Home » , » Perkembangan Kasus Penganiayaan Siswa MTSN Oleh Kepsek Di Bungo

Perkembangan Kasus Penganiayaan Siswa MTSN Oleh Kepsek Di Bungo

Written By jambipos-online on Senin, 12 November 2018 | 16:21

ILUSTRASI
Jambipos Online, Bungo-Dunia pendidikan digemparkan lagi dengan berita tindakan criminal. Seorang Siswa di MTS.N 6 Muaro Bungo, bernama M.Fikri Firdansyah Bin Firdaus warga desa Babeko beberapa waktu lalu terbaring kesakitan dengan tangan yang membengkak di kediaman orang tuanya di Desa Babeko Kecamatan Bathin 2 Kabupaten Muaro Bungo. Penyebabnya, diduga karena ia dianiaya oleh seorang Kepala Sekolah sewaktu di panggil ke dalam kelas.

Namun, masih belum terlampau jelas bagaimana kronologi sebenarnya peristiwa penganiayaan ini terjadi pada beberapa situs berita online, di Muaro Bungo Meski tindak pidana Penganiayaan ini telah di laporkan ke Mapolsek Setempat namun hingga kini diduga kasus tersebut lamban dalam pengembangan nya.

Diketahui, awal mula penyebab penganiayaan ini terjadi yaitu saat Kepsek memungut biaya pembelian satu buah bola kasti sebanyak 5000 perorang sebanyak 22 orang siswa. Merasa tidak sesuai dengan keputusan Kepsek murid yang merasa ditipu pun melakukan aksi protes kepada kepala sekolah.

di dalam Ruangan (Kepala Sekolah) berlangsung. Lantas, H.Mahyudin menghampiri dan Memukul telapak tangan siswanya dengan Sebilah kayu keras hingga M.Fikri menangis kesakitan.

Kronologi kejadian perkara disebabkan karena siswa bersama teman temannya memecahkan bola kasti sehingga H.Mahyudin marah marah dan memukul siswanya.

Ketika M.Fikri(kegiatan belajar mengajar) berlangsung, Fikri tidak focus dalam memperhatikan pembelajaran. Ia merasa kesakitan sehingga Kepsek mengundang anak tukang urut an. Samsul sehingga samsul menerangkan bahwa tangan Fikri telah bergeser tulangnya.

Melihat masih simpang siurnya kronologi peristiwa ini, 12/11/18 sekira pukul 13:54 Kapolsek Bathin 2 Iptu Dedi Tanto Manurung,S.H melalui Kanit  Reskrim Ipda Siswanto saat dimintai keterangan melalui telpn selular.

"Kasus ini masih dalam pengembangan pihaknya, namun dalam hal tersebut sudah empat saksi yang baru kami periksa dan selanjutnya kami akan memanggil tukang urut setelah itu Kami akan memanggil pelaku penganiayaan H. Mahyudin, sebaiknya kita menunggu hasil penyelidikan dari pihak kepolisian.Sektor Bathin 2 tutupnya singkat"

Namun, Hambali: kalau kasus ini belum ada tindakan lebih serius dari Polsek Bathin 2 maka pihak Korban akan sendiri yang akan Melaporkan Ke Kapolda Jambi untuk meminta kepastian hukum untuk Keponakannya itu yang mana dirinya minta tidak ada perbedaan hukum antara orang besar dan orang kecil yang mana telah tertutur dalam sila ke 2 Kemanusiaan yang adil dan beradab itu saja tutur Hambali pada Jambipos Online.

Setiap peristiwa tentunya mempunyai penggalan potongan cerita masing masing. Di dalam kejadian penganiayaan seorang Murid MTS.N 6 Muaro Bungo yang dilakukan Kepala Sekolah ini, potongan cerita yang kita dapat masih belum lengkap dan menimbulkan tanda tanya. Maka, sebaiknya kita dapat menyikapinya dengan bijak.

Sebenarnya peristiwa yang serupa marak terjadi sejak dahulu kala. Hanya saja pada zaman dahulu tidak ada media massa. Sehingga, cerita yang sama atau hampir sama, hanya dapat kita temui dari sejarah yang menceritakan mengenai tokoh tokoh besar.

Berbeda dengan Firdaus Orang tua Korban penganiayaan dia menyayangkan atas tindakan yang dilakukan oleh kepala sekolah.

"Seharusnya kepsek memberikan mutu pendidikan yang terbaik kepada murid bukan nya mengajarkan kekerasan sehingga membuat murid kesakitan dan trauma untuk bersekolah.

Apakah anda yakin bahwa manusia itu membawa tabiat buruk semenjak ia lahir? Inilah, yang sedikit kurang kita renungi dalam menyikapi kondisi zaman sekarang. Setiap ada penyimpangan social, kita seringkali menjudge anak. Sebutan anak zaman now generasi micin, sudah menjadi bahasa sehari hari kita.

Tugas mendidik bukan hanya kewajiban institusi pendidikan semata. Banyak orang tua yang berfikiran bahwa mendidik hanya tugas sekolah. Kalau sudah di sekolah kan, ya sudah. Kalau ada kesalahan dari diri anak, maka yang disalahkan sekolah. 

Mereka tak mau menengok dirinya sendiri. Bagaimana pola asuh dalam keluarga yang mereka terapkan, jarang sekali yang berkenan untuk memperbaikinya. Tapi jika bagaimanapun caranya guru mendidik murid itu tergantung dengan Karakter guru itu sendiri asalkan jangan dengan cara menyakiti dan mencaci maki murid apalagi melakukan tindak kekerasan. (JP-Bay).
Share this article :

Posting Komentar