Home » , , » Debat Publik Pilwako Jambi

Debat Publik Pilwako Jambi

Written By jambipos-online on Selasa, 24 April 2018 | 16:08


Oleh: Musri Nauli

Jambipos Online, Jambi-Mengikuti riuh Debat publik Pilwako Jambi 2018 (Pilwako) menarik untuk diikuti. Kesempatan untuk mendengarkan gagasan, melihat cara penyampaian hingga berbagai Pernik-pernik selama acara berlangsung menjadi kesempatan untuk mengukur kualitas dari para candidate.

Terlepas dari materi yang disampaikan yang masih menyisakan tanya, gaya (sytle), karakter, tekanan nada, cara mengayun forum menarik untuk diikuti. 

Sebagai “ajang” debat public Pilwako, para kandidat “menonjolkan” gaya personal yang diharapkan dapat mempengaruhi public untuk memilih. Namun “organisasi”, jam terbang, penguasaan materi membuat materi debat kandidat menjadi pelajaran demokrasi di Jambi. 

Keempat kandidat (dua pasang calon) dilahirkan dari latarbelakang yang berbeda-beda. Abdullah Sani yang berlatar belakang Dosen dan menjadi penceramah, unggul didalam membangkitkan emosi dan penguasaan kata. 

Tagline “satu” begitu menggema dalam closing statementnya. Ingatan saya tertuju di papan mesin penghitung waktu. Dengan durasi hampir 60 detik, “kata satu’ mampu menghipnotis dan menjadi relevan sebagai pengingat nomor satu. 

Tagline “satu” begitu menyihir. Mampu membangkitkan emosi pendengar. Dengan penguasaan kata “satu’, penguasaan kata menjadi ukuran sebagai penceramah ulung. 

Sementara Kemas Alfarizi (Izi) piawai “memainkan” forum dengna gaya khas anak muda. Lihatlah dengan guyonan “mengajak” tenang para kandidat Nomor 2 untuk menyampaikan gagasan agar tidak terburu-buru. Entah beberapa kali, cara ini dimainkan dan mampu membuat penonton tertawa. 

Belum lagi khas anak muda yang menyerahkan mic ketika sudah menyampaikan pada pandangannya. Padahal Izi pasti mengetahui, kedua candidate sudah disiapkan microphone untuk berbicara. 

Gaya “memainkan” forum adalah materi yang dikuasai didalam pelatihan organisasi. Dengan gaya “memainkan forum”, sang pemateri mampu mengendalikan forum. 

Gaya kocak, mengendalikan forum, mengayunkan emosi lawan adalah tipikal khas anak muda yang mampu menyelesaikan perbedaan pandangan dengan guyon. Gaya ini akan terasa apabila interaksi dan dialog dilakukan terus menerus. 

Diibaratkan pertandingan sepakbola, gaya meliuk-liuk sering dipertontonkan Lionel Messi dalam pertandingan. Dengan “meliuk-lik” memainkan bola, konsentrasi lawan menjadi buyar. Dan kendali permainan susah ditebak dan dikendalikan Messi. 

Tidaklah salah cara yang dimainkan Izi melambangkan kematangan karakter Izi yang matang menjadi anggota DPRD Kota Jambi. Pesona Izi memang matang dan menjadi harapan anak muda masa depan. 

Berbeda dengan paslon nomor 1. Paslon no 2 kaya data. Menyampaikan gagasan dengan sistematis dan analisis mendalam. Dengan kekayaan data, paslon nomor 2 ditambah gelar prestisius akademik, gagasannya ilmiah dan mampu membalik keadaan. 

Datanya cukup detail dan cara penyampaiannya cukup sederhana mudah ditangkap oleh kalangan umum. Setiap ucapan, pemikiran, programnya menjadi terukur dan dapat diaplikasi. 

Dalam pertandingan sepakbola, gaya permainan ini sering diperagakan oleh Tim besutan Morinho. Morinho cukup paham dengan karakter pemain lawan, melihat video-video pertandingan sebelumnya, mampu kulkasi menghitung sekian persen kemenangan.

Sehingga tidak salah walaupun kemenangan diraih, kadang kala Morinho justru mengkritik timnya yang dianggap tidak berkembang dan lambat meraih peluang. 

Paparan kedua kandidat paslon 2 menampakkan penguasaan dan pengolahan data, cara penggunaan kalimat yang menyodok lawan, menyampaikan secara sistematis dan runut. 

Closing statemen yang memuat kata tagline “dua” melambangkan gaya orator yang menguasai panggung. Tagline dua menampakkan kosakata yang bombastis. 

Gaya ini adalah interaksi intelektual yang terus diasah dalam dialog-dialog. 

Tentu saja kita tidak bisa memperbandingkan antara gaya permainan Lionel Messi dengan tim besutan Morinho. Memperbandingkan gaya permainan antara Spanyol dengan Italia atau Spanyol dengan Inggeris atau Spanyol dengan Jerman adalah seni tersendiri untuk menangkap karakter perbedaan gaya permainan. 

Namun kesempatan menjadi penyaksi dari hajatan besar di Jambi adalah kehormatan sekaligus menjadi penilaian tersendiri bagi saya. Salam demokrasi. (Penulis Adalah Advokad dan Aktifis)
Share this article :

Posting Komentar