Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Widget HTML

 


Sejarah Banda Bekali



Oleh: HUSNA FADILLA HANDESYA 
 
Jambipos-Banda bekali atau Banda Kali adalah sungai buatan dalam Bahasa minang. Banda kali ini terletak di Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia Ketika kita menilik sejarah Banda Kali, kita tentu tidak lepas dari zaman penjajahan yang kala itu Indonesia masih dijajah oleh Belanda. 

Menurut sejarah yang dikenal oleh masyarakat, awalnya Banda Kali dibuat akibat banjir besar yang sering terjadi di Kota Padang penyebab banjir tersebut adalah awal terbentuknya Banda Bekali atau Banda kali. Dalam sejarahnya sejak dahulu Kota Padang sudah sering terjadi banjir dan sampai sekarang masih terjadi banjir di Kota Padang. 

Pembuatan Banda Bekali ini upaya untuk mencegah terjadinya banjir di Kota Padang oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu. Banjir besar telah terjadi di Kota Padang pada tahun 28 dan 29 September 1907.

Banda Bekali dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai salah satu cara untuk pengendalian banjir di Kota Padang dan juga digunakan untuk mengamankan pelabuhan muara dari amukan Batang Arau. 

Proses pembuatan pertama dilakukan pada tahun 1869 yaitu dengan meluruskan aliran Batang Arau dari Ganting ke Pemancungan. Pada bagian itu masyarakat setempat menamakan “batang bagali” kata tersebut menjadi cikal bakal dan asal kata dari Banda Bekali yang dikenal masyarakat hingga saat ini.  

​Pada tanggal 7 Oktober 1882, pemerintah Hindia Belanda yang di Padang mengeluarkan peraturan pemerintah yang mana mengizinkan pemerintah mengambil tanah penduduk untuk proses pembuatan Banda Bekali tersebut. 

Fungsi pengambilan tanah penduduk agar pinggir sungai bisa diluruskan. Penggalian Banda Kali pertama kali dilakukan pada tanggal 29 Oktober 1911 di Lubuk Begalung. Di titik tersebut, aliran Batang Arau dibagi dan dibelokan ke utara hingga bermuara didekat purus. Tidak hanya pada tahun 1907 banjir terjadi, banjir juga terjadi disaat proses pembangunan berlangsung yaitu pada tahun 1914 dan 1915. 

Menurut sumber banjir yang terjadi pada tahun 1907 mencapai kerugian sebesar 200 ribu gulden. Sebelum pembangunan Banda Bekali pemerintah sudah mengatasi banjir dengan melakukan 3 hal, yaitu : menggali saluran drainase, mendorong air dari Batang Arau agar masuk ke saluran drainase, dan memanfaatkan drainase tersebut untuk jalan atau lalu lintas.

​Pembangunan pintu air untuk kebutuhan sawah dan usaha di Alai. Saat bersamaan, saluran drainase (kanal) juga dibangun antara Lubuk Begalung dengan Purus. Kanal besar juga dibangun, namun dalam penggaliannya mengalami kesulitan karena persoalan tanah dan air hujan. 

Kanal yang awalnya dibangun antara Alai dengan Ujung Belantung (yang sekarang dikenal sebagai jalan Rasuna Said) selanjutnya diluruskan ke Purus(mulut muara) pantai Padang. Disisi lain lokasi dimana air kanal turun mengalir ke daerah Purus sering tidak lancar setahun awal karena ada semacam bongkahan tanah di tepian muara, sehingga air terhambat masuk. 

Agar saluran kanal tetap ada kapasitas yang memadai dimulut saluran, maka diputuskan untuk memakai mesin pengeruk yang ditempatkan di tepian Batang Arau, melalui pelabuhan ke Purus.

​Pemerintah Belanda menyebutkan kalau pembangunan kanal bukan hanya sebagai langkah untuk mengatasi banjir di Kota Padang, tetapi termasuk sebagai pemisah antara daerah yang dikuasai oleh pemerintah Belanda dengan daerah masyarakat. 

Selain sebagai upaya untuk mengatasi banjir Bandang Bekali juga memiliki fungsi yang lain. Pada masa perang untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, Banda Bekali berperan sebagai pemisah area pertempuran antara pejuang Indonesia dan militer Belanda. Pertempuran kerap terjadi disekitar jembatan diatas Banda Bekali, pasuka TRI mengincar jembatan atas Banda Bekali atau jembatan kereta api maupun jembatan kendaraan.

​Wilayah Kota Padang pada Banda Bekali menjadi basis kedudukan pemerintah Belanda, sedangkan diluar Tentara Republik Indonesia (TRI) berjaga, terutama pada malam hari. Pada saat agresi militer Belanda pasca kemerdekaan yaitu pada malam tanggal 11 dan 12 Agustus 1947 , terjadi serangan TRI terhadap kereta api. 

Pada 18 Januari 1947, mortir-mortir TRI menghantam dua jembatan diatas Banda Bekali. Tantangan lain dalam pembebasan Padang dari banjir tidak hanya saja dengan melakukan drainase atau pembuatan kanal yang sangat sulit, melainkan juga infrastruktur yang sudah ada melintas di koridor drainase dan kanal. 

Infrastuktur yang menjadi salah satu kesulitannya ialah rel kereta api. Pada zaman itu, kereta api menjadi salah satu saran transportasi vital karena satu-satu nya transportasi yang ada pada zaman itu. 

Sehingga selalu sibuk mengantar penumpang oleh karena itu terhalang nya pembangunan Banda Bekali yang membuat pengerjaan nya semakin lama. Ketika kanal melewati Alai, persis sebaris dengan rel kereta api dan saluran air. Untuk melancarkan pekerjaan pembuatan kanal, jembatan yang membentang diatasnya serta saluran air mau tidak mau harus dibuka agar mempelancar pembuatan kanal.

​Banda Bekali pernah dilakukan normalisasi yang mana pada saat itu Indoensia sudah merdeka, dimulai dari tahun 1991 sampai tahun 1996, dinas pengerjaan umum Sumatera Barat melakukan normalisasi Banda Bekali sepanjang 6,8 km dengan kisaran biaya yang ketika itu mencapai 200 miliar. merupakan proyek dari bagian pengendalian banjir di Kota Padang yang menghabiskan dana sebanyak Rp. 200 Milyar. Pengerjaan banda bekali meliputi peningkatan kapasitas kanal agar dapat mengantisipasi banjir di Kota Padang.

​Hingga saat ini banda bekali masih berfungsi dengan baik, bahkan Banda Bekali juga dijadikan sebagai tempat acara festival perahu naga yang diadakan setiap tahunnya. Di Kota Padang, festival perahu naga sudah menjadi event tahunan yang berskala internasional. 

Yang ikut berkompetisi tidak hanya dari Sumatera Barat tetapi juga ada dari kota-kota lain di Indonesia bahkan luar Indonesia pun ada seperti : Thailand, Malaysia, dan lain-lain. Dalam penyelenggaraan acara tersebut, lomba berlangsung selama beberapa hari di banda bekali yang terletak disamping GOR H. Agus Salim. 

Di samping keseruan lomba perahu naga tersebut, skala internasional yang melekat menjadi daya tarik di acara ini wisatawan lokal dan asing untuk dating menyaksikan pertandingan secara langsung. Uniknya, selain dapat menonton dari kedua sisi banda bekali penonton juga dapat menyaksikan dari pinggiran jembatan GOR H. Agus Salim. (JP-Penulis Adalah MAHASISWI SASTRA MINANGKABAU UNIVERSITAS ANDALAS)

Posting Komentar

0 Komentar