Home » » Profile Timnas Argentina-Islandia-Kroasia-Nigeria Piala Dunia 2018 (Group D)

Profile Timnas Argentina-Islandia-Kroasia-Nigeria Piala Dunia 2018 (Group D)

Written By jambipos-online on Senin, 18 Juni 2018 | 17:17

Profile Timnas Argentina-Islandia-Kroasia-Nigeria Piala Dunia 2018 (Group D)
Selama empat dekade terakhir Argentina selalu menjadi favorit juara Piala Dunia.
 Asosiasi: Asociacion del Futbol Argentino
Julukan: La Albiceleste (Putih dan Biru Langit)
Peringkat FIFA : 5 (7 Juni 2018)
Most Caps: Javier Zanetti (143)
Top Scorer: Lionel Messi (58)
Pelatih: Jorge Sampaoli (Argentina)
Tampil: 17 Kali (Prestasi Terbaik Juara 1978 dan 1986)

Tampil: 17 Kali (Prestasi Terbaik Juara 1978 dan 1986, Runner Up 2014-Kalah 1: 0 oleh Jerman)
Persaingan posisi penyerang timnas Argentina sangat ketat sehingga pelatih Jorge Sampaoli harus meninggalkan seorang Mauro Icardi. Icardi adalah penyerang Inter Milan. Ia merupakan pencetak gol terbanyak Liga Seri A Italia bersama dengan penyerang Lazio, Ciro Immobile, musim ini.

Icardi yang masih 25 tahun itu juga baru saja menampilkan permainan apik dengan menceploskan satu gol ke gawang Lazio di akhir laga Seri A, sehingga timnya menang dan lolos ke Liga Champions musim depan. Namun, Sampaoli malah memilih penyerang senior Gonzalo Higuain (Juventus), Sergio Aguero (Manchester City), Paulo Dybala (Juventus), dan tentu Lionel Messi (Barcelona), ke Rusia.

Ini menunjukkan bahwa Argentina memiliki berlimpah talenta. Tak mengherankan selama empat dekade terakhir Argentina selalu menjadi favorit juara Piala Dunia.

Argentina tak pernah absen dari kejuaraan sepakbola antarnegara tertinggi di planet bumi ini sejak 1974. Di zona Amerika Selatan, di samping Brasil, Argentina menjadi tim sepakbola yang disegani. Namun, perjalanan Argentina di babak kualifikasi bak roller coaster.

Dari 18 partai yang dimainkan, Albiceleste hanya menang tujuh kali dan seri tujuh kali serta empat kali kalah. Sampaoli mendapatkan kritik tajam karena Tim Tango dianggap miskin gol. Messi pun dicemooh karena mandul. Keberhasilan Argentina lolos ke final Piala Dunia ditentukan pada pertandingan terakhir atau partai ke-18. 

Pasukan Putih Biru ini harus menang melawan Ekuador karena posisinya saat itu ada di peringkat enam klasemen padahal untuk zona Amerika Latin hanya dijatah lima tim yang berhak berangkat ke Rusia. Media pun bergunjing betapa tidak menarik bila Piala Dunia tanpa Argentina.

Beruntung pada pertandingan terakhir Messi melesakkan tiga gol membawa kemenangan Argentina sementara Kolombia yang sebelumnya di peringkat tiga dan Peru di peringkat lima bermain seri. Cile yang ada di peringkat empat justru gagal ke Rusia karena kalah digilas Brasil 3-0.

Bejibun penyerang andal ternyata tak menjamin Argentina banyak mendulang gol. Messi dkk hanya memasukkan 19 gol dari 18 laga atau rata-rata hanya satu gol per pertandingan. Jumlah gol tersebut kurang dari separuh pencapaian Brasil dengan 43 gol atau Uruguay dengan 32 gol. Pertahanan Albiceleste pun sangat longgar, sehingga kebobolan 16 gol.

"Drama" di babak kualifikasi bisa terulang bila Sampaoli tidak berbenah. Apalagi di grup D, ada tiga penghuni lain yang sering membuat kejutan, yakni Nigeria, Islandia, dan Kroasia. Sampai saat ini Argentina masih diunggulkan.

Kekuatan nyaris sama dengan Piala Dunia 2014. para penyerang andal di depan tidak begitu didukung oleh para pemain tengah. Argentina belum menemukan pemain tengah sekelas Juan Sebastian Veron atau Juan Roman Riquelme yang mampu menjadi menjadi jenderal lapangan tengah untuk mengatur irama permainan.

Pemain Bintang
Nama Lionel Messi tetap menjadi sentral bila berbicara mengenai Argentina. Sayangnya, hingga kini sebagian warga Argentina masih memandangnya sebelah mata. Sang “Messiah” dianggap tak bermain optimal saat membela negaranya, tetapi sebaliknya tampil luar biasa saat membela klubnya, Barcelona.

Lionel Messi.
Messi mendapatkan banyak penghargaan di Eropa dan bersama Barcelona, klubnya. Namun, bersama timnas, banyak orang menyebutnya sebuah kesialan. Salah satu fakta yang sering dijadikan argumen adalah kegagalannya meraih gelar juara meski tiga kali masuk final. Di final Copa America 2007 Argentina yang mencatat raihan 14 gelar di ajang ini, kalah 0-3 dari Brasil.

Messi pun mengantar Albiceleste ke final Piala Dunia 2014 di Brasil. Namun, di partai puncak itu Messi harus menunduk lesu dikalahkan Jerman 0-1 melalui gol Mario Goetze pada menit ke-113. Dewi Fortuna pun belum memihak Messi bersama timnas Argentina di final Copa America 2015. Tim Tango kalah 1-4 dalam drama adu penalti setelah bermain imbang tanpa gol melawan Cile.

Tudingan bahwa Messi tidak bermain lepas saat membela timnas tentu tidak berdasar mengingat profesionalitas Messi. Apalagi selama in tidak ada friksi di dalam tubuh tim. Bahkan tim Argentina terkesan sangat padu di luar lapangan. 

Satu pemain dengan yang lain saling melindungi terkait privasi. Bukti lain, Messi menunjukkan taji ketika membuat hattrick ke gawang Ekuador yang membawa Argentina lolos ke Rusia. Messi juga merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah timnas Argentina.

Pelatih
Karier kepelatihan Sampaoli dimulai pada 2002, saat dia melatih tim asal Peru, Juan Aurich. Setelah menangani Aurich, Sampaoli merapat ke Sport Boys setahun berikutnya. Beberapa klub yang pernah ditanganinya, yaitu Coronel Bolognesi, Sporting Cristal, dan Sevilla. Sampaoli juga pernah menangani timnas Cile pada 2012 hingga 2016 dan membawa Cile menjuarai Copa America 2015.
Jorge Sampaoli.
Desember 2016, Sampaoli didapuk menjadi manajer tim nasional setelah ia sukses membawa klub Universidad de Cile memenangi tiga gelar liga dan Copa Sudamericana 2011. Kehadiran Sampaoli membawa perubahan baik dari segi permainan maupun hasil pertandingan. 

Cile memenangi tiga dari empat pertandingan kualifikasi Piala Dunia pertama mereka setelah dipegang Sampaoli. Di bawah Sampaoli, Cile kembali ke permainan menarik seperti yang diterapkan oleh pendahulunya, pelatih Marcelo Bielsa.

Pada 2015, Jorge Sampaoli mengantar timnas Cile meraih piala Copa America 2015. Pada 19 Januari 2016, ia mengundurkan diri sebagai manajer Cile. Selanjutnya ia merapat ke Spanyol untuk melatih klub di La Liga, Sevilla. Akhirnya Sampaoli dipercaya menjadi arsitek bagi Argentina. Dia menjalani debutnya saat Argentina melawan Australia dengan skor 1-0 bagi kemenangan Tim Tango.

Timnas Islandia
Kondisi alam tak menghambat kemajuan sepakbola Islandia.
Asosiasi: Knattspyrnusamband Islands (KSI)
Julukan: Strakarnir Okkar, Our Boys (Pemuda Kami)
Peringkat FIFA: 22 (7 Juni 2018)
Most Caps: Runar Kristinsson (104)
Top Scorer: Eidur Gudjohnsen (26)
Pelatih: Heimir Hallgrimsson (Islandia)
Tampil: 1 Kali 
Tampil: 1 Kali 
Islandia adalah epik persepakbolaan dunia. Negara kecil dengan populasi penduduk sebanyak 332.529 mampu melahirkan sebuah tim yang maju ke Piala Dunia. Pada Piala Eropa 2016, pasukan Our Boys mampu melejit hingga babak perempat final. Mereka membuat kejutan dengan menaklukkan dua tim besar dunia, Belanda dan Inggris di kualifikasi grup dan 16 besar.

Prestasi ini luar biasa mengingat mereka tidak memiliki klub sepakbola profesional kondang. Liga Islandia hanya berlangsung selama empat bulan karena iklim. Kondisi geografis dan iklim negeri itu kurang mendukung untuk olahraga luar ruang. 

Dengan luas 103.000 km persegi, Islandia adalah negara dengan penduduk terjarang di Eropa. Saat musim dingin, rata-rata temperatur mencapai 0 hingga -10 derajat celsius. Suhu bisa turun sampai minus 25 hingga minus 30 derajat pada Desember. Dua pertiga penduduk tinggal di ibu kota sekaligus kota terbesar di negara itu, Reykjavik. Sebagian besar luas wilayah adalah gletser.

Kondisi alam tak menghambat kemajuan olahraga selagi ada niat. Setelah berulang kali gagal menembus babak kualifikasi Piala Dunia zona Eropa, Islandia berbenah pada 1990. Mereka membangun banyak lapangan indoor pada tahun 2000-an. Maka, muncullah talenta-talenta muda yang kemudian bermain di klub-klub negara lain di jazirah Eropa.

Pemain Everton, Gylfi Sigurdsson adalah salah satu contoh. Ia pertama kali direkrut Reading ketika usianya masih 18 tahun kemudian dibeli Swansea City. Pembangunan sepakbola Islandia menuai hasil signifikan pada babak kualifikasi Piala Dunia 2014 ketika timnas di bawah asuhan pelatih kenamaan asal Swedia, Lars Lagerback. Islandia nyaris lolos ke Brasil. Sayang, pada babak play-off mereka disingkirkan Kroasia.

Setahun kemudian pada babak kualifikasi Piala Eropa, timnas Islandia semakin bertaji. Dari tujuh pertandingan yang dijalani, Islandia meraih enam kemenangan dan sekali kalah. Satu-satunya kekalahan didapat saat menghadapi Cheska dengan skor 2-1. Pada ajang kualifikasi ini Islandia berhasil menumbangkan Belanda dua kali, baik ketika tandang di Amsterdam maupun saat di kandang.

Keperkasaan Islandia berlanjut pada 2017, yakni dengan menjadi juara grup I zona Eropa babak kualifikasi Piala Dunia 2018. Dengan tujuh kemenangan, dua kekalahan, dan sekali seri, mereka melampaui peringkat kedua, yakni Kroasia, negara yang sudah empat kali lolos ke Piala Dunia.

Pemain Bintang
Dari deretan pemain yang ada, nama Gylfi Sigurdsson (29) adalah yang paling tenar. Pemain yang punya posisi sebagai pemain tengah pengatur serangan ini sekarang membela klub Inggris, Everton.

Gylfi Sigurdsson.
Gylfi sebelumnya pernah bermain untuk Reading, Shrewsbury Town, Crewe Alexandra, 1899 Hoffenheim, dan Swansea City. Lantas Tottenham Hotspur menyatakan bahwa Gylfi telah bergabung ke klub tersebut awal Juli 2012. Kini Sigurdsson membela Everton.

Pelatih
Islandia tidak hanya punya pemain-pemain hebat yang merumput di sejumlah negara besar Eropa. Mereka juga memiliki pelatih-pelatih bersertifikat FIFA. Pasalnya, dalam pembangunan persepakbolaan Negeri Es tersebut, pemerintah tidak hanya membangun sarana, melainkan juga melahirkan pelatih-pelatih hebat yang bakal membina para pemain. Karena itu jangan heran bila Islandia kini ditangani oleh pelatih dalam negeri, Heimir Hallgrimsson.

Heimir Hallgrimsson.
Adalah Lars Lagerback yang membawa timnas Islandia berkibar. Namun seiring berjalannya waktu, ia menyarankan Hallgrmisson, asisten pelatihnya di timnas untuk menjadi menggantikannya. Hallgrimsson yang sudah empat tahun menjadi asisten Lagerback tentunya tahu betul filosofi seperti apa yang digunakan Lagerback pada timnas Islandia.

Timnas Kroasia
Kroasia sulit mengulangi sukses Piala Dunia 1998.
Asosiasi: Hrvatski Nogometni Savez (HNS)
Julukan: Vatreni, The Blazers
Peringkat FIFA: 20 (7 Juni 2018)
Most Caps:Darijo Srna (134)
Top Scorer: Davor Suker (45)
Pelatih: Zlatko Dalic (Kroasia)
Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Peringkat Ketiga 1998)


Tampil: 5 Kali (Prestasi Terbaik Peringkat Ketiga 1998)

Persis 20 tahun lalu, Kroasia sukses menarik perhatian dunia di Piala Dunia 1998 di Prancis. Negeri seluas 56.594 kilometer persegi yang baru sekitar tujuh tahun terbentuk sebagai pecahan Yugoslavia itu untuk pertama kali berkiprah di Piala Dunia. 

Namun, tim kotak-kotak merah putih secara mengejutkan mampu menggapai juara ketiga. Davor Suker, sang striker sekaligus kapten kala itu, membawa pulang penghargaan sepatu emas karena menjadi pencetak gol terbanyak, enam gol.

Mereka menyingkirkan Jerman dengan skor telak 3-0 dalam perebutan kursi semifinal. Davor Suker dkk gagal ke final setelah kalah dari tuan rumah dengan skor 1-2. Namun di pertandingan memperebutkan tempat ketiga, Kroasia mengandaskan Belanda 2-1.

Prestasi itu sulit untuk diulang kembali pada Piala Dunia tahun ini, meski pasukan asuhan Zlatko Dalic ini punya gelandang kenamaan, yakni Luka Modric (Real Madrid) dan Ivan Rakitic (Barcelona). Tim ini juga memiliki trisula maut, yakni penyerang Mario Mandzukic (Juventus), Ivan Perisic (Inter Milan), dan Nikola Kalinic (AC Milan). Namun, prestasi Kroasia tidak sedang moncer. Buktinya, perjalanan menuju Rusia tidak mulus. Kroasia harus bersusah payah dan nyaris gagal lolos.

Dari 10 pertandingan di babak kualifikasi, Kroasia mampu mencatat enam kemenangan, dua kali imbang, dan dua kali kalah. Pelatih Ante Cacic dipecat lantaran deretan hasil buruk yang diraih Kroasia selama babak kualifikasi. Zlatko Dalic, sang pengganti, mampu menyelamatkan Kroasia sehingga mereka bisa merebut tiket ke play-off ke Rusia setelah menyingkirkan Yunani dengan agregat 4-1.

Di ajang Piala Dunia tahun 2002, 2006, dan 2014, Kroasia tidak pernah mampu lolos dari babak penyisihan grup. Catatan ini yang mendasari penilaian bahwa Kroasia sulit mendulang prestasi seperti 20 tahun lalu. 

Bahkan untuk bisa lolos dari babak penyisihan grup pun bukan hal mudah bagi Luka Modric dkk. Mereka harus bertarung melawan Argentina, Islandia, dan Nigeria. Hanya Argentina yang di atas kertas memiliki peluang terbesar bakal lolos, sementara pendamping Negeri Tango ke babak berikutnya masih menjadi tanda tanya.

Pemain Bintang
Luca Modric baru saja membawa Real Madrid merengkuh Piala Champions 2018. Ini adalah raihan keempatnya bersama Madrid, tiga di antaranya diperoleh secara berturut-turut. Sebagai gelandang, tentu saja peran Modric sangat signifikan, seperti memainkan tempo permainan, mengatur serangan, dan membagi bola kepada para penyerang.

Luca Modric.
Pemain berbadan kecil untuk ukuran Eropa--172 sentimeter--ini disegani lawan karena dikenal sebagai gelandang cerdas, bertenaga, punya umpan terukur. Lebih mengesankan lagi, pada usia ke-32 tahun, kemampuannya seolah tak pernah menurun. Ia konsisten bermain di lini tengah sejak membela Tottenham Hotspur, kemudian dibeli Madrid pada musim 2012-2013. Piala Dunia kali ini kemungkinan besar adalah kesempatan terakhir Modric tampil, sehingga ia akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membawa timnas Kroasia menorehkan pencapaian lebih dari sekadar babak pertama.

Pelatih
Zlatko Dalic (51) menangani timnas Kroasia sejak Oktober lalu setelah CFF (Federasi Sepak Bola Kroasia) memecat pelatih Ante Cacic. Cacic dipecat menyusul penampilan Kroasia yang tidak begitu menggembirakan di babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Eropa. Kekalahan dari Turki dan hasil imbang melawan Finlandia membuat Kroasia gagal mengamankan posisi juara grup. Kroasia yang sempat memimpin klasemen akhirnya bisa disusul oleh Islandia.
Zlatko Dalic.
Dalic langsung mendapat tugas berat. Kroasia harus menang melawan Ukraina atau minimal seri. Sang lawan memiliki nilai sama meski Kroasia menang selisih gol. Bila kalah maka Kroasia harus melupakan mimpi bermain di Rusia. Dalic akhirnya mampu menjawab tantangan tersebut dengan menjungkirkan lawan di kandang Ukraina dengan skor 2-0.

Dalic pun sukses memimpin pasukannya menjalani babak play-off melawan Yunani. Kroasia di bawah Dalic mengamankan kemenangan agregat 4-1. Keberhasilan itu disikapi dengan rendah hati oleh Dalic yang menyatakan bahwa ia tidak perlu bekerja banyak karena kinerja timnas di kualifikasi sangat ditentukan pelatih sebelumnya. Kroasia di tangan Dalic tetap menggunakan formasi seperti pendahulunya 4-3-2-1.

Timnas Nigeria

Nigeria belum pernah mampu melewati babak 16 besar.

Asosiasi: Nigeria Football Federation
Julukan: Super Eagles (Si Elang Super)
Peringkat FIFA: 48 (7 Juni 2018)
Most Caps: Vincent Enyeama dan Joseph Yobo (101)
Top Scorer: Rashidi Yekini (37)
Pelatih: Gernot Rohr (Jerman)
Tampil: 6 Kali (Prestasi Terbaik 3 ke Babak 16 Besar 1994, 1998, 2014) 
Tampil: 6 Kali (Prestasi Terbaik 3 ke Babak 16 Besar 1994, 1998, 2014)
Nigeria bergabung dalam grup yang berat bersama Argentina, Kroasia, dan Islandia. Dua tim pertama difavoritkan bakal lolos ke babak 16 besar. Artinya, Nigeria dan Islandia diprediki hanya mengecap babak pertama Piala Dunia.

Nigeria akan mengawali pertandingan dengan menghadapi Kroasia di The Kaliningrad Stadium pada 16 Juni 2018, kemudian melawan Islandia (22 Juni) dan terakhir Argentina (26 Juni). Sungguh lawan-lawan yang tidak mudah ditaklukkan.

Selama keikutsertaannya di Piala Dunia, The Super Eagles belum pernah mampu melewati babak 16 besar. Langkah The Super Eagles selalu kandas di babak kedua. 

Di level ini, Nigeria tersingkir dari pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat setelah kalah 1-2 dari Italia. Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, disingkirkan Denmark 1-4, dan pada Piala Dunia 2014, disingkirkan Prancis 0-2.
Meski tekad The Super Eagles begitu kuat, sulit rasanya melampaui prestasi sebelumnya.

Perjalanan di babak kualifikasi tidak menjamin mulusnya langkah Nigeria di putaran final. Di babak kualifikasi Nigeria tidak terkalahkan. Bergabung dalam grup keras bersama Kamerun, Zambia, dan Aljazair, Nigeria menorehkan empat kali menang dan dua kali imbang. Mereka mencetak 12 gol dan hanya kebobolan empat gol.

Pemain Bintang
Victor Moses adalah pemain sayap di klub legendaris Chelsea. Ia sempat mengenyam gelar juara Liga Inggris pada musim 2016-2017. Namun dalam daftar timnas Nigeria ia disebut sebagai pemain depan.
Victor Moses.
Pada kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Afrika, Moses adalah pencetak gol terbanyak timnas Nigeria. Pemain berusia 28 tahun ini mencetak tiga gol, yakni saat mengalahkan Aljazair 3-1 pada November 2016 dan Kamerun 4-0 pada Agustus 2017.

Selain Moses terdapat pula Alex Iwobi, striker Arsenal. Uniknya Iwobi pernah membela Inggris pada turnamen internasional tim junior. Namun, Iwobi kemudian bermain untuk Nigeria. Dia membuat debut bersama tim senior pada 8 Oktober 2015 pada pertandingan persahabatan melawan Kongo. 

Pada kualifikasi Olimpiade Musim Panas 2016, Iwobi masuk pada squad sementara 35 orang, tetapi tidak terpilih pada tim inti 18 pemain. Sedangkan pada Agustus 2017, Iwobi tidak masuk squad Nigeria untuk kualifikasi Piala Dunia karena cedera. Dua bulan kemudiaan ia kembali bermain dan mencetak gol kemenangan 1-0 atas Zambia sehingga mengamankan Si Elang Super ke Rusia. Pada Mei 2018, ia masuk dalam squad awal 30 pemain Nigeria.

Pelatih
Gernot Rohr mengisi jabatan pelatih timnas Nigeria sejak 2016. Rohr menjadi pilihan utama karena berpengalaman melatih negara-negara Afrika, antara lain Gabon, Niger, dan Burkina Faso. Di tingkat klub, ia pernah melatih beberapa klub di Prancis, seperti Bordeaux, Creteil, dan Nice.

Nama Rohr tidak terkenal karena memang prestasinya bersama tim asuhan belum benar-benar bersinar. Di level timnas, prestasi terbaik Rohr terjadi pada 2012, saat membawa Gabon bertahan hingga perempat final Piala Afrika. Rohr dipecat saat menangani Burkina Faso karena prestasi tim tidak kunjung mencorong. Dengan catatan ini, semakin menguatkan dugaan bahwa Nigeria akan kesulitan bersaing di Piala Dunia 2018.(JP)


Sumber: Suara Pembaruan
Share this article :

Posting Komentar