusan yang jelas. Setelah keputusan dibuat, proses berikutnya adalah memastikan masyarakat dapat dievakuasi dengan aman serta mendapatkan perlindungan dan kebutuhan dasar selama berada di lokasi pengungsian.
Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari mitigasi. Infrastruktur evakuasi, jalur penyelamatan, tempat pengungsian, komunikasi darurat, hingga pemahaman masyarakat mengenai tindakan yang harus dilakukan perlu dipersiapkan sebelum bencana terjadi.
Belajar dari Bencana
Edi menilai berbagai bencana yang terjadi belakangan ini harus menjadi bahan evaluasi sekaligus pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam perlu dikelola secara lebih bijaksana.
Bencana, kata dia, tidak semata-mata harus dilihat sebagai peristiwa yang datang tanpa peringatan. Penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan merupakan bagian dari upaya manusia untuk mengurangi risiko serta melindungi masyarakat.
"Terakhir, bencana yang datang akhir-akhir ini semoga bisa menjadi nasihat bagi kita agar selalu bisa selaras dengan alam," ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah tingginya risiko bencana hidrometeorologi maupun geologi di Indonesia. Bagi daerah yang berada di sekitar gunung api aktif seperti Gunung Kerinci, kesiapsiagaan bukan sekadar respons ketika erupsi terjadi, melainkan proses panjang yang harus terus dibangun melalui pemantauan, edukasi, koordinasi, dan kesiapan masyarakat.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
0 Komentar
Komentar Dilarang Melanggar UU ITE