Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Widget HTML

 


Jenazah Korban Diperum Nainggolan, Istri dan Dua Anaknya Akan Dibawa Ke Hariara Tolu Pangururan Samosir

Ahli Psikologi Forensik: Pelaku Pembunuhan Miliki Kendali Emosi

Foto Kenangan Keluarga Diperum Nainggolan (38), Maya Boru Ambarita, Sarah Boru Nainggolan (9), dan Arya Nainggolan (7). Mereka ditemukan tewas di kontrakannya di Jalan Bojong Nangka 2 RT 002 RW 07 Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa (13/11/2018) sekitar pukul 06.30 WIB.  Jenazah korban Diperum Naingolan sekeluarga dimakamkan di Huta (Dusun) Hariara Tolu, Desa Parsaoran I, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir. Foto IST/Lee. 
Jambipos Online, Bekasi-Jenazah korban pembunuhan se keluarga yakni Diperum Nainggolan (38), Maya Boru Ambarita, Sarah Boru Nainggolan (9), dan Arya Nainggolan (7) akan diberangkatkan dari Jakarta menuju kampung kelahirannya di Huta (Dusun) Hariara Tolu, Desa Parsaoran I, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Rabu (14/11/2018). Rencana pemberangkatan ke empat jenazah sudah dipersiapkan pihak Jemaat tempat korban beribadah di Bekasi dan juga Kumpulan Marga Nainggolan yang ada di Bekasi. 

Sekeluarga yang diduga menjadi korban pembunuhan ini, masih misteri. Polisi juga sudah mengumpulkan sejumlah keterangan saksi-saksi. Diperum Nainggolan, Maya Boru Ambarita, Sarah Boru Nainggolan (9), dan Arya Nainggolan (7) ditemukan tewas di kontrakannya di Jalan Bojong Nangka 2 RT 002 RW 07 Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa (13/11/2018) sekitar pukul 06.30 WIB. Diperum Nainggolan dan Maya diduga tewas digorok. Sedangkan dua buah hatinya diduga dibekap dan dicekik oleh pembunuh sadis itu.

Berdasarkan keterangan saksi, Feby Lofa Rukiani, Aris Susanto dan Sulistiyanti merupakan tetangga korban, pada pukul 03.30 Wib gerbang kontrakan korban sudah terbuka.  Dijelaskan, televisi di rumah korban menyala namun saat saksi memanggil korban dari luar rumah tidak ada jawaban.

Kemudian, Feby sempat menelpon tapi tidak diangkat, karena merasa curiga dan penasaran akhirnya  membuka jendela. Kemudian saksi Feby melihat para korban sudah tergeletak dan terdapat darah.

Feby selanjutnya memanggil saksi Aris dan Sulistyanti untuk melihat bersamasama, lalu melapor kepada Ketua RT dan Polsek Pondok Gede.

Berdasarkan data yang dirilis Polisi, saksi-saksi yang dimintai keterangan yakni 1. dr. FEBY LOFA RUKIANI, Sibolga, 12 Feb 1983, islam, dokter, Jalan  Harun No. 4 Rt. 003/010 Kelurahan Jatirahayu. 2. ARIS SUSANTO, Lebak 11 April 1983, Islam, Karyawan Swasta, Kampung Pedurenan No. 69 Rt. 001/06 Kel. Duren Jaya Kecamatan Bekasi Timur. 3. SULISTIYANTI, Sleman 08 Juli 1972, Islam, Mengurus Rumah Tangga, Jalan Bojong Nangka 1 No. 58 Rt. 002/07 Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati.

Kesaksian mereka, pada Pukul 03.30 WIB Selasa (13/11/2018), Saksi 1 (Feby Lofa) melihat gerbang kontrakan sudah terbuka dan televisi di ruang korban menyala. Namun saat saksi memanggil korban dari luar rumah namun tidak ada jawaban. Sempat menelepon tapi tidak diangkat. Kemudian saksi 1 ke kembali ke kontrakan.

Dan pada pagi hari saksi Feby Lofa hendak berangkat kerja sekitar Pukul 06.30 WIB. Korban belum bangun akhirnya Feby Lofa curiga dan penasaran akhirnya membuka jendela. 

Kemudian saksi lihat keruangan korban melalui jendela dan melihat korban sudah tergeletak dan terlihat darah. Kemudian Feby Lofa memanggil saksi 2 (Aris Susanto) dan saksi 3 (Sulistiyanti) kemudian saksi untuk melihat jendela bersama-sama lalu melaporkan hal tersebut kepada Ketua RT dan Polsek Pondok Gede.

Polri: Bisa Orang Dekat

Mabes Polri menduga pelaku pembunuhan sekeluarga yang terjadi di Jalan Bojong Nangka 2 RT 002 RW 07 Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa (13/11/2018) adalah orang dekat.

“Selain orang dekat kemungkinan juga orang yang dikenal dengan korban. Mengungkap kasus itu faktornya banyak, yang pertama kita harus mencari alat bukti yang sah,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Selasa (13/11/2018).

Kemudian, lanjut Setyo, polisi juga mengumpulkan keterangan-keterangan saksi. Namun mungkin ini agak sulit dan mungkin ada bukti-bukti lain yang harus dicari.

“Nah ini tergantung dari gampang atau tidaknya kita mendapatkan itu. Kalau susah, ya sampai sekarang ada kasus yang 5-6 tahun belum terungkap,” imbuhnya

Misalnya kasus di Kaltim saat suami istri bahkan anaknya dibunuh dimana kasusnya sampai sekarang tidak terungkap karena tidak ada saksi dan alat buktinya minim.

“Tapi sekarang kita ada Inafis yang juga sudah bekerja sama. Jadi kita mendapatkan informasi yang lengkap dari alat bukti tersebut ketika kita mendapatkan secuil alat bukti. Yang akurat biasanya sidik jari,” lanjutnya.

Korban Alami Luka Senjata Tajam

Rumah Sakit Bhayangkara Polri Tingkat I Raden Said Sukanto, telah melakukan autopsi terhadap jenazah Diperum Nainggolan (38), Maya Ambarita (37), Sarah Nainggolan (9), dan Arya Nainggolan (7) -satu keluarga- yang menjadi korban pembunuhan, di kediamannya, Jalan Bojong Nangka RT 02 RW 07 Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondokmelati, Kota Bekasi. Para korban banyak mengalami luka akibat sayatan senjata tajam.
Pintu rumah korban di Jalan Bojong Nangka RT 02/RW 07 Kelurahan Jatirahayu, Pondokmelati, Kota Bekasi, tidak dalam keadaan rusak ataupun dicongkel paksa dari luar. ( Foto: Suara Pembaruan / mikael niman )
Kepala Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Polri Tingkat I Raden Said Sukanto Komisaris Besar Polisi Edy Purnomo mengatakan, jenazah keempat korban datang ke RS Bhayangkara Polri pukul 11.00 WIB, dan selesai dilakukan pemeriksaan autopsi sekitar pukul 16.00 WIB. Saat ini, tim dokter masih mendalami terkait luka-luka yang dialami korban.

"Lukanya didiskusikan lagi, lukanya berapa dalam, posisinya bagaimana, siapa yang kena duluan, itu nanti belakangan. Tapi pemeriksaan ini sudah," ujar Edy, di RS Bhayangkara Polri Tingkat I Raden Said Sukanto, Kramat Jati, Selasa (13/11/2018).

Dikatakan, korban mengalami banyak luka akibat terkena senjata tajam, termasuk benda tumpul. “Senjata tajam. Ada banyak. Ada benda tumpul. Susah kalau ngomong kebanyakan. Ya pokoknya serangannya banyak. Pokoknya dari perut ke atas," ungkapnya.

Ia menyampaikan, usai dilakukan autopsi jenazah keempat korban akan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

"Iya (diserahkan jenazah hari ini). Jadi tinggal diskusi nanti, tentukan kalau benda tumpul jenisnya apa, kalau sajam (senjata tajam) jenisnya apa," katanya.

Diketahui, satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak ditemukan meninggal dunia, di kediamannya, Jalan Bojong Nangka RT 02 RW 07 Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondokmelati, Kota Bekasi, sekitar pukul 06.30 WIB tadi pagi.

Ayah atas nama Diperum Nainggolan dan istrinya bernama Maya Ambarita, tergeletak bersimbah darah di ruang tengah. Sementara kedua anaknya Sarah Nainggolan serta Arya Nainggolan, ditemukan di dalam kamar.

Kata Ahli Psikologi Forensik

Ahli Psikologi Forensik dan Dosen PTIK, Reza Indragiri, mengatakan pelaku pembunuhan satu keluarga di Kota Bekasi miliki emosi yang sangat dahsyat. Pelaku menghabisi para korban dengan cara cukup sadis dengan menyayat leher dan menghabisi anaknya dengan cara membekap mulut.

Ahli Psikologi Forensik dan Dosen PTIK, Reza Indragiri, mengatakan pelaku pembunuhan satu keluarga di Kota Bekasi miliki emosi yang sangat dahsyat. Hal ini dilihat dari cara pelaku menghabisi para korban dengan cara cukup sadis dengan menyayat leher dan menghabisi anaknya dengan cara membekap mulut.

"Diduga motif emosional, tapi menariknya, dari empat orang korban tersebut, bisa kita pilah, berdasarkan cara pelaku menghabisi nyawa mereka. Dua orang korban orang dewasa dibacok di daerah leher, dan dua orang lainnya dibekap. Ternyata pelaku emosinya sangat dahsyat. Kita tarik kesimpulan, dalam situasi pelaku ini memiliki kendali emosi yang baik, memiliki kendali diri yang cukup matang. Sehingga bisa memilih (cara menghabisi) korban seperti apa akan dia habisi," kata Reza, Selasa (13/11/2018) malam.

Namun saat mengetahui korban anak-anaknya bisa mengaku bisa jadi kasus itu disebut sebagai collateral damage. Situasi di mana anak-anak itu berada di waktu dan tempat yang salah.

"Saya sungguh khawatir dua anak yang bernasib malang ini sesungguhnya adalah dua anak ini berada di waktu yang salah, di tempat yang salah atau yang disebut collateral damage," katanya.(JP-Berbagaisumber/Lee)

Berita Lainnya

Posting Komentar

0 Komentar