Home » , , » Ikan-ikan Air Tawar Jambi Inipun Terancam Punah

Ikan-ikan Air Tawar Jambi Inipun Terancam Punah

Written By jambipos-online on Saturday, June 4, 2016 | 7:51 AM



Serandang, salah satu ikan air tawar di Jambi, yang terancam punah. Foto: Yitno
Serandang, salah satu ikan air tawar di Jambi, yang terancam punah. Foto: Yitno Suprapto

Jambipos Online-Tedjo Sukmono, peneliti biologi Universitas Jambi menyebut Jambi salah satu ‘rumah’ habitat ikan air tawar.Ikan-ikan ini tersebar luas, mulai rawa, danau–di gunung dan hutan–hingga sungai.

Penelitian dia sepanjang 2012-2014, di hutan penyangga Bukit Tiga Puluh dan Hutan Harapan, menemukan 23 spesies baru. Jumlah ini memperbesar ragam spesies ikan air tawar Jambi menjadi 311.

Sebelumnya, Maurice Kottelat, peneliti ikan dunia dari Raffles Museum of Biodiversity Research, Singapura. 1999-2006, meneliti  bersama Britz, Tan dan White. Mereka menyimpulkan spesies ikan air tawar di Jambi ada 289, termasuk Paedocypris progenetica atau ikan terkecil di dunia di sekitar rawa dan sungai gambut di Kumpeh Ilir.

Data berbeda dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Jambi. Dinas ini menyebut, spesies ikan di Jambi hanya 131. Saipudin, Kepala Dinas KKP Jambi  mengatakan, pada 29 Janurai 2010, organisasi konservasi internasional, International Union for Conservation of Nature (IUCN) pernah merilis 2.754 spesies, subspesies dan varian hewan terancam punah (endangered). Ridiangus (Balantiocheilos melanopterus, Bleeker 1850) atau dikenal ikan bala shark masuk salah satu. Dalam rentang 10 tahun, populasi ikan ini, katanya, menyusut sekitar 50%.

Belakangan, satwa air tawar Jambi terancam punah bertambah. Saipudin menyebutkan, ada tujuh spesies ikan air tawar Jambi kritis (critical endanger). 

Yakni, arwana silver (Schlerophages formosus), ridiangus (Balantiocheilos melanopterus), belida (Notopterus chitala), baung (Macrones nemurus), sepat batik (Cydochaicichthys aroplos), serandang (Channa pleurophthalma) dan tilan (Mastacembelus erythrotaenia). Saipudin tak menyebut botia terancam.

“Saya sudah laporkan ke ibu menteri (Susi Pudjiastuti, Menteri KKP-red),” katanya, dua pekan lalu.

Ancaman ini, katanya, karena penambangan emas lima tahun terahir di hulu Sungai Batanghari, Sarolangun, Merangin, Bungo dan Tebo. Penyebab lain, kerusakan lingkungan hingga longsor maupun penggunaan pestisida untuk perkebunan serta penangkapan ikan pakai racun dan strum.

“Air sungai Batanghari keruh begitu. Pertambangan itu menggunakan merkuri. Bahaya,” katanya. “Kalau air keruh ikan tak sehat.”

Ariana silver. Foto: Yitno
Arwana silver. Foto: Yitno Suprapto

Tedjo Sukmono punya pendapat berbeda soal spesies satwa air tawar terancam. Dia bilang total 11 spesies ikan di Jambi mulai menghawatirkan. Ada empat spesies status endangered, yaitu arwana silver, ridiangus, putak dan belida. 

Tiga lain, lais kaca, parang bengkok, dan sepat mutiara hampir terancam (near threatened). Sedangkan, kerapu rawa, tilan, flying fox, botia dalam risiko rendah (least concern). Gurami coklat mulai sulit ditemukan, masih belum dievaluasi (not evaluate).

Analisa Tedjo, kondisi ini dampak aktivitas atropogenik seperti alih fungsi hutan jadi perkebunan sawit dan kerusakan lingkungan. Celakanya, kerusakan itu berlangsung 10 tahun terahir, dan berdampak bagi berragam spesies ikan air tawar di perairan.

Namun, Tedjo belum bisa memastikan ada spesies punah. Jambi, katanya,  belum memiliki data seri lengkap untuk jenis ikan air tawar. Justru hasil penelitian dia menemukan 23 spesies baru. 

Hutan Harapan, restorasi ekosistem tempat penelitian Tedjo juga mengalami degradasi hingga 20% selama kurun 50 tahun terahhir. Terjadi frekmentasi berat di hutan primer dataran rendah Sumatera ini hampir 100 ribu hektar. 

Kondisi ini, praktis menurunkan kualitas air, pendangkalan danau dan rawa gambut mengakibatkan oksigen kurang. Lalu peningkatan suhu dan kekeruhan air. Keadaan  ini, katanya, kala berlangsung dalam waktu panjang membuat beberapa spesies ikan bermutasi untuk adaptasi. Namun, tak menutup kemungkinan terjadi kepunahan.

“Pengaruhnya sangat besar, spesies ikan itu tergantung habitat, kalau air berubah, pengaruh ke bertelur, memijah, dan cari makan,” katanya, belum lama ini.

Belida, salah satu ikan air tawar di Jambi, yang terancam. Foto: Yitno
Belida, salah satu ikan air tawar di Jambi, yang terancam. Foto: Yitno Suprapto

Dia mencontohkan, kondisi Sungai Ciliwung, air kotor dan banyak limbah. Di Ciliwung , katanya, dulu ada 100an ikan air tawar. Sekarang, menyusut drastis, tinggal lima.

Tedjo mengatakan, kantung habitat ikan air tawar Jambi yang masih terjaga hanya di Danau Kerinci dan beberapa danau serta sungai di Kumpeh, Muaro Jambi sedang kondisi Sungai Batanghari makin memburuk.

Menurut dia, upaya konsevasi di kantung habitat harus secepat mungkin guna menghindari biota air tawar makin punah. “Saya sudah coba berbagi dengan tim restorasi ekosistem hutan Harapan dan presentasi di hadapan BPBAT kalau Jambi punya hotspot ikan banyak. Sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” ucap Tedjo.

Bisnis Ikan Hias

Ancaman lain datang dari praktik perdagangan ikan hias di Jambi. Selama ini, masih penangkapan di alam bebas.

Tedjo menduga, ada permainan pedagang ikan hias di Jambi, sengaja membuat beberapa jenis hias lokal sedikit.  “Kalau dikembangkan dan diproduksi banyak, harga (ikan hias) turun, rugi mereka,” katanya.

Botia dan ridiangus, banyak diminati sebagai ikan hias. Selain di Jambi, ridiangus bisa ditemukan di beberapa negara Asia seperti Malaysia dan Thailand. Indonesia, ikan ini hidup di perairan air tawar Jambi dan Kalimantan.

Botia,  ada di perairan Sungai Barito dan Batanghari. Kabarnya, ikan bercorak dominan hitam dan orange ini juga diekspor ke Tiongkok, Singapura, Malaysia hingga Norwegia.

Sungai Batanghari, berair keruh. Sungai yang terus tercemar ini mengancam hidup biota laut di dalamnya. Foto: Yitno
Sungai Batanghari, berair keruh. Sungai yang terus tercemar ini mengancam hidup biota laut di dalamnya. Foto: Yitno Suprapto

Kembangkan pengkodean ikan
Sejak 2014, Tedjo dan Institut Pertanian Bogor sibuk pengembangan barcoding ikan air tawar di Jawa dan Bali. Teknologi DNA barcoding (pengkodean), katanya, alat efektif menangani kerancuan dalam mengindetifikasi dan konflik taksonomi, melalui sampel ikan seperti sirip atau bagian tubuh lain. Mereka memeriksa molekul DNA. Cara ini, katanya,  dapat mengungkap awal keragaman genetik dan membedakan spesies dengan baik.

Di Jambi, katanya, barcoding ikan berguna mendata spesies ikan dan memasukkan dalam daftar gen bank dan barcoding of life data system.

Belum lama, Tedjo berhasil membuat barcoding 30 spesies ikan air tawar kelompok family cyprinidae atau 10% dari spesies di Jambi.

Sejak November 2015-Mei 2016, Universitas Jambi berkerjasama dengan LIPI dan Institute de Recherge Development (IRD) Prancis mengambil jaringan barcoding ikan. Proyek Bioshot ini akan memberi kode spesies ikan air tawar di Sundaland meliputi Jawa, Sumatera, Kalimantan, Malaysia, dan Singapura. “Sebelum ada vulkano Toba, pulau ini dulu satu,” kata Dosen Biologi Universitas Jambi ini.

Karena terpecah, kondisi alam berdampak pada habitat ikan. Menurut Tedjo, telah terjadi mutasi gen akibat isolasi geografi. Tingkat mutasi paling rendah adalah mutasi titik.

Dari proyek ini Tedjo berkeinginan ada database ikan air tawar lengkap di Indonesia. Dengan begitu monitoring habitat bisa cepat.

Proses barcoding membutuhkan waktu cukup panjang. Untuk barcoding satu spesies, katanya, perlu sampel jaringan (DNA), sampel spesies, foto, lokasi penemuan spesies lengkap dengan titik koordinat.

“Sekarang ini ada sekitar 100 lebih data spesies ikan air tawar Jambi disimpan di Museum Zoologi Bogoriensis.”

Parang-parang, salah satu ikan air tawan di Jambi. Foto: Yitno Suprapto
Parang-parang, salah satu ikan air tawan di Jambi. Foto: Yitno Suprapto

Upaya Pemulihan 

Sejak 2015, Dinas KKP Jambi kerjasama Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias Depok, Jawa Barat, guna mengembangkan pembibitan botia.

Unit pelaksana teknis Balai Benih Ikan Daerah (BBID), Dinas KKP Jambi tengah menyiapkan prasana botia. Beberapa bak pemijahan dibuat khusus dengan masing-masing paralon untuk aliran air.

Saipudin mengatakan, selain botia, arwana silver mulai dipijahkan sejak dua tahun lalu untuk mendapatkan calon induk. Beberapa arwana dewasa dijual BBID Jambi untuk ikan hias. “Hasil penjualan masuk kas daerah,” kata Asmadi, Kepala UPTD BBID Jambi.

Nanti, katanya, induk arwana dan botia akan dipasok ke beberapa lubuk larangan –lubuk yang dijaga masyarakat adat–di sembilan kabupaten di Jambi, yaitu, Kerinci, Tebo, Muaro  Bungo, Merangin, Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Batanghari dan Muarojambi.

Selain itu, induk botia dan arwana akan dilepas ke Sungai Batanghari. Asmadi berharap, Sungai Batanghari bisa kembali jernih agar aman bagi ikan.

Ikan tilan (telut api), salah satu yang hidup di air tawar Jambi. Foto: Wikipedia
Ikan tilan (telut api), salah satu yang hidup di air tawar Jambi. Foto: Wikipedia.


Share this article :

Post a Comment

 
Support : Redaksi Jambi Pos | KONTAK KAMI | Pedoman Media
Copyright © 1998. JAMBIPOS ONLINE - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Admin Jambipos Online
Proudly powered by Jambipos