Home » , , » Gubernur Jambi Zola: Teaching Factory Mendidik Siswa Berjiwa Bisnis

Gubernur Jambi Zola: Teaching Factory Mendidik Siswa Berjiwa Bisnis

Written By jambipos-online on Wednesday, January 25, 2017 | 21:51


Gubernur Jambi Zumi Zola dalam Peresmian Minggu Seni Pelajar VII Tahun 2017 dan Peresmian Teaching Factory (TeFa) serta Temu Alumni Akbar SMK PGRI 2 Kota Jambi (Talang Bakung), Rabu (25/1/2017) siang.


Gubernur Jambi Zumi Zola dalam Peresmian Minggu Seni Pelajar VII Tahun 2017 dan Peresmian Teaching Factory (TeFa) serta Temu Alumni Akbar SMK PGRI 2 Kota Jambi (Talang Bakung), Rabu (25/1/2017) siang.

Jambipos Online, Kota Jambi-Gubernur Jambi, H.Zumi Zola,S.TP,MA mengemukakan, teaching factory mendidik anak didik untuk berjiwa bisnis, dan dia sangat mengapresiasi teaching factory tersebut sebagai ajang untuk meningkatkan kompetensi siswa dan siswi SMK. Kemudian meningkatkan korelasi pendidikan SMK dengan industri dan dunia bisnis. 

Hal itu dinyatakan Zumi Zola dalam Peresmian Minggu Seni Pelajar VII Tahun 2017 dan Peresmian Teaching Factory (TeFa) serta Temu Alumni Akbar SMK PGRI 2 Kota Jambi (Talang Bakung), Rabu (25/1/2017) siang.

Teaching factory merupakan upaya agar siswa siswi SMK memiliki kemampuan menghasilkan produk, dan produk tersebut dipasarkan ke masyarakat, produk yang dihasilkan harus sesuai dengan standar kualitas. Untuk itu, pihak dunia usaha melakukan pembinaan dan pendampingan bagi siswa siswi SMK tersebut.

Zola mengatakan, pemerintah, baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah Kabupaten/Kota terus berusaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat, supaya memiliki daya saing, diantaranya melalui sektor pendidikan, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta.

Zola menyatakan bahwa teaching factory tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas siswa siswi SMK supaya siswa siswi SMK tersebut memiliki daya saing yang baik, terlebih saat ini Indonesia sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dimana persaingan terbuka bukan hanya aantar daerah di Indonesia, tetapi juga harus bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara. "Anak-anak kita harus berdaya saing, apalagi dengan diberlakukannya MEA," ujar Zola.

"20 tahun lalu, Indonesia mengandalkan sumber daya alam, seperti bahan galian, karena memang Indonesia kaya sumber daya alam. Sekarang sudah berubah, sumber daya manusia yang berkualitas yang diandalkan, kualitas sumber daya manusia yang terus didorong, contohnya Jepang yang mampu menghasilkan otomotif dan berbagai alat elektronik dan sangat mendominasi pasar otomotif dan alat-alat elktroonik tersebut," ungkap Zola.

"Dengan teaching factory, mereka dididik untuk berjiwa bisnis, enterpreneur, diantaranya membuat kerajinan, seperti mukenah tetapi ada motif Jambinya, dan keterampilan lainnya yang sudah dijual. Kemudian kerjasama CSR dengan Alfamart, dibantu Rp15juta untuk membeli barang-barangnya dan dibangun ruangannya, masyarakat bisa beli disini, demikian juga kalau ada dagangan masyarakat, misalkan gorengan atau makanan kecil bisa dipasarkan di sini. Pada intinya saya merespon sangat positif," tambah Zola.

Zola berharap agar teaching factory bisa dilakukan secara berkesinambungan. Selain itu, Zola mengapresiasi pertambahan jumlah siswa siswi SMK 2 PGRI Kota Jambi dari 500 menjadi 1.100. 

"Berarti perkembangannya bagus, alhamdulillah PGRI bisa membantu program-program pemerintah untuk mendidik masyarakat," jelas Zola.

Terkait diselenggarakannya pentas seni di SMK PGRI 2 Kota Jambi tersebut, Zola menyarankan, meskipun sebagian besar yang mengisi acara pentas seni tersebut adalah generasi muda, namun pentas seni itu juga harus menyajikan seni budaya Jambi, sembari menghimbau siswa-siswi, para guru dan tenaga pendidik, serta masyarakat untuk melestarikan Budaya Jambi. "Karena budaya adalah jati diri," sebut Zola.

Zola mengemukakan, karena di SMK PGRI 2 Kota Jambi tersebut sudah ada kegiatan membatik, maka siswa siswi juga belajar membuat tanjak, kain penutup kepala yang dikenakan oleh laki-laki, sebagai bagian dari budaya Jambi. 

"Pesan saya, karena sudah bisa membatik, coba membuat tanjak juga, seperti yang saya gunakan ini, jadi semua sektor nanti bisa membantu mempromosikan dan melestarikan seni dan budaya Jambi. Dan, di pentas seni harus ada budaya Jambinya. Bantu kami untuk melestarikan budaya Jambi, harus ada estafet kepada generasi muda. Jadi, meskipun di era globalisasi, generasi muda Jambi harus mengetahui seni budaya Jambi," tutur Zola.

Pada kesempatan tersebut, Zola juga berpesan agar siswa-siswi menghindari narkoba, salah satu penyakit masyarakat yang sangat membahayakan. "Beberapa bulan lalu, pihak kepolisian di Jambi menangkap 2 Kg sabu-sabu dengan nilai Rp4 miliar. Kemudian, awal Januari 2017, kepolisian di Jambi juga menangkap sabu-sabu yang nilainya Rp14 miliar," tutur Zola.

Zola menekankan agar siswa-siswi menghindari narkoba, serta menghimbau orangtua untuk mengawasi dan melindungi anak dari narkoba, diantaranya dengan membekali anak dengan ilmu dan agama.

"Adik-adik, jangan pernah menggunakan dan mengedarkan narkoba. Banggakan orangtua kalian dengan prestasi, gunakan kesempatan sekolah ini dengan sebaik-baiknya," ujar Zola.

Selanjutnya, Zola meresmikan teaching factory yang ditandai dengan pengguntingan pita, menandatangani prasasti peresmian mushola SMK PGRI 2 Kota Jambi, serta meninjau Stan teaching factory yang menyajikan berbagi hasil karya siswa siswi SMK 2 PGRI Kota Jambi, yakni batik dan tenun, perhiasan, tempat tisu, tempat sajian air minum mineral, dan lain-lian, Stan Program Keahlian Akuntansi, dan Stan Program Keahlian Multimedia.

Sebelumnya, Mewakili Direktur Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Widiyanto menjelaskan, teaching factory merupakan satu dari tiga hal yang ditekankan dalam pendidikan SMK saat ini. 

Ketiga hal dimaksud adalah :1.Peningkatan skill dengan pemberian kurikulum yang selaras dengan industri 2.Teaching fatory, yakni mau menggunakan produk hasil praktek dari SMK, jadi produk tersebut ditawarkan ke masyarakat dan laku dijual. Dalam teaching factory, diajarkan menstandarkan barang kebutuhan masyarakat 3. Sertifikat. Setelah diadakan teaching factory, harus diberikan sertifikat. "Teaching factory mengantarkan siswa siswi SMK ke dunia industri," ujar Muhammad Widiyanto.

Mewakili Ketua Yayasan PGRI Kota Jambi, Evi Herman menyatakan, SMK PGRI 2 Kota Jambi kekurangan 5 ruang belajar, dan pihak yayasan akan berusaha untuk mengatasi kekurangan tersebut.

Kepala Sekolah SMK PGRI 2 Kota Jambi, H.Muhri,SE menyampaikan, saat ini jumlah siswa siswi SMK PGRI 2 Kota Jambi  1.100 orang, terdiri dari 33 rombongan belajar, dengan 4 program studi, yakni Multimedia, Akuntansi, Pemasaran, dan Administrasi Perkantoran. Muhri mengatakan, sebelumnya jumlah siswa siswi di sekolah tersebut 500 orang.

Muhri menjelaskan, dalam teaching factory, pemasaran bekerjasama dengan Alfamart, dimana Alfamart buka stan di SMK PGRI 2, sebagian barang yang dijual di Alfamart tersebut merupakan hasil karya siswa siswi SMK PGRI 2 Kota Jambi, seperti beberapa jenis makanan dan kerajinan. (Humas Prov Jambi)

Share this article :

Post a Comment

 
Support : Redaksi Jambipos Online | KONTAK KAMI | Pedoman Media
Copyright © 1998. Jambipos Online - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Publiser/Admin Jambipos Online
Proudly powered by Jambipos